
********
Pagi ini Didi berniat membawa Selin menjenguk papanya. Setelah dua hari yang lalu Arman dijadwalkan mengikuti operasi pemasangan ring pada jantungnya.
Didi telah sampai di depan pintu kamar Arman. Ia sudah memegang gagang pintu saat ia mendengar sayup-sayup papanya menyebutkan namanya membuat Didi urung membuka pintu.
Selin menyentuh pundak Didi. "Ada apa sayang? kenapa berhenti?"
Didi hanya menempelkan jari telunjuknya di bibir. Seraya memasang kuping. Bukan saja tak sopan tapi rasa ingin tahu Didi begitu menguasainya.
"Syukurlah kau mau menerima Clara dan adik-adikmu. Papa jadi tidak terlalu beban saat bertemu dengan ibumu kelak." ---- Arman.
"Kenapa papa selalu membicarakan kematian. Apa papa tak ingin melihatku menikah dan memiliki anak?" ----- ujar Arsen sendu.
"Papa hanya merasa tenang, kau sudah membuka hatimu untuk mereka. Percayalah semua papa lakukan demi kebahagiaanmu dan juga atas permintaan mendiang ibumu. Bahkan mungkin sampai mata ini tertutup aku tak akan bisa membalas budi baik Clara pada keluarga kita." ---- tutur Arman.
"Pah, sebenarnya apa yang sedang papa sembunyikan dariku?" ---- Arsen.
"Berjanjilah jangan menyesali apapun setelah ini. Papa menceritakan ini agar kau bisa lebih baik menyikapi masalah dari sudut pandang Papa. Papa selalu berharap yang terbaik untuk anak-anak papa. Baik kamu maupun adik-adikmu."
"Ya Arsen janji pah."
"Saat itu usiamu masih kecil saat ibumu tiada. Ibumu bersahabat dengan Clara. Kamu yang sering sakit membuat mamamu tak tenang meninggalkan dirimu tanpa pengawasan, tanpa mendapatkan kasih sayang. Akhirnya sebelum meninggal mamamu mewasiatkan pada papa untuk menikah dengan Clara. Ini bukan perkara yang mudah bagi papa. Tapi dibalik itu semua ternyata mama Clara lah yang paling menderita. Karena sebenarnya dia sudah memiliki tunangan dan akan menikah. Tapi karena Wasiat mamamu. Mama Clara membatalkan rencana pernikahannya yang telah di susun matang. Ayahnya tidak terima hingga terkena serangan jantung. Dan meninggal beberapa hari setelahnya. Papa merasa sangat bersalah saat itu menempatkan wanita sebaik Clara dalam masalah rumah tangga papa. Papa ingat saat itu hujan deras papa sampai di perkebunan membawamu. Namun karena waktu kecil kau begitu ringkih mudah sakit. Kau terserang demam hingga kejang. Untuk yang pertama kalinya papa melihat mama Clara menangisi kondisimu. Bahkan ia bersikeras nerawatmu. Tapi papa masih malu jika harus mengajaknya menikah. Namun tanpa di duga Clara malah mengajakku menikah. Ia berkata jangan sampai ayahnya meninggal dengan sia-sia. Sampai pada akhirnya kami menikah." --- tutur Arman, Matanya tampak berkabut. Kristal bening sudah mengumpul di pelupuk mata dan dalam hitungan detik air mata itu jatuh tak tertahankan.
Arsen hanya tertegun mendengar cerita dari papanya. Selama ini dia menempatkan kebencian yang salah tempat. Arsen menyesali semuanya namun ia tidak bisa merubah apapun. Ia hanya berharap Clara mau memaafkannya. Memaafkan semua sikapnya selama ini. Terlebih pada adik-adiknya.
Didi yang mendengar perkataan papanya, turut merasakan kepahitan yang dialami oleh ibunya. Bahkan Didi sudah menjatuhkan air mata.
Didi segera mengusap air matanya dan mengetuk pintu kamar perawatan papanya.
Ia masuk dengan menggengam jemari Selin. Arman tersenyum melihat kedatangan putra bungsunya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian? Mana cucuku?" tanya Arman antusias.
"Maafkan kami papa, kami sengaja tidak membawa Judy kemari karena dia sedang tidak enak badan." Ujar Selin. Dan Arman juga memaklumi kondisi itu.
"Tidak apa-apa nak. Lain kali saat papa sehat papa ingin kamu sering-sering membawa cucuku ke mansion ku." Ujar Arman dan diangguki oleh Selin. Interaksi itu semua tak luput dari tatapan Arsen. Dia merasa canggung ingin menyapa Didi.
"Apa kakak sudah makan? Jika belum makanlah dulu, biarkan aku yang menjaga papa."
"Aku belum makan. Baiklah aku keluar sebentar tolong jaga papa untukku."----- Arsen
Didi mengangguk, tanpa diminta pun ia pasti akan menjaga papanya.
.
.
.
"Aku mau cari makan ma .. " Jawab Arsen canggung.
"Mama sudah bawakan makanan kesukaan Arsen, makan di dalam saja ya." Ajak Clara. Arsen hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki mama Clara.
Arsen merasa perhatian mama Clara kepadanya bukan sebuah kepura-puraan. Dia berjanji dalam hatinya akan menebus puluhan tahun yang terlewat dengan menyayangi mama Clara.
Saat pintu ruangan di buka Clara melempar senyummya pada Arman, Pria yang hampir 40 tahun menjadi suaminya.
"Kamu datang? Arsen baru saja keluar mencari makan." Kata Arman.
"Iya mas, aku bertemu dengannya tadi." ---- Clara menatap ke belakang. "Ayo sayang sini masuk." Clara berbicara dua arah. Arsen menuruti perkataan Clara dan masuk kembali ke ruangan papanya.
Arsen mengikuti langkah ibunya, Didi dan juga Selin menyambut kedatangan mama Clara dengan mencium punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
"Kalian sudah makan?" Tanya mama Clara seraya menyiapkan makanan untuk Arsen.
"Sudah mah, tadi menantu mama membuat pat Thai." Jawab Didi.
"Wah, menantu mama jago masak juga ternyata." Ujar mama Clara.
"Hanya bisa masak, bukan jago ma. Kata ibu bekal wanita hidup berumah tangga itu ya harus terampil di dapur." Kata Selin. papa Arman dan mama Clara mengangguk setuju.
"Kamu benar, tapi ada yang kurang Selin." Kata papa Arman. Dahi Selin berkerut, apa yang kurang dari kata-katanya?
"Apa itu pa?" Tanya Selin penasaran. Sementara itu mama Clara sudah duduk di dekat putra sambungnya. Menemani Arsen memakan makananya.
"Selain pintar masak, wanita harus jago soal urusan ranjang. Agar suami tidak berpaling ke yang lain.
Uhhuuk ...
Arsen tersedak mendengar omongan papanya yang terang-terangan. Mama Clara menyodorkan segelas air minum pada Arsen. Setelah meneguk air, Arsen merasa lega.
"Terima kasih ma ... " ----
" Papa ... " Desis Arsen tak suka.
"Oh maaf Arsen. Papa kira kamu tidak dengar." Kata Papa Arman. Arsen mendengus kesal mendengar jawaban papanya
Ruangan yang semula senyap karena kecanggunan kini mencair sudah. Didi tak henti-henti menggoda Selin yang malu-malu. Papa Arman terlihat lebih rileks dan senang akhirnya kebekuan selama hampir lebih 20 tahun pecah hari ini. Tak ada lagi penghalang baginya untuk bersatu seperti dulu lagi. Meskipun kini dirinya mencintai mama Clara, Namun di sudut hatinya masih tersimpan dengan baik nama mendiang istrinya.
Clara bukan hanya sosok pengganti namun dia adalah pelengkap kehidupan Arman. Clara tak pernah keberatan jika Arman menyimpan nama mantan istrinya yang sebenarnya adalah sahabat karib Clara sejak dulu mereka berada di bangku sekolah.
๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Othor bakalan Up sehari 3 kali buat memuaskan kalian yang masih setia menemani othor.
__ADS_1
jangan lupa, senin saatnya kalian kasih vote buat karya othor. Meski jarang masuk peringkat tapi othor ucapin banyak terimakasih buat kalian yang selalu suport othor.