Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Veni dan Aldo End


__ADS_3

*********


Aldo membalas pukulan Nick dengan keras. Keduanya terlibat baku hantam namun beruntung petugas keamanan segera datang dan melerai keduanya.


"Kalo kau tidak bisa menjaga Veni lepaskan dia. Biar aku yang merawat dia dan anaknya." Ujar Nick masih setengah emosi.


"Siapa kau jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga ku. Apa kau sebegitu tidak lakunya hingga kau menginginkan istriku?" Desis Aldo. Dan Nick terkekeh.


"Apa kau lupa siapa Veni bagimu dulu? kau bahkan menjajakan kekasihmu pada banyak orang. Aku memang seorang ba_jing_*n tapi aku tidak akan berbuat bodoh dengan melakukan hal rendah sepertimu." Sarkas Nick yang langsung menghujani tepat di jantung Aldo. Ya kebodohan yang hingga saat ini selalu mengusik ketenangan Aldo.


.


.


.


Setelah perdebatan sengit antara Aldo dan Nick kini Aldo dan Nick sudah berada di depan ruang ICU. Kondisi Veni drop tapi beruntung nyawa si bayi bisa diselamatkan. Bayi tampan dengan bobot 3 kilogram dan panjang 52 cm. Air mata Aldo menetes tak kala bayi mungil itu membuka matanya untuk pertama kalinya di gendongan Aldo. Namun bayi itu harus di bawa di ruang perawatan bayi. Akhirnya Aldo memilih menunggu Veni di depan ruang ICU.


"Kau lihat, dulu gara-gara keegoisanmu Veni kecelakaan, lalu kau membawa petaka lagi untuknya hingga ia mengalami pendarahan dan hampir kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya. Sekarang kau lihat ada dimana kita?" Nick masih saja belum bisa menerima kenyataan.


"Apa kau pikir aku tidak memikirkan dirinya, kau terlalu dangkal menilai diriku. Kau tidak tau apa yang ku pikirkan saat itu apa yang menjadi pertimbanganku. Apa kau bisa sehari saja melihat istrimu berteriak ketakutan, kau mungkin bisa gila dengan cinta yang kau miliki untuk istriku. Melihatnya setiap malam ketakutan, bahkan sampai tidak mau makan dan tidur karena takut di datangi ibunya dalam mimpi. Kau pikir itu mudah bagiku? Kau hanya tidak tahu tentang perasaanku. Tentang ketakutan terbesarku. Tapi justru sikap waswasku malah menjadi boomerang bagiku dan dia. ---- Aku juga mencintainya dan terlambat menyadarinya. Aku tahu apa yang dulu aku lakukan salah hanya karena kesalahan dimasa lalunya. Aku baru menyadari rasa cintaku padanya saat ia diambang kematian." Aldo berujar dengan wajah yang di penuhi air mata. Nick hanya terdiam mendengar penuturan Aldo.


Nick lantas berdiri dan tanpa kata dia meninggalkan Aldo, satu hal yang pasti saat ini perasaannya sudah semakin yakin cinta Veni tidaklah bertepuk sebelah tangan. Mungkin dia terlihat terlalu berlebihan, tapi perasaannya pada Veni bukan hanya sekedar obsesi atau main-main. Dia hanya ingin memastikan bahwa Veni tak akan terluka perasaannya karena cintanya bersambut. Hanya masalah waktu saja untuk menilai karakter satu sama lain agar hubungan mereka tetap harmonis.


Setelah kepergian Nick, Aldo melangkah masuk ke ruang ICU. Ia juga sudah memakai baju steril dan duduk di samping brankar Veni, Aldo menatap miris dengan alat yang terpasang di tubuh istrinya itu. Aldo meraih tangan Veni dan mengusapkannya di wajahnya.


"Hai baby, bangunlah ..! Apa kau tidak ingin melihat pangeran kecilmu yang tampan?" Gumam Aldo dengan suara parau. --- "Baby, tolong ajari aku caranya membaca hatimu? kenapa kau mudah terluka dengan sikap ku? apakah aku salah baby jika aku takut kau terluka, aku takut melihatmu tersakiti? Baby, aku mencintaimu."


Tanpa Aldo sadari setetes air mata mengalir dari sudut mata Veni.

__ADS_1


.


.


.


Aldo tertidur di samping brankar Veni setelah lelah mencurahkan isi hatinya bahkan ia tak memperdulikan kondisi wajahnya yang babak belur. Ia hanya ingin berada di samping istrinya.


Dalam tidurnya Veni dapat mendengar jelas ungkapan hati Aldo, ia pun terharu karena sebenarnya selama ini Aldo memikirkan dirinya dan mempedulikan perasaannya. Veni ingin membuka matanya namun rasanya sangat berat sekali. Ia hanya menangis di dalam diam.


Aldo terbangun saat mendengar seorang perawat mendorong troli berisi peralatan untuk membersihkan tubuh Veni.


"Tuan, kami akan memindahkan nyonya Veni ke ruang perawatan. Karena kondisinya sudah stabil."


"Tapi kenapa dia belum bangun juga suster?"


Seorang suster juga membawa box bayi dimana putra Aldo dan Veni tengah terlelap. Mereka di pindahkan di ruang VIP. Seorang dokter anak di bantu seorang suster membuka piyama Veni, dan suster yang membawa box bayi melepaskan baju bayi Aldo. Seharusnya mereka melakukan skin to skin sejak tadi sekaligus untuk merangsang si bayi untuk inisiasi dini. Namun kondisi Veni saat itu tidak memungkinkan.


Dengan hati-hati dokter itu meletakkan bayi mungil itu di dada Veni. Awalnya bayi itu hanya diam tapi lama-lama bayi itu menggerakkan tubuhnya dan mendekat di pu_ting Veni dan mulai menghisap. Wajah dokter itu tampak sangat puas karena bayi mungil itu sangar pintar.


"Semoga skin to skin ini mampu membuat nyonya Veni sadar. Karena ada ikatan batin antara ibu dan anak." Kata dokter itu. Namun tak lama terdengar suara jeritan putra Aldo, mungkin karena ASI Veni belum keluar dengan lancar.


Saat mendengar jeritan bayi mereka jemari Veni bergerak lemah.


"Dokter sepertinya pasien merespon." Ujar perawat bayi yang kebetulan menatap Veni saat itu. Dokter tersenyum begitupun Aldo. Sementara dokter membiarkan tangis bayi itu melengking memenuhi ruangan perawatan Veni. Bola mata Veni bergerak gelisah saat suara bayi itu semakin terdengar nyaring. Akhirnya Veni membuka matanya, tangannya terangkat menyentuh makhluk kecil yang berada di atas tubuhnya. Seketika Veni bergetar penuh haru.


Ia menoleh dan mendapati Aldo tersenyum tulus kepadanya.


"I-ini .. "

__ADS_1


"Dia pangeran kecilmu baby .. " Ujar Aldo terharu, tak ada lagi kebahagiaan yang ingin ia raih selain menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga kecilnya ini.


Veni menangis karena merasa sangat terharu. Ia terus mengusap bayi itu yang kini mulai tenang menghisap PD Veni.


Dokter dan perawat meninggalkan ruang ICU setelah kondisi Veni membaik dan dia bisa menyusui putranya. Aldo duduk mendekat dan mengecup pelipis Veni.


"Baby maaf .. aku lagi-lagi membuatmu dalam bahaya."


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Veni tanpa berniat menjawab ucapan Aldo tadi. Aldo menunduk dan menggigit bibir bawahnya.


"Aku mencintaimu baby, sangar mencintaimu maafkan aku mengikatmu dengan cinta bodohku."


Veni tersenyum dan menggeleng. Lalu ia merentangkan tangannya dan Aldo langsung memeluk Veni dan putra mereka yang ada dalam gendongan Veni.


"Kalian adalah separuh nyawaku." Ujar Veni, terimakasih sudah membalas cintaku.


"Baby siapa nama putra kita?" tanya Veni namun Aldo menggeleng.


"Baiklah aku akan memberinya nama Doni putra Rivaldo."


"Asal kau senang siapapun namanya aku pasti setuju." Ujar Aldo. Veni terkekeh ...


"Huh .. gombal."


Dan begitulah cinta, mudah marah lalu mudah pergi, mudah memaafkan dan mudah kembali.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Aldo dan Veni End ...

__ADS_1


__ADS_2