Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. End


__ADS_3

*********


Melalui semua proses, baik susah senang telah di lewati pasangan Selin dan Didi. Kini usia kehamilan Selin menginjak usia 9 bulan 5 hari. Seharusnya minggu ini menjadi HPL calon bayi mereka namun sampai sekarang tak ada tanda-tanda jagoan mereka akan lahir.


Saat baik Selin maupun Didi sedang berada di rumah Dian, tepatnya di kediaman Alm kakek Kusuma. Hari ini akan diadakan syukuran aqiqah putra Veni. Mereka baru tiba 3 hari yang lalu. Bayi Veni terlihat subur sekali bisa dibayangkan usia bayi itu 3 bulan tapi berat tubuhnya mencapai bobot 9 kg. Sedangkan Zafia bayi cantik itu kini juga sudah terlihat chubby namun tak sebesar baby Doni.


"Selin biar bibi yang angkat-angkat semua itu. Kau istirahatlah." Kata Dian cemas.


"Tidak apa-apa sekalian olahraga biar bayiku juga segera launching. Rasanya membawanya setiap hari seperti ini membuat kakiku tidak karuan." Ujar Selin.


Semua tampak sibuk menghias, mendekorasi taman untuk dijadikan tempat pelaksanaan syukuran yang akan diadakan sore nanti. Judy dan Zain tampak sangat senang mereka berdua sedang menggoda Zafia, gadis kecil itu selalu terkekeh setiap Judy menutup dan membuka wajah Zayn seperti permainan peek a boo (cilukba).


Kebahagiaan kental terasa melingkupi suasana di kediaman itu, Nino yang jarang terlihat karena kesibukannya kini menyempatkan diri hadir ia menggandeng tangan putra pertamanya sedang putra keduanya sudah berlari saat melihat begitu banyak balon di taman itu.


Selin meletakkan baki yang berisi souvenir lalu mengusap perutnya. Entah mengapa perutnya terasa menegang sejak tadi dan rasanya tak nyaman.


"Bibi tolong lanjutkan ini ..! Aku mau kesana dulu." Ujar Selin, ia berjalan mendekat ke arah tiga sahabat yang sedang bernostalgia itu.


"Honey, sepertinya kita perlu ke rumah sakit." Ujar Selin meringis menahan rasa sakit yang mulai menjalari perut bagian bawahnya.


"Ada apa Selin, apa kau akan melahirkan?" tanya Didi dengan wajah cemas bukan main, ini kali pertama ia mendampingi Selin.


"Sshh .. kecilkan suaramu. Aku tidak mau merusak suasana. Kita ke rumah sakit diam-diam." Selin menatap ketiga pria itu,


"Tidak apa-apa Selin, apa kau perlu di temani istriku?" Tawar Gerry, Selin menggeleng lemah kini bulir keringat sebesar biji jagung mulai membasahi keningnya. Sesaat Selin mencengkeram pegangan sofa erat. Gerry meringis membayangkan Dian dulu juga berjuang sama seperti Selin saat ini. Sedang Aldo sudah berwajah pucat.


"Kenapa lo Do?" Tanya Gerry penasaran.


"Gue masih trauma teringat Veni saat melahirkan Doni." Kata Aldo mengusap keringat yang tiba-tiba menghiasi keningnya.


"Kamu bawa Selin lewat pintu samping saja di sana ada Ruri supirku." Kata Aldo, Didi akhirnya membawa Selin tanpa berpamitan pada penghuni kediaman itu selain Gerry dan Aldo.


Di dalam mobil Selin mulai terisak merasakan sakit yang kembali melanda tubuh bagian bawahnya.


"Uushh .. sakit Honey." Selin semakin kuat menancapkan kuku-kuku panjangnya di lengan Didi. Didi hanya mengepalkan tangan menahan rasa perih dari cakaran Selin. Ini tidak sebanding dengan apa yang istrinya rasakan saat ini.


.


.


.


Setelah tiba di depan UGD Didi segera mengangkat tubuh Selin dan berteriak memanggil dokter dan perawat. Setelah memastikan istrinya di tangani Didi keluar dari ruangan UGD menunggu kabar dari dokter. Ia menghubungi Arya untuk mempersiapkan dokter Fany berjaga jaga jika Selin akan melahirkan.


"Bapak suaminya ibu tadi?" tanya seorang perawat menghampiri Didi.


"Iya benar suster, ada apa? apa istri saya baik-baik saja?"


"Istri bapak baru pembukaan 3 jalan lahirnya, dan butuh 10 agar bayi bisa terlahir. Apakah mau di tunggu di ruang perawatan atau ingin diajak berjalan-jalan dulu di taman agar pembukaannya semakin cepat?"


"Suster tanyakan langsung pada istri saya saja. Karena dia yang menjalani saya hanya mendampinginya jadi tidak bisa memutuskan.


"Enak saja memanggilku bapak," Gerutu Didi


Di sela-sela kecemasannya bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. Didi mengikuti kemana brankar Selin dibawa. Setidaknya wajah Selin sudah tidak sepucat tadi. Mungkin karena kontraksinya masih jarang-jarang waktunya.


.


.


.


"Aaww .. sakit Honey." Selin kembali memekik saat kontraksi kembali terasa. Didi mengusap punggung Selin. Rasanya ia ingin menggantikan posisi Selin saat ini. Dulu saat kelahiran Judy ia juga pernah merasakan sakit perut yang teramat sangat seperti rasa sakitnya akan menghancurkan perut Didi saat itu.


"Aku harus apa agar sakitmu berkurang?" tanya Didi dengan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. Selin menggeleng ia hanya terus mendesis merasakan kontraksi yang semakin lama semakin sering terasa.


Dokter Fany masuk ke ruangan Selin, Ia meminta Selin untuk berbaring dan memeriksa pembukaan jalan lahir bayi mereka. Dokter Fany tersenyum samar. Sedang Selin memejamkan matanya rapat seraya menahan nafas.


"Rileks nyonya, ini sudah bukaan 7. Nyonya bisa melakukan peregangan dengan bola itu." Namun Selin menggeleng, rasanya tenaganya sudah terkuras habis.


Seorang suster mengantar makan siang untuk Selin. Namun melirik pun rasanya Selin enggan.


"Anda harus makan untuk mengisi tenaga nyonya. Dan perbanyak asupan cairan agar anda tidak dehidrasi." Tutur Dokter Fany lembut. ---- "Suster siapkan ruang bersalin. 15 menit lagi pasien akan kita bawa kesana." Ujar dokter Fany berbicara dua arah.

__ADS_1


Selin makan disuapi oleh Didi. Namun selera makan nya benar-benar hilang saat ini. Hanya beberapa suap yang berhasil masuk ke dalam mulut Selin.


Tak lama brankar Selin kembali di bawa ke ruang bersalin, Didi juga sudah mengenakan baju steril ia juga mengenakan masker. Wajah Didi memerah menahan rasa haru melihat perjuangan Selin untuk melahirkan anak mereka. Didi menjadi teringat saat Selin sendirian melahirkan Judy. Pasti itu menjadi hari terberatnya.


Didi Pov


Melihatnya sebentar-sebentar merintih membuatku tak tega, rasanya aku ingin menggantikan posisinya jika bisa. Aku berharap aku saja yang merasakan sakitnya.


Selin, bagaimana dulu kau melewati hari saat kau melahirkan Judy. Maafkan aku yang tidak menemanimu saat itu. Tapi kini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Kita akan berjuang bersama."


Lagi-lagi rintihannya terdengar sangar memilukan untukku. "Ya Allah, ku mohon mudahkanlah dan lancarkanlah persalinan istriku, semoga bayi kami dan Selin selamat tanpa ada hambatan."


Author pov


Suster mulai menyiapkan alat-alat di sekitar dokter Fany. Bahkan kaki Selin sudah di naikkan ke alat penyangga.


"Aarghh .. sakit." Pekik Selin, wajah Selin terlihat begitu pucat. Didi menggenggam jemari Selin dan mengecup puncak kepala wanita itu.


"Nyonya ikuti aba-aba saya. Jalan lahirnya sudah terbuka semua. Dan dengan sisa-sisa tenaganya Selin terus mengejan namun sepertinya bayi mereka tersangkut hingga tidak segera keluar, dengan taktis Dokter Fany mengambil gunting dan melakukan Episiotomi untuk memudahkan bayi Selin segera dikeluarkan. Tangan dokter Fany yang sudah terbungkus sarung tangan segera membantu merogoh bayi itu karena ini sudah terlalu lama.


Wajah Didi seketika pucat mendengar suara gunting yang seakan memotong sesuatu itu. Dan tak lama bayi Selin bisa dikeluarkan dengan usaha dokter Fany dan sisa tenaga Selin yang terus mengejan. Namun mereka semua justru terkejut saat tiba-tiba saja tubuh Didi luruh ke lantai dan tak sadarkan diri. Dokter Fany menggeleng. Ia meminta bantuan beberapa perawat laki-laki untuk membawa tubuh Didi ke ruang perawatan.


"Selamat nyonya Selin, anak anda laki-laki sesuai prediksi ya. Setelah di bersihkan nanti kita Inisiasi dini pengenalan pu_ting susu ibunya. Apakah asinya sudah keluar nyonya?" Tanya dokter Fany seraya mengalihkan perhatian Selin dari rasa sakit karena dokter Fany menjahit jalan lahir bayi Selin tadi.


Didi tersadar dari pingsannya ia menatap sekelilingnya Ia lantas terbangun.


"Selin .. "


"Aku di sebelahmu honey. Kenapa kau justru pingsan saat putra kita lahir?" tanya Selin. Ia sudah terlihat segar setelah dibersihkan oleh perawat dan dia sedang menimang bayinya.


"Entahlah aku sedikit syok saat mendengar suara gunting merobek favoritku." Ujar Didi.


"Huh dasar mesum." Gerutu Selin, kebahagiaan mereka sudah lengkap rasanya Didi berharap keluarga mereka akan terus bersama selamanya.


"Honey siapa nama anak kita?" Tanya Selin


"Amar Seldi hutapea." Jawab Didi dengan penuh keyakinan.


Sore harinya setelah acara di rumah Dian selesai Judy diantar oleh Dian untuk melihat adik bayinya. Judy tampak sangat senang menyambut adiknya.


Semua tampak gembira menyaksikan kebahagiaan keluarga Didi dan Selin itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dua bulan kemudian


"Kak Ara, kata pak Baskara yang di depan itu sumbangannya. Dua peti telur, dan lima ayam potong dan 2 karung beras.


"Iya Ron, sebentar." Ujar Ara berjalan dengan perut yang membesar dengan susah payah.


"Eh mbak Ara, makin cantik saja mbak." Ujar Pak Bastian. Ara tau donaturnya yang satu itu sedikit mata keranjang hingga selalu saja memandangi Ara dengan tatapan penuh hasrat. Sebenarnya Ara engga menemui pria itu tapi demi anak-anak panti ia pun akhirnya sering bertemu pak Bastian.


"Bapak jangan goda-goda kak Ara, ketahuan bang Arsen tau rasa nanti." Ujar Roni geram melihat tingkah pria tua itu. Seakan ingin menelanjangi Ara.


"Hahaha .. saya juga tahu kalo abang kamu sedang tidak di sini karena dia ada di luar kota." Seloroh pak Bastian.


"Maaf Pak, tapi saya masih ada keperluan." Kata Ara sopan. Bagaimanapun pria yang ada di hadapannya ini donatur. Tidak semestinya Ara memberlakukan pria itu dengan buruk.


"Temani saya ngopi dulu. Anda harus memperlakukan saya dengan baik. Saya ini donatur hampir setiap 2 mggu sekali lho." Ujar Pak Bastian angkuh, Ara hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah, silahkan masuk pak." Tawar Ara, pak Bastian masuk dengan wajah yang terlihat aneh menurut Ara, Ara merasa perasaannya tak nyaman namun ia tetap berusaha menepis segala prasangka buruk.


Kopi sudah tersaji di hadapan Pak Bastian. Namun ia enggan menyentuhnya. Ia menatap garang kearah Roni. Namun anak laki-laki itu enggan beranjak meninggalkan Ara sendirian di ruangan itu bersama pak Bastian. Sedang seorang anak panti lain saat ini berusaha menghubungi Arsen.


"Halo bang dimana?"


"Abang masih di jalan ada apa Beni?"


"Buruan pulang bang, itu pak Bastian kemari lagi. Teh Ara kaya ketakutan gitu apalagi pak Bastian maksa mau masuk ke ruangan teh Ara." Ujar Beni, rahang Arsen mengeras. Beruntung hari ini urusan pekerjaannya bisa terselesaikan dengan baik hingga dia bisa pulang lebih awal.


"Ya udah tunggu, kalian jangan tinggalin kak Ara sendirian."


Arsen memacu mobilnya dengan kencang ia berharap istrinya baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


Sementara itu di ruangan Ara, Roni masih tetap tak ingin beranjak dari ruangan itu. Dan membuat tuan Bastian kesal.


"Heh bocil, pergi sana ..!" Hardik pak Bastian Kesal.


"Maaf tuan Bastian, sebenarnya apa tujuan anda kemari? jika anda berniat memberi santunan pada mereka dengan tulus kenapa anda menghardik anak ini. Saya rasa tindakan anda sangat tidak pantas." Tegas Ara, Namun Pak Bastian yang bermuka tebal itu justru tersenyum miring.


"Karena dia mengganggu dan membuat seleraku hilang."


"Selera apa maksud anda?" Tanya Ara mulai cemas.


"Selera untuk menikmati tubuhmu." Ujar Tuan Bastian mulai mendekat namun Roni menghalanginya dan akhirnya tangan besar tuan Bastian bergerak menghempas tubuh Roni hingga anak itu hilang kesadaran.


"Apa yang anda lakukan?" Pekik Ara, ia mendekati Roni tapi tangannya sudah terlanjur dicekal oleh tuan Bastian. Ara memberontak.


Sementara itu di luar panti Arsen tiba dengan satu mobil polisi. Dia hanya antisipasi jika donatur itu berbuat macam-macam. Dan benar saja Arsen mendengar suara pekikan Ara, ia segera berlari diikuti dua orang polisi di belakangnya.


"A-apa yang anda lakukan." Wajah Ara memucat saat tuan Bastian hampir saja menciumnya, Ara segera memalingkan wajahnya.


"Menyerah lah, sudah sejak lama aku mengincarmu dan kali ini kesempatan ini nyata di depan mata. Ujar Tuan Bastian wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Ara dengusan nafas pria itu terasa menerpa wajah Ara.


" To-long lepaskan .. !" Ara merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perutnya, dan sesuatu terasa mengalir dari sela pahanya.


Namun sesaat kemudian tangan Bastian berhasil di tepis oleh Arsen, dan Arsen menghadiahkan bogem mentah pada pria tua itu. Ia langsung menghampiri Ara yang terlihat kesakitan..


"Aa' anak kita .. " Ara langsung jatuh pingsan di pelukan Arsen. Arsen terbelalak saat melihat darah mengalir diantara sela kaki Ara.


"Jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku kupastikan kau akan membusuk di penjara." Tegas Arsen dan meludahi pak Bastian. Kedua polisi yang Arsen hubungi tadi langsung membekuk pak Bastian. Dan salah satunya membawa tubuh Roni yang tak sadarkan diri.


Sesampainya di rumah sakit Ara segera di tangani oleh dokter. Ia segera di larikan ke ruang operasi karena kondisi janinnya yang harus segera di keluarkan. Setelah Arsen menandatangi surat persetujuan dia terduduk di kursi tunggu ruang operasi.


"Bertahanlah sayang, aku masih membutuhkan kehadiranmu dan anak kita." Arsen mengusap sudut matanya yang basah.


"Ya Allah, tolong selamatkan keduanya. Mereka adalah belahan jiwaku." Arsen terus berdoa dalam hati hingga satu jam terlewat dan dokter Keluar dari ruang operasi.


Dokter itu memberikan senyum tulus pada Arsen.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dokter?"


"Alhamdulillah operasi nya berjalan lancar. Istri anda masih di ruang intensif dan putri anda masih di NICU karena sempat menelan ketuban. Kita Do'akan saja semuanya baik-baik saja. Karena kita manusia hanya bisa berencana sedang Allah yang menentukan semuanya.


Setelah seharian menunggu, akhirnya Ara sadar, dan dia langsung menangis ketakutan. Arsen mengusap kepala Ara yang tertutup jilbab. Namun sebelah tangannya terkepal kuat.


"Tenanglah, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian lagi."


"Bagaimana anak kita A'?"


"Dia baik-baik saja, meskipun tadi sempat menelan ketuban."


"Jangan tinggalin Ara sendirian Ara takut A' ... "


"Tidak akan lagi kamu dan putri kita akan selalu ada dibawah pengawasanku."


"Kau ingin beri nama siapa putri kita?"


"Bolehkah?" tanya Ara. Dan Arsen mengangguk.


"Aku ingin memberinya nama Arumi .. dan seterusnya terserah aa."


"Baiklah sesuai permintaanmu sayang."


"Saranghae oppa .. " Bisik Ara, Arsen tersenyum bahagia.


"Nado saranghae Ara .. "


...**End...


โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€โ˜€


Selesai sudah tugas othor untuk karya ini. Semoga othor masih bisa menelurkan karya karya yang lainnya.


Terimakasih untuk para readers ku ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ sudah mensuport dan saran saran yang baik dari kalian merupakan mood booster ku..


Jika ada salah kata, typo dan lainnya othor mohon maaf. Ambil baiknya dan abaikan keburukannya meski othor sadar novel othor ini jauh dari kata baik. See you on the next story**.

__ADS_1


__ADS_2