Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra Bab 8


__ADS_3

Aldo dengan tergopoh-gopoh membawa tubuh Veni yang dingin. Bibir seksinya membiru, wajahnya seakan tak teraliri darah. Ia begitu panik mendapati istrinya tergeletak di lantai kamar mandi.


Aldo berteriak di depan pintu IGD untuk meminta pertolongan, beruntung Arya ada disana. Dengan sigap Arya membantu Aldo memeriksa kondisi Veni.


"Suster tolong bantu saya mengganti baju pasien." Perintah Arya. Arya menatap iba wajah Aldo yang terlihat panik.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Arya.


"Aku juga tidak tau. Tadi aku meninggalkannya sebentar untuk menerima laporan dari Didi. Tapi tiba-tiba terjadi keributan. Aku berpikir itu hal yang wajar dan biasa terjadi di klub. Tapi aku mendengar jika salah satu dari penyebab keributan adalah Viona. Aku tak menyangka jika dia mengusik istriku." Tutur Aldo.


Seorang suster menghampiri Arya dan mengatakan jika Veni sudah siuman dan bajunya juga sudah diganti dengan baju pasien.


Aldo langsung mendahului Arya masuk ke bilik Veni. "Baby .."


Veni menoleh kearah sumber suara. Ia melihat sorot mata Aldo yang begitu khawatir. Lagi-lagi ia membuat Aldo cemas akan kondisinya.


Veni menitikkan air matanya. Aldo mendekat dan mengusap pipi Veni yang basah.


"Please don't cry baby .." Ujar Aldo. Veni justru merangsek mendekap perut Aldo dan terisak. Arya hanya diam menjadi penonton menunggu drama keluarga Cemara itu selesai.


"Bisakah sekarang aku memeriksanya?" tanya Arya seraya mendekat ke ranjang Veni.


Veni melepas pelukannya, wajahnya memerah menahan malu. Aldo bergeser agar Arya leluasa memeriksa Veni.


Setelah beberapa saat, sebelum Arya berbicara Aldo menghujani Arya dengan pertanyaannya.


"Bagaimana, apa istriku baik-baik saja? Tidak ada hal yang serius kan? apa perlu dia dirawat inap?" Arya mendesah jengkel mendengar serentetan pertanyaan Aldo.


"Bisakah kau diam. Jangan sampai ku tambal mulutmu dengan perban." Geram Arya. Aldo menggaruk tengkuknya seraya tersenyum garing.


"Maafkan aku .." Ujar Aldo. Sedangkan Veni hanya menggigit bibir bawahnya menahan tawa.


"Istrimu memang harus dirawat inap. Perlu pengecekan secara menyeluruh. Apa selama menjalani pengobatan disana kalian sudah pastikan semua bersih?" tanya Arya. Mengetahui apa yang dimaksudkan Arya, Aldo mengangguk.


"Semua sudah bersih. Bahkan setiap 3 bulan sekali kami melakukan pengecekan. Kenapa apa ada yang salah dengan istriku?" tanya Aldo mulai cemas kembali.


Wajah Veni tak kalah memucat. Jangan-jangan penyakit yang dulu sempat ia derita kembali bersarang di tubuhnya.

__ADS_1


"Kalian tenanglah dulu. Besok aku akan hubungi dokter Fani agar memeriksa istrimu. Jika dugaanku benar aku harus ucapkan selamat pada kalian." Kata Arya.


"Apa maksudmu?" tanya Aldo bingung, istrinya harus dirawat di rumah sakit tapi Arya justru mengucapkan selamat padanya? Apakah kakak Didi ini sudah tidak waras.


"Apa kau kuat berjalan?" tanya Arya tak menanggapi pertanyaan Aldo. Veni mengangguk. Namun Aldo menahan istrinya bergerak dari brankar-nya.


"Apa yang harus dia lakukan. Aku akan menggendongnya." Tegas Aldo. Arya hanya melirik jengah.


"Istrimu harus kencing disini." Ujar Arya menyerahkan tabung kaca kecil pada Veni. Aldo semakin tak mengerti namun dia dengan sigap mengangkat tubuh Veni.


"Dasar dokter aneh." Gerutu Aldo sembari mengangkat tubuh Veni. Veni tersenyum melihat suaminya kesal pada dokter Arya.


Setelah Veni masuk kamar mandi dan menampung urine nya, Aldo kembaLo menggendong Veni menuju brankar-nya.


Arya mengeluarkan sebuah alat kecil lalu mencelupkan nya kedalam tabung kaca itu untuk beberapa saat ia mengamati hasil yang muncul. Wajah Veni ikut menegang, begitu juga Aldo mengetahui alat apa yang sedang dipegang oleh Arya.


Wajah Arya tersenyum saat mendapati hasil dari alat kecil tersebut


"Bagaimana ..?" tanya Aldo tak sabar. Arya menyerahkan testpack yang ia pegang pada Aldo. Tangan pria itu bergetar tak menyangka.


"Kamu hamil baby. Akhirnya setelah sekian lama." Gumam Aldo, seketika Veni menangis sesenggukan. Ini adalah kabar terbaik yang ia ingin dengarkan. Tangan Veni membalas pelukan Aldo lebih erat.


.


.


.


Gerry sedang ada di dapur menyiapkan susu dan roti bakar untuk Dian, karena istrinya tiba-tiba terbangun dan berkata jika dia merasa lapar. Wajahnya benar-benar tampak bahagia, selama mengaduk susu dalam gelas itu senyumnya tak pernah sedikitpun luntur dari wajahnya.


"Awas kesambet Ger." Kata Sekar menggoda Gerry. Ayah dari 4 anak itu hanya tersenyum.


"Aku sangat bahagia mah. Akhirnya yang kami tunggu selama ini terwujud." Kata Gerry. Sekar tersenyum lembut pada anak tirinya itu.


"Anak kamu sudah 4 Ger. Kenapa kalian ngotot mau nambah lagi?" tanya Sekar penasaran.


"Gerry juga tidak tahu ma, cuma sejak memiliki Zafa dan Zafrina Gerry selalu berharap bisa memiliki banyak anak. Agar anak Gerry tidak kesepian seperti Gerry. Agar kelak mereka bisa saling menghibur satu sama lain." Tutur Gerry, --- "Aku antar susu untuk Dian dulu ya ma."

__ADS_1


"Iya, mama juga akan melihat anak-anakmu dulu. Tadi Zayana sempat menangis karena tak ada Zafrina." Ujar Sekar seraya beranjak menuju kamar cucunya.


"Ini sayang .." Gerry meletakkan nampan di pangkuan Dian.


"Maaf ya sayang, aku jadi merepotkanmu." Kata Dian dengan wajah bersalah.


"Justru aku senang kamu mau melibatkan aku. Aku merasa menjadi suami yang berguna." Kata Gerry.


"Mas Gerry itu suami idaman. Mana mungkin tidak berguna." Kata Dian, wajah Gerry mendadak terasa panas mendengar pujian dari istri tercintanya.


Dian mulai memakan roti buatan suaminya. Namun sesaat alisnya mengeryit.


"Mas ini pakai selai coklat ya?" tanya Dian.


"Iya sayang, kenapa? apa kamu tidak menyukainya?" tanya Gerry cemas.


Dian menggeleng. "Tidak sayang, aku menyukainya. Ini roti terenak yang pernah aku makan." Ujar Dian, lagi-lagi wajah Gerry memerah mendapatkan pujian kedua dari sang istri.


"Kamu bikin mas deg-degan. Mas kira kamu ga menyukai roti itu. Segera habiskan lalu kembali tidur. Tubuhmu butuh istirahat yang cukup." Kata Gerry dan Dian mengangguk patuh sambil menggigit rotinya.


"Mas, besok boleh ya aku ke rumah istri Rian." Kata Dian.


"Mau apa kesana?" tanya Gerry.


"Aku hanya memastikan keraguanku itu salah." Wajah Dian penuh pengharapan. Mau tak mau Gerry pun mengijinkan Dian menemui Zafrina di tempat Rian.


"Baiklah .. tapi hanya sebentar saja." kata Gerry mengajukan syarat. Dian tersenyum senang.


"Terimakasih mas." Dian meletakkan nampan diatas nakas. Ia langsung memegang kedua pipi Gerry dan dengan gerakan cepat Dian mengecup bibir Gerry


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


**Ditunggu like, komen dan Votenya guys. Semoga kalian suka.


FYI mungkin nanti othor cm sampai extra bab 9 Karena setelah itu lanjut S2 tapi fokus ceritanya beralih tentang kehidupan Aldo dan Veni, namun tetap ya Dian dan Gerry sering hadir beserta anak-anaknya. Jadi othor ga pindah atau buka cerita baru untuk pasangan Aldo dan Veni.


Kasih saran donk enaknya nanti visual mereka ganti atau ga? biar Serasi. Komen ya**

__ADS_1


__ADS_2