
S2. Mungkinkah?
******
Arya meninggalkan Selin dirumah sang nenek. Setidaknya menurut Arya, Didi tidak akan pernah datang kesana karena hubungan Didi dan sang nenek yang kurang harmonis. Setiap Didi datang kesana sang nenek akan memaksa pria itu untuk mengurus perkebunan mereka. Dan Didi tidak pernah mau. Didi merasa keluarganya pilih kasih. Mereka membiarkan Arya menentukan sendiri karirnya. Sedang kepada Didi mereka selalu memaksa untuk meneruskan usaha turun temurun keluarga mereka. Meskipun pada akhirnya pria itu memilih membangkang dan jarang berkumpul dengan keluarganya.
Selin menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. Meski terkadang ketika sendiri ia akan menangis mengingat ibunya yang jauh disana. Tapi dia sama sekali tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada semua orang, yang orang-orang tahu Selin adalah pribadi yang ramah dan santun. Semua orang di perkebunan mengenal Selin sebagai menantu dirumah itu. Namun tidak ada diantara merek yang berani bertanya siapa suami Selin. Penduduk disana berspekulasi jika suami Selin adalah Arya, karena hanya pria itu yang selalu nampak sesekali mengunjungi perkebunan.
Pagi ini Selin tampak pucat. Namun dia tetap ingin ikut Nayla memantau panen di kebun strawberry yang sedikit jauh dari rumah.
"Apa nona yakin?" tanya Nayla ragu.
"Aku yakin Nay, aku baik-baik saja." Kata Selin meyakinkan orang terpercaya nenek Soraya.
"Tapi anda pucat sekali nona. Saya takut terjadi sesuatu dengan anda." Ujar Nayla. Nenek Soraya akhirnya mendekat untuk membujuk Selin.
"Sayang, kamu bisa ikut Nayla besok. Sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu." Nenek Soraya mengusap kepala Selin dengan lembut.
"Tapi nek, aku ingin ada disana memetik dan memakan buah strawberry yang segar." Kata Selin dengan mata berbinar. Seakan-akan dia benar-benar menginginkannya.
"Begini saja, biar Nayla kesana dulu lalu dia akan membawakan sekotak strawberry untukmu?" tawar nenek Soraya.
Selin menggeleng lemah, ia merasa kecewa tidak bisa memetik strawberry.
"Aku akan istirahat saja nek. Dan Nayla tidak perlu membawakan strawberry itu. Aku tidak akan memakannya. Rasanya pasti akan berbeda." Tutur Selin.
Alis nenek Soraya bertaut. Sikap Selin tidak biasanya seperti ini. Selin yang dia kenal sangat penurut. Kenapa sekarang jadi keras kepala seperti cucunya Didi? Mungkinkah?
Mata nenek Soraya membulat. Lalu dia berkata pada Selin. "Baiklah ikutlah Nayla ke kebun. Tapi berjanjilah kau hanya akan memetik dan memakan buah Strawberry itu, tapi setelah itu kau harus pulang." Kata nenek Soraya. Selin tampak kembali bersemangat.
"Benarkah boleh nek?" tanya Selin matanya berbinar-binar. Nenek Soraya tersenyum lalu mengangguk. Setelah Selin pergi dengan Nayla dia akan menghubungi Arya untuk memastikan sesuatu.
__ADS_1
Nenek Soraya langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Arya. Saat itu Arya sedang berada di klub Aldo untuk memastikan kondisi adiknya yang terlihat berantakan.
Bahkan tanpa ampun Didi membuat Viona harus melayani 10 tamu dalam satu malam. Arya duduk di ruangan Didi. Pria itu sedang menghisap rokoknya, didepannya ada 2 botol wine yang selalu menemani malam Didi.
"Ck .. daripada kau terus seperti ini sebaiknya kau mengurus perkebunan nenek Soraya." Ujar Arya. Namun Didi hanya menanggapi ucapan Arya dengan tersenyum miring.
"Kau saja sana. Kau kan cucu kesayangan nenek." Ujar Didi ketus.
"Kau akan menyesal menolak permintaan nenek Soraya." Kata Arya. Saat Arya bangkit berdiri, ponselnya bergetar.
"Ah panjang umur." Arya tersenyum sambil melirik Didi. Didi tau jika sang nenek lah yang menghubungi kakaknya.
"Halo nenekku tersayang, ada apa nek? aku sedang ada bersama Didi." Kata Arya mewanti-wanti memberi kode agar neneknya tidak menyebutkan nama Selin.
"Apa kau tak merindukan nenek? nenek hanya punya dirimu. Kenapa kau tidak kesini?" ujar nenek Soraya. Arya tersenyum, neneknya cukup tahu kode yang ia berikan.
"Baiklah nek nanti malam aku akan kesana. Karena besok aku libur." Kata Arya.
"Apa nenek mau bicara dengan Didi?" tawar Arya, Didi menatap Arya tajam.
"Tidak, aku tidak mau berbicara dengan pembangkang." Nenek Soraya menutup teleponnya. Arya menatap Didi iba, namun pria itu justru mengalihkan perhatiannya dengan meminum alkohol.
"Berhentilah merusak dirimu sendiri. Dari pada menghabiskan waktu dengan minuman seperti itu sebaiknya kau gunakan waktumu untuk mencari Selin. Bukankah kau berkata menyesal? tapi dari tingkah lakumu justru mengatakan hal yang sebaliknya." Arya menasehati adiknya. Bagaimanapun juga Didi saudaranya. Tapi dia tidak akan memberi tahu keberadaan Selin sampai adiknya mau berubah.
"Pergilah, urusi saja nenekmu itu." Ketus Di isi.
"Dia nenekmu juga." Kata Arya meninggalkan Didi. Setelah Arya pergi, Didi meneteskan air matanya. Rasanya seperti ada batu yang menghimpit dadanya. Sakit sekali mendengar ucapan neneknya.
.
.
__ADS_1
.
Arya terkejut melihat pesan dari neneknya. Ia segera mencari permintaan sang nenek dan tak lupa Arya juga membeli vitamin. Entahlah dia harus senang atau sedih jika apa yang dikatakan sang nenek benar adanya. Apakah dia akan membiarkan gadis itu terus sendirian tanpa seseorang disampingnya.
Arya membelah kemacetan ibukota, meninggalkan hiruk pikuk kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Pelan tapi pasti mobil Arya sudah memasuki area perkebunan milik keluarganya. Arya memarkirkan mobilnya di depan pekarangan rumah nenek Soraya.
Selin yang hafal dengan mobil Arya, berlari kecil untuk menyambut kedatangan pria itu. Namun Selin buru-buru dicegah oleh nenek Soraya.
"Tunggu didalam saja tak perlu keluar, jangan berlari seperti itu bahaya." Kata nenek Soraya, Selin langsung berhenti dan menunggu Arya dengan wajah kecut. Nenek Soraya hanya menahan tawanya melihat gadis itu.
Arya masuk dengan menenteng beberapa paper bag dan juga kantong plastik. Ia menyerahkan paperbag pada nenek Soraya. Dan membuka kantong plastik didepan Selin.
"Kakak .." Selin tampak senang melihat kedatangan Arya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arya pada Selin. Namun matanya tak lepas menatap sosok gadis berparas cantik di belakang Selin. Gadis itu membuang pandangan saat tatapan matanya bertemu dengan Arya.
"Iya kak, aku baik. Hanya saja beberapa hari ini setiap pagi aku selalu merasa pusing." Kata Selin. Arya segera mengeluarkan tabung kecil dan menyerahkannya pada Selin.
"Besok kakak minta kamu untuk menampung urin di tabung ini. Kakak ingin memastikan sesuatu." Kata Arya menyerahkan tabung kecil pada Selin.
"Untuk apa kak?" tanya Selin tidak mengerti, gadis itu benar-benar polos.
"Kau akan tau besok. Dan ingat setelah bangun tidur, kamu tampung urin itu disini." Selin mengangguk. Arya tersenyum getir melihat gadis itu masih ceria seperti biasanya. Jika dugaan neneknya benar, apakah gadis itu masih bisa seceria saat ini? pikir Arya.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Yang nunggu keluarga Gerry dan Dian sabar ya. Nanti ada masanya mereka keluar.
Jangan lupa gambar jempolnya ditekan, vote, ngasih ⭐ dan hadiah buat Selin, ditunggu lho ya (***Othornya malak ini) 😂😂😂😂
Love sekebon buat kalian semua 😘😘😘😘***
__ADS_1