Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kesedihan Selin


__ADS_3

*********


Nick meninggalkan Veni dan Aldo tanpa mau menoleh, hatinya terasa sakit namun dia bahagia melihat Veni bahagia. Dan sampai kapanpun dia akan tetap menempatkan orang-orangnya untuk mengawasi Veni. Hanya untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Aldo kembali menyakitinya.


"Baby apa kau baik-baik saja?" Aldo melihat tubuh Veni dari atas hingga bawah. Veni tersenyum lembut lalu menggeleng.


"Aku baik-baik saja baby. Dia tidak akan menyakitiku. Nick orang yang baik."


"Lalu kenapa dia menculikmu jika benar dia adalah orang baik?" Suara Aldo tampak ketus saat Veni memuji pria bernama Nick itu.


"Dia hanya ingin memastikan perasaanku tanpa ada yang mengganggunya."


"Pemikiran yang picik. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu tadi."


"Percayalah padaku baby, yang perlu kamu tahu aku hanya mencintaimu tidak ada yang lain. Apa kau tidak ingin mengajakku pulang?" tanya Veni dengan suara yang memelas. Akhirnya mau tak mau Aldo membawa Veni pergi dari resort itu.


"Aku tidak akan ijinkan lagi kau pergi keluar rumah. Ini terlalu menakutkan. Aku tidak bisa kehilanganmu baby." Desis Aldo mengecup kening Veni.


"Baiklah, aku akan menuruti apa katamu." Kata Veni.


Sementara itu Nick yang berada di atas ketinggian dengan helikopternya tersenyum samar dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Semoga kau benar-benar bahagia dengan pilihanmu sweetie. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu dengan tulus." Gumam Nick.


*


*


*


Di mansion Gerry, Dian tampak membolak-balikan tubuhnya mencari posisi tidur yang nyaman. Karena ia merasakan sakit di punggung belakangnya.


"Kamu kenapa sayang?"


"Ga apa-apa mas, punggungku rasanya sakit." kata Dian, Gerry segera bangun dari tidurnya dan berpindah duduk di tepian ranjang.


"Sini biar mas usap punggung kamu." Kata Gerry, Dian mengangguk setuju. Tak lama Dian mulai terbuai dengan sentuhan lembut Gerry, hingga memaksa matanya untuk terpejam.

__ADS_1


Gerry tersenyum melihat Dian sudah terlelap. Entah dengan apa dia akan membalas semua kebahagiaan yang telah Dian hadirkan untuknya. Ia merasa tak pernah puas menuruti semua keinginan istrinya.


Gerry ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil istrinya yang kini semakin berisi.


Keesokan harinya Dian dan Gerry terbangun karena mendengar suara Ana yang menggedor pintu. Gerry bangkit dan segera membukakan pintu kamarnya jika tidak pintu itu bisa roboh karena ulah Ana.


"Ada apa sayang?" tanya Gerry berjongkok di depan putrinya.


"Papa kakak Zafa sakit badannya panas." Ujar Ana, Dian seketika langsung bangkit dan menjadi panik.


"Dimana sekarang kakak Zafa?" tanya Dian pada Ana.


"Dikamar mama, tadi kakak Zafa bilang pusing." Dian segera mengambil kotak obat di laci nakas dan bergegas menuju kamar putra pertamanya.


"Hati-hati jalannya sayang. Jangan terburu-buru ..!" Dian seakan tak menggubris ucapan Gerry, saat ini dia hanya ingin melihat putranya saja.


"Sayang, kamu kenapa?" Dian mendekati ranjang Zafa dan memeriksa suhu tubuh pria kecil itu. Zafa hanya diam memperhatikan ibunya yang sangat terlihat khawatir itu.


Gerry menghubungi dokter Arya untuk segera ke rumahnya. Dia tak ingin membuat istrinya semakin cemas karena kondisi Zafa.


"Memang kamu kemarin habis ngapain sayang?"


"Kakak pasti kelelahan karena mengajari Laurent bersepeda." Sahut Ana, Dian tersenyum menatap putranya seakan-akan bertanya lewat tatapan mata.


Beruntung panasnya Zafa hanya karena kelelahan. Setelah di periksa Arya dan meminum obatnya pria kecil itu langsung tertidur.


"Apa ada yang serius pak Arya?"


Arya hanya mendesah berat, tidak Ara tidak Dian sama-sama memanggil dirinya pak. Apakah semua itu kah dirinya?


"Zafa hanya kelelahan saja. Kamu tau kan dia tidak boleh terlalu banyak melakukan kegiatan." Terang Arya, Dian mengangguk. Ia merasa bersalah karena akhir-akhir ini terlalu fokus pada kehamilannya saja.


"Sudahlah sayang, kamu dengar kan kalau Zafa hanya butuh istirahat. Kamu tetap harus memikirkan kandunganmu." Ujar Gerry yang hapal dengan tingkah Dian itu. Jika anak-anak mereka sakit pasti akan menyalahkan dirinya sendiri yang tak becus mengurus anak. Padahal wanita itu sudah melakukan yang terbaik.


*


*

__ADS_1


*


Kehamilan Selina sudah masuk usia 3 bulan. Ia saat ini berada di ruangan dokter Fany.


"Bagaimana dok? bisakah saya melakukan perjalanan ke negara T?"


"Maaf nyonya Selina, anda belum bisa melakukan perjalanan jauh. Kondisi kandungan anda tidak cukup memungkinkan." Tutur dokter Fany


"Apa kehamilan istri saya bermasalah dokter?"


"Bisa dibilang cukup beresiko karena posisi plasenta berada di bawah. Sedangkan kehamilan normal saja batas boleh melakukan penerbangan minimal usia kandungan 4 bulan dan harus dalam keadaan prima baik ibu maupun janin yang di kandungnya. Sedangkan saat ini nyonya Selin baru memasuki minggu ke 12 dan kondisi plasenta yang dibawah sangat beresiko mengalami pendarahan, jika terjadi tekanan akan berakibat fatal bisa menyebabkan keguguran." Terang dokter Fany.


Selin tampak sangat sedih. Ia benar-benar merindukan pulang ke negaranya.


"Semoga saja nanti semakin bertambahnya usia kehamilan posisi plasenta bisa berubah. Dan saya harap baik nyonya atau tuan tetap memperhatikan poin penting yaitu jangan terlalu stres dan usahakan istirahat yang cukup."


"Baik dok, terimakasih." Ujar Didi menyalami dokter Fany begitupun dengan Selin. Wajah wanita itu kini di gelayuti mendung. Tatapannya sendu seakan ingin menangis. Setelah menebus Vitamin untuk Selin, begitu masuk mobil tangis wanita itu pecah.


"Hei honey .. don't cry baby. Kita bisa Video call dengan Araya, memintanya memperlihatkan kamarmu atau tempat yang kamu sukai. Jangan bersedih ku mohon." Ujar Didi merasa iba.


"Aaaaa ... ini semua salahmu honey. Harusnya kau menghamili ku saat kita disana bukan disini." Ujar Selin di tengah tangisnya.


"Iya maaf, aku juga kan tidak tau kalo kamu akan cepat hamil. Bahkan kau dan aku belum honeymoon dengan pesawat yang aku belikan untukmu." Kata Didi semakin membuat Selin meraung.


"Nah itu tau. Aaa .. Kita bahkan belum mencoba bercinta di pesawat kita. Tapi kau sudah membuatku hamil." Selin terus menggerutu hingga ia kelelahan dan tertidur dengan wajah sembab. Didi mengusap wajahnya kasar. Baru kali ini dia menghadapi keinginan orang hamil yang begitu sulit. Padahal dulu saat dia menemani Dian pas hamil Zafrina, gadis itu tidak pernah memiliki keinginan aneh-aneh. Hanya pernah sekali meminta Didi datang dan menemaninya ke pasar raya malam hari katanya ingin permen kapas. Karena terlalu bersemangat Didi membelikan 5 permen kapas dengan karakter yang berbeda dan justru malah membuat Dian sakit tenggorokan keesokan harinya karena terlalu banyak makan manis.


Didi tersenyum sendiri saat mengingat kenangan manis bersama Dian dulu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Happy reading All.


Birukan jempolnya ya.


Maaf ye othor dunia nyatanya baru ada trouble. Jadi up sering ga teratur. Tapi diusahakan sehari sekali. paling banyak 2 kali. itupun ga setiap waktu.


Terimakasih buat kalian yang masih setia baca dan nunggu. Mungkin akhir bulan ini benar-benar akan end kisah 4 pasangan ini. Dan kita beralih ke kisah baru biar ga bosen juga kan.

__ADS_1


__ADS_2