
⛅ Selamat membaca ⛅
Setelah dua hari dirawat Dian diperbolehkan pulang dengan catatan harus bedrest.
Namun sampai saat ini Gerry belum menampakkan diri. Entah apa yang dilakukannya, dari kemarin Gerry terus-menerus meninggalkan Dian dengan alasan ada urusan penting. Kini Dian sedang ditunggui oleh nyonya Arini. Mertuanya itu sungguh sangat pengertian membawakan Dian rujak mangga muda. Bahkan air liur Dian sampai sulit di tahan sangking inginnya.
"Mama, mas Gerry kemana sih?" gerutu Dian. nyonya Arini hanya tersenyum mendapati menantunya yang sedang kesal menunggu putranya.
Saat ini Gerry sedang menyiapkan kejutan untuk Dian, Pria itu sudah memantapkan hati dan jiwanya untuk benar-benar mencintai Dian sepenuh hati.
"Semuanya sudah beres tuan." ujar Sigit, Gerry merasa puas melihat kejutan yang dia siapkan untuk istrinya itu meskipun dia harus merogoh koceknya begitu dalam. Tapi ini ia lakukan semata-mata demi kembalinya istri tercintanya.
"Baiklah, aku akan ke rumah sakit untuk menjemputnya." Gerry segera melaju membelah jalanan ibu kota yang tak pernah sepi selalu padat.
Sesampainya di rumah sakit Gerry segera menuju ke lantai dimana Dian dirawat. Ia membuka pintu perlahan namun seketika tubuhnya membeku saat ia melihat pria masa lalu Dian ada di sana. Senyum yang semula tergambar di bibir Gerry seketika luntur.
"Sayang ..!" Gerry menghampiri Dian dan memeluknya dengan posesif. Ia menatap tajam Rian yang di temani oleh seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang glamor dan serba mewah.
"Jadi dia ..?" wanita itu tampak menelisik wajah Dian, dengan tatapan meremehkan.
"Ada apa ini? siapa yang memberi kalian ijin untuk masuk?" tanya Gerry dengan tatapan permusuhan pada Rian. Namun pria itu tak menanggapi sama sekali. Justru fokus pria itu ada pada perut Dian yang membuncit.
"Mas ..!" Dian menggeleng dan mengusap lengan Gerry agar lebih sabar menghadapi kedua orang itu.
"Kami kesini hanya ingin menanyakan keberadaan cucuku." Ketus nyonya Santika ibunda Rian.
"Untuk apa kalo saya boleh tau?" ujar Dian dengan lembut namun ada ketegasan dibalik ucapannya.
"Tentu saja, kami ingin bertemu dengan dia. Kami punya hak sepenuhnya pada anak itu. Bagaimanapun Rian adalah ayah dari putrimu."
Dian tersenyum getir menatap mata Rian.
__ADS_1
"Apa anda tidak memberitahu ibu anda tentang perjanjian itu?" tanya Dian pada Rian yang dari tadi bungkam.
"Perjanjian itu tidak berpengaruh apa-apa untuk kami. Yang kami mau serahkan putrimu pada ku." Ujar nyonya Santika mulai menaikkan nada bicaranya.
Gerry yang hendak menyahuti ucapan nyonya Santika langsung ditahan oleh Dian. Bagaimanapun ini adalah masalahnya yang harus Dian selesaikan.
"Nyonya, anda adalah wanita terhormat, dan putra anda juga pria yang begitu berkompeten, Jangan hanya karena berurusan dengan wanita rendahan seperti saya. Anda akan menjatuhkan harga diri anda. Bukankah Anda tadi bilang jika saya merayu putra anda? bahkan meliriknya saja saya merasa enggan. Disini saya hanyalah korban dari perjanjian yang dibuat tuan Rian dengan paman saya. Dan perjanjian tuan Rian dengan saya sudah sangat jelas. Jika pewaris yang diinginkan dirinya adalah anak laki laki dan jika yang saya kandung adalah anak perempuan maka dia tidak akan lagi berurusan dengan saya dan putri saya." Tutur Dian, bagaimana pun caranya ia tetap akan mempertahankan Zafrina disisinya.
"Lancang sekali bicaramu..!"
"Cukup ..!" Gerry bersuara dengan keras hingga suaranya menggema di sudut ruangan.
"Ajak ibumu pergi dari sini tuan, sampai kapanpun jika yang kalian inginkan adalah hak asuh atas putriku. Jangan harap aku akan memberikannya. Kau sendiri yang melepaskannya. Dan ya perjanjian yang kau buat sah secara hukum karena ada tanda tangan pengacaramu disana sebagai saksi. Dan juga karena aku melegalkan surat itu di pengadilan meskipun kita hanya menikah siri. Jadi kalian tidak akan bisa menuntut apapun."
Nyonya Santika meninggalkan ruangan Dian dengan geram. Bagaimana pun ia akan mencari cara untuk mendapatkan cucunya.
"Maafkan aku Dian, aku tidak menyangka ibuku akan senekat ini." Ujar Rian penuh penyesalan. Ia langsung meninggalkan ruang rawat Dian. Pikiran Rian benar benar kacau. Ia sangat menyesali ucapannya. Ingatannya kembali saat kemarin ia datang ke kediaman utama.
Flashback
"Jika Rian ingin, Rian akan segera menikah. Namun saat ini Rian sedang tidak ingin di ganggu dengan urusan cinta." Kata Rian dengan tenang.
"Tapi kami menginginkan cucu darimu Rian. Kau putra kami satu satunya. Kau pewaris tunggal keluarga ini. Atau jangan jangan rumor yang beredar selama ini benar?" Nyonya Santika menutup mulutnya sendiri, ia merasa benar benar lelah dengan tingkah putranya yang selalu menolak semua calon istri yang dia bawa.
"Mama jangan asal bicara. Rian sudah buktikan Rian mampu menghamili wanita manapun yang Rian kehendaki." Ujar pria itu enteng, namun tidak untuk kedua orang tua yang sedang berhadapan dengannya.
"Apa maksudmu, wanita mana yang kamu hamili Rian?" ujar Tuan Anggara ayah Rian dengan berang.
Bisa bisanya putranya berucap hal seperti itu dengan enteng. Wanita mana yang mendapat kesialan itu, dihamili tanpa dinikahi putranya.
"Lalu, dimana anak kamu itu Rian? papa tidak pernah mengajarkanmu untuk jadi pria pengecut." Ujar tuan Anggara dengan emosi.
__ADS_1
"Tentu saja putriku bersama dengan ibunya." Rian tak menggubris ucapan ayahnya.
"Mama mau ketemu dengan cucu mama." Ujar nyonya Santika.
Flashback end
Dan disinilah sekarang ia berada. Menyesali setiap ucapannya. Rian tau betul sifat ibunya yang tak akan melepaskan begitu saja masalah ini.
.
..
...
Sedang diruang perawatan Dian menangis tersedu-sedu di pelukan Gerry. Tubuhnya gemetaran merasakan takut yang teramat sangat. Ia tak ingin siapapun mengusik putrinya.
Jika saja ibu Rian datang dengan baik baik dan tak merendahkannya mungkin Dian akan dengan senang hati memperkenalkan Zafrina pada keluarga Rian. Tapi belum apa apa keluarga Rian begitu arogan menekan dirinya.
"Maafkan mama Ger, tadi mama ga bisa cegah mereka." Ujar nyonya Arini menyesal.
"Sudahlah Mah, sekarang yang terpenting Dian baik baik saja." Ujar Gerry. "Apa mereka menyakitimu?" tanya Gerry pada Dian, dan wanita itu pun menggeleng lemah.
"Kalau begitu sekarang kita pulang. Apa kau benar-benar sudah baikan?" tanya Gerry khawatir.
"Aku sudah tidak apa apa mas. Aku hanya takut mereka akan merebut Zafrina dariku." Kata Dian.
"Aku tidak akan membiarkan mereka merebut putri kita." Jawab Gerry dengan tegas.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hidup ga selalu bersih dari konflik ya ga sih?
__ADS_1
Begitu pula hidup Dian. Buat mencapai kebahagian butuh banyak perjuangan.