
********
"Zayn, Zayana mama ingin mendengar pendapat kalian. Apakah kalian keberatan jika mama menyusul kakak kalian di sana?" Dian menatap lembut pada kedua anak kembarnya.
"Buat Zayn yang terpenting mama sehat dan tidak sakit lagi, Zayn akan ijinkan mama." Kata Zayn.
"Ana juga, asal mama sehat Anna setuju saja."
Dian tersenyum bahagia. "Terimakasih sayang, mama usahakan setelah mama bertemu kakak kalian mama akan segera kembali." Ujar Dian.
"Jangan terburu-buru mam, mama boleh sepuasnya menghabiskan waktu dengan kakak." Kata Zayn.
"Bilang saja kau mau puas-puas honeymoon di rumah tanpa diganggu mama dan papa." Ujar Zayana mencibir Zayn. Zayn tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
"Kembali ke topik Zayn dan Judy." Kata Gerry menyela.
"Apa uncle serius?" Judy masih malu dan tampak bingung
"Sangat serius Judy. Ini juga menyangkut kehormatanmu sebagai seorang wanita. Tapi untuk sementara pernikahan kalian harus dirahasiakan dulu sampai Zayn benar-benar siap memimpin perusahaan. Kita tidak tau mana lawan dan mana kawan. Jika kita mempublikasikan pernikahan kalian uncle khawatir musuh di perusahaan akan menggunakan Judy untuk menjatuhkan Zayn."
"Tapi bagaimana dengan dady dan mommy?"
"Mereka akan tiba besok, uncle sudah menghubungi keluargamu." Kata Gerry. Keluarga itu akhirnya memulai sarapannya.
.
.
.
Sementara itu di Amerika, untuk pertama kalinya Zafa berkunjung ke kediaman Al Fares. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa keingintahuan tentang sosok ibunya.
__ADS_1
"Selamat malam tuan, saya Felix kepala pelayan di sini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan uncle Rian. Katakan saja Zafa mencarinya." Ucap Zafa, Zafrina yang baru pulang dari kegiatan menghampiri Zafa.
"Kakak .. " Zafrina memeluk Zafa dari samping, Zafa tersenyum dan mengusap kepala adiknya. Pak Felix menatap nona mudanya seraya tersenyum tipis. Terlihat berbeda sekali jika nona bersama tuan muda ini. Biasanya nona sangat garang pada adik-adiknya.
"Biarkan kak Zafa aku saja yang antar menemui papi. Pak Felix kembali ke pekerjaan pak Felix saja." Kata Zafrina menggandeng lengan Zafa.
"Kakak ada perlu apa sama papi?" tanya Zafrina penasaran. Mendadak Zafa merasa gugup takut jika adiknya mengetahui rahasianya yang selama ini ia coba sembunyikan.
"Ti-tidak ada apa-apa Ina aku hanya ingin bertanya soal cara membangun perusahaan." Jawab Zafa terbata-bata.
Alis Zafrina bertaut. Ia tahu kakaknya sedang berbohong. Maka jangan salahkan dirinya jika dia akan mencuri dengar percakapan kakaknya dan papinya itu.
"Papi, kak Zafa ingin bicara sama papi." Kata Zafrina, Velia menoleh menatap Zafa. Wajah anak itu terlihat sekali sangat tertekan. Velia menyentuh bahu Rian dan mengangguk. Akhirnya Rian berdiri dan mengajak Zafa ke ruang kerjanya.
"Maaf uncle aku datang tanpa bertanya dulu." Ucap Zafa merasa tak enak hati.
"Tenanglah, selama aku di sini jangan sungkan untuk mendatangiku." Rian menepuk pundak Zafa dan merangkulnya membawa remaja itu masuk ke ruang kerjanya. Sementara Zafrina sudah menghilang lebih dulu menyusup dari kamar orangtuanya, ia tahu letak pintu rahasia yang terhubung dari kamar pribadi sang papi ke ruang kerja papinya. Ia harus tahu apa yang dibicarakan kakaknya. Karena selama ini kakaknya sangat tertutup.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" Tanya Rian dengan tenang.
"Maaf uncle, aku hanya ingin bertanya saja. Apa uncle kenal dengan ibu kandungku?"
Deg
Zafrina yang tadinya semangat untuk mencuri dengar mendadak seperti terhantam sesuatu. Apa maksud ucapan kakaknya sebenarnya.
"Apa yang ingin kau tahu dariku? dan apa yang sudah kau ketahui?" Rian masih tetap tenang meskipun ia sendiri merasa kaget.
"Yang aku tahu aku memiliki ibu kandung bernama Selena. Aku dan Zafrina bukan terlahir dari rahim yang sama. Hanya Ina putri mama sedang aku anak dari istri papa yang lain. Uncle dimana ibu kandungku?"
__ADS_1
"Kenapa tidak tanyakan itu pada papa dan mamamu. Uncle hanya orang luar, mereka yang lebih berhak memberitahumu." Kata Rian bijak.
"Aku tidak bisa uncle, kau tahu aku tidak ingin menyakiti hati mamaku. Cukup uncle katakan yang uncle tahu selebihnya biar aku yang memutuskan harus seperti apa menghadapi mama dan papa." tegas Zafa namun mata anak laki-laki itu sudah memerah.
Rian mendesah ia dilema tapi jika ia biarkan anak ini terus salah paham pasti akan besar dampaknya bahkan ia pun akan kehilangan Zafrina juga jika terjadi sesuatu pada mantan istri pertamanya.
"Baik, aku akan ceritakan garis besarnya saja. Selebihnya kau bisa tanyakan langsung kepada orangtuamu alasan mereka memilih menyembunyikan masalah ini darimu." Kata Rian, sejenak ia mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan. --- "Mama kandungku sudah meninggal karena sakit."
Mendengar hal itu seketika air mata Zafa jatuh terurai.
"Aku harap kau kuat mendengar cerita ini. Dan maafkan aku jika mungkin kau akan menjadi tak menyukaiku setelahnya." ---- "Aku dan ibumu dulu berpacaran. Ibumu adalah seorang model, namun karena dia terpesona dengan papamu yang saat itu berada di puncak kejayaan, ibumu memilih menikah dengan papamu. Singkat cerita setelah menikah dengan papamu, ibumu berkata tak ingin hamil namun ayahmu bersikukuh untuk membuat ibumu hamil. Dan akhirnya jadilah kamu. Tapi setelah melahirkan kamu ibumu pergi."
"Itu artinya ibuku tidak menginginkanku?" tanya Zafa dengan air mata berderai.
"Kamu lahir dengan fisik yang lemah, sampai suatu saat mamamu bersedia menjadi ibu susu untukmu. Dia yang menyelamatkan hidupmu dan hidup papamu. Karena saat itu papamu sangat hancur dan kehilangan ibumu.
"Lalu Zafrina? dia anak mama dengan siapa?"
"Menurutmu?" Rian balik bertanya, namun sedetik kemudian dia tersenyum getir melihat Zafa membelalakkan matanya.
"Ya Zafrina putri kandungku .. selama ini jika orang tua kalian hanya mengatakan jika hanya Ina yang spesial itu benar adanya. Namun jangan salah, sama halnya seperti ibumu aku bukanlah ayah yang baik untuk putriku. Disaat mama Dian mengandung Zafrina aku meninggalkan dirinya sebatang kara. Waktu itu mamamu belum bertemu dengan keluarga kandungnya. Aku bahkan meninggalkan mama Dian di ibukota sendirian dalam keadaan perut besar."
Zafrina yang mencuri dengan hal itu sudah sesenggukan namun ia menutup mulutnya agar tak terdengar suaranya dari luar.
"Mama Dian menjadi ibu susumu tepat setelah ibumu meninggalkanmu dalam keadaan lemah. Kau saat itu bahkan alergi susu sapi. mama Dian merawatmu dan menjadi ibu susumu. Dia menyayangimu seperti dia menyayangi Zafrina bahkan mungkin kasih sayangnya padamu melebihi kasih sayangnya untuk Zafrina karena saat itu fisikmu benar-benar lemah."
Perasaan bersalah terhadap mamanya tiba-tiba memenuhi seluruh ruang hati Zafa.
"Percayalah, bahkan dia hampir saja menjadi gila karena kondisimu saat itu." Sambung Rian.
"Stop uncle jangan diteruskan."
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Kopi donk .. ๐ ๐ malak dulu lah gpp kan. mumpung double up ini