Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Malu Dilihat Anak-anak


__ADS_3

********


Mobil mercedes-benz maybach berwarna hitam membelah kemacetan ibu kota. Dua insan itu saling diam dengan pikiran masing-masing.


"A' nanti ga usah masuk kampus ya. Turunin Ara di depan pintu masuk aja. " Bujuk Ara namun Arsen tak mempedulikannya. Mobil Arsen masuk ke pelataran Kampus. Ara memejamkan mata menahan kekesalannya.


"Aa ini kalo suka memaksakan kehendak gini mending Ara pikir dua kali deh kalo mau nikah sama aa. Belum nikah aja aa banyak banget aturan apalagi kalo kita beneran jadi nikah." Gerutu Ara. Arsen langsung syok mendengar ucapan Ara itu yang langsung membuat tubuhnya menegang seketika dibalik kemudi mobil.


"Jangan gitu dong Ra .. ! kamu ngancem aku sadis banget sih. Aku cuma penasaran sama kampusnya calon istri aku aja kok." Arsen menatap Ara dengan tatapan mengiba.


Mobil Arsen berhenti tepat di depan sebuah gedung. Banyak mahasiswa bersliweran menatap kearah mobil Arsen.


"Jangan cemberut dong. Masa mau menuntut ilmu cemberut." Bujuk Arsen.


" Aku disuruh mama buat menyelesaikan semua urusan kamu disini." Kata Arsen kemudian.


Ara menatap dalam manik mata Arsen. Lalu dia membuang kasar nafasnya. Mungkin karena dia mau PMS sehingga marah-marah tak jelas seperti ini.


"Ya udah ayok." Ara membuka pintu mobil Arsen, pria itu tersenyum sekilas, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras. Hingga Ara terlonjak.


"Aa .. "


"Maaf, tangannya kelepasan Ra." Arsen lalu meraih jemari Ara dan membawanya berjalan menuju ruang administrasi. Setelah bertanya-tanya, ternyata gadisnya sudah memasuki semester akhir dan tinggal mengurus skripsi dan sidangnya saja. Arsen membayar biaya-biaya Ara yang tidak tercover beasiswa. Dan ternyata Ara mendapat beasiswa karena kepintarannya. Arsen merasa bangga pada gadis itu. Ara mengantar Arsen kembali sampai ke parkiran banyak tatapan mata meremehkan Ara. Namun seperti biasa gadis itu terlihat acuh tak peduli. Dia sudah terbiasa dibuli, Jadi hanya mendapat tatapan mata seperti itu bagi Ara adalah hal biasa. Berbeda dengan Ara, Arsen justru sedang sekuat tenaga menahan amarahnya. Melihat hampir semua siswa disana menatap Ara dengan pandangan mata aneh menurut Arsen.


"Apa mereka terbiasa seperti itu?" tanya Arsen.


"Untuk apa memperhatikan hal-hal yang membuat aura negatif kita keluar. Mereka selalu seperti itu bahkan lebih parah tapi aku tak ingin terganggu dengan kehadiran mereka. Jika aku ingin aku bisa saja melawan. Tapi itu akan membuat energi baik di tubuhku menghilang." Jawab Ara.


"Hatimu terbuat dari apa Ra?"


"Hatiku dan hati aa kan sama. Jadi tanyakan hal itu pada diri aa sendiri." Kata Ara. Arsen mencuri ciuman sekilas di kening gadisnya.


"Baiklah, aku pergi dulu. Selesaikan kuliahmu, dan Secepatnya beri aku jawaban tentang kita." Bisik Arsen, membuat seluruh bulu halus di tubuh Ara meremang.

__ADS_1


.


.


.


"Wah wah wah .. siapa ini?" tanya salah seorang mahasiswi yang kemarin bertemu dengan Ara di mall. Dirinya masih tak menyangka sekarang Ara tampil dengan penampilan yang seperti biasa namun yang berbeda adalah barang yang melekat di tubuh gadis itu adalah barang barang branded. Yang mungkin dirinya pun tak sanggup membelinya.


"Jual diri lo?" Tanya gadis itu menghadang langkah Ara.


"Minggir aku mau lewat." Ujar Ara dengan tenang.


"Wah, sekarang berani ngelawan lo?" Desis wanita itu tak suka. Gerombolannya mengelilingi Ara. Membuat Ara jengah. Dia bukan tipe orang yang suka mencari masalah. Tapi jika dalam keadaan terdesak maka Ara akan berbuat sesuatu pada mereka.


"Minggirlah, aku kemari untuk belajar. Bukan untuk mencari masalah." Kata Ara tegas.


"Wah guys, dia mulai berani rupanya. Mentang-mentang sekarang punya backingan kali." Celetuk gadis bernama Xena itu.


Saat Xena akan menyerang Ara, Seorang dosen masuk begitu saja melewati gerombolan wanita itu.


.


.


.


Rian mendatangi sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman luas. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Bangunan itu cukup bagus menurutnya. Arsen menemui pemilik bangunan itu dan mengutarakan maksud kedatangannya. Wanita itu tampak senang sekali. Karena bangunannya terjual. Setelah kesepakatan harga Arsen mendatangkan team notaris dan pengacaranya untuk mengurus berkas-berkas.


Setelah itu Arsen segera berangkat ke kantor untuk melihat apakah pekerjaan para OB sudah selesai atau belum sesuai seperti yang dia perintahkan.


Arsen mendapati wajah Wanda yang memerah. Sudut mata wanita itu basah. Yang lebih mengejutkan lagi wanita itu terlihat berantakan.


"Arsen apa maksudnya semua ini?" Tanya Wanda tak terima

__ADS_1


"Arsen ... ? alis pria itu terangkat sebelah, seraya kembali mengucapkan kata Wanda.


" Ma-maksud aku pak Arsen." Ujar Wanda gugup.


"Aku hanya butuh ruangan privasi di tempat kerja." Kata Arsen lalu masuk ke ruangannya meninggalkan Wanda. Dengan perasaan kesal Wanda menendang sudut meja dengan keras hingga dia memekik.


"Ah .. sial."


.


.


.


Dian bersiap-siap menyambut kedatangan Ara. Anak-anaknya telah selesai dengan kegiatan home schooling nya.


"Mama buat kue apa baunya enak sekali?" tanya Zafrina.


"Ini kue kesukaan Ina dan Ana." Kata Dian menoel hidung Zafrina.


"Wah pasti enak." Ujar gadis itu senang. Tak lama Judy muncul bersama Zayn. Entah mengapa gadis itu suka sekali menempel pada putranya yang terkesan dingin itu. Dan anehnya Zayn seperti tidak pernah terganggu dengan sikap Judy selama ini.


Zafa datang paling akhir lalu menghampiri Dian dan mencium pipi Dian dengan lembut. Sikap Zafa begitu manis dan hangat sama seperti dirinya.


"Kalian duduk dulu. Sebentar lagi kue-kuenya matang." Ujar Dian, membelai wajah Zafa.


Dino datang dengan membawa tablet di tangannya. Mata anak itu terus fokus kearah layar tablet nya. Tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya Dian hanya menggeleng melihat tingkah keponakannya itu.


Selin baru tiba bersama Ara. ternyata bumil satu itu tadi memaksa menjemput Ara. Dan mengajaknya barengan ke rumah Dian.


"Teteh .. " Ara langsung berhamburan memeluk Dian. Dian tersenyum hangat menyambut pelukan Ara. Gadis itu terisak lirih Dian mengusap usap punggung Ara.


"Sshh ... malu dilihat anak-anakku Ra." Ujar Dian. Ara lalu mengurai pelukanya dan tertawa. Siang itu suasana dirumah Dian tampak ramai sekali. Ara sudah mengetahui apa yang diamanatkan almarhum kakek kusuma kepada abah dan dirinya. Ara merasa berterima kasih masih ada yang mau peduli dengannya disaat dirinya merasa hidup sebatang kara. Ara juga menceritakan perihal lamaran Arsen yang berujung celotehan dari sang keponakan Arsen yaitu Judy. Dian berpendapat rencana baik jangan sampai ditunda-tunda.

__ADS_1


๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด


Dah ya. Othor mau bobo. Jangan lupa gift nya buat othor. Dan jempolnya dibirukan.


__ADS_2