
*********
Sudah seminggu lebih Dian, Selin, Veni dan Judy pulang dari rumah sakit. Ketiga ibu hamil itu sukses membuat para suami mereka kalang kabut jika memiliki keinginan. Seolah-olah berjanjian. Seperti saat ini Didi sibuk menghubungi siapa saja yang tahu dimana mencari buah cempedak yang belum memasuki musimnya.
Akhirnya Didi menyerah dan menghubungi sahabat-sahabatnya lewat grup aplikasi berwarna hijau.
Tolongin gue bro ..!! butuh bantuan ---- Didi
Sorry ga bisa gue repot nyari buah gandaria. Request ibu negara ๐ฉ๐ฉ ----- Aldo
Gue juga ga bisa lagi di bogor cari asinan ๐ค๐ค --- Gerry
Didi mendesah berat. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedang dirundung kemalangan. Tapi kedua sahabatnya pun tak jauh berbeda dengan dirinya. Didi meremas rambutnya gemas. Namun dia hanya bisa menggerutu didalam hati.
Didi pulang dengan tangan kosong. Bisa di bayangkan pasti Selin akan menangis seperti biasanya. Namun saat membuka pintu kamarnya Didi mendapati pemandangan yang begitu menggoda iman.
"Sa-sayang, aku tidak mendapat apa yang kau inginkan maafkan aku." Ujar Didi, tapi matanya tak lepas dari pemandangan yang istrinya tampilkan. Lingerie dengan warna merah, belahan d*d*nya begitu rendah, bertali spaghetti di pundaknya, dan make up natural namun terkesan menantang karena Selin memakai lipstik merah cabai.
"Lupakan keinginanku yang itu. Sekarang aku menginginkan dirimu honey." desis Selin dengan suara parau. Didi tanpa menunggu komando langsung melepas segala kain yang menempel ditubuhnya lalu menyergap tubuh Selin dengan Buas.
Selin begitu terlena dengan sentuhan lembut Didi. lenguhan nya memenuhi gendang telinganya bak buluh perindu yang semakin menguatkan sinyalnya. Dengan perlahan Didi menyatukan tubuh mereka.
"Aarggh ... Selin sempit sekali." Bisikan Didi ditengah cumbuannya di telinga Selin.
"Ssshhh ... uuhm faster baby." lirih Selin disaat terjangan gelombang kenikmatan itu mulai berpusat di intinya dan siap meledak.
"Uuhhmm .. aarghh baby." Pekik Selin, tak lama tubuh Didi turut menegang. Keduanya kini lemas mengatur nafas yang masih memburu.
.
.
__ADS_1
.
Berbeda dengan yang dialami Didi, Gerry justru ketiban sial. Sesampainya di mansion Dian tertidur. Dan saat bangun dengan entengnya dia bilang sudah tak menginginkan lagi asinan itu. Dan meminta Gerry untuk menghabiskannya sendiri.
"Mas .. aku mau makan yang lain saja." Gumam Dian, rasanya Gerry ingin menenggelamkan dirinya di pasir hisap jika terus seperti ini. Dia meninggalkan pekerjaannya yang menggunung hanya demi menuruti ngidam Dian. Karena dulu saat kehamilan si kembar, Gerry tidak terlalu banyak berpartisipasi sehingga dia tak tahu apakah seperti ini rasanya mengurusi orang ngidam. Baru usia kandungan 4 bulan saja sudah seperti ini apalagi nanti.
"Kau ingin makan apa?" tanya Gerry mengusap tengkuknya. Entah mengapa firasatnya kali ini ia merasa tak enak.
"Aku ingin makan ayam bulgogi." Ujar Dian, Gerry menghela nafas lega lalu menarik tangan Dian.
"Kalo begitu ayo, sekalian aku makan siang. Kita ke restoran hotel saja." Kata Gerry mengandeng jemari Dian. Namun langkah Gerry tertahan karena Dian belum juga mau beranjak dari tempatnya berdiri.
"Aku ingin kau yang memasaknya mas." Rahang Gerry seketika jatuh.
"Apa kau yakin? aku belum pernah memasaknya sebelumnya." Kata Gerry.
"Aku yang arahkan. Mas tinggal melakukan arahanku." Kata Dian. Akhirnya Gerry memilih mengalah daripada istrinya nanti cemberut dan mengurangi jatah ranjangnya.
Akhirnya setelah 1,5 jam Gerry berkutat di dapur. Ayam yang dikehendaki Dian telah jadi. Aromanya begitu menggugah selera. Namun entah dengan rasanya. Gerry juga tidak yakin dengan itu.
"Terimakasih Mas, ini makanan terenak yang pernah aku makan." Ujar Dian, dengan terus menyendok nasi dan daging ayam dengan suapan penuh.
Alis Gerry mengernyit. Ia jadi penasaran dengan rasa masakan yang dia buat, yang sedang Dian makan saat ini.
"Apakah itu benar enak?" Tanya Gerry tak percaya.
"Apa mas mau?" Dian menyodorkan sesendok penuh dan langsung memasukkan sendok kedalam mulut Gerry. Gerry perlahan mengunyah masakan buatannya. Lalu seketika matanya melotot dan memuntahkan makanan itu. Dengan cepat Gerry meraih piring Dian.
"Stop jangan makan lagi. Bagaimana jika setelah nemakan ini perutmu sakit?" Ujar Gerry cemas. Karena ia merasakan saat nasi bercampur ayam bulgogi itu masuk ke mulutnya yang ada hanya rasa pahit dan asin. Mungkin karena saat menumis bumbunya api yang Gerry gunakan terlalu besar.
"Mas kembalikan makananku!" Pekik Dian tidak terima, makanannya diambil begitu saja oleh Gerry.
__ADS_1
"Kau bisa sakit perut jika memakannya. Aku akan minta pelayan untuk memasakkan yang baru untukmu." Kata Gerry tak memperhatikan perubahan raut wajah Dian yang memerah. Kristal bening yang memenuhi pelupuk mata Dian jatuh terurai. Dian menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Gerry yang hanya memandangnya dengan tertegun. Gerry mengusap tengkuknya. Sepertinya ia salah dan membuat Dian marah.
"Hah .. sepertinya kau harus puasa dulu boy. Mak lagi ngambek." Ujar Gerry menatap pusakanya.
.
.
.
Nyonya Arimbi sangat menyukai suasana ramai di mansion nya. Sejak kemarin Dian menitipkan anak-anaknya di mansion kakek Kusuma.
Dia memiliki kesibukan baru menyiapkan cucu-cucunya belajar beladiri. Dari memakaikan seragam hingga menata rambut mereka agar tak mengganggu proses belajar beladiri cucunya.
"Judy, sini duduk sama eyang!" Ujar nyonya Arimbi pada Judy. Gadis itu menurut dan langsung mendudukkan dirinya di samping nyonya Arimbi.
"Apakah masih sakit sayang?" nyonya Arimbi membelai sekitar luka Judy. Gadis kecil itu menggeleng.
"Sudah tidak eyang, tapi kata mommy aku harus beristirahat dulu agar cepat pulih." Kata Judy seraya memperhatikan Zayn berlatih. Ia sebenarnya ingin ikut bergabung, tapi dengan kondisinya dia tak yakin bisa mengikuti latihan itu.
"Eyang, bukankah Zayn terlihat tampan dengan wajahnya yang serius itu." Celetuk Judy. Nyonya Arimbi terkekeh hingga air matanya keluar. Gadis kecil ini benar tanpa tedeng aling-aling mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Iya sayang, kau benar. Tapi Dino dan Zafa juga tampan." Kata nyonya Arimbi.
"Tidak nek. Meskipun mereka berdua tampan, tapi bagiku Zayn yang paling tampan." Kata Judy.
Nyonya Arimbi kembali tergelak mendengar penuturan putri Didi dan Selin itu.
"Kau benar-benar menggemaskan sekali sayang." Nyonya Arimbi akhirnya menghujani Judy dengan kecupan yang lembut.
Judy tersenyum malu mendapat pujian dari nyonya Arimbi. Sementara matanya tetap fokus pada Zayn. Pria kecil itu juga sesekali melirik Judy. Dan dari tempatnya berdiri Zayn juga sesekali mencuri pandangan pada Judy. Ia lega gadis itu kini bisa berada disini.
__ADS_1
๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Sekian dulu ya ... jangan lupa likenya guys.