Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Last Bonchap dan New Season


__ADS_3

*********


Tiga bulan kemudian


Arsen sedang duduk di balkon kamarnya seraya menjemur Arumi putri cantik mereka. Setelah kelahiran putri nya Arsen rasanya enggan pergi ke kantor. Ia lebih memilih menghabiskan harinya bersama Ara dan Arumi. Sehingga ia memilih membawa pekerjaannya di rumah.


"Aa, udah yuk! nanti Arumi gosong kelamaan di jemur." Ujar Ara, ia sudah bersiap dengan handuk mandi putri kecilnya. Arsen tersenyum hingga kedua lesung pipinya tercetak jelas. Dan lesung pipi inilah yang Arsen turunkan pada Arumi.


Arsen membawa masuk putrinya dan menciumi gadis kecil itu dengan gemas.


"Ra, kalo di rumah sama aku jilbabnya dibuka dong." Pinta Arsen, karena sejak memutuskan berhijab Ara tak pernah sekalipun membuka jilbab di depan Arsen.


"Hihihi .. aku terlanjur nyaman A' makanya suka lupa. Emang kenapa Aa pingin Ara lepas jilbabnya?"


"Ya aku tu kangen elus-elus rambut kamu yang indah itu. Apalagi ini udah setahun dari kejadian waktu itu. Pasti rambut kamu juga udah panjang." Bujuk Arsen, Ara tersenyum malu melihat tatapan mata suaminya itu.


"Iya, nanti malam ya A' sekarang waktunya Arumi mandi keburu airnya dingin." Ara mengambil Arumi dari gendongan Arsen dan mulai memandikan gadis kecil itu. Arsen menatap penuh bahagia ke arah istri dan putrinya. Arsen benar-benar bersyukur memiliki Ara dan Arumi saat ini.


Setelah menidurkan putrinya dan menitipkannya pada baby sitter, Ara menyusul Arsen di ruang kerja dengan membawa kopi dan camilan untuk suaminya. Setelah mengetuk pintu Ara masuk lalu kembali menutup pintu. Arsen menyunggingkan senyum saat melihat Ara menghampirinya. Rasanya degup jantung Arsen selalu bermasalah jika berdekatan dengan istrinya itu.


"Kerjaan Aa banyak ya ..?" tanya Ara, menatap Arsen yang masih terus memperhatikan laptopnya. Arsen menoleh lalu tersenyum miring, ia merentangkan sebelah tangan agar Ara mendekat, Ara berjalan dan duduk di pangkuan Arsen dengan posisi miring. Arsen menaruh dagunya di pundak Ara, tangannya melingkar erat di perut istrinya. Ara memperhatikan data-data yang ada di layar laptop suaminya.


"Apa kau tidak lelah seharian menatap angka-angka di layar itu?" tanya Ara menoleh kearah samping dimana suaminya meletakkan kepalanya di pundak Ara.


"Tentu saja melelahkan, tapi lebih dari pada itu aku sangat menikmati waktuku saat ini. Bisa terus menemani kalian berdua di rumah." Ujar Arsen seraya memberi kecupan-kecupan ringan di leher Ara, hingga membuat Ara langsung merinding karena geli. ----- "Aku menginginkan kamu Ra .. " bisik Arsen parau.


Tangan Arsen menarik jilbab instan yang dipakai oleh Ara dan ia lagi-lagi di buat terpesona dengan kecantikan alami istrinya itu.


"Aa .. nanti kalo Arumi bangun gimana?"


"Arumi punya pengasuh biarkan dia bekerja. Aku menggajinya bukan untuk mengawasimu." Desis Arsen tangannya meraih wajah Ara dan memagut lembut bibir yang sudah membuatnya kecanduan itu. Tanpa menunggu waktu lama Arsen menarik dress yang di pakai Ara hingga jatuh ke lantai. Arsen membereskan mejanya memindahkan laptop dan berkasnya ke atas meja di belakang kursi kerjanya, dan menaikkan Ara di atas meja kerja hingga Ara memekik lirih.


Arsen menurunkan celananya dan mengeluarkan juniornya yang siap bersarang di kehangatan paling terdalam milik Ara. Ia merebahkan tubuh Ara dan kembali memagut bibirnya dengan rakus. Arsen memainkan titik sensitif Ara dan membuat Ara mengerang dengan tubuh menegang. Tak menunggu waktu lagi Arsen langsung melesakkan pusakanya di inti tubuh Ara dan mulai bergerak liar. Suasana yang semula dingin berubah menjadi panas. Suara lenguhan dan erangan Ara terdengar halus dan begitu mendayu. Dalam waktu beberapa menit tubuh Arsen dan Ara menegang, Arsen mengerang tertahan di dada Ara.


.

__ADS_1


.


.


12 tahun berlalu


Anak-anak Gerry tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan cantik. Zafa sudah lulus sekolah dan melanjutkan studinya di sebuah universitas ternama di Amerika. Kepergian Zafa keluar negeri membuat Dian merasa semakin sedih karena Zafrina juga memilih study keluar negeri demi melanjutkan bisnis sang papi. Beruntung anak-anak Dian yang lain selalu memberikan dukungan kepadanya.



Zafa



Zafrina (mohon maaf kalo ga sesuai soalnya nyari yang matanya biru agak susah)



Zayn




Zayana



Zafia


☘️☘️☘️


Pagi ini keluarga Dian sedang sarapan tanpa Zafa dan Gerry, karena Gerry masih memastikan semua yang Zafa butuhkan saat tinggal di luar negri tersedia dengan baik. Pagi ini lagi-lagi wajah Dian tampak sembab. Dan Zayn sangat tidak menyukai wajah sedih ibunya. Zayn dan Zayana saat ini sudah memasuki jenjang kuliah, karena kepintarannya mereka mengikuti kelas Akselerasi. Namun mereka memilih kuliah di ibukota.


"Mama tolong hargai kami yang ada di sini. Kami kan juga anak-anak mama kenapa mama seolah menganggap kami tidak ada?" ucap Zayn datar, Dian tersentak mendengar ucapan putra keduanya. Benar tidak seharusnya dia bersedih sementara anak-anaknya yang lain ada bersamanya.

__ADS_1


"Zayn, bisakah kau bersikap sopan pada mama?" ketus Ana. ---- "Tak seharusnya kau berkata begitu, wajar mama sedih. Kak Zafa putra pertama mama begitu juga kakak Ina, Kita sudah terbiasa bersama. Aku saja sedih apalagi mama yang membesarkan kita sejak bayi." Lanjut Ana menatap kesal kearah Zayn.


"Sudah sayang, kakak kamu benar. Mama tidak seharusnya bersedih, bukankah masih ada kalian bertiga yang menemani mama?" ujar Dian, ia tak ingin anak-anaknya bertengkar karena dirinya.


Meskipun sorot mata Dian masih terlihat sendu, tapi ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya.


"Selamat pagi onty Dian ..!" Seru Judy, gadis periang itu mencium pipi Dian dan memeluk wanita itu dari belakang.


"Pagi sayang, apa kau sudah sarapan?" tanya Dian mengusap wajah cantik gadis belia itu.


"Hehehehe .. belum onty." wajah Judy menyeringai, Zayn geleng kepala melihat tingkah kekasihnya itu.


"Kemarilah, duduk disini!"


"Siap pangeranku .." Judy mengangkat tangannya bersikap hormat seperti saat upacara bendera.


Semuanya sarapan dengan tenang sesekali Ana menatap wajah mamanya. Ia gadis yang peka seperti Dian dan keras kepala seperti Gerry. Melihat mamanya murung dan tak berselera makan membuat Ana merasa ikut sedih.


"Mama aku sudah selesai, aku berangkat dulu ya." Ujar Zayana.


"Hati-hati sayang, katakan pada uncle diego jangan ngebut!"


"Ok mama .. " Zayana memeluk Dian sejenak dan mengecup pipi sang mama. ---- "Fia apa kau mau bareng dengan kakak atau mereka?" tanya Zayana pada sang adik yang entah mengikuti watak siapa tapi Zafia sangat pendiam dan tertutup.


"Fia ikut kakak Ana saja." Kata Zafia, ia pun telah selesai menghabiskan makanannya. Zafia menghampiri sang mama dan meraih jemari Dian dan mencium punggung tangan sang mama dengan santun, Dian tersenyum dan mengusap kepala putri kecilnya.


"Belajar yang rajin ya sayang." Kata Dian seraya tersenyum pada putrinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hai Hai kalian masih setia nungguin othor ga seh?


Padahal othor niatnya belum ada rencana nelurin mereka tapi demi kalian othor rela kerja rodi ini.


Tanggal 5 ini othor juga rencana mau bertelur judul baru. Dan menyelesaikan papi Rian dan Velia. Kan ga lucu toh disini udah pada gedhe di sana masi piyik².. 😅😅 enjoy guys.

__ADS_1


__ADS_2