
"Apakah kau masih merasakan mual?" tanya Gerry, saat Dian terus saja gelisah tak tenang.
Dian menoleh kearah suaminya. "Aku mencemaskan Zafrina sayang." Kata Dian. Gerry tersenyum, binar bahagia terpancar kelas dari wajahnya, saat Dian mengubah panggilannya.
"Apa yang kau cemaskan? putri kita sedang bersama dengan ayahnya." Kata Gerry meskipun kadang tak dipungkiri jika seringkali ia merasa belum bisa menerima semuanya. Dian dan keluarganya begitu mudahnya memaafkan pria yang sudah membuatnya pernah menderita.
"Entahlah mas, aku juga tidak tau. Aku tidak yakin jika istri Rian mau menerima kehadiran Zafrina." Tutur Dian.
Gerry mengusap wajah Dian perlahan. "Aku yakin, Rian lebih dari mampu untuk melindungi putri kita. Kalaupun seandainya Velia tidak mau menerima Zafrina sebagai putri sambungnya. Lagi pula apa kau tau, mereka menikah karena digrebek warga?" Kata Gerry. Dian menutup mulutnya dengan kedua tangannya matanya melebar tak percaya.
"Kamu pasti bercanda kan?" kata Dian tak percaya.
"Jika kamu tak percaya, kamu boleh tanya sama mama Sekar." Kata Gerry mengulum senyumnya.
"Aku tak menyangka takdirnya begitu lucu. Tapi mereka tampak serasi saat bersama. Bukankah begitu mas?"
"Kau benar. Jadi jika istri Rian masih belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan Zafrina itu adalah sesuatu hal yang lumrah." Kata Gerry, perlahan mata Dian terlihat sayu. Pembicaraan itu membuat dirinya mengantuk. Gerry dengan sangat telaten mengusap rambut Dian hingga terlelap.
.
.
.
Di tempat lain, Veni dan Aldo sedang ada di klub star milik Aldo yang dikelola oleh Didi. Viona menatap tajam kearah Veni, ia benar-benar tidak menyukai keberadaan gadis itu sejak awal. Kenapa juga Aldo memilih Veni dan bukan dia saja yang menjadi istrinya. Toh servisnya lebih memuaskan dibandingkan Veni.
Saat Aldo sedang berbincang dengan Didi di satu ruangan, Veni yang sedang duduk di meja bar didekati oleh Viona dan dua orang kawannya.
"Wah .. wah coba lihat. Ada pel*cur naik tahta." Ujar Viona, disambut gelak tawa kedua teman Viona. Namun Veni memilih diam, meski hati dan jiwanya seakan tercabik. Dia memilih untuk tidak menggubris ucapan Viona, sang primadona di klub milik suaminya.
__ADS_1
Bartender yang sedang melayani Veni hanya geleng kepala melihat tingkah Viona dan kawan-kawannya.
"Sepertinya dia tidak mendengarmu Vio." Ujar salah seorang teman Viona. Dengan kesal Viona menarik bahu Veni hingga Veni berbalik kearah 3 wanita itu.
"Apa mau kalian?" tanya Veni acuh. Dia memang sudah bertekad berubah menjadi lebih baik, tapi ketiga orang itu tidak pernah tau seperti apa Veni dahulu.
"Wah, lihatlah wanita ini bertingkah sekali." Ujar salah satu gadis bergaun merah transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Veni tersenyum miring mendengar ucapan teman Viona itu.
"Apa kalian tidak ada kerjaan lain selain menggangguku?" kata Veni, ketiga wanita berbaju mini itu tertawa sumbang.
Mereka bertiga iri dengan Veni yang bisa menjerat hati Aldo yang sejak dulu membeku. Mereka bertiga maju bersamaan hendak menyerang Veni, tapi tiba-tiba dua orang bodyguard mendekat dan menghadang ketiganya.
"Minggir kalian, Urusanku dengan dia." Teriak Viona geram. Ia melupakan dimana dia berada sekarang. Hingga beberapa pasang mata menatap mereka dengan heran.
"Minggirlah .." Ujar Veni pada kedua bodyguard itu dengan suara yang lembut namun tegas. Akhirnya dua bodyguard itu menyingkirkan dari depan Veni, namun mereka tetap siaga di dekat nyonya muda mereka.
"Jangan kau pikir selama ini aku diam karena aku lemah. Aku bisa menghilangkan nyawamu dengan sekejap jika aku mau." Desis Veni mendekatkan bibirnya di telinga Viona, tatapan matanya bahkan begitu menakutkan. Kedua teman Viona gemetaran, mereka tak menyangka Veni akan berbuat sejauh itu.
Aldo yang mendengar keributan dari dalam ruangan langsung keluar bersama Didi. Matanya langsung membeliak saat melihat Veni sedang mencekik Viona.
Viona memucat bahkan dia mulai kesulitan bernafas karena Veni menekan lehernya kencang.
Aldo langsung memeluk Veni dari belakang untuk menenangkan istrinya. Baru kali ini Aldo melihat Veni seperti itu.
"Sayang kumohon lepaskan dia." Bisik Aldo, seolah baru tersadar dari apa yang dia lakukan Veni melepas tangannya dari leher Viona. Bahkan dia menatap tangannya dengan pandangan tak percaya. Aldo menyuruh bodyguardnya untuk mengamankan Viona. Ia membimbing Veni masuk ke ruangannya diikui Didi. Didi membawakan air putih untuk Veni, ia menyerahkan gelas itu pada Aldo. Dengan perlahan Aldo membantu Veni meminum air itu. Veni masih bersandar di dada Aldo dan memejamkan matanya. Aldo menatap cemas wajah Veni yang memucat. Sedangkan Didi tanpa suara keluar dari ruangan Aldo menuju ruangan lain dimana Viona dan kedua temannya berada. Didi akan mencari tahu penyebab kemarahan istri Aldo itu.
Ketiga wanita penghibur itu masih tampak syok. Didi masuk ke ruangan itu, dimana disana sudah dijaga oleh bodyguard Aldo.
__ADS_1
"Katakan padaku apa yang kalian perbuat?" Tanya Didi dengan tatapan tajam.
"Ka-kami hanya menyapa saja." Jawab salah seorang dari mereka.
"Apa kalian ingin membodohi ku?" Bentak Didi.
"Dia benar aku hanya menanyakan kabarnya." Ujar Viona yang mulai bisa mengontrol rasa takutnya meskipun wajahnya masih sedikit pucat.
"Kalian tau kan konsekuensinya jika kalian membohongi ku? aku bisa saja mengusir kalian dari klub ini. Apa kalian pikir aku tak bisa membuat kalian jadi gembel diluar sana?" Gertak Didi, ketiga wanita itu kembali bungkam.
Sedangkan saat ini, Veni mengurung dirinya di kamar mandi diruangan Aldo. Ia menangis sejadi-jadinya dibawah kucuran air shower. Ia benci darah yang mengalir ditubuhnya. Darah seorang penjahat seperti Burhan. Terkadang Veni merasa dia memiliki kepribadian ganda. Jika sudah sangat emosi dia seolah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Aldo menggedor pintu kamar mandi berulang kali. Ia terus memanggil Veni.
"Baby buka pintunya ..!" Ujar Aldo dengan panik. Ia menyesal mengijinkan Veni masuk ke kamar mandi tanpa mendampingi-nya.
"Baby please kita bisa bicara baik-baik. Ada apa denganmu?" Suara Aldo tersamar oleh gemericik air. Tubuh Veni mulai melemah, kesadarannya sedikit demi sedikit mulai terenggut terganti dengan kegelapan. Veni tergeletak pingsan dibawah kucuran air shower.
Didi masuk ke ruangan Aldo, ia bergegas mendekati sahabatnya.
"Ada apa Do?" tanya Didi.
"Bantuin gue dobrak pintunya." Ujar Aldo panik.
Keduanya menendang pintu dengan hentakan keras hingga akhirnya pintu terbuka seluruhnya.
"Veni .." Teriak Aldo.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
__ADS_1
Maaf ya guys up nya siang gini. Soalnya hape othor dipake buat belajar anak pertama othor.
Jangan lupa like komen dan vote juga hadiahnya ya.. see you 😘😘