
********
"Ra, aku tanya boleh ga?"
"Tanya aja, kalo Ara bisa jawab pasti Ara bakalan jawab Aa."
"Apa ayahmu dulu adalah pelatih taekwondo?" Ara mengernyitkan alis. Pasalnya tidak banyak yang tahu mengenai pekerjaan sampingan almarhum ayahnya.
"Aa tau dari siapa?"
"Jawab aja dulu Ra, kenapa malah balik tanya?" Gerutu Arsen, Ara terkekeh melihat wajah kesal suaminya itu. Alisnya yang tebal bersatu sempurna.
"Iya iya maaf. Dulu waktu Ara kecil memang iya ayah Ara jadi pelatih taekwondo untuk menambah penghasilan karena waktu itu ibu Ara sakit. Tapi Ara beneran penasaran Aa tau dari mana?"
"Kamu juga kalau aku ceritain pasti ga percaya Ra." Kata Arsen.
"Belum juga cerita A', mana tau aku bakalan percaya apa engga. Atau jangan-jangan emang aa tu suka underestimate sama aku makanya suka punya pikiran-pikiran buruk sama aku."
"Ga gitu juga Ara sayangku ... " Arsen yang gemas menangkap kedua pipi Ara dengan kedua tangannya dan langsung mencium Ara dengan buas.
"Iih aa apa-apaan sih." Ara mencoba melepas luma_tan Arsen. Pria itu tersenyum menatap wajah kesal Ara.
"Aku pernah ketemu ayah kamu, bahkan ditolong ayah kamu. Dulu saat aku SMA aku pernah di kroyok preman. Dan ayahmu yang nolongin aku, beliau pasang badan di depanku menghajar preman-preman itu Ra. Tapi karena beliau buru-buru aku tidak sempat berterimakasih. Tapi sampai sekarang aku masih ingat dengan baik wajah ayah kamu Ra. Dan saat aku tidur di kamar abah waktu itu aku lihat foto ayah kamu." Ara tersenyum mendengar cerita Arsen. Dia bangga dengan sang Ayah, bahkan kemampuan bela diri Ara juga ayahnya sendiri yang mengasah nya.
"Ayah Ara orang baik ya Aa .. "
"Iya Ra beliau baik banget malah. Dan beliau juga yang membuatku menggeluti dunia beladiri."
"Kenapa?"
"Karena sebelum pergi beliau sempat berkata, Seorang laki-laki kelak akan jadi pelindung bagi wanitanya. Sebisa mungkin harus bisa bela diri." ----- "Dan justru karena aku memandang kamu begitu tinggi banyak hal yang aku takutkan." Kini Arsen berujar seraya memasang wajah serius. ----- aku larang kamu dandan itu karena bagiku kamu sangat cantik. Aku tidak mau semakin kamu berdandan, banyak pria yang mengincarmu. Aku ini laki-laki Ra, aku tau bagaimana cara dosen kamu dan Yudha memandang kamu dengan tatapan memuja belum lagi yang lainnya. Mereka lebih muda dariku, Kau pasti akan jenuh dengan pria tua sepertiku.
"Eleuh .. eleuh .. ini ceritanya aa krisis kepercayaan diri?" Ara menatap geli kearah suaminya. Dari kemarin selalu saja jarak usia mereka yang menjadi masalah untuk Arsen. Padahal sudah berulang kali Ara meyakinkan Arsen tentang dirinya yang tidak mempermasalahkannya.
"Aa dengerin Ara, kalo sampai kelewat Ara ga akan ngulangi omongan Ara ya." Kini giliran Ara yang menahan kedua pipi Arsen.
"Apa ..?"
__ADS_1
"Aa siapanya Ara, coba Ara tanya?"
"Suami kamu.. "
"Nah itu tau, Aa tu suami Ara, sedangkan mereka siapa? mereka cuma pemeran pendukung dalam hidup Ara, Ara udah jatuhin pilihan memilih Aa sebagai suami Ara,imamnya Ara. Mau nanti aa peyot, ompong, jadi jelek sampai kapanpun Ara cuma cinta sama Aa. Kecuali kalo aa berani duain Ara, bakalan Ara muti_lasi itu si Junior." Ujar Ara, Arsen tertegun mendengar ucapan cinta Ara. Dalam hati Arsen seakan-akan sedang musim semi, bunga bunga bermekaran dan membawa rasa damai tersendiri.
"Kamu serius Ra, kamu beneran cinta sama aku?" Arsen berusaha meyakinkan hatinya.
"Ga ada siaran ulang." Ujar Ara dengan wajah merah padam. Dia sangat malu harus mengakuinya terang-terangan.
"Aku juga cinta sama kamu Ra. Cinta banget malahan." Kata Arsen seraya memeluk tubuh Ara, Ara tersenyum dalam dekapan Arsen.
.
.
.
Setelah seharian menuruti keinginan Veni, kini aldo tengah memijat kaki Veni agar aliran darah di kaki Veni lancar.
"Aku ingin tapi aku takut."
"Apa yang kau takutkan. Kita berada di negara yang berbeda dengan ibumu." Kata Arsen.
"Ya aku tahu .. aku hanya takut tidak kuat melihatnya." Kata Veni. Aldo mengusap kepala Veni dengan lembut. Tatapan matanya sangat teduh memindai wajah Veni yang masih sedikit pucat.
"Jika kau belum siap tidak apa-apa jangan dipaksakan."
"Terimakasih baby .. " Bisik Veni. Bagaimana hatinya bisa terus membeku jika sikap Aldo setiap hari selalu membuat hatinya meleleh.
Perlahan Veni mendaratkan satu ciuman dalam di bibir Aldo. Matanya terpejam begitu pula dengan Aldo. Keduanya larut dalam buaian perasaan masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan paginya, Ara membuka matanya. Pemandangan pertama saat bagun tidur adalah wajah Arsen yang terlihat begitu damai. Alis matanya yang tebal, hidungnya yang mancung. Mata Ara jatuh pada bibir tipis Arsen. Perlahan Ara mengecup bibir Arsen.
Tapi pada saat Ara akan menarik diri, tiba-tiba tengkuk Ara ditahan oleh Arsen. Pria itu memagut bibir Ara dengan rakus hingga terdengar suara decakan dan erangan lirih dari bibir Ara ketika tangan Arsen mere_mas dan memilin ujung dua bukit kembarnya.
"Uuhmm aa .. Ara masih kedatangan tamu bulanan jangan seperti ini." Desis Ara, Arsen menghela nafas kasar dan menjatuhkan dirinya lagi diatas kasur.
"Kapan selesainya Ra?" Desah Arsen frustasi.
"Satu minggu A' .."
"Ya ampun Ra, ini namanya penyiksaan kamu. Jika begini aku minta yang seperti kemarin kamu kasih pertunjukan ke aku." Ujar Arsen yang sukses mendapatkan cubitan dari Aa.
"Auh .. sakit Ra, kok nyubit sih. " Arsen mengusap lengannya yang memerah.
"Habisnya aa mesum terus." Dengus Ara, gadis itu keluar dari kungkungan tubuh Arsen lalu menjalankan rutinitas paginya.
"Ra nanti ikut ke kantor lagi ya .. "
"Ga mau .. Ara di rumah saja." Desis Ara.
Arsen hanya menarik nafas panjang dan dalam. Rasanya Arsen tidak ingin jauh-jauh dari Ara. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa memaksa Ara untuk ikut dengannya.
Dengan malas Arsen bangun dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ara sudah berada di dapur berkutat dengan penggorengan dan spatula. Wajah Ara tampak sangat senang dan puas melihat hasil masakannya. Arsen turun dari lantai dua. Dia langsung memeluk tubuh Ara dari belakang mengecup tengkuk Ara.
"Masak apa kamu Ra?"
"Nasi goreng A' yang simpel. Lagian disini ga ada bahan buat masak." Kata Ara, Arsen langsung ingat dirinya belum memberi Ara uang belanja. Akhirnya Arsen mengeluarkan kartu berwarna gold dan di berikan pada Ara.
"Kamu pake kartu itu untuk membeli keperluan."
"Tapi A' .. "
"No rebuttal Ra .. "
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1