Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Wanita Terhormat


__ADS_3

S2. Wanita terhormat


*****


Arya membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh Selin. Semua mata tamu yang ada disekitar Didi pun ikut terkejut tak menyangka gadis itu menyiram Didi dan wanita malam itu.


Setelah melakukan hal tadi, Selin melipat tangannya didepan dada seolah-olah menantang Didi.


"Apa yang kamu lakukan?" Desis Didi, matanya memerah menandakan ia benar-benar marah.


Selin tersenyum miring, "Apa yang aku lakukan sudah benar." Jawab Selin sengit.


Didi sudah mengangkat tangannya ke udara, jika saja yang ada dihadapannya ini bukan wanita pasti ia akan menghajarnya.


"Kau .." Didi sampai kehabisan kata-kata dia hanya meremas tangannya karena tak ingin membuat keributan lebih.


"Kau pikir siapa dirimu? aku ini wanita terhormat, dan kau memperlakukan ku seperti ini? Aku selama ini diam dan membantumu. Tapi apa yang kau beri untukku? Kau bahkan menghinaku dengan mencumbu pel*acur sepertinya." Geram Selin, jika saja Didi hanya mengacuhkan dirinya ia sama sekali tak masalah. Tapi apa sekarang? Inikah balasan yang ia terima.


"Ok katakanlah kau memang membantuku, lalu apa yang kau mau?" teriak Didi mulai tak bisa mengontrol emosinya.


Arya mendekat mencengkeram bahu adiknya. Ia bingung harus berbuat apa?


"Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri." Ujar Arya. Didi mendengus kesal.

__ADS_1


"Tapi dia sudah keterlaluan kak." Kata Didi masih diliputi oleh emosi.


Selin semakin menjadi mendengar kata-kata Didi. "Aku yang keterlaluan atau kau yang kurang ajar. Baiklah terserah padamu saja. Dan oh satu hal lagi. Mulai detik ini aku sudah bukan siapa-siapamu lagi." Kata Selin datar. --- "Dan kau kak, jangan sekali-kali mempercayai adikmu. Karena dia telah membodohi dirimu. Kami tidak benar-benar berpacaran. Dia hanya memperalatku untuk mendapatkan hadiah taruhan itu." Kata Selin, gadis itu pergi meninggalkan klub dengan hati yang panas.


"Aku tak menyangka memiliki adik serendah dirimu." Desis Arya, ia berlari menyusul Selin.


Selin sudah ada di tepi jalan. Ia akan ke kontrakan, tempat dimana Didi menyewakan sebuah rumah untuknya.


Saat Selin akan memberhentikan taksi Arya menarik pergelangan tangan Selin.


"Aku antar kau pulang." Kata Arya, Ia merasa Selin tidak sedang baik-baik saja.


Selin tersenyum tulus pada Arya. Andai Didi punya sedikit saja kebaikan seperti Arya.


Selin duduk disebelah Arya. Arya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Gadis itu membuang pandangannya kearah luar. Sejak tadi ia merasa tak nyaman jujur saja sebulan bersama pria itu membuat dirinya sempat merasa menyukai Didi. Tapi ia berusaha menepis perasaan itu. Dirinya dan Didi tidak mungkin bisa bersama karena mereka bukan dari dunia yang sama. Orangtua Selin pasti akan menentang hubungan mereka. Apalagi istana sudah menyiapkan calon pria untuknya, dan hal itulah yang membuat Selin kabur dari istana. Ia tidak ingin dijodohkan dengan pria yang tidak ia cintai.


"Apa kita akan bermalam di mobil saja?" tanya Arya membuyarkan lamunan Selin.


"Ah maaf kak .." Kata Selin salah tingkah. Saat Selin sudah membuka pintu mobil Arya menahannya.


"Maafkan sikap adikku."


"Kenapa kakak yang minta maaf padaku? lupakan saja. Aku juga bukan siapa-siapanya." Ujar gadis itu tersenyum lembut. Arya sangat menyukai Selin. Gadis itu pintar, mandiri dan tangguh. Melihat wajah gadis itu yang berubah sendu membuat Arya merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Aku hanya merasa telah gagal mendidik adikku." Kata Arya penuh penyesalan. Selin menatap sebentar wajah Arya yang memang terlihat menyesal. Ia lantas memeluk pria itu.


"Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini. Senang bisa kenal denganmu kak." Ujar Selin, seolah mengatakan salam perpisahan pada Arya. Arya menatap Selin sesaat gadis itu berbalik dan tersenyum pada Arya seraya melambaikan tangannya.


Disisi lain Didi masih tampak emosi. Ia menenggak minuman keras yang ada dihadapannya. Viona mendekatinya dan memasukkan sesuatu kedalam minuman Didi. Dia berharap malam ini bisa merasakan keperkasaan pria ini lagi.


Didi masih terus meminum minumannya hingga botol yang ada dihadapannya kosong. Namun ia merasa ada gelagat aneh tubuhnya terasa panas, dan hasratnya mulai timbul. Apalagi melihat Viona ada didekatnya dan menempelkan dadanya. Rasanya tubuh Didi terbakar. Namun sekelebat bayangan Selin dengan tatapan marah membuat Didi tersadar.


Ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Viona, Dia menyuruh bodyguardnya mengantar dirinya ketempat Selin.


Sesampainya disana Didi membuka pintu rumah Selin karena dia punya kunci duplikatnya. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Selin. Gadis itu baru keluar dari kamar mandi, ia hanya memakai handuk yang melilit rapat dari dada hingga paha.


Didi menelan salivanya, tubuh Selin benar-benar seksi. Selin terkejut melihat Didi ada disana dan memandang tubuhnya penuh nafsu. Didi mendekat kearah Selin. Ia menarik tubuh Selin dengan kencang, Selin yang masih terkejut dengan kedatangan Didi hanya membeku. Didi mengangkat dagu Selin, Ia mengusap bibir gadis itu perlahan, Selin memejamkan matanya saat tangan Didi menyentuh bibirnya. Dengan sekali gerakan Didi menyesap bibir tipis Selin. Gadis itupun membulatkan matanya terkejut. Tubuh Selin bergetar, ia memukul dada Didi dengan sekuat tenaga. Namun Didi semakin menggila. Efek obat yang dimasukkan Viona membuatnya hilang akal. Didi melepas handuk Selin, dan mulai menghimpit tubuh gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan, sadarlah." Ujar Selin dengan suara bergetar. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Bukankah pria ini sedang marah kepadanya kenapa sekarang dia berbuat seperti ini.


Didi mengangkat tubuh polos Selin ke sofa. Dia melepaskan semua pakaiannya, Selin semakin ketakutan. Ia memundurkan badannya. Namun dengan secepat kilat Didi yang sudah dikuasai nafsu menindih tubuh Selin yang gemetaran. Ia tak memperdulikan tangisan Selin. Didi dengan kasar menyatukan inti tubuh mereka. Didi melu*mat bibir Selin agar gadis itu tidak berteriak. Tubuh Selin melemas saat ia merasakan inti tubuhnya seakan terbelah sakit luar biasa. Hanya air mata yang mewakili betapa terlukanya dirinya. Didi terus memacu tubuh Selin yang terasa begitu nikmat bahkan ia seakan tak bisa berhenti memacu tubuh yang sudah terkulai tak sadarkan diri itu.


Didi berhenti saat pengaruh obat itu mulai berkurang. Ia memandang Selin dengan perasaan campur aduk.


"Selin .." Panggil Didi, namun gadis itu tak bergerak sama sekali. Didi melihat bercak darah di sofa, dan sebagian masih menempel di pusakanya. Didi menepuk pipi Selin perlahan berharap gadis itu membuka matanya, namun usahanya tak membuahkan hasil. Ia kini begitu panik. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


Didi menutup tubuh polos Selin yang penuh dengan bekas kissmark dihampir setiap bagian tubuh Selin. Ia mengangkat gadis itu dan memindahkannya ke dalam kamar. Didi masuk ke kamar mandi, dia merutuki segala kebodohannya. Bagaimana bisa dia melampiaskan semua itu pada Selin. Bahkan Selin masih sangat murni. Didi mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


jangan lupa untuk like di setiap bab, Komen vote dan jangan lupa mawar buat othor. Kasih kopi juga boleh biar semangat yang nulis ini


__ADS_2