
********
Didi tiba di depan hotel milik Gerry. Ia mengajak Gerry untuk mencari langsung keberadaan Selin dan putrinya. Jika tidak begitu akan memakan waktu yang cukup lama.
Gerry memasuki lobby dengan aura ketampanan yang membuat mata siapapun terpana melihatnya. Ia mendatangi meja resepsionis dan menanyakan siapa penyewa penthouse yang ada di hotelnya. Namun bukan Selin melainkan memakai nama Kao. Tetapi Didi bersikeras ingin memastikan. Dia hanya khawatir keselamatan putrinya.
Akhirnya dengan wajah sedikit kesal Gerry menemani Didi menemui si penyewa. Didi menekan bel pintu, dan dari arah dalam sesosok wanita berjalan dengan terburu-buru dan membuka pintu.
Deg ..!!
Ada desir perasaan aneh saat wanita itu melihat Didi ada didepannya. Sedang Didi sudah menitikkan air mata menatap wanita yang ada dihadapannya. Tanpa menunggu lama Didi memeluk tubuh gadis itu.
"Kemana saja kau Selin? kenapa kau pergi dan tak ada kabar lagi. Kau berjanji akan kembali lagi padaku. Aku sudah menantimu selama 5 tahun."Isak Didi. Rasa rindunya begitu menyiksa, ia tak dapat menahan semuanya lebih lama lagi.
Selin terpaku. Dia berlari membuka pintu karena dia pikir itu kakak dan keponakannya yang mengambil sesuatu yang tertinggal. Namun siapa yang menduga jika akan bertemu dengan pria ini.
Selin melirik kearah Gerry, ia bingung harus berbuat apa. Saat ini tubuhnya terasa kaku, tapi hatinya menghangat mendapat pelukan dari pria ini.
"Uncle .." Teriak Judy.
Mendengar teriakan putrinya Selin mendorong tubuh Didi hingga pria itu terhuyung. Beruntung Gerry membantu Didi menahan berat tubuhnya.
Judy mendekat kearah Didi dengan senyum yang merekah. Jantung Didi seakan-akan ingin meledak melihat senyum gadis kecil itu.
"Hai uncle .." Sapa Judy. --- "Uncle kenal mommy?"
Didi mengangguk, dia menatap Selin. Namun Selin seakan tak mengingat Didi. Araya keluar dari kamar dan terkejut melihat kedatangan Didi.
"K-kau .." Ujar Araya terpana melihat Didi ada disana.
"Kakak ipar kenal dengannya?" tanya Selin, Araya masih sangat syok hanya terdiam menatap Didi. Dia tak menyangka pria itu akan secepat ini mendatangi.
__ADS_1
Didi memandang tak percaya, mengapa Selin melupakan dirinya, hatinya bagai tersayat sembilu.
"A-apa kau melupakan ku Selin?" tanya Didi memegang kedua pundak Selin. Gadis itu menatap dalam mata Didi yang sembab, entah mengapa melihat wajah sedih Didi hatinya ikut merasa sakit.
"Masuklah dulu. Akan ku ceritakan semuanya didalam." Kata Araya, ia sudah bisa menguasai dirinya. Sedang Judy menatap bingung ke arah bibinya. Dan Araya mengedipkan mata pada gadis itu. Isyarat yang hanya Judy dan Araya yang tahu apa artinya.
Didi dan Gerry mengikuti Araya masuk ke ruang tamu sedangkan Selin masih terpaku dengan wajah bingung.
Namun ia tersadar ketika genggam tangan mungil menyentuh tangannya.
"Mom, ayo!" Judy menggenggam jemari ibunya. Dengan ragu Selin ikut menuju ruang tamu dimana Didi dan Gerry berada sedangkan Araya masuk ke dalam kamar mengambil sesuatu dari dalam saku tas miliknya. Sesuatu yang selalu ia bawa kemanapun dan ia simpan rapi tanpa sepengetahuan siapapun.
Didi masih terus memandangi wajah cantik Selin, ia tak menyangka pertemuan pertama mereka setelah sekian lama begitu terasa hambar. Ia berharap Selin memeluknya atau bahkan menciumnya setelah 5 tahun dirinya menahan rindu.
Araya duduk di samping Selin. Ia menggenggam erat jemari adik iparnya. Ia percaya suatu saat Didi pasti akan menanyakan keberadaan anaknya begitu juga dengan Judy yang akan selalu menanyakan keberadaan ayahnya.
"Sebelumnya perkenalkan aku Araya, kakak ipar Selin. Maaf jika Selin tidak mengingat dirimu karena dua tahun yang lalu Selin mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia mengalami amnesia parsial. Dimana dia hanya melupakan sesuatu yang begitu dia sayangi dan dia inginkan."
"Maksud kakak, dia ayah dari Judy?" Ujar Selin tak percaya, dan Araya mengangguk.
"Iya sayang .."
"Selin maafkan aku yang tak berkata terus terang padamu. Dokter mengatakan jika aku memaksa kau mengingat ayah Judy akan berakibat fatal. Kau bisa saja mengalami amnesia permanen dan tak akan mengingat ayah Judy lagi." Sambung Araya, Judy sudah menangis, ia berjalan mendekati Didi. Tangan mungil itu terulur mengusap setitik air mata yang jatuh di pipi Didi.
"Daddy .." Judy semakin terisak dan membenamkan tubuh kecilnya kedalam hangatnya pelukan Didi. Didi mendekap putri kecilnya dengan erat. Gerry bahkan turut berkaca-kaca melihat pertemuan ayah dan anak itu.
Sedangkan Selin masih meraba dalam hati dan pikirannya, benarkah pria ini yang selalu hadir dalam mimpinya, memanggil nama Selin untuk tetap berada di sisinya.
Selin memegangi kepalanya yang kembali terasa berdenyut. Pandangan matanya mulai buram begitupun pendengaran Selin yang seakan semua menjauh. Tubuh Selin limbung. Dengan gerakan taktis Didi menahan tubuh Selin dengan sebelah tangannya.
"Mommy .." Pekik Judy. Araya terkejut melihat adik iparnya pingsan. Dengan panik dia mendekati Selin.
__ADS_1
"Bisakah kau membawanya ke rumah sakit?" tanya Araya menggenggam jemari Selin. Wajah Selin sangat pucat, Judy terus memanggil-manggil ibunya
"Tidak perlu membawanya kemanapun 5 menit lagi ada tim dokter datang kemari. Keselamatan kalian sedang terancam diluar sana." Ujar Gerry memecah ketegangan semua orang.
Didi mengangkat tubuh Selin, masuk ke kamar wanita itu. Judy terus mengikuti langkah kaki Didi dengan tatapan cemas.
Setelah meletakkan Selin ke atas pembaringan Didi merengkuh tubuh putri mungilnya. Diluar penthouse Arya dan 2 tim medis lainnya datang bersamaan dengan Kao. Kao menatap heran kearah 3 orang tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Kao.
"Pemilik hotel ini menghubungi kami untuk datang ke penthouse ini." Kata Arya dia belum tau pasti alasan Gerry menghubungi dirinya.
"Pasti ada kesalahan. Aku sudah menyewa penthouse ini." Ujar Kao.
"Mari kita ketuk pintu ini dan lihat saja apa yang terjadi." Jawab Arya seraya mengetuk pintu, sedang Kao yang tak sabar menekan bel berulang-ulang.
Araya membuka pintu kayu itu. Dia melihat suaminya telah kembali dan langsung memeluk Kao.
"Sayang .. Selina pingsan." Wajah Kao seketika memucat. Ia melihat Gerry duduk dengan santai sembari menatap layar ponsel.
Arya masuk menghadap Gerry. Dan pria itu hanya menunjuk pintu di sebelah Arya tanpa mengucapkan apa-apa.
Arya sangat terbiasa dengan sikap Gerry yang sangat arogan. Dia hanya menjadi kucing manis jika ada di dekat Dian dan anak-anaknya.
Arya masuk ke kamar itu diikuti dua tenaga medis juga Kao dan Araya.
Mata Arya membola melihat adiknya disana dan Selin.
"Selina .." Desis Arya. Tanpa menunggu waktu lama, Arya segera mendekat dan memeriksa Selin. Sedangkan Kao masih menatap bingung situasi saat ini. Dimana Judy bergelayut manja di pangkuan Didi. Tampak wajah sembab keduanya semakin membuat Kao berspekulasi dengan pemikirannya. Baru satu jam dia meninggalkan penthouse dan banyak hal yang dia lewatkan.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
__ADS_1
guys othor mau nanya ini. Dulu niat awalnya othor bikin S2 kan mau ngasih cerita tentang Aldo dan Veni ya. Tapi karena kalian penasaran dengan kisah Didi akhirnya othor kasih flashback. Menurut kalian mau fokusnya ke pasangan Didi - Selin atau Aldo - Veni. Takutnya kalo kisahnya othor bagi rata alias dicampur² kaya es campur. Kalian kehilangan Feel ceritanya.
Karena keberadaan Gerry dan Dian ini cuma pelengkap alias intermezzo aja. Soalnya mereka udah happy ending.