Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Menyusun Rencana Baru


__ADS_3

*********


Didi, Aldo, Gerry, Nino dan Kao sedang berkumpul di ruang pribadi milik keluarga Kusuma. Didi akhirnya membawa Selin dan yang lain pergi dari penthouse. Bahkan Didi menyewa seorang MUA profesional untuk mendandani Selin dan yang lain. Didi berkata pada Judy jika dia ingin sekali pesta kostum dengan putrinya dan juga Selin. Namun demi mengecoh musuh, Didi juga meminta Kao dan juga Araya dan putra merubah penampilannya.


Dan disinilah mereka, tempat perlindungan teraman menurut Didi. Karena sejak kejadian waktu di pernikahan Nino, kini keamanan mansion benar-benar dijaga dengan ketat. Tak sembarang orang boleh masuk kesana. Dan Nino sudah memasang berbagai kamera canggih yang bisa mendeteksi wajah seseorang yang fotonya sudah masuk data di komputernya. Dengan cepat alat itu mengirimkan sinyal ke komputer Nino sebagai peringatan tanda bahaya.


Seperti saat ini Kao memberikan foto Archel dan beberapa orang kepercayaannya. Jangan ditanya Kao mendapat dari siapa! Karena Kao sudah melaporkan pada ayahnya tentang apa yang di dengar Didi, raja Aaron begitu marah saat mendengarkan kabar itu. Namun sesuai permintaan Kao, dia pun harus merahasiakan semuanya dari siapapun karena bisa saja orang dalam istana menjadi mata-mata Archel.


.


.


.


"Lalu bagaimana sekarang? apa kita akan terus bersembunyi disini terus. Sedangkan banyak hal yang harus kita selesaikan." Tanya Kao menatap Didi.


pria itu mendesah berat. Hatinya benar-benar sedang bimbang apakah rencananya ini adalah keputusan yang baik.


"Kak, aku dan Selin sudah membicarakan ini. Sementara waktu kita selesaikan masalah di kerajaan dulu. Aku harus menikah dengan Selin. Bagaimana pun caranya." Kata Didi.


"Kau tidak tau siapa yang sedang kau hadapi." Kata Kao remeh.


"Aku tahu. Dan aku tak akan menyerah untuk mendapatkan restu dari Raja Aaron." Kata Didi dengan yakin.


"Lalu bagaimana dengan Judy? Karena setelah kita kembali ke negara T. Ayahku akan melantik ku untuk menjadi raja selanjutnya."


"Kita akan menitipkannya disini." Kata Didi.


"Apa kau gila?" Kata Kao meninggikan suaranya.


"Aku dan Selin sudah sepakat. Dan kami akan mendandani Judy agar seperti anak laki-laki. Judy sudah menyetujuinya. Kurasa ini satu-satunya cara untuk menjebak mereka. Jika berita kita kembali ke negara T tersebar mungkin Archel akan mengikuti kita kesana." Ujar Didi.


"Kau benar tapi aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa Judy." Ujar Kao lagi.


"Kao, kau tenanglah. Ada kami disini, percayakan keponakanmu pada kami." Kata Gerry menimpali.


"Yes selesai." Kata Nino puas. Ia sedari tadi sibuk mengotak atik laptopnya.


Semua mata kini menatap Nino karena pria itu berteriak dengan keras.


"Bisa tidak jika kecilkan suaramu itu. Kau berisik sekali." Ujar Aldo. Nino hanya menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Percayalah Putraku dan Zayn akan menjaga Judy dengan baik." Kata Nino. Kao akhirnya mengalah. Mungkin dengan begini mereka bisa menyelesaikan semua masalahnya tanpa harus ada yang terluka.


.


.


.


Archel dan anak buahnya mendatangi Hotel milik Gerry, sesuai dengan laporan anak buahnya. Ia langsung menyambangi gedung bertingkat 50 itu. Archel menanyakan lantai berapa Kao menginap. Namun sayangnya orang yang Archel cari sudah Check out. Archel benar-benar marah, ia merasa telah di bohongi anak buahnya.


Dengan wajah memerah Archel keluar dari hotel itu. Sedang resepsionis yang tadi melayani Archel segera menghubungi Sigit. Memberitahu perihal pria itu. Karena sebelumnya resepsionis itu di beri arahan jika ada seseorang yang menanyakan keberadaan Kao dan keluarganya.


.


.


.


Setelah Sigit mendapatkan informasi itu, dia menghubungi Gerry untuk memastikan apakah itu target yang Didi cari.


Dan benar saja. Tak butuh waktu lama Dino putra Nino mengkonfirmasi jika pria yang mencari Kao adalah Archel. Kemiripan wajah mereka mendekati 100%.


Gerry tertawa sambil geleng-geleng melihat Kao terbengong karena mengetahui kecerdasan keponakannya.


Selin menghampiri Didi. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Didi mengenai putri mereka. Akhirnya Didi meninggalkan ruangan itu mengikuti Selin.


"Ada apa Selin?" tanya Didi.


"Apa kau yakin, Judy akan aman berada disini?" tanya Selin, Ia hanya ingin benar-benar memastikan jika putrinya berada ditangan yang tepat.


"Percayalah, Mereka orang-orang terbaik yang selalu mendukungku. Bahkan disaat aku terpuruk karena kehilanganmu. Mereka yang selalu ada menghibur dan memberikan ku semangat." Kata Didi. Selin seketika memeluk Didi. Pasti berat menjadi Didi, karena selama 5 tahun Selin tak pernah mengirimi nya kabar.


"Maafkan aku .." Bisik Selin.


"Ini memang balasan yang setimpal untuk b*jing*an sepertiku." Kata Didi membalas pelukan Selin. Didi mengusap kepala Selin dengan lembut.


"Mommy, Dady setelah bertemu kenapa kalian jadi sering berpelukan." Kata Judy dengan nada tak suka.


"Maaf sayang, sini Dady akan peluk Judy." Kata Didi. Gadis itu masuk kedalam pelukan ibu dan ayahnya. Dia berharap akan selalu seperti itu seterusnya. Tapi takdir esok lusa siapa yang akan tahu.


.

__ADS_1


.


.


Malam harinya Dian dibantu Veni dan nyojya Arimbi menghidangkan makan malam spesial untuk tamu mereka. Selama dirumah Dian, Judy tak pernah lepas dari Zayana. Kemanapun mereka selalu berdua.


"Mama, bolehkah Judy tidur dengan Ana saja?" tanya Zayana.


"Tentu saja sayang."


"Ina nanti kamu tidur dengan mama saja ya?" Kata Dian, gadis itu mengangguk lemah. Ia masih marah karena papinya tidak mengatakan apapun jika akan pergi berhari. Padahal alasannya karena Rian menunggu Velia dirumah sakit karena beberapa waktu lalu menjadi korban penculikan kakak angkatnya."


Gerry mendesah berat, sepertinya putrinya benar-benar merajuk.


"Ina sayang, bukankah anak baik tidak boleh merajuk?" Tegur Gerry.


"Maaf papa .." Jawab gadis itu singkat.


"Kalo Ina cemberut papa tidak jadi menghubungi papi papi nanti." Kata Gerry mengeluarkan rayuan pamungkasnya.


Wajah Zafrina langsung tersenyum cerah. Dan mengangguk.


Kini semuanya makan dengan tenang. Zayn tampak sesekali melirik ke arah Judy. Wajah pria kecil itu memerah dan tampak malu-malu.


Dian dapat menangkap itu. Wajah Zayn mengingatkan pada kebucinan Gerry terhadapnya.


Setelah anak-anak tertidur. Semuanya berkumpul di ruang keluarga.


"Terimakasih atas bantuannya, dan tumpangan untuk kami." Ujar Kao.


"Jangan kau pikirkan. Saudara Didi, saudara kami juga. Tak perlu sungkan." Jawab Gerry.


Aldo dan Veni juga menginap disana. Setelah siang tadi memeriksakan kandungan. Veni ingin makan masakan Dian. Beruntung hari ini dian tak terlalu lemas karena morning sickness nya.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Araya pada Veni. Terpaut 3 Minggu dengan Dian." Kata Veni.


"Oh ya, wah senangnya." Ujar Araya tersenyum, ia senang dengan kehangatan keluarga Kusuma.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Jangan lupa like komen dan Vote ok.

__ADS_1


__ADS_2