
********
Zayn baru saja selesai menyuapi Judy, entah mengapa keceriaan yang biasa Judy perlihatkan kini mulai redup terganti dengan wajah sendu saat menatapnya. Zayn menyerahkan obat yang Arya berikan pada tadi namun Judy menolak. Gadis itu sudah trauma terlalu banyak makan obat sewaktu kecil.
"No, aku tidak mau minum obat. Lagi pula aku sudah jauh lebih baik Zayn." Rengek Judy dengan wajah memelas. Tanpa di sangka Zayn menggigit obat Judy, dan mengambil air mineral, awalnya Judy bingung dan mengernyit. Namun sedetik kemudian matanya langsung membelalak saat Zayn menarik tengkuk Judy dan memasukkan obat berikut air yang tadi Zayn teguk dari mulutnya ke mulut Judy. Dengan wajah memerah Judy memukul dada Zayn. Kesal bukan main meskipun obat itu akhirnya tertelan, bukankah baru saja mereka sama saja dengan berciuman?
"Aah Zayn .. first kiss aku." Judy mendelik kesal. Zayn tersenyum smirk.
"Itu bukan first kissmu baby, karena dulu kau juga pernah mencium bibirku saat kita sedang merayakan kelulusan waktu SD. Jadi ini second kiss kita." Ujar Zayn tanpa malu, Judy menutup wajahnya yang memerah.
"Sudah jangan dibahas lagi. Sekarang pulanglah ..! aku sudah lebih baik." Usir Judy, ia merasa tak akan mampu mengubur perasaannya jika terus berhadapan dengan pria ini.
"Aku akan menginap, aku sudah memberitahu mama jika kau sakit, jadi mama memintaku menjagamu." Ujar Zayn tak acuh. Judy mendengus dan membuang muka tidak ingin berlama-lama menatap Zayn.
"Selepas papa pulang dari Amrik aku akan meminta ijin untuk bertunangan denganmu." Lanjut Zayn, kini ia menatap teduh wajah sendu Judy. ---- "Aku hanya tidak bisa bersikap manis di depan wanita lain selain keluargaku, karena aku takut mereka justru semakin terobsesi padaku dan menyakiti dirimu." Judy mengangkat wajahnya menatap dalam manik mata Zayn mencoba mencari kebohongan dari ucapan kekasihnya itu. Tapi sial pria ini ternyata bersungguh-sungguh.
"Tapi Zayn .. " Judy terdiam dan membelalak saat Zayn justru membungkam bibirnya dengan ciuman lembut yang memabukkan.
*
*
*
Di belahan benua lain, Zafa masih menatap langit-langit kamarnya ada kegalauan di hatinya padahal waktu sudah menunjukkan waktu hampir pagi.
__ADS_1
"Maafin aku ma, aku masih butuh waktu untuk sendiri. Entah sampai kapan kalian akan menyembunyikan semuanya dariku." Gumam Zafa, air matanya mengalir dari sudut matanya. Hatinya resah dan sakit secara bersamaan. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Flashback
"Zafa .. tolong ambil tangga yang ada di gudang sayang, Biar nanti kalau mang Jajang datang foto mama papa bisa terpasang." Ujar Arini di mansionnya dulu.
Zafa pun akhirnya mencari tangga di gudang. Namun matanya tertarik dengan kardus besar dimana diatasnya ada sebuah pigura foto berukuran besar. Zafa meraihnya dan menurunkan kardus itu perlahan. Ia menatap nanar pigura itu, dimana sang papa berpose mesra dengan seorang wanita. Namun yang jelas itu bukan Dian. Di pojok pigura ada tulisan Wedding Gerry & Selena. Wajah keduanya tampak bahagia. Zafa langsung berpikir jadi mamanya adalah istri kedua, lalu sekarang dimana istri pertama papanya itu? Zafa meletakkan foto itu lalu membuka kardus usang itu dengan jantung yang berdebar.
"Ya Allah, ada apa ini? kenapa rasanya aku takut sekali membuka kardus ini." Gumam Zafa, namun tangannya tetap terus membuka kardus itu, Kardus berisi buku dan beberapa lembar foto usang. Namun masih tampak jelas itu foto wanita itu dan papi Zafrina. Zafa semakin tak mengerti hubungan rumit itu, sampai sebuah kertas yang di staples terjatuh tepat di kakinya, Zafa mengambil kertas yang mana bertuliskan surat lahir Zafa dan Zafrina namun disana sayangnya nama ibu Zafa bukan Dian melainkan Selena. Sedang di surat lahir Zafrina ada nama mama Dian. Bagaikan di hantam batu keras seketika Zafa merasakan sesak di dadanya. Dia jatuh lemas dan menangis. Kenapa hal sebesar ini tidak ada yang memberitahunya?
Zafa semakin gencar membuka isi kardus itu, Disana ada buku riwayat kesehatan Zafa. Bahkan Zafa masih ingat tangis Dian saat Zafa berumur 4 tahun harus berulangkali mengikuti terapi di Amerika. Meskipun fisiknya bisa normal namun imun tubuhnya tak bisa berbohong. Kelelahan sedikit saja dirinya akan jatuh sakit.
Zafa semakin merasakan sesak didada. Dimana sebenarnya ibunya apakah dia anak yang tidak pernah diinginkan oleh ibunya demi mengejar papi Zafrina. Lalu apa hubungan papi Zafrina dengan mama Dian? Pikiran Zafa bingung tidak karuan. Ia menarik rambutnya frustasi.
"Apa kau menemukan tangganya sayang, kenapa lama sekali?" Arini berteriak dari luar gudang, Zafa berdehem untuk meredam tangisnya.
Flashback end
"Apa aku bertanya pada uncle Rian saja? Kenapa hatiku sakit sekali mengetahui semua ini?"
*
*
Sementara itu tanpa sengaja saat Dian membersihkan kamar Zafa ia menjatuhkan foto putranya.
__ADS_1
"Ya Allah, ada apa ini? kenapa perasaanku tidak nyaman? Zafa .. " Dian memunguti pecahan kaca itu dengan mata yang sudah berkabut hingga tanpa sengaja tangannya terkena pecahan kaca. Dian terduduk lemas dan terisak. Rasanya ini benar-benar sulit dilalui oleh Dian yang tak pernah terpisah, kini harus jauh dari anak-anak yang selama ini ia besarkan dengan kasih sayang.
"Mama .. mama kenapa?" Pekik Ana terkejut mendapati tangan Dian terus meneteskan darah sedangkan Dian masih membenamkan wajahnya di antara lututnya.
Zayana membantu mamanya bangun dan mendudukkan Dian di sofa.
"Mama cerita sama Anna jangan diam seperti ini? mama kenapa?" Zayana berkaca-kaca melihat mamanya terlihat sangat kacau. Ia meraih tisu dan mencoba menghentikan darah Dian yang terus mengalir.
"Kita ke rumah sakit ya mah?" Zayana terlihat begitu khawatir pada Dian, Dian menatap sendu putri keduanya, ia menghambur memeluk Zayana.
"Mama harus bagaimana Ana? mama sudah berusaha tapi mama tidak sanggup. Ini terlalu berat untuk mama. Kenapa kita harus terpisah, rasanya baru kemarin mama membawa kalian dalam gendongan mama. Kenapa waktu cepat sekali berlalu. Apalagi kakak kamu fisiknya tidak sekuat kalian. Mama takut terjadi sesuatu padanya." Dian meluapkan semua yang menjadi beban di hatinya pada putri keduannya. Zayana mengurai pelukan Dian kini ia menggenggam jemari mamanya.
"Mama, jangan seperti ini! bagaimana jika kakak juga kepikiran mama terus? Mama harus kuat demi keberhasilan kak Zafa dan kakak Ina." Sekarang kita ke rumah sakit ya, lihat tangan mama masih terus berdarah."
Dian mengangguk lemah, namun belum juga berdiri dari sofa tubuh Dian sudah kembali merosot jatuh pingsan.
"Mama ... "
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Pokoknya kisahnya begitu lahnya, suka silahkan like jika tidak suka cukup tinggalkan dan jangan berkomentar yang menyakitkan hati author.
promosi telur baru, sebenarnya ini harusnya othor nyelesaiin telur ini baru ke mereka. Cuma karena kalian menginginkan Zafa dan kawan2 tumbuh besar maka jadilah othor kejar target.
__ADS_1
Di birukan love nya dulu juga boleh. Dibaca langsung sekalian tebar like dan gift juga ga papa banget.
Makasih ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ