
🌼Selamat membaca🌼
Gerry tiba di rumah dengan raut wajah yang tidak bisa Dian artikan. Ada kesedihan, kecemasan yang tersirat dari mata pria itu.
Bahkan Gerry berjalan dengan mengacuhkan sapaan Dian, hal yang sangat membuat Dian Shock. Kenapa suaminya sampai mengacuhkannya. Bukannya tadi Gerry baik² saja saat berpamitan dengan dirinya? Atau ada masalah di perusahaan Gerry?
"Mas ..!" Dian menahan tangan Gerry, seketika pria itu menoleh menatap Dian.
"Ada apa?" tanya Gerry tanpa semangat.
"Apa aku berbuat salah? kenapa mas mengacuhkan ku?" tanya Dian, Gerry seakan tersadar. Dia memeluk tubuh Dian erat.
"Maaf, mas sedang banyak pikiran."
"Apa ada masalah di perusahaan?"
Gerry mengangguk. Ini kali pertama dia membohongi istri tercintanya. Tapi dia bingung harus memulai semua dari mana.
Flashback
"Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya. Bagaimana bisa harus dengan persetujuan istri barumu itu?" Selena benar benar di ambang batas kesabarannya.
"Kumohon mas, anggaplah ini permintaan terakhirku." Ucapan Selena membuat langkah Gerry terhenti, ada perasaan tak nyaman saat wanita itu berkata tentang permintaan terakhir, apa maksud Selena.
"Aku sedang sakit mas, aku tak tau sampai kapan bisa bertahan dengan penyakitku. Aku hanya ingin bertemu putraku." Ujar Selena sambil menunduk. Namun tanpa di sadari Gerry senyum tipis tersungging di bibir Selena.
Gerry tertegun mendengar ucapan Selena, bagaimanapun Gerry pernah menempatkannya sebagai wanita yang paling dia cintai.
Flashback end
Dian merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Gerry darinya. Tapi dia akan sabar menunggu hingga Gerry sendiri yang akan bercerita padanya.
Dian berjalan ke arah dapur menyiapkan makan malam untuk suami dan ibu mertuanya.
Tak lama makanan yang Dian buat sudah tertata rapi di meja. Ia naik ke atas untuk memanggil Gerry. Namun alangkah terkejutnya Dian, Gerry duduk di balkon dengan botol minuman keras yang ada di depannya dan sebungkus rokok yang sudah berkurang isinya. Terlihat dari asbak yang ada di meja dengan beberapa puntung rokok.
"Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa mas malah minum²an seperti ini. Jika ada masalah katakan mas. Jangan malah melampiaskan nya dengan hal² seperti ini." Dian khawatir ini berimbas pada kesehatan Gerry.
"Jangan urusi urusanku. Kau cukup pikirkan anak²." Bentak Gerry setengah sadar.
Deg ..!!
__ADS_1
Dian terkejut dibentak seperti itu oleh Gerry, seketika air matanya luruh.
Tanpa berniat menjawab ucapan Gerry, Dian masuk ke kamar kedua anaknya. Lain dengan Dian, Gerry kembali menengguk minumannya dengan gerakan kasar, bahkan sebagian alkohol itu tumpah mengenai kemejanya.
Dian meminta bi Esih dan bi Yuni untuk beristirahat, dia sendiri yang akan menjaga Zafa dan Zafrina. Dengan patuh kedua pengasuh itu meninggalkan kamar bayi itu.
Dian mengusap lembut rambut Zafa. Entah mengapa akhir - akhir ini perasaannya sedikit merasa tidak nyaman. Tapi Dian mencoba menepis perasaan itu. Dia berusaha mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri mengurus kedua bayinya.
.
..
...
Keesokan harinya Gerry terbangun dengan kepala yang terasa berat, ia meraba sisi tempat tidurnya namun dia tak menemukan istrinya ada disana. Gerry langsung bergegas ke kamar mandi, ia harus mengguyur tubuhnya agar pusing di kepalanya menghilang.
Setelah mandi Gerry memanggil nama istrinya namun tak kunjung muncul di hadapannya. Gerry meraih kemeja dengan asal - asalan. Ia segera mencari keberadaan istrinya di kamar bayi namun ruangan itu kosong.
Ia pun turun ke halaman belakang, dimana para pengasuh menjemur Zafa dan Zafrina namun ia lagi² harus kecewa karena tak ada siapapun disana.
Gerry merasa aneh, tidak biasanya Dian meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
Apakah mungkin ada sesuatu yang terlewat oleh ingatannya.
"Jangan pukul kepalamu. Semua yang kau ucapkan terlanjur menyakiti perasaannya." Ujar nyonya Arini dingin. Ada rasa kesal yang kini ia rasakan. Semalam ia mendengar dari para pengasuh bahwa menantunya sedang menangis di kamar bayi. Nyonya Arini mengintip Dian yang masih sesengukan mengusap kepala Zafa.
.
..
...
....
Rian menghajar anak buahnya yang tidak becus mengurus Veni, entah kemana larinya, dan sejak kapan wanita itu lari, membuatnya langsung kalap, sekarang keselamatan Dian akan kembali dipertaruhkan.
"Aargh ..!!" Teriak Rian frustasi.
Di tempat lain kini Veni ada disebuah kamar mewah, luka di tubuhnya telah dibebat dan di obati. Saat berusaha kabur kemarin dia pingsan di tepi jalan.
"Kau sudah bangun?" terdengar suara bariton menyapanya.
__ADS_1
Veni mengangkat wajahnya menatap pria yang berdiri di pintu masuk. Pria berperawakan tinggi dan tampan.
Veni mengangguk malu. Entah mengapa hatinya berdebar menatap pria ini.
"Maafkan aku merepotkanmu." ujar Veni lirih dengan tatapan menunduk, pria itu tersenyum. Namun senyum devil yang dia tampilkan.
"Aku Aldo ..!" Kata pria itu memperkenalkan dirinya.
"A-aku Veni."
Aldo mendekat ke arah Veni, ia meletakkan nampannya di atas nakas. Lalu perlahan mengangkat dagu Veni. Mata mereka bertemu namun Veni tertegun seolah tersihir dengan ketampanan Aldo.
"Jangan malu-malu, sekarang makanlah. Setelah itu minum obatmu Dan istirahatlah kembali." Aldo mengecup sekilas bibir Veni. Gadis itu masih tertegun menatap tak percaya dengan perlakuan manis pria itu.
Siapa yang tak kenal Aldo sang casanova, penjahat kelam*in sekaligus pemilik klub malam Star dan bisnis-bisnis yang ada dalam klub dia yang pegang langsung. Bukan hal sulit baginya menaklukkan seorang kucing liar yang dia temukan di jalan.
Veni langsung melahap habis makanan yang Aldo bawakan untuknya. Setelah meminum obatnya, Veni tersenyum. Sepertinya ia berada di tempat yang selama ini dia impikan.
.
..
...
"Paman, bibi sampai kapan kalian akan berpikir? ini sudah hampir seminggu, dan kondisi kakek semakin lemah. Jangan sampai kalian menyesal mengucap maaf di depan pusaranya." Ketus Nino, Ia sangat lelah membujuk sang paman yang masih terlihat ragu untuk menemui sang kakek.
"Mas, ikuti Nino. Aku ingin segera tau kabar putri kita." Ujar nyonya Arimbi menegur suaminya yang masih terdiam terpaku.
"Tapi bagaimana jika gadis yang di tunjukkan Nino bukan putri kita?"
"Mas, apa kau meragukan kejujuran keponakanmu sendiri. Dia anak seorang Jendral kau meragukannya?" ucap Arimbi kesal. Ia akhirnya meninggalkan Tuan Hanafi sendirian.
Pria paruh baya itu mendesah. Ini bukan perkara mudah baginya. Namun sudut hatinya pun merasakan kecemasan pada kondisi sang ayah.
Setelah membulatkan tekad akhirnya tuan Hanafi keluar dari kamar hotel menyusul sang istri yang meninggalkan dirinya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terimakasih buat support kalian, doa kalian semua. Maaf masih dengan kerepotan yang sama hingga othor ga bisa bales satu persatu komentar kalian. Othor cm bisa mengaamiini doa kalian untuk anak² dan juga diriku.
Doa yang sama othor panjatkan untuk pembaca setia "MISBZ" semoga kalian sekeluarga semua selalu diberi kesehatan. Jangan lupa patuhi protokol kesehatan jika di luar rumah.
__ADS_1
see you, 😘😘😘