Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Haruskah Aku Memaafkannya?


__ADS_3

**********


"Aa .. " Ara membulatkan mata melihat kedatangan Arsen dengan begitu banyak barang di dekatnya.


Dan yang paling membuat Ara terharu adalah balon dengan tulisan i'm sorry. Sepertinya pria itu begitu serius ingin meminta maaf pada dirinya.


"Aku boleh masuk Ra? tanganku pegal." Ujar Arsen Ara membuka pintu rumah itu lebar-lebar.


Arsen mengedarkan pandangan. Rumah siapa ini? Dan kenapa Ara sendirian?


Ara membantu Arsen mengambil boneka yang begitu besar yang teronggok di lantai. Ada dua paper bag besar dan yang satu berisi Kue besar dengan tulisan yang sama seperti di balon yang Arsen bawa.


"Ini buat kamu Ra." Arsen menyerahkan balon-balon itu dan sebuket bunga besar yang diatasnya ditempeli kertas merah muda berbentuk hati dengan tulisan I Love U. Ara hanya mengulum senyum bahagia melihat kesungguhan Arsen. Bahkan ini lebih romantis ketimbang lamaran Arsen malam itu yang sama sekali tak ada manis-manisnya.


"Jadi aa lama nyampai sini karena ini semua?" tanya Ara. Dan Arsen mengangguk.


"Iya Ra, nungguin orang toko nyariin balon yang tulisannya itu lama banget. Belum lagi tadi di toko roti antri. Trus yang paling parah di florist nya pas aku pesen bunga katanya stok habis nunggu ambil di toko cabang. Mana nunggu lama banget. Eh sampe toko ternyata masih nunggu dikerjain dulu."


"Ya ampun aa aku tu khawatir tau, Aa datengnya lama. Aku pikir di jalan aa kenapa-kenapa. Mata Ara berkaca-kaca. Arsen menariknya masuk kedalam pelukannya.


"Jangan pergi lagi Ra. Aku minta maaf, aku janji sama kamu aku akan berusaha menghilangkan tabiat buruk aku." Ara mengangguk dalam pelukan Arsen.


Ara mengurai pelukan Arsen. "Aa udah makan?" Dan pria itu hanya menggeleng.

__ADS_1


"Ra ini rumah siapa?" Tanya Arsen penasaran.


"Ini rumah yang dikasih sama kakeknya Teteh Dian. Sebenarnya untuk Abah dan Ara. Tapi karena Abah udah ga ada jadi dikasih ke Ara." Kata gadis itu. Arsen hanya mengangguk-angguk. ---- "Dan sebenarnya kemarin aku udah mau kasih tau Aa kalo aku akan tinggal disini sampai hari H kita menikah." Ujar Ara. Mata Arsen membulat.


"Tidak bisa, aku ga mau jauh darimu Ra." Ujar Arsen.


"Aa aku ga bisa terus menerus menumpang dirumah aa. Apa kata saudara saudara aa yang lain nanti. Biarkan aku disini ya A" Ara memohon seraya menggoyangkan lengan Arsen. Pria itu hanya diam lalu menarik nafasnya panjang.


"Aku lapar .. " Ujar Arsen tak menanggapi permintaan Ara. Dengan wajah cemberut Ara menuju dapur, Arsen mengikutinya dengan membawa satu paper bag berisi makanan yang sudah mama Clara bawa. Semua ide untuk meminta maaf itu juga datangnya dari mama Clara dan Selin. Karena Arsen bingung dan tak mengetahui apa yang Ara suka ia memilih membeli semua yang disarankan oleh dua wanita itu.


"Itu apa A' ..?"


"Ini makanan dari mama. Karena mama tau aku belum makan, dan mama pikir calon mantunya juga makanya dibawakan ini." Ara menerima paperbag itu dan mulai memindahkan makanannya ke dalam piring.


Melihat makanan yang dibawakan oleh Arsen membuat Ara kembali merasa lapar. Dia duduk di samping Arsen, Ara melayani Arsen dengan sangat baik.


"Makasih ya Ra .. " Ujar Arsen saat menerima piring nasi yang sudah terisi dengan nasi, lauk dan sayur. Keduanya mulai makan dalam diam, Arsen sesekali mencuri pandang menatap calon istrinya itu. Arsen bersyukur memiliki mama Clara yang bisa mengerti dirinya tanpa harus mengatakan apa-apa. Ara yang saat itu masih lusuh saja terlihat begitu cantik apa lagi sekarang. Ibarat kata dulunya Ara hanya sebuah bongkahan batu biasa. Namun setelah dipoles dan diproses ia menjelma menjadi batu berlian yang sangat berharga. Melihat Ara yang sekarang membuat Arsen merasa begitu takut kehilangan gadisnya. Apalagi rentang jarak usia mereka yang terlampau jauh sempat membuat Arsen merasa tak percaya diri.


.


.


.

__ADS_1


Di tempat lain, Aldo sedang bersama Maria. Ia membawa ibu Veni ke rumah tuan Hanafi. Ia ingin membuat kesalahpahaman antara ibu dan istrinya berakhir. Dan menghilangkan trauma Dian serta Veni. Wajah Maria tampak pucat. Tubuhnya gemeteran. Ia tak tahu dibawa kemana oleh pria yang mengaku sebagai suami dari putrinya itu. Karena sepanjang perjalanan Aldo memilih diam. Saat memasuki gerbang besar semua penjaga membungkuk hormat pada Aldo yang membuat Maria semakin dilanda ketakutan.


Aldo berhenti di depan pelataran mansion besar namun ia tak segera turun. Ia menghubungi nomor Gerry dan mengatakan jika Ia saat ini membawa ibu Veni. Dia ingin Gerry terlebih dulu menyampaikan maksud Aldo pada Dian dan Veni kenapa dirinya membawa wanita itu kemari. Meskipun Aldo sadar resikonya tapi dia tak ingin istrinya berlarut larut dengan traumanya.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Gerry kembali menghubungi Aldo dan mengijinkan Aldo masuk dengan ibu Veni. Sementara di dalam Veni duduk di samping ibu Arimbi dan ayah Hanafi dengan cemas, sedang Dian bersandar di pelukan Gerry. Baik Veni maupun Dian sama-sama merasakan degup jantung mereka berpacu hebat.


Aldo datang menggiring Maria yang terus tertunduk. Namun matanya langsung membulat saat melihat kelima orang yang ada di ruangan itu. Dengan setengah berlari Maria menghampiri mereka. Dian dan Veni menegang. Namun Gerry langsung berdiri pasang badan tanpa di duga-duga Maria bersujud di hadapan mereka. Kini giliran keenam orang itu yang membulatkan mata.


"Veni, maafkan ibu nak. Ibu telah berbuat buruk padamu. Dan juga Dian, maafkan sikap bibi selama ini. Bibi selalu jahat kepadamu, menyiksamu. Maafkan bibi." ---- "Hanafi, Arimbi hukum lah aku masukkan saja aku ke penjara. Dan tolong lindungi putriku. Karena Ada seseorang yang sedang mengincar putriku." Maria terus menerus berucap seraya bersujud di depan kaki Veni, Arimbi dan Hanafi. Veni menatap Aldo dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Kenapa hal sebesar ini Aldo tidak meminta pendapatnya.


"Kenapa kau lakukan semua ini Maria? apa selama ini yang kau rampas dari kami kurang?" Hardik Arimbi. Bagaimana pun hati seorang ibu akan merasa sakit jika putrinya diperlakukan dengan buruk.


"Maafkan aku Rimbi. Kau boleh melaporkan aku ke polisi. Jebloskan aku ke penjara. Tapi tolong kau lindungi Veni."


"Aku tidak butuh maafmu ibu. Pergilah ..!!" Ujar Veni. Hanafi memegang tangan Veni yang gemetaran.


"Jangan mengucapkan sebuah kata yang kelak akan kau sesali nak."


"Apa yang harus aku sesali ayah? wanita ini menjualku. Dia membuatku disiksa oleh si tua bangka Martinus dan istri-istrinya. Apa ayah tau sakitnya bekas luka cambukan yang di siram cuka? Apa ayah pernah merasakan mulut ayah di jejali cabai yang begitu banyak? Mereka memaksaku mengunyah segenggam cabai hanya karena lantai yang ku bersihkan masih kotor. Bahkan rasa sakit perut dan tenggorokanku hingga kini masih terasa nyata. Haruskah aku memaafkan wanita ini hanya karena dia ibuku?"


**********


Hayo sapa yang tadi pikirannya macem-macem sama Aa Arsen? othor tu ga bakalan tega ngasih cerita yang tegang-tegang. Othor lebih suka cerita yang enak-enak.

__ADS_1


__ADS_2