
⛅ Selamat membaca ⛅
"Bisa kita bicara diruangan gue aja?" Ujar Arya. Gerry menatap Dian sekilas lalu mengangguk.
"Ayah, ibu aku titip Dian sebentar." Kata Gerry dan hanya di angguk'i oleh tuan Hanafi. Sementara nyonya Arimbi masih mengatur nafasnya setelah menangis.
Gerry masuk ke ruangan Arya. Setelah duduk dia kembali bertanya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Gerry.
"Aku rasa kondisi Dian tidak main-main Ger. Istri lo hampir terbunuh, dia ditemukan tenggelam dalam bathtub tadi."
Deg ..!!
Hati Gerry seperti terhantam benda keras. Sakit luar biasa. Bagaimana dia telah lalai mengabaikan ucapan Arya waktu itu.
"A-apa dia berniat bunuh diri?" Tanya Gerry terbata.
"Siapa yang tau Ger, sebaiknya bawa Dian ke psikiater. Aku khawatir dia bukan hanya terkena baby blues tapi Dian mengidap bipolar."
"Ga, itu ga mungkin. Gue akan bicara dengan orang tuanya dulu mengenai ini." Kata Gerry.
"Saran gue. Tetap dampingi dia, Jangan buat emosinya naik turun. Beruntung nyawanya masih bisa tertolong saat ini tapi siapa yang tau nasib orang kedepannya. Lo tetap harus waspada. Jangan lengah, sedikit saja dia merasa tertekan semua hal yang ga kita duga bisa terjadi." Kata Arya.
Sakit kepala yang Gerry rasa tadi langsung menghilang. Dia kembali ke kamar perawatan Dian.
.
.
.
Hanafi mendekati menantunya. "Ada apa Ger?"
"Ayah, kenapa Dian bisa sampai tenggelam?" tanya Gerry.
"Aku juga kurang tahu Ger, waktu kejadian aku sedang membeli kopi dan sarapan. Kata ibumu tadi dari semalam Dian hanya diam dan melamun. Lalu pagi tadi saat dia terbangun dari tidur, ia sudah tidak melihat Dian di ranjangnya dan pintu kamar mandi terkunci. Saat ibumu mengetuk Dian tidak menjawab. Akhirnya dia memanggil petugas kebersihan yang kebetulan sedang membersihkan lorong dan jendela. Mereka mendobrak pintu dan mendapati Dian sudah tenggelam." Tutur Hanafi.
Gerry berjalan mendekat ke brankar Dian, wajah istrinya terlihat begitu pucat seolah tak teraliri darah sama sekali.
__ADS_1
"Apa kata dokter?" tanya nyonya Arimbi tanpa mengalihkan perhatiannya pada Dian.
"Dokter berkata kemungkinan efek sindrom baby blues. Dulu saat Zafrina masih bayi Dian juga sempat mengalaminya tapi tidak sampai begini." Ujar Gerry.
"Apa kalian pernah tahu atau mendengar jika Dian mengidap bipolar?" tanya Gerry hati-hati, dirinya tak ingin menyinggung perasaan orang tua Dian.
"Tidak, dia memang sejak kecil mudah cemas dan fisiknya lemah. Bahkan yang paling parah jika kecemasan yang dia alami berlebihan dia akan langsung pingsan. Apa ayah ingat dulu kelas satu SD Dian pingsan gara-gara tak sengaja melukai temannya dan membuat temannya berdarah?"
"Tapi apa kalian tidak pernah membawanya ke psikiater?" tanya Gerry lagi dan kedua orang tua itu menggeleng.
"Ada apa sebenarnya Ger?" tanya tuan Hanafi mulai khawatir.
"Tidak apa-apa yah." Kalian sebaiknya pulang dan istirahat. Biar aku yang menjaga Dian disini." Ucap Gerry.
"Kami akan tetap menemani Dian. Sebaiknya kamu beristirahat dulu Ger, jangan sampai kamu sakit disaat kondisi seperti ini. Dian dan ayahmu sama-sama membutuhkan kamu. Kita akan bergantian menjaga Dian. Sebentar lagi Sasa dan Nino juga akan kesini." Kata nyonya Arimbi. Akhirnya Gerry mengalah. Dia memang membutuhkan istirahat agar fisiknya kembali segar. Gerry berjalan kearah sofa dan memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama Gerry langsung tertidur.
.
.
.
"Bibi, apa yang terjadi pada Dian?" tanya Sasa.
"Dia hanya kelelahan." Ujar Arimbi berbohong. Ia tak ingin membuat semua orang khawatir dengan kondisi Dian.
Setelah menemani paman dan bibinya berbincang sebentar Nino dan Sasa berpamitan. Mereka tetap akan pergi honeymoon karena semua sudah terlanjur dipersiapkan jauh-jauh hari.
"Berhati-hatilah, jaga Sasa dengan baik." Ujar tuan Hanafi.
"Iya paman. Aku pasti akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku." Kata Nino
Jemari Dian bergerak lemah, tuan Hanafi segera mendekati putrinya.
"M-mas Ger-ry .." Desis Dian. Tuan Hanafi segera membangunkan menantunya.
"Ger, Dian mencarimu." Mendengar ucapan mertuanya mata Gerry langsung terbuka lebar. Ia bergegas bangun dan mendekat ke arah ranjang Dian.
"Aku disini sayang .." Ujar Gerry lembut.
__ADS_1
"Mas, ma-af." Kata Dian terbata. Sudut matanya basah.
"Ssshh .. sudahlah." Kata Gerry ia menggenggam jemari Dian dan mengecupnya berkali-kali.
Hatinya merasa bersyukur Dian sudah membuka matanya dan mau berbicara dengannya.
"A-aku min-ta maaf." Ulang Dian lagi. Gerry langsung meraih tubuh Dian dan memeluknya.
"Mas yang salah, mas yang ga bisa ngertiin kamu. Jangan seperti ini lagi ya. Mas benar-benar takut kehilangan kamu." Ujar Gerry, ia membuang semua egonya dan menangis di pundak Dian.
"Jangan marah. Jangan diamkan aku." Ujar Dian diantara isakannya.
Hati Gerry lagi- lagi terasa berdenyut nyeri. Ternyata karena ulahnya semalam membuat Dian hampir saja menghilangkan nyawanya sendiri.
Nyonya Arimbi dan tuan Hanafi ikut terharu menyaksikan pemandangan itu.
"Sekarang kau harus istirahat. Dua jam lagi suster akan mengantar baby twins kesini." Ujar Gerry sembari menyeka air mata Dian, begitupun sebaliknya.
"Mas juga minta maaf jika sikap mas semalam. Mas hanya sedang cemas memikirkan operasi papa." Kata Gerry.
Dian menggeleng. Lalu menatap ibunya. "Ibu, kenapa Dian diinfus dan dipasangi alat seperti ini?"
Ketiganya membatu, apakah dian melupakan apa yang terjadi dengannya?
"Kamu tadi ditemukan pingsan dikamar mandi sayang." Lagi-lagi nyonya Arimbi harus berbohong. Jangan sampai putrinya tau jika putrinya hampir saja meregang nyawa.
Dian terdiam tampak berpikir. Semua mata memandang cemas kearah Dian. Jangan sampai dia mengingat kejadian itu.
"Sudahlah sayang. Sekarang pejamkan matamu." Perintah Gerry. Dan Dian langsung memejamkan matanya.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hay guys Senin neh, bagi vote dan hadiah kalian buat othor ya.
Othor mau ngobrol sebentar. MengenaiKarakter tokoh disini. Emang sejak awal kalo kalian nyimak dengan sungguh-sungguh Dian itu memang wanita yang lemah, dari Fisik maupun mental. Dian bukan tokoh seperti yang di novel mafia yang Mendadak kuat terus balas dendam. Karena bukan itu ya isi ceritanya.
Begitu juga dengan Gerry. Dalam kehidupan sehari-hari kalian juga pasti sekali dua kali Nemu lah ya sosok kaya dia. Mudah marah mudah minta maaf. Sebentar baik sebentar nyebelin. (Sebenarnya othor pake sifat bapak ke anak-anak othor) buat membangun karakter si Gerry. Jadi kalian ngerti kan betapa ngemesin nya ketemu orang yang sikapnya kaya gitu. 😂😂😂
wes pokoke enjoy aja. kalo kalian suka tekan like nya. Kalo ga othor juga engga maksa biar kalian suka.
__ADS_1