Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 83


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


"Mas, bagaimana keadaan Zafrina?" ucap Dian cemas. Namun ia terus menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri di perutnya.


"Zafrina sedang bersama Rian, di ruang perawatan nyonya Santika. Apakah sakit sekali?" tanya Gerry panik. Ia berkali-kali menekan emergency bell.


Dokter Anggi yang sudah bersiap pulang kembali meletakkan tasnya meraih stetoskopnya dan segera naik ke lantai paling atas setelah mendapat panggilan darurat dari direktur rumah sakit.


Ia masuk dengan nafas terengah-engah. Dan melihat Gerry sedang memarahi direktur rumah sakit itu.


"Apa kalian tidak becus bekerja hah?" bentak Gerry.


"Mas sudah." Kata Dian berusaha menenangkan suaminya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika kondisinya gawat darurat. Nama baik rumah sakit ini yang jadi taruhannya sayang." Ujar Gerry masih dengan nada kesal.


"Kalian bisa kembali bekerja." Kata Dian. Gerry hanya mendelik kesal pada direktur dan beberapa tim medis.


"Maafkan atas keterlambatan saya tuan." Ujar dokter Anggi menunduk.


"Tak apa-apa dokter." Jawab Dian, karena Ia tahu jika Gerry sedang dalam mode kesal. Pasalnya setelah 10 menit dirinya menekan emergency bell yang datang hanya seorang perawat dan dokter jaga. Dan itu sukses membuat Gerry mendatangkan direktur rumah sakit itu7. Padahal yang diinginkan Gerry adalah Ketiga dokter yang tadi menangani istrinya.


"Apa ada sesuatu yang anda rasakan nyonya?" tanya dokter Anggi namun ia tetap tak berani mengangkat wajahnya.


"Dokter, perut saya rasanya nyeri dan terasa panas. Apakah ini memang efek dari operasi sesar?" tanya Dian.

__ADS_1


Gerry yang mendengar keluhan Dian merasa terkejut. "Apa ..? kenapa kau tidak katakan dari tadi?" kesal Gerry. Dia langsung menatap tajam dokter Anggi yang masih setia menundukkan kepala.


"Mas, biarkan dokter Anggi jelasin dulu." Dian melotot kearah Gerry. Ia harus menahan rasa sakit dan kesal bersamaan.


"Be-begini nyonya. Itu memang efek yang biasa terjadi pasca operasi. Itu tandanya efek obat biusnya sudah mulai menghilang."


Dokter Anggi menekan emergency bell. Tak beberapa lama 3 orang perawat dan dokter Fany masuk.


"Selamat malam nyonya, tuan. Apakah nyonya Dian ada keluhan?


"Obat apa yang kalian gunakan. Kenapa istriku masih merasakan kesakitan?"


"Maaf tuan, tapi itu reaksi alami. Saya akan menyuntikkan pereda nyeri untuk nyonya Dian." Terang dokter Fani.


"Apa ada lagi nyonya?" tanya Dokter Fani.


"Bisakah aku melihat anak-anakku?" tanya Dian.


"Tentu saja nyonya." Dokter Fany memerintahkan dua perawat untuk mengambil anak-anak Dian.


Kedua perawat masuk dengan mendorong dua tabung inkubator. Dua bayi itu terlihat sangat kecil dan ringkih.


"Apa aku sudah boleh duduk?" tanya Dian.


"Tentu saja. Saya akan naikkan bed anda nyonya. Agar anda dapat bersandar. Lakukan gerakan perlahan agar otot perut anda tidak kaku." Ujar dokter Fany, sedang dokter Anggi memilih diam. Ia takut melihat wajah Gerry yang sama sekali tak bersahabat.

__ADS_1


Dokter Anggi membawa bayi laki laki Dian dan menyerahkannya perlahan di pangkuan Dian. Gerry mendekat. Ia pun juga sama halnya dengan Dian. Baru kali ini melihat anaknya. Sungguh sangat tampan putranya.


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk mereka mas?" tanya Dian.


"Kami permisi nyonya. Nanti satu jam lagi perawat akan datang mengambil mereka."


Dian mengangguk. Ia kembali menatap putranya yang sangat tampan.


"Aku akan memberikan dia nama Zayn Gama Ardana."


Lalu Gerry kembali menghampiri inkubator gadis mungilnya, Perlahan dan sangat hati-hati ia mengeluarkan putrinya dan mendekatkannya pada Dian.


"Lalu siapa nama gadis kecilku ini?" tanya Dian.


"Aku akan memberikan dia nama Zayana Ayudia Ardana. Apa kau menyukainya?" Tanya Gerry, dian tersenyum dan mengangguk.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Auh, othor ne bukannya males apa gimana. Hp tiap hari rebutan ma anak. Jadi othor kalo sempet nulis dapetnya seberapa langsung othor up.


Jangan lupa like komen.


dan beri aku bunga dan Vote jika kalian suka cerita ini.


See you 😘

__ADS_1


__ADS_2