
**********
Dian dan Selin pulang karena anak-anak mereka harus bersekolah. Perasaan mereka tidak tenang jika membiarkan anak mereka diantar oleh pengasuhnya. Apalagi saat ini Archel masih bebas berkeliaran. Didi dan yang lain tidak bisa bertindak jika Archel belum bertindak lebih dulu. Mereka tidak ingin melanggar hukum. Dan hal itu berhasil membuat seorang Rian Al Fares marah tidak jelas. Dia bilang itu artinya memberi peluang pada penjahat. Dan dia mengancam jika terjadi sesuatu pada Dian dan membuat Zafrina sedih maka dia akan membuat perhitungan langsung pada Gerry.
Rian ingat laporan Diego mengenai Viona yang juga menargetkan Dian. Karena dendam pernah ditolak oleh Gerry dan pernah dipermalukan oleh Dian. Dan hal itu menyulut amarah Rian. Bukan karena ia mencintai Dian, melainkan lebih menjaga hati putrinya. Karena bagi Zafrina Dian adalah ibu yang begitu berharga baginya.
.
.
.
"Selin, sebaiknya kamu istirahat saja. Biar Judy sama aku." Ujar Dian menatap iba pada Selin, wajahnya begitu pucat.
"Tidak, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian." Setelah berkata demikian Selin terlihat semakin tidak nyaman. Ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Ia berjalan cepat ke arah wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Hingga ia terlihat lemah, Selin mendudukan dirinya kursi yang ada di dekat wastafel, kepala Selin terasa berdenyut. Ia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa pusingnya. Dian memberikan air putih hangat pada Selin.
Wanita itu menerimanya lalu meminum air itu hingga tersisa setengah. Dian mengernyitkan dahinya, lalu perlahan dia bertanya kepada Selin.
"Selin, apa tidak sebaiknya kau periksakan dirimu. Aku rasa kau seperti orang hamil." Ujar Dian, Selin terhenyak.
Apakah benar dirinya hamil. Karena ini memang seharusnya dia mendapat tamu bulanannya tetapi sudah 3 hari terlewat dan ini tidak pernah terjadi kecuali saat dia hamil Judy dulu.
"Aku hanya takut kau akan kewalahan. Kau memiliki 3 tanggungan belum lagi Dino. Aku benar-benar tidak ingin merepotkan dirimu. Kalian sudah terlalu banyak membantu kami." Ujar Selin seraya memijit pangkal hidungnya.
"Kau tidak perlu sungkan. Anggap saja kita ini bersaudara. Jadi tidak perlu memikirkan apapun." Kata Dian.
Tak lama anak-anak yang sedang mereka bicarakan datang.
"Mommy .." Judy mendekat kearah Selin dan memeluknya. Selin tersenyum mengusap wajah putrinya. Jika benar dirinya hamil ia akan sangat senang.
"Sayang, momy tidak bisa mengantar Judy ke sekolah. Judy keberatan tidak jika hanya bersama tante Dian?"
Judy menatap wajah pucat Selin. Lalu menggeleng.
__ADS_1
"Tidak apa-apa momy. Zayn, Dino dan kak Zafa pasti akan menjagaku seperti mereka menjaga Ana. Bukankah begitu?" Judy menatap ketiga pria kecil yang ada di sebelahnya. Dan mereka tersenyum sambil mengangguk.
"Iya, kami akan menjagamu seperti kami menjaga Ana." Ujar Zayn. Selin tersenyum penuh haru. Bagaimana cara Dian mendidik anak-anaknya hingga mereka menjadi pribadi yang baik. Bahkan selama dia berada disana tak pernah sekalipun mendengar suara anak-anak itu menangis atau merajuk.
"Terimakasih, kalian memang pria pria yang bisa diandalkan." Puji Selin. Akhirnya Dian berangkat bersama anak-anak itu meninggalkan Selin yang sudah merebahkan dirinya diatas pembaringan. Matanya terasa berat, Terang saja ia nengantuk karena semalam dia kurang tidur, setelah selesai melakukan kewajibannya, ia justru harus mengikuti Veni yang berakhir di rumah sakit.
Perlahan mata Selin terpejam, nafasnya begitu teratur. Sampai-sampai dia tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya.
Kaki panjangnya mendekat kearah ranjang, tangannya terulur mengusap wajah Selin yang tampak sangat lelah dan pucat.
Perlahan wajahnya mendekat dan mengecup bibir Selin.
"Meski kau dalam keadaan tidak berdaya seperti ini, kau tetap terlihat cantik putri Selin." Desis orang itu.
.
.
.
"Uuhhm .." Lenguhan Veni membuyarkan lamunan Aldo.
"Baby, kau sudah bangun?" ---- Aldo.
Veni mengedarkan matanya, menatap sekeliling ruangan dengan nuansa putih. Ia tertegun menatap Aldo yang berlinang air mata. Bahkan kantung mata pria itu pun terlihat menghitam, yang mengatakan jika pria tersebut kurang beristirahat.
"Ha-us .." Desis Veni. Aldo dengan sigap mengambilkan gelas yang ada di atas nakas. Ia menaikkan posisi ranjang Veni agar bisa sedikit bersandar. Lalu Aldo menyodorkan gelas minum itu ke bibir Veni. Setelah membasahi tenggorokannya Veni menatap Aldo dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baby, maafkan aku." Aldo menatap Veni penuh dengan penyesalan.
Veni menggeleng lemah, akhirnya air mata yang tertahan di pelupuk mata tumpah membasahi pipinya.
"Aku yang salah, maafkan aku. Hampir saja aku membahayakan janin kita." Lirih Veni, Aldo menggeleng dan merengkuh Veni kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku yang tidak bisa mengerti keadaanmu baby. aku yang salah. Maaf aku berjanji hal seperti ini tak akan terulang lagi." --- Aldo.
"Sekarang kau harus makan." Ujar Aldo meraih kotak makan yang sudah disediakan rumah sakit.
"Aku tidak mau makan itu. Masakan rumah sakit itu tidak enak." Veni menggeleng saat Aldo menyodorkan sesendok makanan ke mulut Veni.
"Aku mau kue pancong." Ujar Veni memelas. Mendengar ucapan Veni, Aldo seperti Dejavu. Matanya sarat akan kesedihan. Bahkan hanya sekedar kue yang tak seberapa harganya istrinya harus masuk rumah sakit karena kecerobohannya.
"Aku akan belikan tapi setelah kau memakan makananmu. Karena kau perlu itu untuk minum obat." Kata Aldo, ia juga segera meminta Alex untuk menyuruh seorang anak buahnya mencarikan kue yang sangat diinginkan istrinya itu.
Mau tak mau Veni memakan makanannya, dengan disuapi oleh Aldo, Veni hanya menatap suaminya dengan tatapan yang begitu dalam. Mereka berdua sedang belajar untuk saling memantaskan diri mereka untuk melengkapi kekurangan satu sama lain. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi keduanya, untuk saling mengerti dan memahami kondisi masing-masing. Mereka tidak bisa memaksakan begitu saja keinginannya tanpa melihat kondisi pasangannya.
Selesai makan kue yang diminta Veni pun tiba. Wajah gembiranya tak bisa disembunyikan. Ia membuka plastik pembungkus dan mulai memakan satu per satu hingga habis tak tersisa. Aldo hanya menatap haru, melihat istrinya makan dengan begitu bersemangatnya.
.
.
.
Dian berada di sekolah anak-anaknya, Zafrina sudah masuk dan di antar Oleh Velia. Saat melihat Dian, gadis kecil itu langsung memeluknya ibunya.
"Mama .."
"Ina ..." Dian memeluk Ina dengan mata berkaca-kaca. Ia merindukan putri pertamanya. Namun ia tak bisa mengatakan pada siapapun karena Dian takut jika perasaan rindunya akan membebani Gerry atau Rian.
"Hai .." Dian memeluk Velia. Velia tersenyum hangat, saat ibu dari putri sambungnya menyambut dirinya. Agak aneh sih hubungan antara ibu kandung dan ibu sambung yang terlihat baik-baik saja. Namun Velia tak ambil pusing. Selama suaminya selalu mencintai dirinya, itu lebih dari cukup bagi Velia untuk mencurahkan rasa sayangnya kepada Zafrina.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Senin Senin saatnya bersedekah Vote. jangan lupa like komen dan Gift buat othor ya.
Maaf ya akhir² ini othor lagi super super sibuk banyak kegiatan.
__ADS_1