
********
Di sebuah resort di pulau buatan di Teluk Sentosa Veni tertidur karena pengaruh obat bius yang masih bekerja. Pria blasteran itu akhirnya memilih menculik Veni setelah sebulan gadis itu menghilang dan tak pernah terlihat keluar rumah.
Maka dari itu begitu melihat ada kesempatan pria tampan berperawakan tinggi dan gagah itu langsung melancarkan aksinya. Dirinya benar-benar tak bisa menahan pesona Veni yang terlalu sempurna baginya. Pertemuan pertama mereka begitu berkesan.
"Ah ... meskipun kau sedang berbadan dua, tapi kecantikanmu tampak sempurna dimataku." Ujar Pria itu.
Nicholas adalah pria yang sempat menyewa Veni untuk menghabiskan one night stand bersamanya. Namun Nick justru terkesan dengan wajah sendu Veni dan segala penolakan yang wanita itu lakukan agar dirinya tak menyentuhnya. Hal itu membuat Nicholas merasa ingin memiliki Veni.
Namun ternyata malam itu menjadi malam pertama dan terakhir Nick bertemu dengan Veni. Karena setelah itu Nick tidak pernah lagi melihat Veni ada di klub itu. Bahkan setiap menanyakan keberadaan Veni semua orang klub tampak takut dan memilih bungkam. Hanya beberapa wanita malam ada yang mengatakan jika Veni sekarat.
Hal itu yang membuat Nick kembali ke Singapura dan berusaha melupakan Veni. Namun siapa sangka jika mereka lagi-lagi dipertemukan setelah 5 tahun lamanya tak bertemu. Namun sayangnya Veni telah menjadi milik orang bahkan wanita itu saat ini sedang mengandung.
"Uhm ... sshh." Veni mendesis saat merasakan kepalanya terasa berdenyut sakit. Matanya terbuka perlahan, ia menatap langit-langit kamar yang dia tempati lalu mata Veni membulat. Ia reflek langsung bangun.
"Sshh ... aww." Veni memegangi perutnya yang terasa kram.
"Hati-hati sweetheart .. kau bisa menyakiti anakmu." Ujar Nicholas.
"K-kau kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Veni dengan suara bergetar.
"Karena aku ingin selalu bersamamu sweetie."
"A-aku mau pulang."
"No, aku ga akan pulangin kamu. Kenapa kamu mau sama laki-laki bej_at itu? Dia pernah menjualmu, apa kau lupa?" Wajah Nicholas membesi saat melihat tatapan ketakutan Veni.
"Sweetie, look at me! ---- Aku juga bisa membahagiakan kamu lebih dari dia." Ujar Nick dengan wajah yang sudah berubah teduh. Entahlah Veni harus senang atau sedih mendapat perlakuan manis dari pria tampan itu. Yang jelas saat ini hatinya sedang memikirkan Aldo.
"Makanlah dulu sweetie, setelah itu aku akan mengajakmu melihat pemandangan di sekitar sini." Nicholas menyodorkan sepiring makanan bergizi tinggi pada Veni. Pan seared salmon dan mashed potato dan asparagus.
Veni butuh tenaga untuk berfikir jernih maka dari itu dia menerima makanan yang Nicholas berikan kepadanya.
__ADS_1
Veni menghabiskan makanannya tanpa sisa. Nicholas tersenyum bahagia.
"Good Girl, aku senang kau menyukai masakanku." Ujar Nicholas. Mata Veni membulat, mendengar bahwa makanan lezat tadi adalah masakan pria itu.
sementara itu Nino telah mendapat titik lokasi dimana Veni berada. Dia sampai harus meretas semua Cctv demi mendapat keakuratan informasi. Nino segera menghubungi Aldo.
"Halo No, gimana dapat kan lo?"
"Iya dapet .. lokasi mereka ada di Teluk Sentosa tepatnya Paradise Island. Dari sana kau harus mencarinya sendiri. Karena ada beberapa tempat yang sistem keamanannya tidak bisa aku tembus." Kata Nino.
"Terima kasih bantuanmu. Baiklah aku akan mencarinya sendiri dan membawanya pulang." Jawab Aldo, ia sedikit merasa lega bisa mengetahui dimana lokasi Veni saat ini.
.
.
.
Setelah di periksa oleh Arya, Arsen membawa Ara pulang. Sesampainya di kamar Ara dilarang melakukan apapun oleh Arsen. Bahkan untuk turun dari tempat tidur pun dilarang oleh pria posesif itu.
"Iya Aa, aku ga tau dia tau dari mana tiba-tiba dateng di depan aku. Beruntung tadi ada mama papa." Jawab Ara.
"Janji sama aku ya Ra, kamu jangan tinggalin aku meskipun Yudha lebih muda, lebih tampan dan lebih kaya dari aku."
"Maksudnya ngomong kaya gitu apa?" tanya Ara mengernyit tak suka mendengar ucapan Arsen.
"Ya maksud aku kamu jangan pernah pergi dariku." Jawab Arsen bingung juga kenapa dia tiba-tiba merasa tak nyaman saat tau rekan bisnis sekaligus sahabat Ara itu mendadak muncul di hadapan istrinya.
"Aa dengerin Ara ya .. mau Yudha tampan, kaya bahkan ketika dia bisa membeli dunia dia ga akan bisa membuat aku menjauh dari Aa. Karena Ara sayang sama Aa lagipula ada dia bukan yang menjadi penguat cinta kita." Tunjuk Ara pada perut datarnya. Arsen tersenyum lalu menyusupkan wajahnya diatas perut Ara.
"Sehat-sehat ya nak, jangan merepotkan bundamu. Atau kau akan berhadapan denganku."
"Iih .. Aa belum apaยฒ dedeknya udah dibikin takut itu." Ujar Ara memukul lengan Arsen perlahan. Arsen tertawa mendengar gerutuan Ara.
Ya setelah Arya memeriksa Ara, dan meminta Arsen membeli tespeck ternyata diketahui jika WlAra sedang berbadan dua. Wajah Ara saat itu syok lalu menangis sejadi-jadinya. Bukan tanpa alasan dia menangis karena dia merasa belum bisa mewujudkan mimpi abah, tapi malah sekarang dia hamil.
__ADS_1
Mama Clara, papa Arman dan Arsen mencoba memberi pengertian pada Ara perihal apa yang menjadi ketakutan Ara selama ini. Bahkan Arsen menjanjikan jika Ara mau membuka usaha Arsen akan memodalinya.
"Sekarang istirahat ya kamunya. Jangan capek-capek ..! ingat pesan Arya tadi sama kamu."
"Iya aa aku ngerti." Ujar Ara.
Tak butuh waktu lama Ara langsung tertidur pulas. Arsen membelai wajah Ara dengan lembut.
"Pantas saja jika mau sering manja dan cengeng. Ternyata ada penyebabnya. Terimakasih Ra .. kamu menambah kesempurnaan hidup aku." Bisik Arsen lalu mengecup pelipis Ara.
Arsen meninggalkan Ara, ia masuk ke ruang kerja karena masih memiliki sisa pekerjaan yang belum dia selesaikan. Dia seharusnya masih di Paris tapi karena ia begitu merindukan Ara dan ingin memberi kejutan pada istrinya akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dan bukan saja kejutannya tidak berhasil tapi justru dia yang mendapat kejutan karena mendapat kabar kehamilan Ara.
.
.
.
Gerry duduk tak tenang, setelah diberitahu Nino jika Veni di culik. Pria itu takut istrinya akan syok mendengar berita ini.
"Mas kenapa sih duduknya ga tenang gitu? ada janji dengan orang?" tanya Dian, Gerry hanya menggeleng.
"Atau mas menyembunyikan sesuatu dari aku?" Tanya Dian dengan tatapan penuh selidik.
"Ngaco kamu .. " Ujar Gerry tertawa sumbang.
"Awas aja ya kalo mas main rahasia-rahasiaan sama aku." Ancam Dian, Gerry hanya menelan kasar salivanya.
"Iya sayangnya aku... sekarang bawel banget sih." Ujar Gerry mencoba mengalihkan rasa gugupnya mendapat tatapan intimidasi dari Dian.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Hai guys othor mohon dukungannya ya. Untuk beberapa hari kedepan. beri gift dan vote sebanyak-banyaknya karena NT sedang mengadakan battle karya. Siapa tau karya ini lolos masuk nominasi.
thankyou buat semuanya ๐๐๐
__ADS_1