Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Merajuk


__ADS_3

********


Selin memunggungi Didi, ia bahkan tak ingin menatap pria itu. Air matanya luruh begitu saja.


"Honey, maafkan aku. Ayolah lihat aku ..!!" Ujar Didi masih setia duduk di samping ranjang namun sepertinya Selin sedang merajuk.


Didi menarik Selin agar istrinya itu mau menatapnya. Namun Didi justru terkejut melihat wajah sembab Selin.


"Hey maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak tahu jika ponselku mati." Ucap Didi seraya mengusap air mata Selin yang terus berjatuhan.


"Apa kau tau betapa aku benar-benar mengkhawatirkan dirimu? aku takut terjadi sesuatu padamu." Isak Selin. Didi langsung menarik Selin kedalam rengkuhannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Papa sedang sakit, dan tadi aku ke mansionnya." Ucap Didi seraya mengecup puncak kepala Selin berkali-kali.


Selin mengurai pelukan Didi dia menatap manik mata suaminya dengan lekat. Sama sekali tidak ada kebohongan dari sorot mata Didi.


"Kenapa tidak mengatakannya padaku? aku bisa ikut denganmu tadi." ---- Selin.


"Aku tidak ingin Arsen bertemu denganmu, ia selalu menatapmu seolah-olah ingin menelanmu bulat-bulat." Kata Didi. --- "Sekarang ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar. Jangan merajuk lagi ..!! Kau bukan anak kecil."


Selin hanya mengerucutkan bibirnya. Didi yang gemas meraup dagu Selin dan melu*mat bibir tipis istrinya itu.


"Uuhmm .. bukankah kita mau makan malam?" Selin meletakkan kedua tangannya di dada Didi untuk menahan tubuh pria itu.


"Rasanya aku ingin menyantap dirimu terlebih dahulu." Ujar Didi dengan suara parau menahan hasrat yang tiba-tiba meninggi.


"T-tapi aku lapar .." Suara Selin bergetar. Tak dipungkiri ciuman Didi tadi juga menggelitik nalurinya untuk melanjutkan ke tahap penyatuan. Tapi dia terlalu malu untuk mengatakannya. Didi tau arti tatapan mata Selin yang begitu mendamba. Ia perlahan merebahkan tubuh Selin dan mulai menjelajahi seluruh lekuk tubuh istrinya menggunakan bibirnya. Sentuhan-sentuhan Didi benar-benar memantik hasrat Selin.


"Uuhmm .. Sshh" suara lenguhan Selin seperti menambah stamina Didi. Didi mulai melepaskan semua kain yang melekat di tubuh Selin. Begitupun kain yang menempel ditubuhnya. Dengan perlahan Didi mulai melakukan penyatuan, pekikan lirih Selin terdengar sangat merdu. Didi mulai menggerakkan tubuhnya. Matanya terpejam, kepalanya menengadah keatas menyesapi kenikmatan yang mulai menjalar di pusat tubuhnya.


Didi melenguh, begitupun Selin. tubuhnya bergerak seiring hentakan Didi yang semakin intens. Erangan dan lenguhan memenuhi kamar. Dinginnya malam itu berganti dengan panasnya penyatuan mereka.

__ADS_1


"Aarggh .. Selin." Didi mengerang bersamaan tubuh Selin yang bergetar. Didi mencium bibir Selin dan memagutnya dengan rakus.


.


.


.


Archel duduk sambil menyesap wine yang baru saja ia tuang di gelasnya. Ada perasaan kesal yang mengungkung hatinya. 5 tahun dendamnya pada Selin belum juga terbayarkan meskipun dulu dia sempat membuat Selin koma beberapa hari namun itu tak serta-merta membuat hatinya puas. Rasa kecewa karena perasaannya tak terbalaskan. Rasa sedih karena tak bisa memiliki dan rasa malu karena penolakan yang Selin lakukan seakan membunuh rasa cinta yang dia miliki untuk Selin. Archel menjadi sosok lain yang pendendam. Bahkan raja Aaron menawarkan sepupu Selin yang tak kalah cantik dari Selin, dan bersedia menggantikan Selin namun Archel menolak. Ia merasa cukup terhina dengan penolakan itu.


Archel menggenggam gelas wine nya dengan erat hingga gelas itu pecah terburai dan pecahan itu mengenai tangannya.


"Selin .. kau membuatku hampir gila. Apa yang kau lakukan padaku? kenapa sulit sekali memadamkan semua rasa ini." Gumam Archel.


.


.


.


"Ada apa sayang? ini masih tengah malam." Gumam Aldo masih memejamkan matanya.


"Ehm .. buka matamu dulu!" Veni menggoyangkan tubuh Aldo. Aldo membuka matanya. Menatap Veni dengan rasa kantuk yang sulit ditahan.


"Aku mau makan kue pancong sayang." -- Veni memelas.


"Ohh .. ya Tuhan Veni, ini tengah malam. Bisa tidak besok saja kamu pengennya. Aku benar-benar lelah dan mengantuk." Aldo kembali memejamkan mata. Dan yang namanya ibu hamil, perasaannya amat sangat sensitif, Veni menitikkan air matanya. Ini juga bukan maunya rasanya ia ingin sekali memakan kue itu saat masih hangat. Bahkan Veni sulit menahan air liurnya.


Veni bangkit dari ranjangnya, ia berjalan meraih mantel bulunya yang hangat. Ia juga meraih kunci mobil yang tergeletak diatas nakas. Veni keluar untuk mencari apa yang dia inginkan. Ia membawa tas kecil yang biasanya ia bawa saat bepergian. Saat Veni keluar dia berpapasan dengan Selin dan Didi.


"Veni .. Kamu mau kemana?" Tanya Selin, ia curiga melihat gelagat Veni.

__ADS_1


"A-aku ada urusan sebentar." Ujar Veni gugup.


"Biar kita antar, tidak baik malam-malam kamu keluar rumah sendirian." Kata Selin lagi, tapi Veni menggeleng lemah.


"Tidak perlu Selin. Aku hanya sebentar." Veni memaksakan senyumnya. Dia berlalu pergi ke garasi dan menjalankan mobil Aldo.


"Kita ikuti dia honey, aku khawatir sepertinya dia lagi ga baik-baik saja." Selin sangat mencemaskan Veni, Didi berlari masuk kamar mengambil dompet dan kunci mobilnya. Selin sudah keluar dan menunggu di dekat mobil Didi


keduanya masuk dengan tergesa-gesa, Didi segera menjalankan mobilnya menyusul mobil Veni yang sudah menghilang.


"Apa menurutmu Veni bertengkar dengan Aldo?" tanya Selin penasaran.


"Aku juga tidak tahu, tapi melihatnya tadi sepertinya begitu." Didi dan Selin masih sibuk mengedarkan pandangannya. Dan Didi menemukan mobil Aldo yang terparkir di sebuah toko 24 jam, Sepertinya Veni sedang menarik uang di ATM.


"Aku akan turun, mengajaknya satu mobil dengan kita." ---- Selin.


"Kita lihat dulu, dia akan kemana!" Didi kembali menyalakan mesin mobilnya saat melihat Veni sudah menjalankan mobilnya.


Di dalam mobil sesekali Veni mengusap air matanya. Kenapa rasanya sakit sekali saat Aldo tidak menuruti keinginannya. Veni merasa iri dengan kehamilan Dian. Karena Gerry begitu perhatian dan selalu menuruti keinginan Dian. Bahkan tak jarang suami Dian itu juga sering membelikan dirinya sesuatu saat Dian memiliki permintaan.


"Apa aku salah berharap memiliki suami yang seperti Gerry, mau mengerti kehamilan istrinya." Gumam Veni, dia menyetir sembari melamun tidak memperhatikan jika lampu rambu lalu lintas sudah berubah menjadi merah.


Didi yang tepat berada di belakang mobil Veni, ia terus membunyikan klakson berulang ulang.


Matanya membulat saat ada mobil berlawanan arah berjalan dengan kencang. Veni yang terkejut membanting stir ke kiri hingga mobilnya menabrak pembatas jalan.


Didi meminggirkan mobilnya. Tangannya berkeringat dingin. Hatinya diliputi kecemasan. Begitupun dengan Selin. Bahkan tubuh Selin gemetaran. Keduanya turun dari mobil. Mobil Veni dikerumuni banyak orang yang mungkin akan ke pasar pagi karena waktu sudah hampir subuh saat itu. Kap mobil yang dikendarai Veni mengeluarkan asap.


Semua orang dengan panik berusaha mengeluarkan wanita itu dari dalam mobilnya.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅

__ADS_1


Sekali-kali Aldo masuk ya,


Jempol ditekan dan jangan lupa hadiahnya. komentarin apapun karena jujur hari ini othor lagi rada Badmood gara² seseorang. Imbasnya biasanya kalo othor BT bisa seharian tidur terus ga mood ngapa ngapain. Tapi begitu ingat kalian othor langsung melek. 😇😇


__ADS_2