
********
"Apa yang kalian lakukan?" Pekik Didi.
Ia terkejut saat melihat Viona diikat di sebuah bambu besar yang ditaruh diatas penyangga dan di bawahnya di beri bara api. Persis seperti orang yang sedang berpesta kambing guling.
Hati Didi berdesir ngilu melihat pemandangan tak biasa itu. Sedangkan keempat pria yang mengelilingi Viona tampak biasa saja.
"Maaf tuan Didi, ini perintah tuan Rian langsung." Jawab Diego.
"Perintah Rian?" beo Didi.
"Iya tuan, wanita ini tadi berkata jika dia tidak bermaksud mencelakai istri dan putri anda, melainkan nyonya Dian." Terang Diego. Mata Didi membulat sempurna. Tangannya seketika terkepal. Tatapan iba yang tadi sempat tergambar di mata Didi berubah menjadi tatapan penuh amarah. Wanita ini benar-benar membuat Didi kehilangan rasa kemanusiaannya. Betapa tidak, bukan hanya bekerja sama dengan Archel tapi Viona berniat mencelakai Dian. Ini sudah benar-benar keterlaluan.
Didi menatap Viona dengan mata memerah. Viona hanya menatapnya dengan air mata yabg bercucuran. Rasa panas dari bara api di bawahnya mulai terasa dan menyakiti kulitnya yang halus, Tubuhnya yang di puja para pria hidung belang kini mulai terbakar.
Mulut Viona ditutup dengan lakban agar tidak terlalu berisik. Pablo menutup mulut Viona rapat-rapat.
"Beraninya kau .." Didi menatap tajam Viona. --- Ternyata kau benar-benar wanita ular. Tidak hanya bekerjasama dengan Archel kau juga berniat mencelakai istri dari sahabatku? wah apa jadinya jika aku memberitahu Gerry soal ini?"
Viona hanya menangis seraya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka telah salah berurusan dengan orang-orang ini.
"Kalian urus dia, apakah Apri sudah ada disana?" tanya Didi pada Diego.
"Ya tuan, pengecut itu sepertinya hendak lari dan mencari sarang baru." Ujar Diego.
"Katakan pada Apri untuk terus mengawasinya. Jika misi ini selesai, aku akan memberi kalian semua bonus." Kata Didi.
"Tidak perlu tuan, karena bos Rian sudah memberi kami bayaran yang tinggi untuk mela5 tugas kami. Kami senang jika bisa membantu anda." Lanjut Pablo.
Didi tersenyum bagaimana pun ia akan tetap memberi sesuatu pada Tim Rian yang telah membantunya.
.
__ADS_1
.
.
Selin terlihat mencemaskan Didi. Bahkan berulang kali dirinya keluar masuk ke teras depan. Judy menautkan alisnya melihat keresahan mommy nya.
"Mom, ada apa?" tanya Judy.
Selin tersenyum, membelai wajah cantik putrinya. "Tidak apa-apa sayang. Momy hanya sedang menunggu daddy pulang."
"Kenapa menunggu diluar mom? ini dingin." Tanya Judy, karena memang kebetulan sore itu hujan turun lebat.
Selin akhirnya masuk ke dalam mansion. Ia tak ingin membuat putrinya ikut khawatir. Berulangkali Selin menghubungi nomor Didi tapi tidak aktif.
.
.
.
"Dimana papa?" tanya Didi setibanya di mansion mewah itu.
"Tuan sedang beristirahat. Sedangkan tuan muda Arsen tadi pagi berangkat ke Paris. Karena ada masalah di perusahaan anak cabang." Ujar kepala pelayan yang sudah lama mengabdikan dirinya di mansion Arman itu.
Didi naik ke lantai dua. Dimana kamar sang papa berada. Didi masuk, ia melihat papa nya terbaring lemah di atas kasur.
Dengan menarik nafas dalam-dalam Didi mendekati papanya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba dirasakan oleh Didi. Sejak kecil dia merindukan pelukan sang papa. Namun hingga besar tak kunjung ia rasakan, karena sang papa lebih memilih menjaga perasaan putra pertamanya dari pada anak-anaknya yang lain.
Didi duduk disisi tempat tidur Arman. Ia meraih jemari yang sudah sedikit keriput dan kendur. Sudut mata Didi terasa panas saat jemarinya bertaut dengan jemari sang papa.
"Aku sering memimpikan tangan ini menggandengku, mengajakku berkeliling kebun binatang. Atau hanya sekedar berjalan mengelilingi kompleks. Tapi kau terlalu egois. Kau hanya memikirkan perasaan satu orang putramu tanpa memikirkan kami yang juga membutuhkan kasih sayangmu. Kau berkata hanya tidak ingin menyakiti hati Arsen, tanpa kau sadari kau melukai hati kami. Kenapa kau tidak pernah sedikit saja peduli dengan perasan kami?" Gumam Didi, ia terus menunduk memandang jemari Arman. Tanpa melihat jika dalam tidurnya sang papa mendengar semua ucapan Didi. Sudut mata Arman telah basah begitu juga dengan Didi. Setiap bertemu dengan sang papa selalu saja menambah luka dihatinya semakin dalam dan melebar. Didi pria berhati lembut, begitu juga Arya karena keduanya dibesarkan oleh tangan seorang ibu tanpa pernah merasakan kehangatan tangan seorang ayah.
Arman dulunya pekerja keras. Dia belum sesukses sekarang. Dulu saat bersama istri pertamanya kehidupan Arman biasa saja. Namun saat bersama Clara, usaha Arman mulai maju dan berkembang.
__ADS_1
Awalnya kehidupan keluarga mereka baik-baik saja. Kelahiran Arya dan Didi tak berpengaruh apa-apa pada Arsen. Namun saat Gita lahir, Arsen mulai menunjukkan sikap tak suka pada Clara. Arsen merasa iri karena Arman selalu menyempatkan diri untuk pulang hanya untuk bercanda dengan Gita.
Arsen mulai sering membuat gadis ulah namun Clara dapat menutupinya. Dan puncaknya saat Didi di panggil pihak sekolah karena ketahuan membawa ponsel. Saat ditanya Didi tidak mengakui jika dia membawa ponsel. Namun Arsen tiba-tiba datang dan menuduh Didi mencuri ponselnya. Dan untuk pertama kalinya Arman menampar Didi demi putra pertamanya. Semenjak itu Arsen sering berulah dan membuat Didi sering mendapat tamparan dan pukulan dari Arman. Clara yang sudah tidak kuat melihat putra yang ia lahiran dengan susah payah dipukuli oleh suaminya memilih pergi dari rumah.
Meski Arman masih terus menafkahi Clara, namun tetap saja dia tidak bisa meninggalkan Arsen putra pertamanya. Sesekali Arman menginap saat Arsen mengurus usahanya di luar negri. Disaat Arman menginap Didi memilih pergi. Dan akhirnya dia membeli apartemen dan memilih tinggal sendirian.
Didi menyeka sudut matanya yang basah, ia tak sanggup jika harus menatap wajah sang papa saat ini. Didi langsung keluar dari kamar itu dan menutup pintunya perlahan.
Arman membuka matanya, air matanya mengalir deras. Rasa penyesalannya begitu dalam namun ia tak bisa berbuat banyak.
"Maafkan papa Ardi, papa memang pria yang tidak berguna." Gumam Arman.
"Tolong jaga papa, perhatikan pola makannya. Besok aku akan meminta kakak untuk memeriksa papa." Kata Didi. Ia mengeluarkan ponselnya namun ternyata mati. Didi menghela nafas panjang.
"Baik tuan muda."
"Aku pulang dulu." Didi pergi dari mansion papanya, menembus derasnya hujan membelah jalanan ibukota yang tak pernah sepi.
Didi berharap Selin tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Didi tiba di mansion Gerry saat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Dia benar-benar mengingkari janjinya pada Selin untuk pulang cepat.
"Dari mana saja kamu?" tanya Gerry.
"Ke markas Rian, untuk mengintrogasi Viona."
"Segeralah ke kamar. Istrimu bahkan tidak mau ikut makan malam bersama kami karena mencemaskan dirimu."
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Yang pada ngarep duda kece sabar dulu ya. Othor lagi butuh referensi banyak biar ga kena semprit terus. Niat hati mau dibanyakin hot hot nya malah sering ditolak sama NT. Padahal bahasanya udah pake kiasan.
Wes pokoke angel .. sabar dulu ya. Like koment dan Hadiahnya sumbangin dulu buat selin ma Didi aja Ok!!! (malak Alus)
__ADS_1