
*********
Wajah Ara memerah saat tatapan matanya bertemu dengan netra hitam pekat milik Arsen.
"Bangun A' udah siang ..! Aa ga kerja ya?"
"Ga ah, kalo kaya gini aku males. Maunya sama kamu aja Ra." Ujar Arsen.
Ara sebenarnya sejak tadi menahan tawanya. Ia merasa aneh dengan penampakan Arsen yang seperti itu.
"Kok dari tadi ngelihatin aku kaya gitu sih Ra? Pengen ya?" Goda Arsen.
Ara menghela nafasnya jengah. Omongan Arsen selalu saja berakhir dengan kemesuman.
"Pengen nampol iya." Ketus Ara.
"Eh dosa lho sama calon suami kasar gitu?" Ujar Arsen.
"Yang dosa itu kalo Aa malah pamer aurat kaya gitu. noh hidung doraemon jadi kaya Pinokio gitu." Wajah Ara merah padam malu bukan main melihat sesuatu menyembul dibalik boxer bergambar doraemon itu.
Wajah Arsen seketika memerah karena ketahuan juniornya sedang unjuk diri. Ia menutup wajahnya kembali dengan bantal.
"Aa nanti kalau Aa ga cepetan keluar, Aa makan sendirian aja ya." Teriak Ara dari luar. Arsen segera bangkit dari tidurnya lalu mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Ia menyambar baju dan celana yang sempat ia lempar sembarang arah saat tidur. Ia memang terbiasa tidur dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer. Beruntung saat dulu ia kedapatan tidur dengan Ara ia dalam keadaan lelah akut. Sehingga melupakan baju yang menempel di tubuhnya.
Arsen keluar dari kamar menuju dapur dimana Ara sedang membuat kopi untuk dirinya. Setelah meletakkan secangkir kopi, Ara duduk di samping Arsen.
"Ini kamu yang buat Ra?" tanya Arsen takjub melihat nasi goreng kesukaannya dan telur mata sapi setengah matang.
"Bukan Aa tetangga sebelah yang bikin." Jawab Ara kesal. Kenapa harus bertanya toh disini cuma ada dirinya dan Arsen. Arsen mengambil nasi goreng sosis dalam porsi besar dan dua telur mata sapi sekaligus.
Ara hanya tersenyum saat Arsen sangat menikmati masakan buatannya. Setelah selesai makan Ara membuka pembicaraan.
"Nanti siang mama mau kesini. Mau ngajak fitting kebaya katanya A." wajah Ara terlihat sendu. Ada apa gerangan yang membuat gadis yang ceria itu murung.
"Kamu ga suka Ra?"
__ADS_1
"Eh .. bukan ga suka aku cuma lagi kepikiran aja. Tadi pagi aku dapat telepon dari teh Dian katanya untuk sementara belum bisa kesini karena ada masalah keluarga." Arsen dapat mengerti perasaan Ara, hidup sendirian tanpa teman, tanpa kerabat.
Jika dulu Arsen menjalani semuanya karena pilihannya, berbeda dengan Ara. Dia tidak dihadapkan dengan pilihan lain selain menerima semuanya dengan ikhlas.
"Aku yakin semua akan berjalan dengan lancar, terlepas nanti mereka bisa atau tidak hadir di acara pernikahan kita." Ara mengangguk lalu tersenyum tipis pada Arsen.
Pada akhirnya mama Clara menunggu Ara di butik atas permintaan Arsen. Wajahnya tampak senang sekali saat Ara datang di gandeng oleh putra sambungnya.
"Siang ma, mama sudah lama sampai sini?" Tanya Arsen.
Ara menghampiri mama Clara dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Sudah ayo sekarang Ara make up dulu ya. Setelah itu coba kebayanya. Sekalian kalian foto prewedd." Ujar Mama Clara, Ara hanya menurut saja saat tubuhnya digiring oleh seorang pria setengah agar-agar menuju ruang make up.
"Uuh .. calon suami kamu itu bikin hati eike bergetar hebat deh." Gumam pria kemayu yang berdandan ala-ala lisa blackpink. Dengan baju setengah jadi yang hanya menutup hingga setengah perutnya saja. Memperlihatkan pusarnya yang dipasangi tindik. Rambutnya bahkan lebih halus dari rambut Ara mungkin. Dengan rambut dicat ombre.
"Ah biasa saja kok. Ga ada istimewanya." Ujar Ara. Dan membuat pria setengah agar-agar itu berdecak kesal.
"Kalo eike jadi ye, udah eike kekepin di rumah eike kelonin terus dia."
"Bang .. bang lu kata eike tukang bakso dipanggil bang. Panggil eike madam Jen." Ujar Pria itu, dan Ara hanya manggut-manggut.
Setelah 30 menit berlalu Ara keluar dengan make up flawless tapi tampak sangat anggun dan berkelas. Rambutnya di sanggul modern hingga leher jenjangnya yang putih mulus terpampang jelas di depan mata Arsen. Tanpa sadar mulut Arsen terbuka karena takjub dengan penampilan Ara
"Sen ... mulutnya di kondisikan dong." Bisik mama Clara, Arsen seketika menutup mulutnya. Hingga membuat Ara tertawa. Dan tawa Ara benar-benar sihir bagi Arsen. Pria itu justru terpaku kagum menatap penampilan Ara saat ini. Padahal dia belum mengenakan kebayanya saja sudah secantik ini. Bagaimana jika dia sudah memakainya. Arsen sudah dapat membayangkan betapa cantiknya gadisnya itu.
Setelah Ara dan Arsen masuk ke ruang fitting mama Clara berserta Ajeng sahabatnya mempersiapkan studio yang akan di gunakan untuk pengambilan gambar prewed.
Kebaya pertama berwarna blue ocean membuat Ara seperti berada di hamparan laut lepas. Kebaya dengan ekor memanjang dan sedikit terbuka di area dada membuat Ara terlihat seksi. Selama ini gadis itu menutupi kelebihan tubuhnya dengan selalu menggunakan pakaian longgar. Tapi kini lekuk tubuhnya terekspose dengan sempurna tanpa cela.
Mata Arsen semakin terperosok jatuh ke dalam pesona seorang Tiara Syakila Amran.
Ara pun sama tertegunnya melihat tampilan Arsen saat ini. Kemeja putih dengan jas berwarna senada dengan kebaya Ara. Membuat mereka menjelma menjadi sosok ratu dan raja.
Keduanya di giring masuk ke studio. Mata mama Clara dan Tante Ajeng langsung melotot tak percaya. Mereka seperti melihat dua sosok animasi Disneyland.
__ADS_1
.
.
.
Veni tersadar dari pingsannya. Ia melihat aldo tertidur di sampingnya. Mendadak perasaannya menjadi kesal. Ia pun memukuli Aldo dengan membabi buta. Aldo yang sedang tertidur langsung terkejut.
"Baby kenapa memukul ku?"
"Kau itu benar-benar pria payah, tidak bisa diandalkan. Kau selalu saja membuatku berada di ambang kematian. Kenapa tidak kau bunuh saja aku?" teriak Veni histeris.
"Sshh .. maaf maafkan aku baby. Aku memang lelaki tak berguna." Ujar Aldo penuh penyesalan.
"Kau jahat, kau tidak benar-benar mencintaiku. Kau jahat." Desis Veni disela isak tangisnya.
Dian masuk dengan wajah panik bersama Arimbi. Mereka terkejut mendengar jeritan Veni.
"Ada apa Ven? kenapa kamu berteriak?"
"Bilang padanya untuk membunuhku sekalian. Dia selalu saja membuatku seperti ini Dian, aku lelah terus menerus seperti ini."
"Kamu jangan bicara sembarangan sayang, ingat kau sedang hamil. Istighfar sayang .. " Bisik Arimbi.
Dian hanya memberi isyarat mata pada Aldo untuk keluar dari kamar Veni. Dia dan ibunya berusaha menenangkan Veni.
"Kau tidak kasihan pada janinmu? jangan menangis terus sayang, nanti kelak jika anakmu lahir dia akan jadi anak cengeng. Apa kau mau itu?" Veni menggeleng.
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป
Othor up dua bab aja ya guys. Dua hari ini banyak kegiatan sampai sampai badanku capek ga ketulungan. Dikit dikit pellor (nemPel moLor)
Jangan lupa jempolin ya. Bantu othor share ke Fb grup WA atau media sosial kalian yang lain. Agar karya othor di kenal publik.
__ADS_1
Caranya kalian klik berbagi nanti ada pilihannya. Thank you all ๐๐๐๐๐