
⛅ Selamat membaca ⛅
Kebahagiaan terpancar di wajah Dian dan Gerry. Senyum Gerry terus mengembang sepanjang perjalanan.
"Mas, apa kau yakin ingin menemui keluargaku?" tanya Dian ragu, Gerry hanya mengulas senyum sembari mengusap puncak kepala Dian.
"Sudah saatnya aku menemui mereka." Kata Gerry. Setelah beberapa saat Gerry nampak tertegun tak percaya, mansion ini lebih besar 3 kali lipat dibandingkan mansionnya.
Gerbang utama terbuka otomatis, setelah Gerry membunyikan klakson tiga kali.
Dian menurunkan sedikit kaca mobil Gerry, dan semua penjaga mengangguk hormat pada wanita itu.
"Ini rumah siapa sayang?" tanya Gerry masih merasa takjub dengan apa yang ada dihadapannya itu.
"Rumah ini punya Dian." Ujar Dian dengan senyum yang terlihat begitu menggemaskan. Memang mansion yang lebih mirip istana ini sudah diwariskan oleh kakek Kusuma untuk Dian. Bahkan Dian dan Nino mendapat warisan dengan jumlah yang sama besar dari sebagian aset tuan Kusuma.
Dian masuk ke dalam mansion, diikuti oleh Gerry, pria itu sudah bisa menguasai dirinya dari keterkejutannya. Pantas saja jika selama ini Gerry sulit melacak keberadaan Dian. Bahkan ketika dirinya membuntuti mobil Dian selalu saja kehilangan jejak.
Gerry membulatkan matanya, ia melihat Gionino ada di rumah ini. Ada hubungan apa Dian dengannya?
Ia semakin membulatkan mata kala rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya itu memeluk dan mengusap perut Dian tanpa mempedulikan dirinya.
"Kenapa kau membawa laki laki itu kesini?" Decak Nino tak habis pikir dengan sepupunya.
"Bukankah kalian dulu bersahabat?"
"Ya, sebelum aku tau jika dia memperlakukan dirimu dengan buruk." jawab Nino acuh. Gerry yang mendengar percakapan dua orang itu benar-benar tak bisa menahan dirinya lagi.
"Sayang, bisa kau jelaskan kenapa dari tadi dia terus terusan menyentuhmu?"
Nino dapat melihat tatapan cemburu dari mata Gerry, ia pun menyeringai tipis.
"Apa kau terganggu jika aku memeluknya, menciumnya?" tanya Nino sembari merengkuh Dian dan mencium pipi Dian.
Wajah Gerry seketika memerah, tangannya terkepal erat. Dengan langkah lebar Gerry menghampiri Nino yang masih berdiri santai di samping Dian. Gerry menarik kerah Nino dan akan melepaskan pukulannya sampai terdengar suara berat seorang pria paruh baya mendekat.
"Apa begini etika orang bertamu?"
Gerry menurunkan tangannya yang sempat terangkat untuk memukul Nino.
"Ayah .." Dian mendekati pria paruh baya yang masih tampak tampan dan gagah di usianya.
"Kenapa kau membawa laki laki ini kemari?" pertanyaan yang sama dilontarkan tuan Hanafi pada Dian.
__ADS_1
"Ayah .. bagaimanapun dia suami Dian." Tatapan Dian kini menatap intens suaminya yang sedang terpaku menatap mertuanya itu.
"Maafkan aku tuan Hanafi, aku tidak bermaksud membuat keributan disini." Kata Gerry ia mendekat hendak menyalami ayah mertuanya tapi tangan tuan Hanafi terangkat memberi isyarat ia tak ingin berjabat dengan Gerry.
"Ayah .." Mata Dian sudah berkaca-kaca, matanya terasa panas melihat penolakan dari ayahnya.
"Kenapa kau begitu baik. Mudah sekali memaafkannya? Dia akan melakukan kesalahan yang sama nantinya jika kau mudah memberinya maaf." Kata tuan Hanafi tegas pada Dian, namun tatapan matanya seolah menguliti Gerry.
"Ayah, jangan seperti ini. Dia ingin bicara baik baik pada ayah."
"Ayah tidak punya waktu untuknya." Kata tuan Hanafi berlalu meninggalkan Gerry yang masih sangat terkejut dengan penolakan yang dilakukan oleh ayah Dian.
"Mas, maaf ya!" ujar Dian mulai menitikkan air mata. Gerry tersenyum tipis lalu mengusap air mata Dian.
"Aku pantas mendapatkannya. Jangan menangis sayang! nanti anak kita ikut bersedih." Ujar Gerry, ia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk istrinya yang kini tampak semakin seksi di mata Gerry.
"Kau semakin menggemaskan saja." Bisik Gerry dengan suara parau, menahan gairahnya yang tiba-tiba saja memuncak melihat bibir Dian yang merah merona, dan dada Dian yang semakin sintal.
.
..
...
Nyonya Arimbi mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sayang, ini ibu nak!"
Dian masih memilih mengurung dirinya dan tak membukakan pintu untuk ibunya.
"Nak, buka pintunya ibu ingin bicara!"
"Dian mau sendiri dulu Bu!"
"Tapi kamu tidak harus mengurung diri sayang, kamu butuh makan, anak anak yang ada dalam kandunganmu butuh nutrisi." tuan Hanafi dan Nino datang membawa kunci cadangan. Nino segera membuka pintu kamar Dian.
"Mengertilah Dian, kami seperti ini juga demi kamu. Supaya kelak dia bisa lebih menghargai kamu." Ujar Nino, ia merasa geram dengan sepupunya yang mudah sekali memaafkan Gerry.
"Tapi kalian tidak harus bersikap seperti itu. Kalian bisa bicara dengan baik baik." ujar Dian sesenggukan. Wanita itu sedari tadi menangis. Hormon kehamilan membuat moodnya mudah naik dan turun.
"Sayang, ayah minta maaf padamu. Apa perlu ayah sekarang menemuinya dan meminta maaf?" Kata tuan Hanafi mendekati putrinya lalu memeluk Dian dengan erat.
Dian menggeleng, lalu menyusupkan kepalanya di dada bidang ayahnya.
__ADS_1
"Kami menyayangimu Dian, kami ingin yang terbaik untukmu termasuk pasanganmu. Bukan kami ingin ikut campur dalam rumah tanggamu." Suara Nino melunak, ia menjadi tidak tega melihat kondisi Dian yang kacau.
Disaat situasi seperti ini Dian mendadak merasakan perut bagian bawahnya terasa sakit, ia menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata.
"Aaakh .. " Dian mendesah merasakan sakit yang teramat sangat. Ia memeluk erat perut bagian bawahnya.
Semua orang yang ada di kamar Dian mendadak panik melihat Dian tiba² terkulai lemas. Tuan Hanafi dengan sigap mengangkat tubuh Dian.
"Paman biar aku saja."
"Tidak usah Nino, cepat siapkan mobil. Jangan sampe kakek tahu masalah ini." Kata tuan Hanafi sembari berjalan dengan cepat.
"Baiklah paman."
"Arimbi, kau dirumah saja. Berjaga² jika Zafrina terbangun." Kata tuan Hanafi.
"Bagaimana jika ayah menanyakan keberadaan kalian?"
"Bilang saja, Dian sedang ngidam." Kata tuan Hanafi segera masuk ke mobil. Nino langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di depan pelataran rumah sakit Nino segera masuk ruang IGD memanggil perawat. Mereka langsung mendorong brankar menyongsong tubuh Dian yang masih belum sadarkan diri.
Dian didorong masuk ke ruang tindakan. Tuan Hanafi dan Nino menunggu di luar ruangan.
.
..
...
Sementara itu, Zafa dari tadi rewel tanpa sebab. Bahkan ia tak mau minum Asi yang sudah di siapkan bi Esih.
"Zafa kenapa bi?" tanya Gerry yang baru selesai mandi.
"Saya kurang tau tuan, saya sudah ganti popoknya, den muda juga sudah saya suapi."
"Terus kenapa rewel? apa dia digigit serangga?" tanya Gerry, ia pun mengambil Zafa dari gendongan bi Esih.
"Sayang, ada apa? Gerry menggoyangkan tubuh Zafa perlahan, pria kecil itu langsung terdiam mengenali aroma tubuh ayahnya.
"Oalah, den muda kangen sama ayahnya ya." ujar bi Esih. Gerry membawa Zafa kedalam kamar tidurnya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Bonus dari othor. Padahal biasanya Minggu aku libur lho.