
********
Aldo membawa pergi Veni dari mall. Ia menatap cemas wajah pucat Veni.
"Kita ke rumah sakit ya?" Ujar Aldo. Veni menggeleng lemah. Dia hanya butuh istirahat dan melupakan kejadian tadi. Veni masih trauma jika bertemu dengan wanita yang notabene adalah ibu kandungnya sendiri. Wanita yang selama ini Veni tidak ingin mengingatnya.
Aldo akhirnya membawa Veni ke rumah. Ia menuntun istrinya duduk di sofa dan mengambilkan segelas air minum. Veni menerimanya dengan tangan gemetaran.
Setelah meminum air dari Aldo, Veni jauh bisa sedikit lebih tenang. Ia memandangi wajah Aldo sesaat lalu mulai berbicara.
"Wanita tadi adalah ibuku." Veni kembali mengatur nafasnya yang mulai memburu. Pelupuk matanya mulai berkabut. ---- "Dia wanita yang melahirkanku. Terlahir dari keturunan orang kaya membuatnya tidak bisa diajak hidup susah. Awalnya kehidupan kami biasa saja, Dian sering dititipkan di rumah kami saat itu. Dari situlah ibu selalu saja merasa apa yang ayah berikan selalu kurang. Ibu sering membandingkan ayah dengan paman Hanafi. Dan puncaknya ayah melakukan kejahatan itu. Ayah berusaha melenyapkan paman Hanafi. Membawa Dian kabur, dan masih banyak lagi kejahatan yang ayahku lakukan. Namun ibu seolah tutup mata dan tidak peduli. Tapi setelah ayah menjual Dian pada Rian, ibu mulai berubah. Dia sering tidak pulang dan mabuk-mabukan di meja judi. Semua ia pertaruhkan. Ia mengikuti banyak sekali arisan perhiasan dan lainnya. Setiap ayah pulang tidak membawa uang, aku yang selalu jadi sasaran kemarahannya." Air mata Veni luruh seketika mengingat hal pahit yang terjadi di hidupnya.
Bukan hanya Dian yang mengalami namun Veni juga merasakan apa yang Dian rasakan hingga saat itu kebencian menguasai seluruh hati dan perasaan Veni.
"A-apa maksudmu ayahmu menjual Dian?"
"Apa sahabatmu itu tidak pernah bercerita padamu tentang Dian?" Aldo menggeleng. Yang dia tahu hanya Dian adalah mantan istri Rian Al Fares.
"Mungkin dia ingin menutup aib Dian." Ujar Veni, kau tau meskipun dia dijual pada Rian sekalipun nasibnya tak akan sama dengan nasibku. Sejak Dian dibawa pergi malam itu, Kehidupanku berubah 180ยฐ dalam sekejap. Ayah dan ibu sering bertengkar hanya masalah uang, jika ayah kalah berdebat ayah akan memukuliku begitupun sebaliknya. Bahkan ibu pernah menyeretku membawaku pada pria tua sebagai jaminan hutangnya. Aku dijadikan budak bekerja tanpa henti. Aku seperti melihat Dian dalam diriku. Tapi setelah beberapa lama aku melihat sasa mengunggah foto Dian yang terlihat cantik, bajunya bagus. Saat itu aku kembali membenci Dian. Tepatnya aku benci nasibnya yang selalu bagus. Sedangkan aku?" Veni meraung, rasanya hatinya benar-benar sakit mengingat masa kelam dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sshh ... sudah jangan cerita lagi jika itu hanya akan menyakitimu." Ujar Aldo, yang tak kuasa ikut merasakan betapa getirnya kehidupan Veni. Veni menggeleng ia tetap akan melanjutkan ceritanya agar Aldo tahu semua yang dia alami selama ini.
"Bisakah kau rasakan jadi aku sebentar saja? aku dijadikan budak oleh ibuku, aku hampir saja diperkosa oleh ayahku. Orang-orang itu seharusnya melindungiku seperti paman Hanafi. Tapi mereka justru memperlakukan aku dengan buruk." Aldo mendekap Veni, ia tak ingin mendengar apapun lagi karena ia juga pernah memperlakukan Veni bahkan lebih buruk dari kedua orang tuanya. Aldo sangat menyesali perbuatannya.
.
.
.
Gerry masih ada di perusahaannya saat ponselnya tiba-tiba berdering. Nama pemanggilnya jelas adalah Sekar.
"Halo ma .. "
"Iya ma, maafkan Gerry tidak memberitahu mama, karena mama pasti tahu kan jika disini ada mama Arini. Tapi kalo mama sudah merasa siap ketemu mama, maka Gerry akan atur waktu mama bertemu dengan mama Arini."
"Jangan sayang tidak perlu. Baiklah nanti mama telepon Dian saja." Ujar Sekar mengakhiri panggilan telepon.
Gerry mendesah berat rasanya ia ingin mempertemukan mama Sekar dengan papa dan mamanya. Karena Gerry pun selama ini merasa memikul beban berat menyembunyikan kematian Gerald pada papanya. Bagaimanapun Gerald juga putranya, tidak seharusnya semua ini ditutup-tutupi. Gerry memijat pelipisnya yang terasa berdenyut jika memikirkan masalah ini.
__ADS_1
Tak lama pintu diketuk namun tak ada suara yang meminta ijin masuk. Gerry mengernyit heran. Dan sekali lagi pintu itu diketuk tapi lebih keras. Karena penasaran Gerry berdiri dan membuka pintu dengan kasar. Namun tidak ada siapapun disana. Gerry benar-benar kesal dibuatnya beraninya mereka mengerjai seorang Direktur perusahaan. Saat hendak menutup pintu tiba-tiba ada tangan yang menahannya.
"Surprise ... " Wajah Dian sudah berada tepat dihadapan Gerry.
"Ya ampun sayang, kamu sama siapa kesini?" tanya Gerry melihat disekelilingnya. Dian hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Aku sendirian diantar supir mama Arini. Aku kesini karena bosan, tidak ada kamu di rumah." Ujar Dian dengan manja mengapit lengan Gerry yang masih memegang gagang pintu. Gerry tersenyum miring melihat tingkah istrinya yang terhadang bertingkah kekanak-kanakan tapi juga menggemaskan itu.
Gerry menutup pintunya dan memasang tulisan jangan diganggu. Dian duduk di sofa sedangkan Gerry kembali bekerja. Dian hanya menatap sang suami dengan kedua tangan menyangga dagunya. Sesekali ia tersenyum, sesekali bibirnya mengerucut bosan. Gerry semakin tak bisa berkonsentrasi pada berkas di hadapannya. Istrinya benar-benar perusak suasana kerjanya. Gerry menghentikan aktifitasnya lalu menatap Dian intens. Dian hanya tersenyum saat Gerry menatapnya.
"Apa aku mengganggu pekerjaanmu tanya Dian seraya bangkit dari duduknya, dan melangkah mendekati meja kerja Gerry, Gerry hanya diam melipat bibirnya, entah kenapa tingkah ibu hamil itu hari ini sangat menggemaskan sekali.
Dian duduk dipangkuan Gerry, mengalungkan tangannya dileher sang suami lalu bersandar manja di dada bidang Gerry. Gerry hanya mendiamkan semua kelakuan sang istri.
"Kau tidak mengganggu sama sekali. Aku senang kau ada disini menemaniku." Bisik Gerry seraya membelai wajah cantik Dian. Wajah Dian memerah sepenuhnya, bisikan Gerry menggetarkan inti tubuh bagian bawahnya.
Dian mengangkat kepalanya menatap Gerry dengan tatapan teduhnya, ia langsung memiringkan kepalanya dan memagut bibir Gerry. Dengan lembut Gerry membalas ciuman Dian. Keduanya larut dalam api asmara yang mulai membara. Gerry menekan center lock dan mematikan panel kontrol CCTV di ruangannya. Pakaian keduanya yang tadinya rapi kini berserakan entah kemana. Gerry menggendong Dian dan membawanya ke sofa setelah meletakkan bantal untuk sandaran punggung Dian, Gerry mulai menyatukan tubuhnya. Gerakan-gerakan halus Gerry berikan agar tak membuat Dian merasa tak nyaman. Suara des*han Dian memenuhi ruangan Gerry. Hentakan demi hentakan Gerry membuat keduanya mencapai kepuasan. Tubuh Gerry menegang diiring pekikan Dian. Keduanya lalu tertawa bersama mengingat kegilaan yang tak kenal tempat.
๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด๐ด
__ADS_1
like, koment dan Giftnya ditunggu ya.
Nanti up ketiga rada malam.