
********
Rada panas yang belum cukup usia tolong menepi ๐ ๐
Kao berlari mendekati Araya. Ia mengusap puncak kepala Judy.
"Maafkan uncle ya sayang." Kata Kao, Judy masih diam saja menatap pria yang tadi menolongnya. Judy merasa begitu dekat dengan pria itu. Padahal pria itu adalah orang asing.
"Hei bro, kenapa Lo?" tanya Aldo melihat Didi masih terus diam saja setelah menolong seorang gadis kecil.
"Hei, jangan katakan kau jatuh cinta pada gadis kecil tadi!" Celetuk Nino. Dan Didi merespon dengan mengangguk.
"Iya gue jatuh cinta pada gadis kecil itu." Kata Didi memegang jantungnya yang masih berdebar-debar. Namun bukan itu yang mengganggu pikiran Didi.
"Dasar Pedofil." Ujar Gerry.
Tanpa mereka duga. Didi berdiri, dia pergi meninggalkan mereka semua. Aldo dan yang lain berpikir Didi marah dengan ucapan Gerry.
"Lo sih Ger, ngomong ga disaring dulu. Marah kan orangnya." Ujar Aldo, Gerry hanya mengendikkan bahu.
Sementara itu Didi berkeliling mencari keberadaan Judy dan wanita tadi. Dia mengingat wanita itu. Wanita yang menghampiri Judy tadi adalah wanita yang 5 tahun lalu mendatanginya bersama Selin. Didi terus berlari sambil menoleh ke kiri dan kanan. Mencari siluet sosok yang bisa mempertemukan dirinya dengan Selin.
Didi mengusap wajahnya kasar, kenapa ia buru-buru pergi tadi?" batin Didi kesal pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Mama, Ana haus." Ujar Zayana mendekati Dian.
"Iya sayang," Dian menyerahkan botol air mineral kepada putrinya. Kedua putranya berjalan dengan santai menyusul adik mereka. Zayn tampak mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Zayn, cari siapa nak?" tanya Dian melihat putranya seakan mencari seseorang.
"Tidak mah." Jawab Zayn dengan wajah memerah malu. Zafa mendekati sang ibu dan membisikkan sesuatu. Dian hanya mengulas senyum hangat membelai wajah Zayn dan Zafa bergantian.
"Apa kalian sudah selesai bermain?" tanya Dian, dan Ketiga anak mereka mengangguk.
"Sudah mama." Jawab ketiganya kompak.
"Dimana Dino?" tanya Dian melihat keponakannya tak bersama anak-anaknya.
"Dino pergi duluan ma. Katanya dia lelah dan tidak mau bermain lagi dengan Ana." Jawab Zayana dengan wajah cemberut. Memang anak Nino sedikit berbeda, IQ anak itu terbilang jenius. Dan Lebih unggul di banding anak- anak Dian. Meskipun Zayn juga terbilang jenius tapi dia masih jauh dibanding Dino yang baru berusia 4 tahun sudah bisa mengoperasikan komputer yg canggih.
.
__ADS_1
.
.
"Sayang, bisakah kau memesan es krim satu lagi untukku?" Ujar Veni dengan wajah penuh permohonan.
"Baby, kamu sudah habis 4 cup besar." Kata Aldo cemas.
"Tapi aku masih ingin rasa yang lain sayang."
"No, enough for today Veni!" (tidak, cukup untuk hari ini Veni!). Tegur Aldo. Veni hanya menekuk wajahnya tanpa berniat menyahut ucapan Aldo.
"Sudahlah Do, turuti saja maunya Veni. Dia sedang ngidam." Kata Nino, Aldo mendengus kesal.
"Kalian tidak usah membujuknya. Aku akan buat sayembara saja siapa yang mau menjadi ayah tiri untuk anakku." Kata Veni. Dia sudah bersiap berdiri namun Aldo mencekal tangannya.
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu. Berhentilah cemberut." Jawab Aldo akhirnya mengalah.
"Tidak perlu, aku akan cari pria lain yang bisa menerimaku dan memperhatikan aku dan anak yang ada dalam kandunganku." Ketus Veni.
Aldo akhirnya mengalah dia berjongkok di depan Veni. "Maafkan aku baby. Aku akan membelikan apa yang kau mau. Kau ingin rasa apa?"
"Aku ingin es krim rasa strawberry dan di atasnya diberi mayonaise dan choco chip." Kata Veni, dalam hitungan detik wajahnya berubah ceria.
Aldo dan yang lain hanya menelan ludah kasar. Sial keinginan aneh apa lagi yang diinginkan Veni. Aldo hanya mendesah lalu beranjak membelikan pesanan istrinya.
.
.
.
Didi menyesali ingatannya yang tak segera menyadari jika wanita yang menggendong Judy tadi adalah wanita yang bersama Selin.
Didi rasanya ingin menangis saat ini juga. Dia begitu merindukan Selin. Ia berjalan gontai menuju mobilnya.
Ia menjalankan mobilnya menuju ke apartemen miliknya. Sesampainya di tempat parkir Didi mendengar seseorang bercakap-cakap lewat ponsel.
"Mereka sudah tiba di Jakarta, tuan Archel ingin kalian menangkap putri dari nona Selina, Jika perlu habisi saja anak pria asing itu." Kata orang itu.
Jantung Didi seakan terjun bebas dari tubuhnya. Apa yang mereka maksud dengan Selina adalah Selina yang sama yang ada dalam pikirannya. Mereka juga menyebut putri, apakah anak Selina perempuan? tak terasa air mata Didi menGalur begitu saja.
Dia harus mengikuti kemana mobil yang dikendarai orang itu pergi. Dia harus menyelamatkan Selina dan putrinya.
Mobil Didi menyelip diantara penggunaan jalan yang lain. Didi juga mengambil foto nomor plat mobil tersebut.
Namun sialnya Didi kehilangan jejak mobil itu saat ada satu mobil yang melaju kencang menyalip mobilnya hingga membuat Didi hilang keseimbangan. Beruntung jalan sedikit lengang hingga tak membuatnya berurusan dengan pengendara lain.
__ADS_1
Meskipun begitu hati Didi masih mencemaskan Selin. Apa yang akan terjadi dengan putrinya. Didi tak bisa membayangkan jika sampai putrinya celaka.
Pria itu langsung bergegas menuju kediaman Dian, Hanya satu orang yang bisa ia mintai tolong saat ini.
.
.
.
Aldo benar-benar kewalahan menghadapi ngidamnya Veni. Namun ada segaris senyum yang menghiasi bibirnya. Saat mengingat kehadiran anak yang mereka tunggu-tunggu.
"Baby, apa kau lelah?" tanya Aldo, Veni menggeleng. Ia bahkan tanpa ragu duduk di pangkuan Aldo.
"Apa kau kewalahan menghadapi permintaan anak kita?" tanya Veni, seraya memainkan jemarinya di wajah Aldo.
Aldo memejamkan matanya menahan dirinya agar tidak menyerang Veni saat ini.
"Tidak baby, aku bahagia bisa menuruti keinginannya. Apapun akan ku berikan untuk kalian. Bahkan jika kau menginginkan jiwa dan ragaku. Aku tak akan segan-segan memberikannya pada kalian berdua.
Veni tersenyum diatas pangkuan Aldo. "Dasar gombal." Ia mengecup bibir Aldo dan melu*matnya dengan lembut. Tangannya bergerak nakal membuat pola abstrak di dada Aldo. Pria itu hanya membiarkan Veni melakukan apapun yang dia sukai.
Perlahan tubuh Veni menyusut kebawah ia menggigit dan menghisap leher Aldo.
"Sshh .. baby jangan memancingku." Desis Aldo, sungguh saat ini belut lautnya sudah mulai bereaksi. Siapapun tak akan tahan mendapatkan sentuhan yang menggetarkan termasuk dirinya.
Veni hanya menuruti nalurinya. Ia ingin membalas jasa pada Aldo yang sudah menuruti semua kemauannya.
Veni mulai menurunkan resleting celana Aldo, namun pria itu membuka mata dan menggeleng.
"No baby .." Pekik Aldo, tapi Veni seakan tak mendengar, ia meraih belut laut itu dan mengeluarkannya dari sarang. Mulut Veni terbuka lebar dan melahap belut laut berukuran jumbo itu.
"Sshh .. aah baby"
Aldo terpejam merasakan kenikmatan yang tiada duanya. Lidah Veni bermain liar. Aldo tak dapat menahan lagi desakan dari pangkal pahanya.
Ia menarik si belut dari mulut Veni dan menembakkan benih supernya ke lantai.
Veni tersenyum melihat wajah memerah Aldo. "Apa kau menyukainya?" tanya Veni.
"Lain kali kau tidak perlu seperti ini baby."
"No, kamu hanya cukup diam dan menikmati permainanku. Ini bentuk rasa terimakasihku padamu beb." Kata Veni
โ โ โ โ โ โ โ โ โ
Pokoknya kalo aku up sore siang atau kemaleman berati tugas anakku bejubel.
__ADS_1
jangan lupa like komen dan hadiah kalian selalu aku nanti.
Miss you pokoke