
🌼Selamat membaca🌼
Sudah berhari² Nino tinggal di rumah pamannya hanya untuk meyakinkan sang paman jika kakeknya ingin meminta maaf padanya.
"Paman, ayolah! Nino tidak mungkin bohong sama paman."
"Tapi ini tidak semudah yang kau pikir Nino." Ujar Hanafi ragu. Jujur saja sudut hatinya merindukan ayahnya tapi mengingat perlakuan mereka pada Arimbi, membuat rindu itu padam dengan sendirinya.
"Aku rasa bukan hanya kakek yang merindukan paman. Tapi Dian Ayunda juga sudah lama merindukan pelukan dari orang tuanya." Kata Nino menambahkan.
Namun bukannya terketut pintu hatinya justru Hanafi emosi.
"Jangan pernah kau bawa - bawa nama mendiang putriku." Ujar Hanafi emosi bahkan kini nyonya Arimbi sudah terisak mengingat almarhumah putrinya.
Nino terseyum miring. Lalu ia terbahak-bahak, "Pantas saja kakek selalu melarang paman untuk keluar rumah. Karena kakek khawatir paman hanya dibodohi orang. Atau jadi korban penipuan."
Hanafi semakin geram dengan tingkah kurang ajar sang keponakan.
"Jangan kurang ajar kau Nino, bukan karena paman menerimamu disini kau bisa berlaku enaknya." Ujar Hanafi dengan wajah yang memerah menahan amarah. Nyonya Arimbi masih terus terisak.
"Apa paman sudah pastikan dan melihat sendiri mayat Dian? Dan apa paman tau selama ini Dian hanya tau, jika kedua orangtuanya telah meninggal karena jenasah kalian terbakar." Kini Nino memasang wajah serius. Menatap sang paman yang nampak bingung.
"Apa maksudmu?" Hanafi mengernyitkan alisnya, bukankah Burhan sendiri yang bilang jika Dian meninggal karena rumah mereka terbakar.
"Jika paman ingin mendengar tentang Dian, dan bertemu dengannya. Ikut aku ke Jakarta temui kakek." Tawar Nino, Hanafi hanya terkekeh merasa dipermainkan keponakannya.
"Jangan bercanda lagi Nino. Kau sudah sangat keterlaluan membawa nama mendiang putriku." Ujar Hanafi tegas. Nino langsung meraih ponselnya ia menunjukkan foto seseorang
"Apa paman masih mengenali putri paman?" Nyonya Arimbi terbelalak kaget melihat foto seorang gadis mirip dengan putrinya.
"Si - siapa dia..? kenapa wajahnya mirip putriku?" ujar nyonya Arimbi terkejut.
__ADS_1
"Ikut aku ke Jakarta, dan aku akan pertemukan kalian dengannya. Dia selama ini hidup sendirian, dia dipakai untuk menebus hutang, oleh orang yang begitu kalian percaya untuk menjaganya." Nino segera berlalu masuk ke dalam kamar tamu.
Hari ini juga dia harus bergegas pulang karena kondisi kakeknya kembali memburuk. Ia berharap triknya untuk menggertak sang paman berhasil.
Sementara itu di ruang keluarga, nyonya Arimbi memaksa tuan Hanafi untuk ikut ke Jakarta bersama Nino. Ia ingin bertemu dengan gadis yang ia yakini adalah putrinya yang selama ini mereka anggap telah meninggal.
Tuan Hanafi akhirnya menyetujui untuk ikut datang ke Jakarta untuk menemui sang ayah. Perang dingin di antara mereka harus segera di akhiri. Selain itu dia pun ingin menuntaskan rasa penasaran dengan sosok wanita yang ada di ponsel Nino.
.
.
.
Sore ini Dian tampil cantik dengan dress dibawah lutut, berwarna putih dengan model tali leher tanpa lengan. Rambutnya pun di gulung asal menyisakan sedikit anak rambut yang menjuntai di depan telinga membuat kesan manis pada diri Dian.
Setelah perdebatan cukup alot, akhirnya dengan berat hati Gerry mengijinkan Dian bertemu dengan Didi dan mamanya. Dengan syarat ia harus ikut dalam pertemuan itu. Membuat nyonya Arini sakit kepala dengan tingkah Gerry.
Akhirnya mereka bertiga langsung berangkat ke resto milik mama Didi. Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit. Mobil gerry akhirnya sampai di depan resto.
Tanpa dapat dihindarkan lagi seketika nyonya Arini berteriak kencang. "Diaaan ... awas!!"
Saat Dian memejamkan matanya ia merasa tubuhnya melayang. Lalu ia tak sadarkan diri. Nyonya Arini dengan panik langsung mendatangi menantunya. Sedangkan Gerry masih terpaku di balik kemudi. Tubuhnya bahkan bergetar hebat melihat istrinya mengalami kejadian seperti itu. Dengan tangan bergetar Gerry membuka pintu mobilnya. Ia segera berlari mendekat ke arah Dian.
Sedangkan mobil yang diduga sengaja ingin menabrak Dian langsung kabur begitu saja.
"Dian, sayang bangun!" nyonya Arini menyentuh wajah Dian yang pucat. Matanya beralih menatap sosok pria yang telah menyelamatkan Dian.
"Tuan, terimakasih. Anda sudah berani mempertaruhkan nyawa anda untuk menantu saya." Ucap nyonya Arini tulus.
Gerry terpaku, saat ia menatap wajah pria yang menolong istrinya. "Rian.. " desis Gerry.
Rian mengangkat tubuh Dian yang masih terkulai lemas. Ia awalnya ingin memasukkan Dian ke mobilnya yang kebetulan parkir tidak jauh dari sana.
__ADS_1
"Berikan istriku padaku." Gerry segera meraih tubuh Dian. Rian menghela nafasnya berat. Badannya pun terasa remuk karena tubuhnya sempat tersenggol bodi mobil. Namun ia tetap menunjukkan wajah datarnya.
"Pastikan kau menangkap pelakunya! Jika tidak, aku pastikan akan merebutnya darimu. Aku tak akan membiarkan nyawa ibu anakku dalam bahaya." desis Rian, dan dibalas senyum sinis oleh Gerry.
"Kau tenang saja. Aku pastikan siapapun tak akan pernah bisa mencelakai istriku." Ujar Gerry, namun kini Rian justru tertawa remeh.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu? nyatanya baru saja nyawanya berada di ujung tanduk." Rian segera meninggalkan Gerry, wajah Gerry benar² memerah tak terima. Hati Gerry saat ini di penuhi luapan emosi.
Benar apa yang Rian katakan, ia sudah kecolongan hampir saja ia kehilangan istrinya itu. Gerry menatap wajah pucat Dian dengan rasa bersalah.
"Sayang kita bawa Dian masuk ya. Biar dia di periksa Arya. Mama sudah hubungi Arya dan kebetulan dia sedang ada di resto." Ujar nyonya Arini yang tak mengetahui perseteruan Gerry dan Rian karena sibuk menghubungi Arya.
"Lho .. orang yang nolong Dian mana?" tanya nyonya Arini.
"Dia buru² mah, ada urusan penting." Jawab Gerry berbohong.
Dengan langkah lebar Gerry membawa Dian masuk ke lantai dua resto lewat tangga samping di luar bangunan agar tak menimbulkan keributan. Arya dan Didi menyambut dengan wajah cemas. Gerry dapat melihat itu dari tatapan kedua kakak beradik itu.
"Letakkan dia disini." Arya menunjukan kasur yang biasa ia gunakan untuk beristirahat. Dengan hati² Gerry meletakkan tubuh Dian lalu menutup kaki Dian dengan jasnya.
Arya mulai memeriksa denyut nadi Dian, dan mengeluarkan stetoskopnya. Setelah beberapa saat Arya bernafas lega. Untunglah keadaannya baik² saja.
"Dia hanya syok. Sebaiknya kau bawa istrimu ke psikiater sepertinya ada sesuatu yang salah dengannya. Kenapa dia mudah sekali pingsan.
Bahkan dia sama sekali tak mengalami benturan. Sepertinya ada sesuatu yang membuat jiwanya lemah." Kata Arya, Didi menatap iba sang pujaan hatinya. Sedang Gerry sedang di penuhi pertanyaan tentang sang istri.
Tak lama ponsel Gerry bergetar ada pesan masuk berupa foto² mobil beserta platnya.
Dan sebuah pesan yang membuat jiwanya seketika membara. Dan tangannya terkepal erat.
*Segera tangkap pelakunya. Atau harus aku yang menjaga istrimu dari gangguan tikus² kecil itu.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼*
__ADS_1
Neh otor tambahin 1 part. Tapi jangan lupa like nya di tekan ya. 😘😘😘