
********
Dian duduk termenung di bangku taman, saat ini kehidupan terasa hampa. Anak-anaknya tumbuh besar dengan cepat. Ia seakan dilupakan oleh anak-anaknya. Zayana sedang sibuk begitupun Zayn semakin besar kesibukannya bertambah, ia juga sedang belajar bisnis untuk meneruskan usaha ayahnya. Gerry karena harus mengurus perusahaan milik Dian juga sekarang juga semakin sering tidak berada di rumah. Dan putri kecilnya Zafia selalu berada di mansion orang tua Dian karena dia ingin belajar ilmu tehnologi pada Gino anak kedua Nino.
Dian tampak melamun, sepertinya dia harus menyusul Zafa ke Amerika menanyakan langsung pada putranya apa yang membuat putra pertamanya itu menghindari dirinya.
Berulang kali Dian menarik nafasnya rasanya seperti ada yang menghimpit dadanya. hingga membuatnya merasakan sesak nafas. Dari ruang tengah Gerry menatap Dian begitu dalam, sudah 10 menit ia berdiri di sana dan istrinya sepertinya terlalu sibuk dengan lamunannya hingga tak menyadari keberadaannya. Gerry mendekat dan memeluk tubuh Dian dari belakang hingga Dian tersentak kaget.
"Kau baru pulang?" tanya Dian seraya mendekap lengan Gerry yang masih memeluknya dengan erat.
"Sudah sejak tadi, tapi istriku sepertinya sudah tidak mempedulikan aku." Kata Gerry merajuk, Dian mengusap rahang kokoh Gerry dengan lembut.
"Maafkan aku sayang." Bisik Dian seraya mengecup pipi Gerry.
"Ayo masuk ..! kau bisa sakit jika terlalu lama di luar." Tanpa aba-aba Gerry mengangkat tubuh Dian ala bridal style, Dian tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Gerry, kepalanya bersandar di dada bidang Gerry, rasanya benar-benar nyaman dan menentramkan.
"Aku ingin ke Amerika untuk melihat kondisi Zafa. Apa kau mengijinkan aku pergi?" tanya Dian saat mereka berdua tiba di kamar.
Gerry menatap Dian penuh cinta. Wajah Dian terlihat sangat tirus, Gerry membelai wajah cantik istrinya dan tersenyum.
"Apa kau masih penasaran?"
"Tentu saja, aku yakin ada yang sedang dia sembunyikan. Bahkan sudah sebulan dia tidak menghubungiku, apa menurutmu itu normal?"
"Mungkin dia memang sedang ingin fokus dengan kuliahnya sayang." Kata Gerry, sepertinya ia sudah tidak mampu lagi menahan keinginan istrinya itu.
Wajah Dian berubah sendu, dia merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut lalu berbalik membelakangi Gerry.
"Sayang, tidak sopan memunggungi suamimu." Bujuk Gerry, namun Dian tetap diam. Gerry tau betul sebentar lagi istrinya pasti akan menangis.
"Baiklah, kau boleh menyusul Zafa jika anak-anak kita yang lain mengijinkannya." Ujar Gerry mengalah.
Dian segera berbalik menatap Gerry dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Benarkah boleh?"
"Tentu saja sayang, tapi aku tidak bisa mengantarmu ke sana."
"Aku tidak apa-apa ke sana sendirian. Toh aku sering kesana." Ujar Dian, wajah sendunya sudah berubah penuh semangat. Gerry mengusap wajah Dian dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Tuntaskan rasa penasaranmu, dan kembalilah dengan wajah bahagia. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami. Sedihmu adalah duka kami." Ucap Gerry. Dian langsung meringsek masuk kedalam dekapan hangat suaminya.
.
.
.
Zayn, Judy dan Zayana saat ini sedang berada di puncak. Mereka akan menjalani serangkaian acara mengakrabkan diri dengan senior. Ketiganya masuk dalam kegiatan mahasiswa pecinta alam. Begitupun Dino, namun karena berbeda jurusan Dino tidak bisa berada dalam satu regu dengan Ketiga orang itu.
Shanaz dan gengnya pun ikut bergabung hanya demi Zayn, ya gadis itu benar-benar tergila-gila dan terobsesi dengan Zayn.
Saat ini semua sudah bersiap karena akan ada malam api unggun. Zayn menarik zipper jaket Judy hingga ke atas karena suhunya benar-benar minus. Zayana berdiri tidak jauh dari pasangan itu.
Serangkaian acara sudah di mulai dari perkenalan hingga pertunjukan. Kini tibalah mereka di sesi permainan. Mereka akan dikelompokkan dan acak. Judy dan Zayana mendapat regu dengan Shanaz dan teman satu geng Shanaz. Mereka harus mencari 5 bendera yang sudah di sembunyikan di suatu tempat. Di setiap sudut akan ada yang memantau gerak gerik mereka.
Zayn berbeda kelompok dengan Judy dan Zayana. Namun pria itu terlihat tenang saat kelompok Judy dan Zayana mulai memasuki hutan buatan itu.
"Aku heran kenapa Zayn tidak risih terus menerus ditempel oleh lintah sepertimu." Suara Shanaz memecah keheningan malam itu.
"Kau menanyakan hal yang sebenarnya kau sendiri tau jawabannyakan?" Jawab Zayana.
"Diamlah, aku tidak bertanya padamu." Ketus Shanaz.
"Hei, yang kau tanyakan itu saudaraku. Jadi aku berhak menjawabnya." Ujar Zayana tak terima.
Tanpa mereka sadari Judy sudah tidak berada di sekitar mereka karena Judy mengambil bendera yang ada di sisi kiri hutan.
__ADS_1
Zayana menoleh ke samping namun Judy sudah tidak ada.
"Judy kau dimana?" teriak Zayana panik, dia langsung berbalik meninggalkan Shanaz dan temannya. Shanaz dan temannya hanya bisa bengong, karena tanpa sadar mereka sudah berjalan jauh masuk ke dalam hutan.
"Shanaz bagaimana ini?" Tanya teman Shanaz yang bernama Febi.
"Aku juga tidak tahu bo*doh." Shanaz mencoba menyusul Zayana namun dia justru semakin bingung karena sepertinya mereka hanya berputar di posisi yang sama.
Zayana terus meneriakan nama Judy namun gadis itu tidak menyahut sama sekali. Kecemasan jelas terlihat di wajah Zayana saat ini.
"Ana .. " Panggil Zayn, saat kelompok Zayn berada di dekat lokasinya dan mendengar teriakan Zayana.
"Zayn, Judy menghilang." Kata Zayana menangis, ia merasa tak bisa menjaga kekasih kakaknya itu."
"Tenanglah, kita kembali dulu saja ke camp setelah itu minta bantuan yang lain untuk mencari Judy." Ujar Zayn memeluk Zayana.
Saat mereka tiba di dekat Camp, mata Zayn membelalak saat melihat Judy berada di atas punggung Dino. Ia segera berlari menghampiri Dino.
"Baby, ada apa denganmu?"
"Zayn .. " Dino menurunkan Judy dengan hati-hati di sebuah bangku.
"Kakiku sakit Zayn." Ujar Judy seraya meringis kesakitan.
"Aku menemukan dia ada di hutan sebelah barat, kakinya sepertinya terkilir makanya aku menggendongnya." Kata Dino menjelaskan kronologinya. ia tak ingin membuat sepupunya salah paham.
"Thanks bro .. " Zayn berjongkok di hadapan Judy, pergelangan kaki gadis itu berwarna biru dan bengkak.
"Kenapa bisa terluka, bukankah tadi aku bilang jangan jauh-jauh dari Zayana." Kata Zayn, tampak jelas pria itu sangat mengkhawatirkan Judy.
"Mereka asik bertengkar dan tidak memperdulikan sekitarnya. Aku mengambil bendera di sisi timur tapi aku justru tergelicir dan jatuh, ini sakit sekali Zayn." Ujar Judy manja.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Selamat membaca guys. ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Maaf kalo up nya sedikit-sedikit. Karena percayalah berpikir sambil momong anak itu ga mudah guys, disaat kita serius mikir si anak asik kobokin selokan, kalo ga gitu lagi cari inspirasi si anak udah manjat meja mau ambil barang-barang diatasnya. pokoknya awesome lah. Semoga hari kalian menyenangkan