
S2. Rapuh
*******
Didi menanti mata Selin terbuka. Dia terus merutuki kebodohannya. Setelah membersihkan dirinya sendiri. Didi membawa sebaskom air dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh Selin. Mata gadis itu terpejam rapat, seakan enggan untuk terbuka.
Saat Didi masih berharap gadis itu lekas sadar, ponsel Didi berbunyi. Aldo menghubunginya, dengan sedikit menjauh Didi mengangkat panggilan Aldo.
'Ada apa do?' tanya Didi begitu mendekatkan ponselnya ke telinga.
'Kau dimana? aku dihubungi Alex, ada seorang pria mengamuk di klub dan melukai beberapa orang. Apa kau bisa mengurusnya?' Ucapan Aldo membuat Didi galau. Ia tak mungkin meninggalkan Selin dalam keadaan seperti ini, tapi dia juga tak bisa mengabaikan klub milik Aldo setelah dia sanggup menerima tanggung jawab mengurusnya. Didi benar-benar dilema.
Ia kembali duduk ditepian ranjang, membelai wajah Selin yang pucat. Rasa bersalah semakin tumbuh besar dihatinya. Andai tadi dia tidak datang kemari mungkin gadis ini masih baik-baik saja.
Setelah mengambil keputusan Didi mengenggam jemari Selin dan menciumnya sesaat. Lalu ia berbisik di dekat telinga Selin.
"Cepatlah bangun, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku berjanji akan bertanggung jawab."
Setelah berkata seperti itu, Didi meninggalkan rumah Selin dan menguncinya kembali. Setelah kepergian Didi, kelopak mata Selin terbuka. Ia sebenarnya sudah sadar sejak Didi mengangkat telepon. Namun Selin enggan menatap pria itu. Hatinya terlanjur terluka.
Selin bangun dari tidurnya, ia meringis saat rasa perih mendera inti tubuhnya, tapi gadis itu tetap bangun dan berjalan menuju ranselnya. Ia segera memasukkan pakaian miliknya. Ia berharap Didi lama perginya sehingga dia punya waktu untuk pergi dari sana.
Setelah semua pakaiannya masuk kedalam ransel, Selin segera meninggalkan tempat itu. Dirinya harus mencari tempat lain untuk bersembunyi dari keluarganya dan juga Didi. Selin bersumpah tak akan menemui Didi lagi.
.
.
.
Sementara itu Gerry ada di klub. Niatnya datang ketempat itu untuk mencari sahabatnya malah dia harus berurusan dengan pihak berwajib.
"Terimakasih kerjasamanya pak. Jika ada yang perlu ditanyakan lagi saya siap dipanggil." Ujar Gerry saat polisi berpamitan.
Didi masuk kedalam klub, klub itu sementara ditutup dan diberi garis polisi. Ada dua korban dalam insiden tersebut. Wajah Didi begitu kacau. Gerry mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Kenapa bro .." tanya Gerry penasaran, namun Didi hanya menggeleng, Ia duduk bersandar di sofa sambil menutup matanya dengan sebelah lengannya.
"Gue bodoh Ger, gue beg* . Gue ngrusak Selin Ger." Kata Didi, Gerry membulatkan matanya. Ia tak menyangka Didi akan berbuat seperti itu.
"Kamu apa?" tanya Gerry memastikan apa yang dia dengar.
"Aku merusak Selin, aku melakukannya Ger." Kata Didi, sudut matanya telah basah oleh air mata.
Didi membuka matanya ia teringat meninggalkan Selin sendirian.
"Gue harus kembali, Gue ninggalin Selin sendirian." Kata Didi. Ia bangkit berdiri meninggalkan Gerry yang masih terpaku.
.
.
.
Selin menaiki taksi menuju bandara. Ia harus segera pergi dari sana. Didi tiba di rumah kontrakan Selin. Alisnya bertaut, ia yakin tadi meninggalkan rumah itu dalam keadaan lampu menyala semua. Tapi siapa yang mematikannya? apakah Selin sudah sadar?
Didi terus mencari di setiap sudut rumah. Namun nihil. Didi membuka lemari pakaian Selin, berharap semua masih ada ditempatnya.
Hatinya mendadak sesak saat melihat lemari itu kosong. Air mata Didi mengalir tanpa bisa ditahan. Pria itu benar-benar menyesali perbuatannya. Ia merasa menjadi lelaki bej*t.
Selin masih harus menunggu beberapa jam lagi untuk pesawat yang paling cepat membawanya pergi dari kota yang menyisakan rasa sakit itu.
Tapi mata Selin tak henti-hentinya mengedarkan pandangan. Ia takut bertemu dengan orang-orang suruhan ayahnya atau bahkan Didi.
Namun sial baginya ternyata di bandara ada orang-orang suruhan ayahnya. Selin menyembunyikan wajahnya dari balik topi. Dia berlari dengan tergesa-gesa masuk ke ruangan yang sempit berisi alat-alat kebersihan.
Dengan tangan gemetaran Selin menghubungi seseorang.
"Halo, kak .."
"Ada apa Selin, kenapa kau menghubungiku malam-malam begini." Tanya orang itu.
__ADS_1
"B-bisakah kakak menjemputku di bandara. Tolong aku kak aku takut." Desis Selin, ia benar-benar takut jika dirinya tertangkap oleh orang-orang suruhan ayahnya itu.
"Kau di bandara malam-malam begini?" tanya Arya tak percaya. Ya Selin menghubungi Arya, karena hanya pria itu yang memperlakukan dirinya dengan tulus.
"Cepatlah kak, aku takut sekali. Ada orang yang mengejarku." Suara Selin terdengar bergetar. Mungkin gadis itu benar- benar ketakutan.
"Baiklah aku kesana sekarang. Tunggu sebentar lagi." Kata Arya mengakhiri panggilan teleponnya. Ia bergegas meraih kunci mobilnya. Clara sang ibunda Arya menatap heran kearah putranya.
"Kamu mau kemana sayang? kenapa buru-buru sekali?"
"Aku ada urusan sebentar ma, temanku sedang dalam masalah." Kata Arya, ia mengecup pipi sang ibunda lalu bergegas pergi.
Dengan kecepatan tinggi Arya memacu mobilnya. Ia tak memperdulikan umpatan dan makian dari pengendara motor yang lain. Setibanya di bandara dia menghubungi Selin lagi.
"Kamu dimana?" tanya Arya begitu sambungan telepon tersambung.
"Aku di sebuah ruangan alat kebersihan." Kata Selin. Arya langsung berlari mencari keberadaan Selin. Ia melihat ada tiga pria tinggi tegap tampak kebingungan di depan lorong.
Melihat kedatangan Arya, ketiga pria itu berpindah tempat untuk mencari keberadaan Selin. Arya segera masuk ke ruangan yang Selin maksud. Ruangannya tampak gelap dan kotor. Arya memanggil nama Selin, Gadis itu menyahut dengan suara lirih. Ia tak bisa berlama lama ditempat yang sempit dan gelap.
"Kak .." Desis Selin, Arya mendekati gadis itu. Ia menarik tangan Selin dan memeluknya. Gadis itu menangis di pelukan Arya. Namun tak lama tubuhnya kembali terkulai tak sadarkan diri.
Arya mengambil ransel Selin dan menaruhnya di pundak. Lalu ia mengangkat tubuh Selin yang lemas tak berdaya.
Dengan tenang Arya membawa Selin keluar dari bandara ia menutupi wajah Selin dengan masker dan topi.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" Gumam Arya. Ia memasukkan tubuh Selin kedalam mobil dan membawa gadis itu rumah sakit.
Selama diperjalanan Arya sesekali menatap Selin. Gadis ini terlihat rapuh saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya dirimu.
๐๐๐๐๐๐
Besok lagi ya guys mata otor udah merem melek ini.
Jadi tetap berikan like kalian dan juga hadiah.
__ADS_1
maaf up malam gini. Othor sibuk bgt