
******
Ara duduk di samping Arsen di sebuah ruangan. Yang Arsen bilang akan menjadi ruangannya saat mengurus panti.
"Sejak kapan aa menyiapkan semua ini?" tanya Ara seraya menatap sekelilingnya. Lalu kembali menatap suaminya.
"Sejak kamu bungkusin makanan untuk mereka, lalu aku mendengar cerita jika beberapa anak harus di bawa satpol PP. Aku jadi berpikir untuk menyediakan mereka tempat tinggal. Entah mengapa cerita anak itu begitu menyentuh, dan lagi aku melihat wajah sedihmu seketika sirna saat berada di depan mereka.
" Karena aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku pada siapapun. Aku tidak ingin membebani mereka dengan kesedihanku." Lirih Ara, Arsen menarik dagu Ara agar menghadap wajahnya.
"Aku tidak suka melihat air matamu, karena itu menyakiti hatiku. Aku lebih suka melihatmu tertawa. Maafkan keegoisanku yang justru membuatmu tersakiti. Aku tidak akan melarangmu berdandan. Kau bisa berdandan sesuka hatimu." Ara mengangguk lemah, Arsen mengikis jarak diantara keduanya. Dan melu_mat bibir Ara, Ara membalas ciuman itu dengan intens, tangannya bahkan sudah bergelayut manja di leher Arsen.
Saat ciuman keduanya mulai memanas, seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Sontak Ara langsung mendorong tubuh Arsen untuk menjauh.
Ara berkaca sebentar lalu merapikan bajunya yang sedikit tersingkap. Saat pintunya terbuka Ara terkejut mendapati begitu banyak orang dan Di ruang tengah sudah tersedia aneka makanan.
"Teh Dian .. " Seru Ara menghampiri Dian dan memeluknya. Sementara itu Arsen mengikuti langkah sang istri seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Selamat ya untuk panti asuhannya semoga panti ini bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan." ujar Dian---- "Oh iya, dan aku juga ayah akan menjadi donatur tetap untuk panti ini."
Ara tersenyum penuh haru lalu memeluk Dian.
"Terimakasih teh, ini benar-benar hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bisa berada di tempat ini di tengah-tengah mereka." Kata Ara, Dian hanya tersenyum dan mengusap punggung Ara. Ara mengurai pelukannya dan menatap Dian.
"Kau layak mendapatkannya. Kau boleh menjual rumah yang kakek beri. Kata mama Clara rumah yang ada di sebelah panti adalah rumah yang suamimu belikan untuk mahar kemarin."
"Ara ga akan jual rumah itu sampai kapanpun teh. Rumah itu dibeli kakek untuk Abah. Meskipun rumah itu atas nama Ara, Ara ga akan jual. Nanti Aku akan sewakan saja. Kalau tidak biar nanti bisa jadi tempat usaha Ara setelah lulus. Dua hari lagi Ara sidang teh. Do'ain Ara ya teh!"
"Iya pasti .. " Jawab Dian masih dengan senyum yang mengembang
Bahkan papa Arman, mama Clara dan keluarga Arya datang atas permintaan Arsen. Dan keluarga Dian juga diundang khusus oleh pria itu. Sebenarnya Arsen sudah mempersiapkan acara ini dari kemarin dan diperuntukkan untuk besok. Hanya saja karena masalah tadi siang sehingga semua dipercepat beruntung keluarga Dian mau hadir. Tampak Gerry sedang berbincang dengan papa Arman dan juga ayah Hanafi. sedangkan Arya, Nayla dan anaknya berada di taman, anak-anak Gerry pun sedang bermain dengan anak-anak panti yang seusia mereka.
__ADS_1
Malam menjelang, semua tamu sudah pulang. Ara dan Arsen memutuskan tidur di rumah baru mereka. Namun sejak 15 menit yang lalu Ara berada di dalam kamar mandi dan belum keluar sama sekali. Bahkan gemericik air pun tak terdengar suaranya. Arsen yang sangat khawatir dengan kondisi Ara langsung menggedor pintu kamar mandi.
"Ra .. kamu ga apa-apa kan? kenapa lama sekali? ---- " Ra kamu dengar tidak?"
Ara membuka pintu kamar perlahan. "Iya aku dengar A'... "
"Kamu kenapa lama di dalam?"
"Ga apa-apa A' .. Ayo sekarang kita tidur."
"Kamu kenapa, sakit? Jangan-jangan bekas tendangan siang tadi masih kerasa ya?" Tanya Arsen cemas. Tapi Ara justru tersenyum dan mengusap rahang kokoh Arsen.
"Ara baru menstruasi aa. Dan biasanya perut Ara sakit." Ujar gadis itu seraya meringis menahan nyeri di perutnya. Arsen langsung mengangkat tubuh Ara
dan membawanya keatas ranjang, Ara di biarkan bersandar di heardboard ranjang.
"Tunggu disini dulu, aku akan carikan obat untuk meredakan sakit perutmu."
Arsen turun ke lantai satu dan menghubungi mama Clara. Setelah bertanya banyak hal tentang kondisi yang Ara alami, Arsen pergi ke apotik untuk membeli obat pereda nyeri dan kantong kompres sesuai perintah mama Clara, bahkan Arsen juga membeli salep. Untuk berjaga-jaga jika Ara mengalami memar setelah berkelahi tadi. Malam ini ia akan menginterogasi istrinya tersebut.
Ara turun untuk mencari keberadaan Arsen, namun pria itu menghilang entah kemana. Saat Ara berbalik hendak naik ke kamar, pintu terbuka dan nampaklah pria tampan itu sedang membawa plastik bertuliskan logo apotik.
"Aa dari mana?"
"Beli obat buat kamu Ra, kenapa kamu turun?"
"Aku kehilangan suami." Gerutu Ara, Wajah Arsen memerah mendengar ucapan Ara.
"Maaf ya. Tadi aku cuma khawatir kamu kesakitan makanya langsung keluar cari obat. Mau duduk disana atau di kamar aja?" tanya Arsen menunjuk ruang keluarga.
"Di sana aja Aa, Ara juga belum ngantuk."
__ADS_1
Arsen berbelok ke dapur mengambil air minum untuk Ara. Setelah itu dia duduk di samping istri tercintanya.
"Buka baju kamu ..!"
"Ara baru menstruasi aa, ngapain buka baju. Aa mesum banget sih."
Arsen menyentil kening Ara hingga memerah. "Pikiran kamu itu ya Ra. Aku kira kamu gadis polos nyatanya malah pro gitu." Ejek Arsen mengingat kelakuan Ara beberapa hari ini. Wajah Ara merah padam karena Arsen mengatai dirinya seperti itu.
"Udah iih .. kalo aa kaya gitu. Ara mending ke kamar aja deh."
"Aku suruh kamu buka baju biar aku bisa lihat ada luka ga. Lagian kamu tu diem-diem jagoan. Tapi kenapa bisa di buli terus. Harusnya kamu hajar mereka biar ga macem-macem sama kamu." Kata Arsen bersemangat.
"Dulu Ara diam karena Ara ga mau Abah bermasalah. Aa kan tau aku cuma punya Abah. Kalo Abah sampai di tuntut orang tua mereka gimana?" Kata Ara sendu. Setiap menyinggung abahnya gadis itu menjadi sensitif sekali.
"Kan sekarang ada aku Ra. Kalau lain kali ada yang macem-macem langsung aja hajar. Nanti selebihnya aku yang urus."
"Huh .. ngomongnya empuk bener. Nyatanya pagi tadi aa ga bisa tegas sama sekertaris aa."
"Siapa bilang? sana kamu ke kantor tanya HRD. Dimana besok Wanda tugasnya."
"Huh palingan itu cewek nongol lagi di kantor sambil mohon-mohon ke aa." Sahut Ara, ternyata gadis itu masih menyimpan kekesalannya.
"Ra, aku tanya boleh ga?"
"Tanya aja, kalo Ara bisa jawab pasti Ara bakalan jawab Aa."
๐๐๐๐๐๐๐๐
Maaf ya mungkin akhir-akhir ini othor cm up 2 bab. Nanti kalo malem ada waktu othor tambahin lagi. Soalnya dunia nyata othor lagi repot beberes barang-barang ga kepake yang numpuk sampai 2 kamar. ๐คญ๐คญ
Jangan lupa dibirukan jempolnya... mawarnya sini lemparin othor yuk. Kalo ada yang mau kasih kopi juga othor ga nolak.
__ADS_1