
*********
Kehidupan Didi saat ini bisa diibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga, kondisi papanya yang belum diketahui, ditambah istri dan anaknya masuk rumah sakit dan sekarang mamanya ikut pingsan mendengar kabar Judy dan Selin. Didi bingung harus berbuat apa.
"Temui mereka. Mereka lebih membutuhkanmu! Disini papa dan mama masih ada aku dan Arsen." Ujar Arya.
Didi mengangguk lantas berpamitan pada Arya dan Arsen. Bagaimanapun Didi tetap menghormati Arsen, terlepas dari sikapnya yang sering menyebalkan.
Didi dan Pablo meninggalkan rumah sakit itu menuju rumah sakit milik Sahabatnya.
.
.
.
Hatinya benar-benar tak tenang mendengar anaknya sempat menjadi sandera Archel dan terluka. Walau ada sedikit rasa leDitambah laporan Pablo yang mengatakan jika Istrinya jatuh pingsan di rumah sakit. Didi meraup wajahnya kasar.
Judy dan Selin sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Di sebelah ruangan Veni. Ruangan Judy dan Selin di jadikan satu. Atas permintaan Gerry.
Didi masuk dengan tatapan nanar. Hatinya mencelos melihat kedua bidadarinya terbaring lemah tak berdaya.
Di sebelah brankar Judy tergantung infus dan juga kantung darah. Didi menekan rasa sesak di dadanya dengan memukul-mukulnya. Ia teledor menjaga putri dan istrinya. Apa yang harus ia katakan pada mertuanya dan keluarga jika dia gagal menjaga amanah mereka.
__ADS_1
Dokter masuk diikuti kedua perawat. Sepertinya itu dokter yang menangani Judy karena begitu masuk ruangan itu dia langsung menuju brankar Judy dan mengecek kondisi putrinya
Didi hanya mampu menatap dengan cemas, semoga saja putrinya baik-baik saja.
"B-bagaimana kondisi putri saya dokter?" degup jantung Didi bertalu-talu. Ia hanya berharap Judy dan Selin lekas sadar.
"Kondisi putri bapak sudah mulai stabil. Tadi sempat terjadi pendarahan di luka kepalanya. Tapi beruntung putri bapak adalah anak yang sangat kuat." Didi lega mendengar penuturan dokter mengenai putrinya. Lalu bagaimana kondisi Selin.
"Lalu istri saya dok?"
"Mengenai istri bapak, dokter Fany yang memiliki wewenang untuk mengatakan semuanya, karena dia yang menangani." Akhirnya dokter itu undur diri dari ruangan Selin dan Judy.
Gerry membawa anak-anaknya melihat kondisi Judy karena Zayana terus merengek ingin melihat kondisi Sahabatnya itu. Saat memasuki ruangan Gerry menatap Didi sekilas. Ia belum tahu apa penyebab Didi lalai menjaga putrinya. Bahkan hampir saja istri dan calon bayi Gerry ikut menjadi korban.
Rian dan Velia menyusul dibelakang Gerry, dengan Zafrina yang bergelayut di leher Papinya, serta wajah yang begitu sembab. Tak terkecuali anak-anak Gerry.
Didi dapat merasakan pekatnya kesedihan dari pancaran wajah Keluarga Gerry.
Didi menjatuhkan tubuhnya dihadapan Gerry dan Rian. Dia berdiri dan bertumpu menggunakan kedua lututnya.
"Apa yang kau lakukan?" Desis Gerry tak suka dengan sikap Didi. Anak-anak Gerry melihat Didi dengan dahi mengernyit.
"Paman, kau seorang pria. Jangan merendahkan dirimu di depan orang lain. Dan membuat Judy dan onty Selin sedih." Ujar Zafa mendekati Didi dan membantunya berdiri. Didi semakin menundukkan wajahnya dihadapan Rian dan Gerry.
__ADS_1
Gerry menepuk pundak Didi. "Apakah kau tau semuanya ini akan terjadi?" --- Didi menggeleng.
"Jika begitu tak perlu merasa bersalah, mungkin semua ini sudah takdir." Tegas Gerry. Didi mengangkat kepalanya menatap sahabat karibnya itu. Senyum tipis tergambar di wajah Gerry meskipun saat ini Gerry juga sama masih mencemaskan kondisi Dian. Tapi pria itu berusaha tampak tegar dihadapan anak-anaknya.
Didi berganti menatap Rian dan memeluk pria itu dengan erat.
"Terimakasih .." Ujar Didi lirih.
Namun Rian mendorong tubuh Didi. "Hei aku masih normal." Desis Rian dan mendapat cubitan yang keras di perutnya.
"Sshh .. aww sakit sayang." Zafrina menatap papinya heran. Lalu pandangannya tertuju pada tangan Velia yang terulur di perut Rian. Gadis kecil itu tertawa seraya menutup mulutnya
.
.
.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Pendek dulu gaes. Othor lagi sibuk konsultasi dengan editor agar kedepannya karya othor ini tidak mengecewakan Kalian.
Love you all 😘
__ADS_1