
*******
Keesokan hari Arsen sudah bersiap, dia hari ini ada meeting penting pukul 10 dia harus menyiapkan bahan-bahan materinya meskipun asistennya telah kembali membantu di perusahaan.
Ara juga sudah tampak rapi siap menemani sang suami untuk bekerja. Ia menggunakan dress selutut berwarna kuning motif bunga kecil-kecil. Ia tampak segar dan lebih cantik dari biasanya. Arsen berdecak kesal.
"Hapuslah riasanmu ..! Aku tidak suka." Ara yang sedang memoles lipbalm tangannya seketika menggantung di udara. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Apakah ada yang salah dengan riasanku?" tanya Ara menatap Arsen dari cermin.
"Tidak ada yang salah hanya aku tidak suka." Kata Arsen menatap tajam ke arah Ara.
"Ya sudah kalau begitu aku tidak usah ikut kamu ke kantor saja." Ara menuang pembersih ke kapas dan mulai menghapus riasannya dengan kesal. Padahal riasan yang Ara gunakan sangat tipis namun Arsen kini mempermasalahkannya.
"Kau tetap terlihat cantik, meskipun tanpa riasan sayang." Arsen mendekat dan memeluk Ara dari belakang.
"Tapi wajahku pucat jika aku tak berdandan."
"Tapi di mataku kau selalu cantik Ra. Dulu saat pertama kita bertemu kau juga tidak berdandan nyatanya kau bisa menggapai lubuk hatiku yang terdalam." Bisik Arsen seraya mengecup leher jenjang Ara.
Ara diam dan tak ingin mendebat lagi ucapan Arsen. Bahkan dia tetap diam saat Arsen membawanya ke dalam mobil dan mulai menjalankannya. Ara memilih menatap keluar kaca mobil meskipun sebelah tangannya sedang di genggam oleh Arsen.
"Apa kau marah?"
"Untuk apa marah? bukan kah katamu tanpa berdandan aku sudah mampu menyentuh lubuk hatimu?"
"Tapi kenapa kau tidak mau menatapku sayang?" Desis Arsen. Ara mengalihkan pandangannya kini menatap wajah suaminya. Arsen dapat melihat kekesalan di mata Ara saat ini.
"Aku hanya tidak suka ada pria lain menikmati kecantikan wajahmu ini." Bisik Arsen, mata Ara terpejam saat tangan nakal Arsen membelai wajahnya ringan.
__ADS_1
Sesampainya di perusahaan Arsen. Suasana sudah ramai bersamaan karyawan yang mulai berdatangan. Semua menunduk hormat pada Arsen. akan tetapi banyak karyawan wanita yang melirik Ara dengan tatapan merendahkan dan Ara tau itu.
Kini Ara dan Arsen ada di dalam lift, namun sebelum pintu tertutup, Wanda menerobos masuk.
"Pagi pak .. " Wanda menunduk hormat pada Arsen, namun ia mengabaikan keberadaan Ara. Ara hanya bisa menarik napas dalam-dalam menghilangkan kesal di hatinya. Raut wajah Arsen berubah dingin saat Wanda tidak menyapa Ara.
"Apa matamu bermasalah Wanda? Bagaimana bisa kamu tidak menaruh hormat pada istriku dan mengabaikannya."
"Oh, maaf pak. Saya kira tadi dia karyawan disini." Ujar Wanda. Saat lift terbuka Ara berjalan mendahului Arsen dan Wanda. Ia masuk ke ruangan Arsen dan membanting pintu keras. Ara sangat kesal, Seumur hidupnya ia selalu menerima cacian dan bulian namun ia tak pernah memperdulikan nya. Tapi sekarang Arsen turut ambil andil membuat dirinya di rendahkan oleh wanita yang jelas-jelas menaruh hati pada suaminya.
Arsen membuka pintu ruangannya. Matanya mengedar mencari keberadaan istrinya. Ara keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.
"Sayang .. " Arsen mendekat namun Ara mundur dua langkah.
"Hei, kenapa? apa kau marah?"
"Untuk apa aku marah? bukankan ini yang kau inginkan, melihatku direndahkan oleh sekertarismu itu." Mata Ara memerah.
"Lalu apa?" tanya Ara dengan suara bergetar.
"Aku benar-benar tak ingin ada pria lain yang melihat kecantikanmu."
"Dan kau lebih senang melihat ku direndahkan dan di pandang sebelah mata oleh wanita lain yang dengan terang-terangan mengejarmu." Ara membuang wajahnya tak mau menatap Arsen.
"Baiklah, maafkan aku. Kau boleh berdandan sesukamu." Ujar Arsen, ia segera duduk di kursi kebesarannya. Meskipun tangannya sedang memegang berkas matanya tak bisa lepas dari wajah sendu sang istri. Ara duduk di sofa dengan kedua kaki ditekuk ke atas. tangannya bertumpu di lutut dan dia meletakkan dagunya memandang kepadatan kota Jakarta dari ketinggian. Sesekali Ara tampak mengusap air matanya.
Bukan ini yang Arsen inginkan, dia membawa Ara ke kantor untuk menjadi mood booster untuknya. Bukannya membuat Ara bersedih seperti ini.
Ara Pov
__ADS_1
Rasanya menyenangkan ketika Aa mengajakku ke kantor. Setidaknya aku tak akan bosan menghabiskan waktu di rumah. Sangking senangnya aku memakai dress yang mama Clara berikan untukku. Dan mulai merias wajahku, tidak mungkin bukan aku datang ke kantor Aa dengan wajah pucat. Namun saat aku hampir selesai berdandan tiba-tiba Aa mengatakan jika dia tak menyukai riasanku, dan menyuruhku menghapusnya. Memangnya kenapa jika aku berdandan? apakah salah, jika aku juga ingin terlihat pantas untuknya meski kami beda kasta.
Saat aku tahu apa alasannya, aku hanya bisa meyakinkan diriku jika Aa ingin aku tidak jadi pusat perhatian pria lain. Tapi dalam hatiku terus berfikir jika aku tidak berdandan bagaimana pandangan karyawannya terhadapku?
Dan benar saja, mereka hanya memandangku sebelah mata. Dan yang lebih menyakitkan bagiku saat Wanda tiba-tiba datang dan hanya menyapa suamiku dan memandang dengan tatapan merendahkan pada diriku. Memang aku akui aku bukanlah siapa-siapa dulu. Dan mungkin sekarang aku masih tetap Ara si miskin yang tidak pantas untuk di pandang tinggi oleh siapapun.
Entah mengapa rasanya sakit. Bahkan lebih sakit dari hinaan dan bulian yang selama ini aku dapatkan. Saat Aa masuk ke ruangan aku tau masih ada kekesalan di matanya. Tapi aku memilih diam. Tepatnya Menghindari percakapan yang justru akan semakin menyakitiku. Dan benar saja, Aa terus mendesak dan menanyaiku. Hingga aku tak dapat menahannya lagi aku mengatakan semua yang ada dalam pikiranku. Namun jawabannya justru membuatku merasa semuanya salahku.
Author pov
Saat Ara sedang mencoba menenangkan hatinya ponselnya berdering. Ia segera menggeser ikon berwarna hijau begitu tau siapa yang menghubungi dirinya.
"Halo pak Dzaki .. "
" .... "
"Iya saya bisa pak."
" .... "
"Tidak pak, saya hanya flu makanya suara saya serak." Ujar Ara seraya berdehem, Arsen semakin tidak bisa berkonsentrasi saat melihat Ara menerima telepon dari Dosen muda itu.
Pintu ruangan di ketuk dan ternyata Billy asistennya yang datang membawa berkas kesepakatan kerjasama. Billy juga mengatakan jika nanti yang akan meeting dengan Arsen adalah pengusaha muda. Yang saat ini sedang menjadi man of the year di majalah bisnis.
Sesaat perhatian Arsen teralihkan karena Billy terus menyampaikan poin-poin penting dalam rapat nanti. Hingga ia tak menyadari Ara keluar dari ruangan itu menuju pantri. Saat di pantri Ara meminta seorang OG untuk membuatkan dirinya teh hijau. Namun tiba-tiba Wanda ada di sana dan meminta OG itu keluar dari pantri.
"Kau kira siapa dirimu bisa berbuat seenaknya di perusahaan ini?" Hardik Wanda.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Ayo ayo ditunggu like dan komen kalian. hadiahnya juga othor tungguin semakin banyak hadiah semakin bagus. ๐๐๐ฅฐ (Mode preman)