Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Judy Pingsan


__ADS_3

*********


Keesokan harinya Ara yang sudah sejak tadi membuka mata merasa enggan untuk turun dari ranjang, rasa malu, rasa sakit yang mendera tubuhnya bercampur menjadi satu. Mengingat pertempuran semalam dirinya tanpa memakai sehelai benang pun di hadapan Arsen.


"Selamat pagi Tiara sayang .. " Arsen mencium pipi Ara. Sejak semalam Arsen memeluk posesif tubuh Ara tanpa berniat melepaskan gadis itu.


"Hhmm .." Jawab Ara dengan mata terpejam.


"Bagaimana apa masih sakit?" tanya Arsen mengusap inti tubuh Ara dari balik selimut, Mata Ara membulat. Reflek ia memukul tangan Arsen.


"Tangannya di kondisikan dong A .. " Gerutu Ara, Arsen hanya terkekeh sembari merengkuh tubuh Ara dan memasukkan Ara kedalam pelukannya.


"Terima kasih kau sudah menyerah mahkota berhargamu padaku." Ujar Arsen seraya mengecup pelipis Ara. Gadis itu memejamkan matanya meresapi perhatian demi perhatian yang Arsen berikan.


"A Ara laper .. " Rengek Ara dengan memasang pupy eyes andalannya.


"Kita makan disini saja ya. Aku takut itunya kamu masih sakit." Bisikan Arsen tepat di telinga Ara membuat sekujur tubuh Ara membeku.


Ara mengangguk mengiyakan setiap ucapan Arsen. Ia duduk bersandar di head board. Saat Ara bergerak ia kembali mendesis.


"Sshh ... "


"Masih sakit?" cemas Arsen.


"Perih Aa .. " Ujar Ara cemberut.


"Aku cek aja ya Ra .. Nanti kalo bengkak gimana?" Ujar Arsen hendak menyibak selimut namun langsung di tahan oleh Ara. Mata Ara melotot, bagaimana bisa pria itu dengan entengnya mengatakan hal seperti itu pada dirinya.


"Udah dari pada ngeributin itu, mending aa pesenin Ara makan. Ara udah ga betah lapar Aa."


"Ya gimana aku ga ributin Ra, aku baru pake sekali lho kamunya udah gitu." Ujar Arsen yang langsung dapat lemparan bantal dari Ara.


"Aa .. ngomongnya bisa ga sih ga usah ful*gar gitu?" Wajah Ara merah padam. Arsen hanya terkekeh melihat tingkah malu-malu Ara.


"Untung muka aku awet muda ya Ra, aku sempet khawatir dikira pedo_fil sama orang-orang."

__ADS_1


"Emang usia Aa berapa? Ara sampai ga pernah kepo." tanya Ara dengan wajah serius karena dia memang tidak tahu berapa usia pria yang sekarang berstatus suaminya itu.


"Usia ku 37 Ra .. " Jawab Arsen dengan wajah sedikit memerah.


"Ga usah malu Aa, Usia Ara juga sekarang 22 jadi cuma beda 15 tahun. Tapi ga kelihatan tu, Aa malah kaya cowok usia 30 tahun." Kata Ara membesarkan hati pujaan hatinya itu.


Ya Ara akui, setelah menikah ia semakin jatuh pada pesona Arsen. Pria yang dalam hitungan hari mampu membuat Ara tak bisa jauh darinya. Terlebih Arsen hadir di saat Ara membutuhkan sandaran di tengah kekalutan hatinya.


"Jadi pesen makan ga sih Aa .. "


"Eh iya sampai lupa. Bentar kamu tunggu dulu ..!"


"Aa sekalian beliin Ara ibuprofen atau paracetamol ya."


"Buat apa Ra?" Kamu ga enak badan?"


"Buat ngilangin nyeri Aa, ih malu banget sama umur. Kaya gini tu Aa harus tanggap. Semua seputar perempuan Aa belajar di google kan banyak. Tapi cuma buat cari tau tentang sikap Ara aja, jangan semua cewe di ngertiin." Kata Ara. Arsen tersenyum lalu beranjak dari ranjang menghubungi layanan kamar.


.


.


.


Meski ibu Arimbi terlihat berat melepas Veni, Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Apalagi Veni pergi masih dengan membawa perasaan marah. Namun ibu Arimbi hanya berdoa yang terbaik untuk Veni dan calon anak mereka.


Keesokan paginya seperti biasa mansion keluarga Kusuma riuh dengan suara anak-anak. Sepulang Dian dan Gerry dari hotel mereka di sambut dengan suara anak-anak mereka terutama Zafrina dan Zayana. Dan Zafa putra pertama mereka sedang sibuk membantu neneknya menyiapkan roti panggang untuk Ina dan Ana. Zayn jangan ditanyakan lagi. Dia sibuk meladeni Judy yang sejak kemarin mulai bertingkat. Bahkan hari ini Judy terlihat pucat dan tidak bertenaga.


"Apa kau sakit sayang?" Dian tampak khawatir pada kondisi Judy. Karena sejak kejadian penculikan yang dilakukan Archel, Judy sering mengeluh sakit kepala. Judy menggeleng, Zayn menyodorkan susu di hadapannya untuk Judy.


"Minumlah susunya, nanti setelah ini beristirahatlah." Kata Zayn pada Judy, dan anehnya gadis itu menurut pada kata-kata Zayn.


Dian menatap Zayn memberi isyarat bertanya dan hanya di balas kedipan oleh Zayn. Itu artinya Dian harus menunggu nanti.


Setelah Zayn mengantar Judy ke kamar untuk beristirahat. Zayn mengetuk kamar Dian.

__ADS_1


"Mama ini Zayn .. "


"Masuk sayang .. " Perintah Dian dari dalam. Dian sedang membantu Gerry memakaikan dasi.


"Mama, Bisakah kita menemui onty Selin."


"Memang ada apa sayang? apa ini ada kaitannya dengan kondisi Judy hari ini?" Tanya Dian penasaran. Gerry pun turut menyimak putranya.


"Judy semalam bercerita, jika momy dan daddy nya akan pergi ke Pattani. Dalam kurun waktu yang tidak ditentukan dan Judy tidak mau ikut." Kata Zayn.


"Tapi kita tidak bisa ikut campur urusan orang lain Zain." Tegas Gerry.


"Tapi semalam Judy menangis pa, dia mengeluh sakit kepala karena kepikiran. Kita memang tidak bisa ikut campur tapi setidaknya kita beritahu mereka kondisi Judy. Karena bisa saja Judy sakitnya serius." Ujar anak jenius didikan Nino itu.


"Iya mas, ucapan Zayn ada benarnya juga. Kita harus memberitahu mereka. Mungkin efek dari cidera kepalanya membuat kondisi Judy seperti itu."


"Mama ... " Jerit Ina dan Ana bersamaan. Gerry bergegas keluar menghampiri kedua putrinya..


"Ada apa sayang, kenapa berteriak?"


"Papa ... Judy pah." Keduanya tampak kesulitan menjelaskan Gerry berlari ke kamar anak-anak diikuti oleh Zayn. Wajah pria kecil itu terlihat pucat dia takut terjadi sesuatu pada Judy.


Dan benar saja, tubuh Judy tergeletak di bawah ranjang. Padahal tadi saat ditinggal dirinya jelas-jelas Judy tidur di atas ranjang. Gerry segera mengangkat tubuh Gadis kecil itu. Dian tidak bisa berjalan cepat-cepat. Dia segera menghubungi Selin dan mengatakan jika putrinya pingsan. Dan sedang dibawa kerumah sakit. Sontak kepanikan terjadi di keluarga Arman, Tangisan Selin membuat semua orang panik terlebih Didi.


"Kenapa sayang?"


"Judy pingsan lagi .. " Ujar Selin sesenggukan.


"Tenang dulu, sekarang tarik nafas dan buang perlahan. Jika kau jauh lebih baik sekarang kita susul Judy."


"Mas Gery sedang membawa Judy kerumah sakit." Kata Selin. Akhirnya Didi, Arya, Selin dan mama Clara menuju rumah sakit dimana Judy dibawa oleh Gerry.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Gift, Vote dan komen. Jangan lupa ye.

__ADS_1


Birukan jempolnya guys.


__ADS_2