
*******
Arsen berhenti di sebuah kebun, Alisnya bertaut. Bukannya tadi Ara mengajaknya mengambil buku. Kenapa malah mengajaknya ke kebun. Padahal hari sudah beranjak gelap dan tak ada penerangan selain sinar bulan.
"Dulu Ara tinggal di sana." Tunjuk Ara di rumah yang terbilang kecil sederhana tapi terlihat nyaman. ---- "Tapi itu dulu. Sebelum Abah ngotot buat sekolahin Ara masuk universitas." Tatapan Ara tampak menerawang jauh. Arsen hanya diam menunggu gadis itu kembali mencurahkan beban dihatinya.
"Gara-gara aku, rumah milik Abah harus dijual. Kami mengontrak dirumah yang dulunya milik Abah. Tapi setelah tahun pertama Abah sering sakit. Jarang jualan. Kami kesulitan membiayai hidup. Jangankan memikirkan bayar kontrakan, memikirkan apa yang harus kami makan besok saja rasanya menyedihkan sekali. Tanpa sepengetahuan Abah aku sering mengambil cuti kuliah. Aku tetap berangkat pagi untuk mencari kerja. Kerja apa saja aku lakukan agar bisa bantu Abah. Tapi tanpa aku tahu ada tetangga yang memergokiku sedang bekerja bukan kuliah seperti yang selama ini Abah banggakan. Abah marah, tapi marah yang ga ada ngomong apa-apa sama Ara. Marah yang ngediemin Ara sampai berbulan-bulan. Akhirnya ada tetangga lain yang deket sama Ara tanya soal kuliah Ara dan tanya kenapa Ara kerja di jam kuliah. Ternyata berita nya di kampung udah nyebar. Dari situ aku tahu ternyata Abah kecewa sama Ara. Ara langsung berhenti kerja. Saat Ara kasih uang hasil gaji Ara, Abah menolak. Katanya Abah masih sanggup hidupin Ara. Setelah itu Abah selalu ga pernah bolong dagang meskipun sedang sakit. Abah cuma minum obat Warung. Sampai Ara ga ngerti ternyata Abah punya sakit yang parah."
Ara menangis hingga terisak saat menceritakan kehidupannya pada Arsen. Arsen melepas seatbeltnya dan membawa Ara kedalam pelukannya. Sebelumnya Ara sudah melepaskan seatbeltnya dan bersiap turun. Namun melihat wajah Arsen yang bingung akhirnya ia tak jadi keluar dan justru menceritakan kisah kelam hidupnya.
Arsen mengusap punggung Ara hingga gadis itu kembali tenang. Mata Ara sembab, sisa linangan air matanya masih tampak jelas. Namun tak mengurangi kecantikan Ara.
"Setelah kami ga mampu bayar kontrakan rumah Abah, kami diusir. Tapi tetangga Ara pemilik kebun ini memberi tumpangan. Kami boleh tinggal di tanahnya asal Abah mau memelihara ternaknya. Dan Abah menyanggupinya. Aku tidak pernah mau melawan saat dihina karena alasannya, memang apa yang mereka katakan tentang aku semuanya benar. Aku memang tinggal bersebelahan dengan kandang kambing. Tapi demi Abah aku tetap harus bertahan bukan meskipun hati aku juga sakit mendengarnya. Apa salahnya tinggal ditempat itu? toh aku tidak mencuri, aku juga tidak menjual diri untuk bisa kuliah." Ara menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Setidaknya ia lega sudah menceritakan kisah hidupnya pada Arsen. Kalau pun Arsen masih mau berteman dengannya ya syukur. Kalaupun tidak Ara juga tidak masalah.
"Aa tunggu disini saja. Karena disana gelap. Nanti aa malah jatuh." Kata Ara, karena memang kebun itu jalannya tidak rata dan bergelombang.
"Kamu yakin mau disana sendirian?" Tanya Arsen. Arsen tidak mau memaksa ikut karena ia tahu mungkin Ara minder dengan tempat tinggalnya dulu.
Ara mulai masuk ke kebun yang gelap dan sepi itu, hanya bunyi jangkrik dan hewan malam lainnya yang saling bersahutan.
Ara masuk ke dalam rumah berdinding kayu dan anyaman bambu itu. Ara menatap sendu kearah dipan reot yang sering dipakai Abah untuk tidur. Perlahan ia duduk disana dan mengusap tikar yang menjadi alasnya. Air mata Ara kembali terjatuh.
"Maafin Ara Abah. Ara janji akan menjadi orang yang sukses. Ara pasti akan buat Abah bangga sama Ara." Gumam Ara, ia beranjak masuk ke biliknya yang hanya di sekat dengan kain jarik lusuh. Ia memasukkan buku-bukunya kedalam tas ransel usang miliknya. Dan sebagian ia bawa dengan tangan karena memang buku-bukunya tidak terlalu banyak. Ara meraih pigura yang sudah buruk catnya. Dimana disana ada foto dirinya dan kedua orang tuanya juga Abah. Ia memasukkanya ke dalam tas. Tak ada banyak benda yang bisa Ara bawa. Ara membuka lemari milik abahnya. Disana ada kaleng biskuit usang. Ara mencoba membukanya dan saat terbuka, Air mata Ara lagi-lagi turun tanpa permisi.
__ADS_1
Kaleng biskuit itu berisi uang pecahan 20 ribuan yang hampir memenuhi kaleng. Namun yang jadi fokus tatapan Ara adalah tulisan di kaleng itu yang mungkin sengaja Abah tempel untuk memotivasi dirinya.
Tabungan untuk syukuran Ara Wisuda
Ara kembali menutupnya dan membawanya. Ara mengecek lagi kalau-kalau ada barang tertinggal lainnya. Dan benar saja Ara menemukan kardus berukuran tanggung tertutup baju-baju Abah. Ia melihat isinya sebuah kotak kecil dari kayu dan sebuah kebaya yang usang.
Kotak kayu itu berisi sepasang cincin emas. mungkin cincin pernikahan ibunya atau malah cincin pernikahan Abah dulu. Tapi jika Abah memiliki perhiasan kenapa tidak dijual saja waktu mereka membutuhkan biaya untuk bayar kontrakan. Ara membuka kertas kecil yang tersemat di kotak itu.
"Milik Amran dan Inayah untuk Ara kelak saat menikah." Tulisan tangan itu milik ayah Ara. Ara masih ingat gaya tulisan itu. Ara langsung membereskan semuanya dan membawanya. Ara terlihat kesulitan saat hampir tiba di mobil. Arsen yang ada diluar karena mengkhawatirkan Ara pun langsung berlari menyambut Ara, dan melobi bawaan gadis itu.
"Makasih A' Ujar Ara dengan tatapan sendu tapi di bibirnya terukir senyum manis.
Arsen membuka pintu belakang memasukkan barang-barang Ara, lalu beralih ke pintu depan membukakan pintu untuk Ara.
"Kita ke rumah pemilik kebun dulu A' aku mau pamit." Ujar Ara. Arsen mengangguk saat Ara menunjuk sebuah rumah yang tak jauh dari kebun itu. Sesampainya disana Ara turun dan mengetuk pintu. Arsen ikut turun. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
Pintu terbuka seorang pria tua keluar dari rumah bersama seorang wanita paruh baya berjilbab.
"Ya Allah Ara, kamu teh kemana ga ada kabarnya? Abah gimana ra?"
"Iya maaf ya teh Eni. Ara kemarin repot ngurus pemakaman Abah." Ujar Ara, menggigit bibir bawahnya mencoba menahan desakan air mata yang berusaha keluar.
"Innalillahi .. ya Allah, yang sabar ya Ra. Mungkin ini jalan terbaik Abah ga ngerasain sakit lagi."
__ADS_1
"Pak Sahlan, saya mau ngucapin terimakasih selama ini sudah di beri tumpangan. Dan maaf kalo Ara dan Abah sering merepotkan pak Sahlan sekeluarga." Ujar Ara, ---- "Ara mau pamit, Ara mau tinggal di kota mau lanjut kuliah."
"Tunggu sebentar Ra .. " Pak Sahlan masuk kedalam rumah dan mengambil amplop yang berisi uang milik Abah Usman.
"Ini Ra, punya Abah kamu. Selama ini saya memberi upah sama Abah kamu tapi beliau selalu bilang nitip dulu. Kali-kali di perlukan untuk biaya kamu kuliah."
Ara menerima amplop yang lumayan tebal dengan tangan gemetaran.
"I-ini biar dibawa teh Eni saja pak. Siapa tahu Abah punya hutang sama tetangga yang saya tidak tahu."
"Hutang Abah sudah lunas Ra, dibayarin tetehnya yang waktu itu." Kata teh Eni. Ara hanya bisa bersyukur dalam hati.
"Ya sudah kalo gitu. Ini saya terima ya pak."
"Itu siapa Ra?" tanya Teh Eni penasaran melihat pria tampan yang sejak tadi hanya diam di belakang tubuh Ara.
"Kenalkan saya Arsen, calon suami Ara."
๐๐๐๐๐๐๐
Ne kalau minta kopi lagi, Kira-kira othor dilemparin sendal ga ya? ๐๐
Jangan lupa jempolnya di birukan oke. Awas aja kalo part di atasnya Jempol di skip. Othor bakalan libur Up. ๐ดโโ๏ธ๐ดโโ๏ธ๐ดโโ๏ธ
__ADS_1