
******
Dian, Gerry, dan ayah Hanafi tiba di rumah sakit. Arya menyambut kedua pasangan itu. Meskipun sudah beristri Arya masih saja selalu terpesona dengan kecantikan Dian. Apalagi sekarang Dian sedang hamil, kecantikannya meningkat berkali-kali lipat.
Gerry mendengus melihat tatapan Arya pada istrinya. Rasanya ingin sekali dirinya mencongkel mata Arya yang seakan-akan ingin menelanjangi Istrinya.
"Jaga pandanganmu, mau ku adukan pada istrimu? Jika kau masih sering melirik istriku." Kata Gerry ketus. Arya langsung gelagapan ketahuan memandangi Dian. Sedangkan ayah Hanafi hanya menggeleng melihat kecemburuan Gerry. Dian tertawa kecil namun suara Gerry menghentikan tawanya.
"Kau juga jangan tertawa. Jangan memancing hasrat pria lain." Ujar Gerry pada Dian yang langsung mendapat pukulan dari Dian. Dian memukul lengan Gerry berulang-ulang. Lalu berjalan lebih dulu menggandeng sang ayah, meninggalkan Gerry dan Arya.
"Ger, kondisi abah Usman tidak baik. Dia terkena kanker paru-paru stadium akhir. Dan kedua ginjalnya bermasalah. Mungkin selama dia merasakan sakit dia mengkonsumsi obat warung secara asal." Ujar Arya saat mereka berdua jalan bersamaan mengikuti Dian yang terlebih dulu Masuk ke dalam lift.
"Bisakah kalian lebih cepat. Tanganku bisa putus jika terus menekan tombol lift ini." Ketus Dian. Gerry terkekeh melihat istrinya merajuk. Ia lantas membawa tubuh Dian kedalam pelukannya.
"Uuh .. sayangnya aku ngambek ya?" Goda Gerry.
"Ga lucu .. "
"Aku tadi hanya bercanda sayang, kamu jangan sering ketawa di depan dokter c*bul ini." Kata Gerry. Ayah Hanafi benar-benar baru tahu jika menantu dan anaknya bisa bersikap kekanakan.
Dian membuang muka. Sedang Gerry mendesah, bisa-bisa jatah enak*nya akan dikurangi oleh Dian."
.
.
.
Mereka berempat sampai dilantai 3 dimana abah Usman dirawat. Dian dipakaikan baju steril oleh Gerry dan juga masker. Begitupun ayah Hanafi sudah siap dengan baju sterilnya.
Gerry tidak ikut masuk karena hanya boleh dua orang yang mengunjungi. Jadi nanti Gerry akan bergantian dengan Ayah Hanafi.
__ADS_1
Dian masuk dan duduk di samping brankar. Abah Usman membuka matanya saat merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Neng Dian .. " Desis abah Usman.
"Iya bah, ini eneng. Maafin eneng jarang nengok abah." Ujar Dian
"Abah titip Ara .. "
"Abah ngomong apa? abah pasti sembuh. Kalo abah kenapaยฒ Ara pasti akan sedih bah." Kata Dian, berulang kali dia menghembuskan nafas lewat mulutnya agar tidak menangis di depan abah.
"Abah sudah tidak kuat neng. Selama ini abah hanya kepikiran Ara. Eneng benar kalo sekolah musti tinggi. Itu makanya abah mati-matian cari uang agar Ara bisa sekolah tinggi, ga diremehin orang terus." Sudut mata abah Usman menitikkan air mata. Ayah Hanafi hanya memegang pundak Dian yang mulai bergetar.
"Bah, abah harus yakin kalo abah bisa sembuh. Abah ga kepengen nemenin Ara wisuda? Menjadi wali nikahnya Ara nanti? Abah kudu semangat pokoknya. Nanti kalo abah sembuh, eneng bakalan bawa abah ke rumah baru yang sudah kakek siapin buat abah sama Ara." Kata Dian. Ia merasa iba melihat abah yang sepertinya kesulitan bernafas.
"Ara mana neng, Abah pengen ngomong." Dian segera keluar dari ruangan. Ia tidak sanggup lagi menahan air matanya. Diluar ruangan Gerry menatap heran istrinya yang terus mengusap wajahnya. Gerry tahu istrinya sedang menangis saat ini.
"Kenapa yank?"
"Ara kenapa pak Arya?" tanya Dian.
"Dia syok terus pingsan. Tekanan darahnya rendah." Kata Arya menjelaskan. Namun Dian seolah tak mendengar, wajahnya fokus menatap Arsen yang ada di samping Ara.
"Kamu ga pulang bang?" tanya Arya pada Arsen yang dijawab gelengan kepala saja.
"Aa pulang saja toh disini sudah ada teh Dian." Kata Ara namun Arsen tak menjawab. Ara hanya mendengus kesal.
"Ara, abah mau ngomong." Kata Dian dengan Wajah serius. Ara langsung bangkit berdiri, namun karena kepalanya masih pusing dia terhuyung. Arsen langsung menahan tubuh Ara. Gerry mengernyitkan dahi melihat kedekatan Ara dengan kakak sambung Didi itu. Dia memang hampir tidak pernah bertemu dengan Arsen makanya dia merasa asing dengan keberadaan pria itu disana.
.
.
__ADS_1
.
Ara sudah duduk di samping abah mengenakan baju steril Arsen setia berada di dekat gadis itu, karena dia mencemaskan kondisi Ara saat ini. Abah melihat bingung ke arah Arsen. Ara yang tau arah pandangan abah langsung menjelaskan.
"Bah, ini aa Arsen. Kakaknya dokter Arya. Dari kemarin dia nemenin Ara disini. Abah gimana masih sakit banget dadanya?" Ara menelan kasar salivanya tenggorokannya seakan tercekat.
Abah mengangguk-angguk "Terimakasih nak Arsen." Lirih abah. Arsen hanya tersenyum seraya mengangguk.
"Ara, abah minta maaf kalo abah selalu maksa ara buat kuliah. Abah cuma kepengen Ara punya pendidikan tinggi agar nanti Ara tidak diremehkan orang. Abah tau Ara pengen kerja bantu abah. Tapi abah merasa malu sama anak abah, sama menantu abah. Dikira abah ga mampu menghidupi anak mereka. Nanti kalo abah ketemu orang tua kamu disana abah bakalan cerita kalo Ara sekarang kuliah. Bisa jadi orang nanti." Ujar Abah dengan nafas tersengal-sengal.
"Udah abah istirahat aja. Ga usah mikirin Ara! abah kudu sembuh."
"Maafin abah ya Ra, abah ga bisa jadi wali nikah Ara meskipun abah pengen lihat Ara jadi penganten."
"Abah ngomong apa sih bah, abah percaya sama Ara. Abah pasti sembuh. Jangan ngomong aneh-aneh atuh bah! Kalo abah kenapa-kenapa Ara sama siapa bah?" Tangis Ara pecah, Dian pun tak kuasa menahan tangisnya. Arsen menatap sendu wajah Ara yang sembab, sejak tadi tanpa ia sadari tangannya mengusap punggung Ara.
"Abah .. " Belum selesai abah mengucapkan sesuatu tiba-tiba nafas abah Usman mulai terputusยฒ Arsen segera memanggil Arya. Dokter yang menangani abah pun berada di luar ruangan itu karena Gerry yang memanggilnya untuk ditanyai kondisi abah Usman. Namun siapa sangka kondisi abah Usman semakin memburuk sehingga Arya dan dokter tersebut melakukan tindakan penyelamatan pada abah Usman.
Ara digiring Dian menunggu diluar ruangan. Sedangkan Arsen hanya mengikuti keduanya. Pandangan matanya tak lepas dari gadis itu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Ara terus menangis dipelukan Dian. Ketakutannya semakin nyata. Bagaimana dia akan menjalani hidupnya tanpa abah di sampingnya. Sejak dulu abah satu-satunya keluarga yang Ara miliki.
Dian mengusap punggung Ara, ia tau kesedihan yang Ara rasa. Hanya saja kondisinya berbeda. Karena Dian masih dikelilingi keluarganya.
๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ
**Info dari othor penting untuk dibawa. Diawal othor udah ngomong kisah manis Dian dan Gerry itu finish sampai extra bab doank. Dan di season dua ini mereka adalah pelengkap dari cerita para figurannya. Dan alur ini udah dari jauh hari jadi agenda othor. Dari Didi - Selin, Aldo - Veni, begitupun Arsen - Ara. Sebenarnya mereka punya jatah novel masing-masing. Tapi karena othor sedikit rada dikecewakan di novel papi rian makanya othor pikir ulang buat jadiin satu mereka disini. Jadi jika sekiranya kalian bosan membaca kisah ini silahkan ditinggalkan tanpa meninggalkan komentar yang menyakitkan Ok.
Jangan lupa tekan jempolnya sampai biru. ditunggu mawar ma kopinya juga biar lancar sehari 3x up
Love from othor baperan ๐๐.
__ADS_1
Kalo part ini ngabisin tisu bisa pake kanebo kering yah... ๐๐๐**