
⛅ Selamat membaca ⛅
Pagi ini Aldo dan Veni sudah ada diruang rawat Dian, mereka akan berpamitan karena nanti siang mereka sudah harus terbang ke Singapura. Veni memeluk Dian sambil menangis tersedu-sedu. Ia sungguh merasa malu pada keluarga Dian.
"Ssstt .. sudahlah, jangan menangis lagi! sekarang kita mulai lagi semuanya dari awal. Kau adalah saudariku. Jadi jangan pernah sekalipun memutus hubungan dengan kami disini." Kata Dian.
"Kenapa kalian masih memperlakukan diriku dengan baik? kau tau kesalahan ayahku sudah tidak termaafkan lagi." Veni terisak. Ia benar-benar menyesal memperlakukan Dian dengan buruk.
"Veni kau sekarang adalah putri kami juga. Kami akan selalu mengharapkan kesembuhan untukmu dan juga kebahagiaanmu." Kata tuan Hanafi.
Veni menoleh, menatap tuan Hanafi dengan penuh keharuan. Ia segera melepaskan pelukannya pada Dian, dan beralih memeluk tuan Hanafi dan istrinya.
"Terimakasih paman, terimakasih banyak. Dan maaf karena selama ini keluargaku selalu memperlakukan Dian dengan buruk." Ujar Veni penuh penyesalan.
"Panggil aku ayah, seperti Dian memanggilku." Kata tuan Hanafi. Veni mengangguk sambil terus menitikkan air mata.
Aldo dan Gerry hanya menatap kehangatan yang keluarga Hanafi tunjukkan. Sebenarnya tadi Gerry sempat keruang ICU untuk melihat kondisi Selena. Namun ia terkejut mendapati tubuh mantan istrinya sudah terbujur kaku. Rian dan Arya ada disana berdiri tak jauh dari brankar Selena. Perawat sedang melepas alat² yang terpasang di tubuh Selena. Gerry mendekat kearah dua pria itu. Mereka bertiga saling menatap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Hening, saat mereka menyaksikan tubuh Selena ditutupi kain putih. Perawat mendorong brankar Selena untuk dibersihkan.
"Aku akan langsung memakamkan Selena, dari sini langsung ke pemakaman." Ujar Rian memecah keheningan.
"Terserah padamu. Aku turut berduka." Ucap Gerry.
Rian mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Harusnya aku yang berkata seperti itu. Jika saja Dian tidak pergi waktu itu, aku rasa kalian sudah rujuk." Sindir Rian.
Arya meninggalkan keduanya sambil geleng-geleng kepala. Pria dewasa yang susah bersikap dewasa saat bertemu.
.
.
.
Veni dan Aldo sudah berada di bandara. Mereka diantar oleh Didi dan Arya, setelah ikut mengantar Selena ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Kalian cepatlah cari jodoh. Jangan mengharapkan jodoh orang lain lagi." Nasehat Aldo pada kakak beradik itu.
Mereka berdua langsung menyerang Aldo dengan pukulan dan tendangan. ketiganya tertawa lalu saling berangkulan.
"Semoga pengobatanmu berhasil Veni." Kata Arya sambil mengerlingkan matanya pada Veni. Aldo memukul kepala Arya dari belakang.
"Cari mangsa lain. Jangan goda calon istriku." Ujar Aldo. Arya dan Didi terkekeh bersamaan.
"Dasar posesif."
.
__ADS_1
.
.
Zayn dan Zayana sudah diantar ke kamar Dian, setelah selesai membersihkan dirinya, Dian mulai menyusui Zayn dan Zayana bergantian.
Gerry masih sibuk memeriksa berkas yang lagi tadi diantarkan oleh Sigit. Baginya bekerja di manapun tak masalah baginya.
Sesekali matanya melirik dada Dian yang terpampang nyata di depan mata. Jakunnya naik turun mendapat pemandangan yang menggoda iman itu.
"Sayang, kata dokter sampai kapan aku harus berpuasa?" tanya Gerry yang mulai tak nyaman merasakan sesak karena pusakanya mulai mengeras.
"Kata dokter harus puasa selama 3 bulan."
"Apa .." Gerry terkejut mendengar ucapan Dian.
"Ya kata dokter Fany seperti itu tadi saat mas keluar." Kata Dian sedikit berbohong.
"Aku akan pecat dokter Fany. Beraninya dia menyuruhku puasa selama itu." Kata Gerry menaikkan suaranya satu oktaf. Membuat Zayana langsung menangis histeris karena terkejut.
Dian memukul lengan Gerry. "Tuh kan, gara-gara mas Gerry sih." Ujar Dian kesal.
Gerry meletakkan berkas-berkasnya ke atas meja. lalu meraih putri kecilnya yang sedang menangis.
"Maafkan papa ya princess." Kata Gerry menimang putrinya.
"Apa kau tidak ingin mengakui Zafa sebagai anakmu?" tanya Gerry.
"Maksudnya mas?" tanya Dian dengan nada tak senang.
"Ya mas pengen suatu saat, Zafa taunya ibu kandungnya itu kamu. Aku tidak mau Zafa tau jika ibu kandungnya tak pernah menginginkan dirinya." Kata Gerry, Dian terenyuh mendengar kata-kata Gerry.
Dian diam tak bersuara, ada benarnya juga ucapan m suaminya itu.
Zayn bergerak tak tenang di pangkuan Dian. Dian meletakkan Zayn di sofa lalu melihat ke popok putranya yang basah. Ia pun mengganti popok Zayn dengan telaten.
.
.
.
"Apa kau tak ingin melihat cucumu?" tanya nyonya Arini pada tuan Gama.
"Apakah Gerry sudah memaafkan ku? aku takut kehadiranku akan merusak kebahagiaannya."
Jika dia masih marah padamu dia tak akan mau menemui dirimu. Kau tau betul putramu itu.
__ADS_1
"Bolehkah aku melihat cucuku?" tanya tuan Gama. Nyonya Arini mengangguk. Ia segera mendorong kursi roda suaminya menuju ruangan Dian.
Nyonya Arini mengetuk pintu, Gerry membukakan pintunya. ternyata ayah dan ibunya datang. Gerry membuka semakin lebar daun pintunya. Dian masih belum tau wajah ayah Gerry. Saat mereka saling berhadapan Dian terkejut dan menutup mulut
"Tu-tuan Gama .." ujar Dian terbata.
"Dian, kamu benar Dian kan?" kata tuan Gama.
"Iya, ini saya Dian. Maafkan Dian waktu itu tuan. Apa tuan Gama menunggu Dian."
Tanpa disadari keduanya nyonya Arini dan Gerry menatap keheranan.
"Jadi, anak dan istri yang tuan Gama maksud adalah mas Gerry dan mama?" tanya Dian tak percaya.
"Tunggu .. tunggu. Apa papa kenal dengan mantu kita ini?" tanya nyonya Arini bingung.
Tuan Gama mengangguk. Dian tersenyum melihat kebingungan ibu mertua dan suaminya.
"Jadi tuan Gama ini yang pernah menolong Dian, waktu tangan Dian retak karena tertabrak mobil." Kata Dian menjelaskan.
"Sudah-sudah aku kesini ingin melihat cucuku terlebih dulu." Kata Tuan Gama. Dian mengangkat Zayn, dan Gerry mengangkat Zayana.
"Mereka tampan dan cantik sekali." Kata tuan Gama. --- Siapa nama mereka?"
"Ini Zayn Gama Ardana dan itu Zayana Ayudia Ardana." Kata Dian memperkenalkan putra dan putrinya.
Saat kehangatan terjalin diantara keempat orang itu, nyonya Arimbi masuk membawa Zafrina yang menangis.
"Maaf jeng, mengganggu. Ger, tolong kamu hubungi Rian. Dari tadi Zafrina rewel nyari papi nya." Kata nyonya Arimbi.
"Biar disini dulu Bu, Rian masih sibuk." Kata Gerry.
"Ina mau main sama adik Ina tidak?" tanya nyonya Arini.
"Ina au .. Ina au." Jawab Zafrina mengangguk.
Semua tertawa melihat Zafrina yang sudah kembali ceria. gadis kecil bermata biru itu mendekat ke arah Zayn
"Apha .." panggil Zafrina.
"No sayang, ini adik Zayn." Kata Dian.
"Ain.." Ucap Zafrina membeo.
Semua tertawa melihat kelucuan gadis kecil itu.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
__ADS_1
terimakasih bagi yang sudah memberikan dukungan pada karya othor ini. Tanpa kalian semua karya othor cuma remah rengginang diantara toples nastar. (alias ga nampak 😂)