Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kabar buruk


__ADS_3

*******


Didi POV


Hari ini aku memutuskan untuk menemui Archel, melihat wajah Selin yang pucat karena trauma masa lalunya membuatku semakin berpikir untuk mengakhiri masalah yang dulu pernah timbul.


Aku tak peduli lagi meskipun harus berkorban nyawa sekalipun, semua ini ku lakukan demi putriku dan Selin.


Agak berat meninggalkan Selin dengan wajah yang pucat tetapi tekadku sudah bulat. Sebelum Archel bertindak lebih jauh dan membahayakan istri dan anakku.


Namun saat ditengah perjalanan tiba-tiba saja ponselku berdering. Dan ternyata panggilan dari mansion papa. Ada apa lagi dengan papa? pikiranku pun mulai tak tenang. Aku menepikan mobilku dan menerima panggilan telepon, belum sempat aku bersuara, tapi suara di seberang sana justru seperti petir di siang bolong bagiku. Tiba-tiba saja kabar buruk itu menghampiri ku.


"Papa .."


Tanpa pikir panjang aku putar arah, menuju rumah sakit dimana papa dirawat. Apakah ini yang membuat perasaanku tak tenang dari semalam.


.


.


.


Author POV


Gerry ikut masuk ke ruangan tindakan dimana Dian berada. Wajah istrinya tampak sangat pucat seakan tak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Untuk kesekian kalinya Gerry melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Gerry tanpa menyapa dokter Fany terlebih dulu.


"Nyonya Dian mengalami syok. Trauma di masa lalu begitu membekas. Kesadarannya menurun. Semoga saja tidak sampai ke fase koma. Dan kabar baiknya janin yang nyonya Dian kandung saat ini sangat kuat. Hanya saja mungkin tadi karena ibunya tertekan sehingga denyut jantung bayi dalam kandungannya melemah." Ujar dokter Fany.


Terselip rasa syukur diantara rasa cemas yang Gerry rasakan. Ia berharap semoga istri dan anak yang ada dalam kandungan istrinya selalu sehat, dan Dian bisa lekas sadar.


"Kami akan memindahkan nyonya Dian ke ruang perawatan, agar anda leluasa menemaninya." Ucap dokter Fany yang hanya mendapat anggukan dari Gerry.


Kenapa masalah bertubi-tubi mendatangi kami ya Allah. Semoga saja istri dan anakku baik-baik saja.


Gerry mendapat pesan dari Nino jika Didi berada di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan.


Gerry langsung menyuruh Pablo untuk menyusul pria itu. Untuk mengabarkan kondisi Judy dan Selin. Disaat bersamaan dua polisi datang untuk memintai keterangan pada Gerry. Namun Gerry menolak untuk hari ini.

__ADS_1


"Maaf saya belum bisa memberi keterangan untuk saat ini. Karena kondisi istri saya belum stabil." Ujar Gerry. Dan polisi dapat memakluminya. Mereka berpamitan meninggalkan Gerry. Gerry mencoba masuk ke ruang IGD. Selin masih terpejam, sedang Judy tak terlihat disana. Gerry menghentikan seorang perawat yang akan melewati dirinya.


"Dimana gadis kecil yang tadi masuk berbarengan dengan istriku?" Tanya Gerry.


"Sedang ada di ruang tindakan tuan. Luka di kepalanya harus segera dijahit." Ujar perawat itu, Gerry mengangguk lalu membiarkan perawat itu berlalu.


Gerry langsung beranjak ke ruangan dimana Dian berada.


.


.


.


Velia dan Rian membawa anak-anak Gerry yang terus menerus memaksakan ingin ke rumah sakit karena begitu khawatir dengan ibunya.


Velia menatap Rian dengan tatapan aneh. namun Rian pura-pura tak melihatnya. Veli menggerakkan bibirnya seakan ingin bicara tapi tidak bisa. Hingga tanpa terasa mobil sudah memasuki area parkir khusus. Sebelumnya Rian sudah menghubungi Gerry dan berkata jika akan mengantar anak-anak ke rumah sakit. Awalnya Gerry tidak setuju tapi begitu mendengar anak-anaknya terus merengek Gerry semakin tak tega. Dan tak enak hati jika merepotkan Rian daj istrinya.


.


.


.


"Kata dokter yang menanganinya, kesadaran Dian menurun karena syok traumanya waktu dulu." ---- ujar Gerry tampak lesu. Dia kembali duduk di samping ranjang Dian. Menggenggam jemari wanita belahan jiwanya itu.


Tak lama pintu ruangan terbuka. Muncul anak-anak Gerry dengan wajah tak kalah lesu. Mereka seakan kehilangan sesuatu dalam dirinya. Zafa yang terlihat tampak sangat syok. Karena dia memiliki kedekatan batin dengan Dian. Dia perlahan mendekat ke ranjang Dian, memandang wajah wanita yang selalu memberi dirinya senyuman hangat dan pelukan yang selalu membuatnya kembali mendapatkan ketenangan.


"Mama .." Desis Zafa, namun detik berikutnya dia menghambur memeluk Dian dan terisak. Perbuatan Zafa membuat anak-anak Gerry yang lain mengikuti apa yang sang kakak lakukan.


Mata Gerry terasa pedih, dan memerah. Baru seperti ini saja anak-anaknya begitu sedih. Apalagi jika terjadi sesuatu hal buruk menimpa Istrinya, ia tak akan sanggup membayangkan betapa hancurnya hati anak-anaknya.


Rian mengepalkan tangannya melihat Zafrina sampai kesulitan bernafas karena terus menerus menangisi Dian. Ia tak bisa melihat semua ini. Rian membawa Velia keluar.


"Sudah-sudah kalian jangan nangis kasian kan mama. Nanti bangun-bangun malah sedih." Ujar nyonya Arimbi berusaha menghibur cucu-cucunya.


.


.

__ADS_1


.


Didi, mama Clara, Arya dan Arsen menunggu diruang IGD. Tadi Didi di telepon kepala pelayan mengatakan jika ayahnya terjatuh dari tempat tidur dan mendapatkan serangan jantung. Arsen juga baru tiba tadi pagi karena sejak kemarin dia merasakan perasaan tak enak.


Arsen mengusap wajahnya kasar namun Clara mengusap bahu Arsen dengan lembut.


"Aku yakin, papa pasti baik-baik saja." Ujar Clara, Arsen hanya meliriknya.


"Hanya dia satu-satunya keluargaku." Desis Arsen dengan nada bergetar. Clara yang tak tahan meraih Arsen dalam pelukannya.


"Kami juga keluargamu sayang, kenapa kau selalu memungkiri itu. Mereka adik-adikmu juga. Bahkan sampai kapanpun kau tetap akan menjadi anak pertamaku." Ujar Clara dengan suara serak. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Ia tahu Arsen pria yang keras diluar namun dalamnya begitu rapuh. Dia haus akan kasih sayang. Karena ditinggal pergi ibunya saat masih kecil.


Arsen membalas memeluk Clara untuk yang pertama kali. Dia butuh sandaran saat ini. Dia benar-benar takut kehilangan papanya.


Disaat suasana mengharu biru Pablo datang dengan tergopoh-gopoh dan nafas yang ngos-ngosan. Didi menegakkan duduknya. Mendadak perasaannya kembali tak tenang.


"Ada apa? kenapa kau kemari." Tanya Didi langsung menghujani Pablo dengan pertanyaan. Pablo tampak mengatur nafasnya sesaat. Dia memandang Didi dengan tatapan yang hanya Didi yang tau apa artinya.


"Dimana Selin dan Judy sekarang? tanya Didi, nyonya Clara memandang bingung, begitupun yang lain.


"Katakan Pablo dimana istri dan anakku? Apa mereka baik-baik saja?" Didi menggoyang lengan Pablo dengan keras bahkan suara Didi membahana di lorong itu. Arya berdiri mengusap punggung Didi agar lebih bersabar.


"Sabar Di, biarkan dia bernafas dulu." Ujar Arya.


"Bagaimana aku bisa tenang kak, orang itu mengincar nyawa Selin dan Judy. Apa kakak juga bisa tenang jika ada yang mengincar nyawa Nayla dan bayi kalian?"


Kepanikan Didi tidak bisa diredam. Akhirnya Pablo mengucapkan sesuatu yang membuat telinga Didi berdengung, dan kakinya langsung lemas. Didi terjatuh di dinginnya lantai lorong rumah sakit. itu.


Clara membungkam mulutnya, air matanya semakin deras menetes.


"Cucuku .." Desis Clara lalu tak sadarkan diri.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Wes pokoke ambyar jam terbang othor kalo daring. Apalagi tugas kirim video, pake ngehafalin lagu. Alamat hape othor seharian dibajak.


Terimakasih yang udah pada bersabar menunggu othor Up.


Love you buat kalian semua 😘😘

__ADS_1


__ADS_2