Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New Season 13. Ini Bukan Mimpi kan?


__ADS_3

*********


Zafa dan Zafrina sudah berada di dalam pesawat mereka mengambil penerbangan pertama. Jika tak salah hitung mereka akan tiba malam hari.


"Kak, apapun yang terjadi kita tetap saudara kan?" tanya Zafrina menatap Zafa, pria muda itu tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala Zafrina yang bersandar di lengannya.


"Tentu saja, apapun yang terjadi kita tetap saudara. Bukankan aku juga anak mama Dian karena aku hidup dari ASI mama." Kata Zafa, Zafrina mengangguk. Tak lama gadis itu memejamkan matanya karena mengantuk. Zafa menatap langit yang mulai mengeluarkan semburat kilau cahaya keemasan dari mentari pagi yang seakan memantul dari awan-awan yang ada di sekitar pesawat.


"Zafa janji tidak akan bertindak bodoh lagi ma, maafkan aku." Gumam Zafa ia pun menyandarkan kepalanya diatas kepala Zafrina lalu ikut terlelap.


Tak terasa perjalanan belasan jam sudah mereka tempuh. Entah mengapa jantung keduanya berdegup kencang. Antara senang, dan sedih menjadi satu. Senang karena tak lama lagi mereka akan bertemu ibu mereka. Sedih karena sempat memilih menjauh dari ibunya. Itulah yang mereka rasakan saat ini.


Zafa mencegat taksi ia membiarkan sang adik masuk terlebih dahulu barulah dirinya.


.


.


.


Sedang di mansion Dian saat ini, keluarga itu telah kedatangan calon keluarga besan mereka yaitu Keluarga besar dari Kerajaan Pattani. Selin dan Didi berikut keluarga besarnya. Didi dan Selin menyetujui usulan menikahkan keduanya meskipun sempat mendapat pertentangan dari keluarga mereka apalagi usia keduanya masih dibilang terlalu muda. Tapi begitu mendengar alasan dari Gerry akhirnya keluarga itu menyetujuinya. Mereka pun juga tak ingin jika nantinya Judy dan Zayn berbuat hal yang mempermalukan keluarga. Meskipun sebenarnya Gerry yakin putranya tidak akan berbuat jauh. Tapi hal ini justru menjadi momen tepat bagi semuanya karena Gerry memiliki rencana ingin segera berlibur keliling dunia setelah mengunjungi anak mereka yang ada di Amerika. Sedang untuk Zayana dan Zafia Ia tak akan ragu menitipkan mereka di mansion tuan Hanafi atau di mansion lama.


Zafa dan Zafrina turun di depan gerbang, jarak gerbang ke rumah mereka masih sangat jauh. Namun Zafa dan Zafrina ingin membuat kejutan untuk kedua orang tuanya dan adik mereka. Saat di dalam taksi mereka sudah berembuk untuk pura-pura tak terjadi apapun. Untuk saat ini keduanya hanya ingin segera memeluk Dian.


Namun saat gerbang terbuka, mata Zafrina dan Zafa terkejut mendapati begitu banyak mobil yang terparkir berjejer mengintari halaman mansion mereka yang luas.

__ADS_1


"Apa ada acara atau apa ini kak? kenapa ramai sekali?" Zafrina menatap Zafa dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Namun Zafa hanya mengangkat bahu.


Keduanya tiba di pintu utama mansion dan langsung di sambut oleh Dori kepala pelayan di mansion itu.


"Selamat datang tuan muda dan nona muda. Semua keluarga sedang berkumpul di ruang makan." Ujar Dori seraya membungkukkan tubuhnya tanda hormat.


"Terimakasih pak Dori, bagaimana kabarmu?" Zafrina menatap kepala pelayan yang berusia 50 tahun keatas itu.


"Saya sehat nona, terimakasih perhatiannya." Zafa dan Zafrina berjalan menuju ruang makan. Dimana terdengar jelas suara riuh banyak orang. Begitu tiba Zafrina langsung berteriak.


"Mama ... " Dian yang mendengar suara putrinya langsung berdiri. Mata wanita itu berkaca-kaca saat tak hanya putrinya tapi putra pertamanya juga ada disana, ia segera berjalan mendekat untuk memeluk kedua anaknya. Zafa berjalan mendahului Zafrina dan memeluk Dian dengan erat. Ibu dari 5 anak itu menangis sesengukan di pelukan sang anak yang selama sebulan menyiksa batin dan jiwanya.


"Ini bukan mimpi kan sayang, ini benar kamu kan? Kenapa kamu tidak pernah menghubungi mama? apa mama berbuat salah padamu?"


Deg ..!


"Zafa yang salah maaf." Bisik Zafa seraya mengecup pelipis Dian berulang-ulang.


"Kakak aku juga ingin memeluk mama." Rengek Zafrina. Zafa mengurai pelukannya dan mengusap air mata Dian, ia beralih ke samping dan sedetik kemudian Zafrina menghambur memeluk Dian.


"Ina kangen sama mama .. "


"Mama juga sangat merindukanmu putri kecilku." Ujar Dian, membelai wajah putrinya. Keharuan terasa kental menyelimuti ruang makan itu. Semua yang melihat interaksi Dian dan kedua anaknya pun ikut terharu.


"Mama ini ada acara apa?" akhirnya Zafrina ingin menuntaskan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Tiga hari lagi adikmu menikah sayang. Ayo duduk dulu."


"Siapa? Zayn ..?" Meskipun Zafrina sudah tau jawabannya dengan hanya melihat seluruh anggota keluarga yang berkumpul lebih banyak keluarga Judy di banding keluarga besarnya.


"Sayang, sebaiknya Ina dan Zafa biar makan dulu. Setelah itu baru kalian saling Q&A." Kata Gerry. Dian langsung mengandeng lengan Zafa dan menggengam jemari Zafrina.


Setelah acara bincang-bincang malam itu usai keluarga Didi dan Selin kembali ke hotel. Kini hanya ada keluarga inti Dian saja karena kedua orang tua Gerry dan orang tua Dian kembali ke mansion mereka masing-masing.


"Sekarang ada yang bisa jelaskan sama Ina, kenapa kalian tidak memberi kabar jika Zayn akan menikah?"


"Sayang, semua ini serba mendadak. Rencana pernikahan ini baru terpikir 2 hari yang lalu karena adikmu yang badung itu membawa Judy tidur satu ranjang." Kata Gerry.


"Tapi aku tahu batasanku pa, aku juga kan ga mungkin ngapa-ngapain Judy sebelum sah." Kata Zayn membela diri.


"Ish .. kamu itu Zayn, Judy itu masih polos jangan diajarin ga bener." Zafrina melotot kearah adiknya.


"Dia terluka kakakku sayang, papa dan mama saja yang berlebihan."


"Zayn .. " Suara tegas Zafa membuat nyali Zayn langsung menciut. Karena kakaknya itu jarang bersuara keras jadi jika sudah mulai nada tinggi Zayn akan takut pada Zafa.


"Sayang .. " Dian mengusap punggung putranya. Entah mengapa Dian merasa lain dengan sikap Zafa yang kini terlihat lebih dewasa. Karena biasanya saat mereka sedang berkumpul, putranya akan menguasainya dan bergelayut manja di lengannya. Tapi kini Zafa seakan berubah. Dian merasa bangga meskipun sudut hatinya ia merasa kehilangan sosok putra pertamanya yang manja."


"Terhitung sudah 3 bulan, putranya berubah. Dian ingat betul sebelum Zafa memutuskan masuk dan mendaftar di Universitas Harvard anak itu berubah menjadi sosok yang pendiam dan irit bicara. Sebenarnya itu hal yang lumrah karena Zafa yang memang introvert. Tapi jika bersama Dian, Zafa akan menjadi sosok yang manja dan cerewet. Itulah mengapa Dian merasa sangat kehilangan putra pertamanya saat pria itu memutuskan keluar dari zona nyaman di mansionnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Up lagi guys meskipun tangan othor lagi cidera.


selamat membaca ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


__ADS_2