
********
Pagi itu Ara sudah siap dengan kebaya modern berwarna soft pink yang membalut tubuhnya dengan sempurna dipadukan dengan jilbab berwarna pink gradasi wajahnya semakin terlihat cantik. Sudah sebulan sejak sidang skripsinya akhirnya hari yang ditunggu-tunggu olehnya tiba juga.
Hari ini Ara hanya di temani oleh papa Arman dan mama Clara. Namun wajah cantik Ara terlihat sendu sejak pagi karena suaminya susah dihubungi. Sudah seminggu Arsen pergi meninggalkannya karena harus mengurus perusahaan cabang yang ada di luar negeri. Awalnya Arsen ingin mengajak Ara sekalian honeymoon. Tapi karena jadwal wisuda Ara sudah ditentukan maka Ara tidak jadi mengikutinya.
"Kenapa murung sayang, ini hari bahagia kamu lho." Mama Clara mendekati Ara. Ara tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Ara kepikiran Aa mah, kenapa dari pagi ga kasih kabar Ara ya? biasanya juga bentar-bentar videocall aku."
"Tenanglah, mungkin suamimu sedang sibuk." Ujar mama Clara. ---- "Ya sudah ayo berangkat."
"Sebentar mah .. " Ara meraih tas dan sebuah pigura foto lalu menyusul mama Clara yang sudah berjalan lebih dulu.
Mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah gedung yang diperuntukkan acara Wisuda Ara. Beberapa menit telah berlalu, wajah sendu Ara tampak memucat ia merasakan ada pergolakan di dalam perutnya.
Tak lama nama Tiara Shakila Amran di panggil untuk maju, wajah mama Clara dan papa Arman tampak bangga karena Ara lulus dengan menyandang predikat cumlaude. Setelah selesai acara mereka keluar untuk berfoto-foto Ara membawa pigura foto Abah agar ia merasa abah turut merayakan kelulusannya.
Namun tanpa di duga seseorang hadir membawakan buket bunga pria dengan setelah jas rapi dengan wajahnya yang tampan membuat semua mata terpana menatapnya termasuk mama Clara dan papa Arman. Sedangkan Ara wajahnya telah merah padam karena malu kepada mertuanya yang saat ini mendampingi dirinya.
"Selamat atas kelulusan Sha .. maaf aku baru bisa menemuimu setelah sekian lama, kamu cantik Ra pakai hijab." Ujar pria itu. Ia kemudian menyodorkan buket bunga itu pada Ara.
Ara tersenyum kaku. Karena papa Arman berubah menatap tajam pria itu.
"Makasih Yudha, tapi kamu ga perlu repot-repot." Ujar Ara. Ya pria yang tiba-tiba menghadang Ara adalah Yudha teman masa SMP nya dulu.
"Mereka siapa kamu Sha?" Tanya Yudha yang tak mengenali kedua orang tua Arsen.
"Saya mertua Ara .. kamu siapa?" Wajah Yudha memucat, "mertua? tidak mungkin. Berarti Ara sudah menikah?"
"Kamu udah nikah Sha?" tanya Yudha terpukul.
__ADS_1
"Iya Yudha .. " Ujar Ara, mama Clara dapat melihat jika pria itu menaruh perhatian lebih pada menantunya itu.
"Maaf nak Yudha tapi kami harus pergi." Ujar mama Clara lembut. Yudha mengangguk lemah lalu menggeser posisi berdirinya. Wajahnya terlihat begitu syok. Ara merasa iba namun ia tak bisa berbuat banyak. Karena bagaimanapun dia harus menjaga hati mertuanya.
"Lain kali jika ada yang mendekatimu katakan dengan tegas jika kau telah bersuami. Jangan karena dekat dan iba kau membuka celah untuk pria lain dapat masuk menjadi duri dalam rumah tangga kalian." Ujar papa Arman lembut namun penuh ketegasan. Ara hanya mengangguk karena ia semakin merasa perutnya serasa diaduk-aduk saat mencium bau bunga pemberian Yudha.
"Kamu kenapa sayang?" tanya mama Clara yang melihat gelagat Ara yang aneh.
"Ga tau mah, sepertinya Ara masuk angin." Ujar Ara, ia memejamkan matanya mengusir rasa pening dikepala.
Mama Clara dan papa Arman saling melirik. Sepertinya ada sesuatu yang salah pada menantu mereka.
*
*
*
"Aa .. " Pekik Ara ia menutup mulutnya tak percaya, saat wajah yang tertutup buket bunga itu kelihatan. Ara langsung menjatuhkan air matanya saat rasa rindunya yang menggunung terobati dengan munculnya sosok yang selama ini membuat tidurnya tak nyenyak.
"Congratulation my wife." Ujar Arsen seraya tersenyum hingga lesung pipinya langsung tercetak jelas. Arsen meletakkan buket bunganya di meja sampingnya lalu merentangkan tangannyanya. Ara segera berhambur memeluk tubuh Arsen dan terisak.
"Aa jahat .. aa udah ga sayang Ara." Gadis itu menangis seperti anak kecil dan memukuli punggung Arsen. Mama Clara dan papa Arman dibuat geleng kepala melihat tingkah gadis itu.
"Kan biar surprise Ra, emangnya kamu aja yang bisa bikin surprise." Arsen memeluk tubuh istrinya erat.
Ara mengurai pelukannya saat ia kembali merasa mual dan kali ini sudah tak dapat di tahan lagi. Ara langsung mendorong tubuh Arsen dan berlari ke toilet. Arsen bingung melihat Ara, ia berpikir istrinya pasti marah.
"Susul istrimu ..! sejak pagi tadi wajahnya pucat, dia mengeluh tidak enak badan." Ujar papa Arman, Arsen langsung berlari menyusul Ara. Arsen mendengar suara Ara yang tampak kesakitan memuntahkan isi perutnya.
Arsen akhirnya menerobos masuk kamar mandi perempuan itu, ia melihat Ara sudah terduduk di bawah wastafel.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa gini sih Ra?" Arsen mengangkat tubuh Ara yang terkulai lemas. Mama Clara yang juga mengkhawatirkan Ara pun akhirnya menyusul.
"Ya Allah, ini Ara kenapa Sen?"
"Ga tau mah, sekarang Arsen mau bawa Ara ke ruangan mama dulu. Mama tolong telepon Arya suruh cepet kesini ma."
*
*
*
Sementara itu di Singapura sedang terjadi kehebohan di kediaman Keluarga besar Aldo. Dimana Veni menghilang saat sedang menemani ibunda Aldo berbelanja. Ada dua orang pria berbadan tegap tiba-tiba menculik dan membawa Veni pergi. Papi Aldo mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan menantunya, sedang kan Aldo harus menghubungi Nino untuk membantunya.
"Bisakah kau mencarinya? kondisi Veni baru saya membaik. Tapi sekarang aku tak tau kemana orang-orang itu membawanya. Jika mereka penculik pasti sudah meminta tebusan. Tapi aku khawatir dia dibawa orang yang terobsesi padanya."
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Nino, tangannya masih terus bergerak lincah diatas keyboard laptopnya.
"Aku tidak yakin, tapi beberapa waktu lalu aku bertemu seseorang yang terlihat sangat mengenal istriku dan tergila-gila pada Veni." Ucap Aldo.
"Baiklah, jam berapa istrimu dibawa oleh orang-orang itu?"
"Sekitar pukul 10, apa kau bisa menemukannya?" tanya Aldo penuh harap.
"Akan aku usahakan aku sedang mencobanya. Bersabarlah ..!"
"Aku menunggu kabar baik darimu." Kata Aldo. Setelah mematikan sambungan teleponnya Aldo mengusap wajahnya kasar. Kenapa dia bisa lengah dan lalai.
"Baby, ku harap kau dan bayi kita baik-baik saja. Bersabarlah aku pasti menemukanmu."
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
birukan jempolnya guys .. gift nya juga othor tunggu ya
__ADS_1