
*******
Archel datang lebih awal ke Indonesia, Ia sudah memiliki rencana sendiri. Ia sudah mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya dimana keberadaan Selin.
Kao dan Araya datang dua hari setelah Archel. Mereka belum memiliki rencana apapun untuk menemui Selin. Tapi yang tidak Kao tau selama ini Selin sering berkirim pesan dengan kakak iparnya.
"Apa kita akan mencari Selin sekarang ataukah besok sayang?" tanya Araya.
"Kita akan mencari Selin besok. Sekarang kita harus beristirahat. Aku curiga Archel memiliki niat terselubung. Kau tahu kan penolakan Selin waktu itu benar-benar membuat keluarga mereka malu." Kata Kao.
"Ya aku juga sudah curiga. Semoga saja Archel tidak menemukan Selin terlebih dulu." Ujar Araya, dirinya harus segera memberitahu Selin agar bersembunyi terlebih dahulu.
Tanpa mereka ketahui bahaya memang sedang mengancam Selin. Karena Archel sudah menemukan keberadaan Selin.
.
.
.
Malam ini Selin tampak resah, ia terus membolak-balik mencari posisi ternyaman untuk tidur. Namun sampai waktu menunjukkan pukul satu dini hari matanya masih sulit terpejam.
Bukan karena beberapa hari lagi ia akan menemui Didi. Melainkan karena Araya memberi tau dirinya jika Archel ke Indonesia untuk mencari keberadaan Selin. Dan Selin yakin jika mantan calon tunangannya itu sudah mengendus keberadaannya.
Selin tidak ingin mencelakakan keluarga Didi. Jujur jauh di lubuk hati Selin, Perasaannya masih tersimpan untuk Didi. Bahkan setelah beberapa waktu dirinya berada diperkebunan ia selalu merindukan pria tampan itu, meskipun pria itu telah merenggut mahkota berharga miliknya.
Selin harus mencari cara untuk tidak melibatkan keluarga Didi. Bagaimanapun Arya sudah seperti kakaknya sendiri dia begitu baik pada Selin. Begitu juga nenek Soraya, Selin tidak bisa melibatkan mereka lebih jauh. Besok dia harus menyusun rencana untuk pergi dari rumah nenek Soraya sebelum Archel menangkapnya.
Akhirnya Selin tertidur saat suara adzan terdengar sayup-sayup dari perkampungan didekat Perkebunan.
.
.
.
Keesokan harinya Kao sudah bersiap namun Araya memilih menunggu kabar dari sang adik ipar.
"Sayang, kenapa belum bersiap? kita masih harus mengelilingi kota ini sebelum mencari Selin di kota lain."
"Oh ayolah sayang, kamu pikir kota ini kecil? sekalipun kota ini memang kecil kita seperti mencari jarum di tumpukan jerami, jika tak memiliki petunjuk apapun." Kata Araya.
Kao mendesah, antara kalut dan bingung. Dia takut adik perempuannya akan bertemu Archel.
__ADS_1
"Lalu harus bagaimana?" tanya Kao putus asa.
"Kita tunggu kabar dari Selin." Ujar Araya, namun membuat emosi Kao memuncak. Apakah istrinya sedang bercanda di situasi seperti ini?
"Kau jangan menguji kesabaranku Araya." Desis Kao marah.
"Sayang, kenapa kau marah padaku?" Ujar Araya tak terima.
"Kau yang memulai. Bukankah sikapmu ini keterlaluan. Aku sedang mengkhawatirkan kondisi adikku dan juga ibuku. Bisa-bisanya kau bersikap tenang seperti ini." Ujar Kao masih emosi.
Araya menyerahkan ponselnya pada Kao suaminya. "Baca dan lihat baik-baik."
"Bagaimana bisa? kenapa kau tidak memberitahu ku?" tanya Kao.
"Kau selalu emosi dan mudah panik. Aku tidak ingin kau merusak rencana adikmu." Kata Araya lagi. Kali ini Kao tersenyum dan menghujani wajah araya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Kau memang yang terbaik sayang." Kata Kao.
"Tadi saja marah-marah." Dengus Araya, namun tak urung dia membalas mencium bibir Kao.
.
.
.
"Nenek dimana Nayla?" tanya Selin.
"Dia ada di kebun. Ada apa Selin?" tanya nenek Soraya penasaran.
"Aku ingin memetik strawberry lagi nek, kalo begitu aku akan mencari Nayla. Da ..da nenek." Ujar Selin penuh kebahagiaan.
Sesampainya di kebun, Selin menghampiri Nayla. Ia tersenyum hangat pada gadis yang di taksir oleh Arya.
"Ada apa nona?" tanya Nayla.
"Jangan panggil aku nona, panggil Selin saja itu lebih akrab."
"Baiklah, tapi hanya jika kita sedang berdua saja ya." Tawar Nayla dan Selin mengangguk senang. Ekor mata Selin mengamati pergerakan orang-orang suruhan Archel.
"Bisakah kau mengajakku keliling daerah sekitar sini. Aku takut tersesat."
Nayla tersenyum lalu mengangguk. Selin tampak bahagia meskipun dia harus menahan rasa kehilangan kehangatan keluarga dirumah nenek Soraya.
__ADS_1
setelah mengelilingi perkebunan Selin memeluk Nayla.
"Kak terimakasih sudah menjagaku selama ini." Ujar Selin.
"Kau ini aneh seperti akan berpamitan kemana saja." Gumam Nayla namun Selin hanya tersenyum.
Keduanya kembali ke rumah, disaat yang bersamaan Arya hendak keluar. Selin langsung memeluk Arya.
"Kakak .."
"Kenapa hm?" tanya Arya.
"Kak berjanjilah padaku, kelak kau akan selalu bahagia." Kata Selin, Arya mengusap rambut Selin, gadis itu seolah mengucapkan kata perpisahan kepadanya.
"Apa semua baik-baik saja Selin?" tanya Arya, Selin mengangguk dan tersenyum.
"Tentu saja kak. Kakak harus jaga kesehatan jangan sampai sakit." Kata Selin lagi. Arya merasa gadis ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku berharap kau juga bahagia." Bisik Arya. Selin melihat ke arah Arya lalu mengangguk.
Arya meninggalkan perkebunan dengan suasana hati tak menentu. Ia mencemaskan Selin namun ia tak akan menyangka jika itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Selin menghampiri nenek Soraya. Ia meletakkan kepalanya diatas pangkuan nenek Soraya.
"Nenek terimakasih, selama ini nenek sangat baik pada Selin."
"Kau sudah nenek anggap seperti cucu nenek sendiri." Kata nenek Soraya. Selin tersenyum mendengar itu. Keluarga Didi benar-benar hangat.
"Ku harap masih bisa terus bersama nenek hingga bertahun-tahun lamanya." Gumam Selin. Tangan nenek Soraya tak henti-hentinya mengusap kepala Selin. Ia begitu menyayangi gadis ini.
Malam hari pun tiba setelah mengirim kabar pada Kakak iparnya Selin bersiap-siap. Malam ini dia akan meninggalkan perkebunan milik nenek Soraya. Air mata Selin turun membasahi pipinya jika boleh memilih dia ingin sedikit lebih lama ada disana.
Setelah mendapat pesan balasan dari Araya, Selin langsung keluar rumah lewat pintu belakang. Bahkan mungkin orang suruhan Archel tak akan menyangka jika gadis itu telah merencanakan semua ini. Selin menyusuri jalan setapak yang gelap. Dia menghindari penggunaan Senter. Karena takut jika ketahuan oleh anak buah Archel. Selin berjalan dengan hati-hati.
"Tuhan lindungilah aku dan bayiku." Gumam Selin.
Selin sudah berhasil sampai di kampung dekat perkebunan. Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas. Selin kembali mengirim pesan pada kakak iparnya dan ternyata mereka sudah menunggu diujung jalan. Selin kembali mengendap-endap berjalan. Ia melihat Araya berdiri disana sedang menyamar Begitu juga dengan kakaknya. Seketika mata Selin berkaca-kaca. Ia berlari memeluk keluarganya.
"Kakak .." Selin memeluk sang Kakak dari belakang.
"Dasar anak nakal. Kau hampir membuat kakak dan yang lainnya hampir gila." Kata Kao dengan mata yang juga sama berkaca-kaca. Ia tak dapat lagi membendung perasaannya.
"Guys kita lanjut di tempat lain saja. Situasi masih belum aman." Ujar Araya.
__ADS_1
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Othor ketiduran guys. Perasaan tadi othor lagi nulis tapi baru dapat beberapa kata othor mendadak ketiduran.