Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Namaku Arsen


__ADS_3

******


"Pulang .. " Wajah Ara tampak bingung Arsen mengangkat sebelah alisnya melihat raut kebingungan Ara.


Kenapa gadis ini seperti kebingungan. Apa dia tidak punya rumah. --- Arsen


Ara menggaruk pelipisnya bingung. Dia tampak ragu menatap Arya.


"Saya tunggu abah disini saja pak Arya, terimakasih sudah mau membantu mengurus abah." Kata Ara, wajah sembabnya membuat Arya iba, tapi dia sudah berjanji akan mengajak Arsen pergi.


"Tapi kamu tidak bisa masuk ke ruangan Abah. Kamu mau tidur dimana Ara?" tanya Arya memastikan sebelum meninggalkan gadis itu sendirian.


"Saya bisa tidur dimana saja. Di ruang tunggu dekat kamar abah juga gapapa pak, Saya takut meninggalkan abah sendirian. Kalo ada apa-apa sama abah saya takut kalo tidak tahu." Kata Ara.


"Gimana ya, saya ga enak aja kalo ninggalin kamu disini sendirian. Soalnya saya ada urusan. Dan teman saya sudah melimpahkan tanggung jawab untuk menjaga kamu dan abah disini." Ujar Arya menyampaikan apa yang menjadi ganjalan hatinya.


"Saya sudah berterima kasih pak Arya mau datang dan mengurus segala kebutuhan abah yang saya ga tahu. Jadi jangan jadikan saya beban, saya bisa mengurus diri saya sendiri. Kalo seandainya pak Arya mau pergi silahkan." Kata Ara. Tak lama ponsel Ara berdering sangking gugup dikelilingi dua pria tampan ponsel Ara sampai terlempar jatuh tepat di kaki Arsen.


Kali ini Arsen tak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat ponsel Ara. Bahkan Arsen justru terpaku pada benda dibawah kakinya tanpa ada niat untuk mengambilnya. Wajah Ara sudah merah padam karena malu. Namun mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya alat komunikasi yang dia punya. Hape Nok*a jadul yang diikat dengan karet gelang agar baterainya tidak terlepas. Ara bergerak maju tapi Arya buru-buru mengambilnya dan menyerahkannya pada Ara.


Ara menatap layar ponselnya yang retak. Dia hanya menghela nafas kasar. Ponselnya mati tidak bisa menyala.


"Pak Arya bisa pergi, tidak perlu memikirkan saya. Nanti saya akan bilang ke aa Gerry kalo pak Arya sudah menjalankan amanat a Gerry." Kata Ara seraya menunduk. Dirinya masih terlalu malu menatap kedua pria tampan itu.


"Ah kalo gitu baiklah, abah ada diruang intensif lantai 3. Saya pergi dulu." Kata Arya menyadari kecanggungan Ara.


"Semoga abah lekas sembuh." Arsen menimpali ucapan Arya, Ara mengangguk.


"Terimakasih pak Arya dan aa .. "


"Oh, namaku Arsen."


"Terimakasih a Arsen. Maaf saya mengganggu waktu kalian berdua." Ara meninggalkan Arya dan Arsen. Dia justru berjalan duluan ke arah lift karena tak tahan terus di tatap oleh dua pria itu.


"Ara ... " Arsen memanggil gadis itu. Ara terpejam sejenak mengatur detak jantungnya yang tak beraturan. Lalu ia menoleh,


"Ya .. "


"I-itu tas kamu ketinggalan." Tunjuk Arsen ke bangku yang tadi sempat Ara duduki."

__ADS_1


Blush


Lengkap sudah rasa malu Ara, ia segera meraih tasnya dan berlari masuk ke dalam lift. Arsen dan Arya saling pandang lalu menggeleng dan tersenyum berbarengan.


Gadis yang lucu --- Arsen


.


.


.


"Kenapa ga bangunin aku sih mas." Tanya Dian memasang wajah cemberut.


"Maaf ya yank, bukannya ga bangunin tadi. Tapi kamu tidur pules banget mas udah goyang-goyang badan kamu ga bangun juga." Kata Gerry dengan wajah pura-pura merasa bersalah. Satu-satunya jurus andalan agar Dian tidak marah padanya.


"Ya udah, tapi kalau besok-besok lagi aku kaya gitu mas harus bangunin aku, mau dicium apa diapain yang penting akunya sampai bangun." Ujar Dian.


"Kalo dikasih enak* mau ga?" goda Gerry.


"Issh .. nanti yang ada sangking keenakan aku malah pules. Lagian mas itu mesum aja bawaannya." Kata Dian.


"Mana ada mas mesum, kamu tu yang mesum. Nyusul mas ke kantor buat minta enak* padahal kan di rumah bisa." Kata Gerry, Dian jadi malu sendiri mendengar ucapan Gerry. Ia menutup wajahnya dengan bantal karena malu. Keduanya bercanda hingga terdengar bunyi perut Dian membuat suasana hening sesaat.


"Mau makan mas .. "


"Makan apa?" tanya Gerry.


"Oh iya tadi kan aku janji mau sama Zafrina." Ujar Dian baru ingat jika putrinya ada di rumah ini.


"Mereka sedang di mansion. Tadi istri Rian membelikan rumah barbie sebesar Zafrina. Agar gadis itu tidak merajuk.


" Memang mereka kemana mas?"


"Tentu saja mencetak junior." Jawab Gerry enteng seraya turun dari ranjang. --- "Ayo katanya lapar ..!"


Dian mengikuti Gerry turun dari ranjang, tangan Dian terus digenggam Gerry hingga ruang makan.


"Aku mau pasta yang banyak kejunya mas."

__ADS_1


"Siap ratuku. Mau spaghetti atau Fettucini?"


"Spaghetti aja deh."


"Siap yang mulia ratu." Kata Gerry lalu dia segera memanaskan air untuk merebus spaghetti nya. Dia juga memblender satu kotak buah strawberry dan 5 lembar daun mint, lalu diberi sedikit creamer dan air es. Setelah selesai Gerry memberikannya pada Dian, Wanita hamil itu tersenyum senang, suaminya benar-benar pengertian. Dian menyedot jusnya sambil terus menatap Gerry yang sibuk mengiris sosis dan bawang bombay. Dia mulai menumis bawang putih yang sudah dia geprek terlebih dahulu menggunakan oliv oil lalu memasukkan bawang bombay sosis dan daging giling. Tangannya begitu terampil setelah kejadian ayam bulgogi waktu itu. Gerry mau belajar pada ibu Dian. Dan hasilnya sekarang dia jadi bisa memasak meskipun tidak mau dibilang mahir tapi menurut Dian masakan Gerry enak.


Gerry menghidangkan hasil karyanya ke hadapan Dian. Hingga membuat Dian berbinar senang.


"Terimakasih suamiku."


"Kembali kasih istriku." Gerry duduk dihadapan Dian dengan menu yang sama. Keduanya makan dengan tenang. Dian jadi teringat akan Ara.


"Mas, Ara gimana? Pak Arya bisa menghandle kan?"


"Tenanglah, lagi pula Ara sudah dewasa."


"Tapi dia terlalu polos mas. Aku kasian kalo sampai dia dimanfaatkan orang."


"Habiskan makanmu aku akan hubungi Arya setelah ini." Dian mengangguk patuh.


.


.


.


Di rumah sakit, Ara duduk termangu sendirian menatap ponselnya yang sudah tidak bisa menyala. Namun sebuah tepukan di pundaknya membuat dia terlonjak dan lagi- lagi ponselnya terjatuh.


"Maaf aku mengejutkanmu." Sebuah suara yang tidak asing bagi Ara. Karena beberapa jam yang lalu mereka sempat bertegur sapa.


Aa Arsen .. kenapa disini? Ara memunguti ponsel itu. Arsen hanya memandang dengan iba pada gadis itu.


Arsen tak tau kehidupan Ara sebelumnya. Namun melihat cara gadis ini berpakaian, dan menilik dari barang-barangnya Arsen hanya menebak jika Ara berasal dari keluarga sederhana.


"Apa aku mengganggu? Aku pikir kau akan jenuh sendirian menunggu disini. Apa lagi tidak ada siapapun yang kau kenal." Kata Arsen. Melihat Ara membuatnya teringat beberapa tahun lalu saat dirinya juga hanya sendirian menunggu papanya yang sakit. Tidak ada yang ia kenal, tak ada yang peduli padanya.


"Terimakasih aa, tadinya Ara pikir akan disini sendirian sampai besok." Kata gadis itu berkaca-kaca.


"Jangan sedih ..! Semua pasti akan baik-baik saja. Kata Arsen. ---- " Ini untukmu .. " Arsen menyerahkan dua paperbag pada Ara.

__ADS_1


"Apa ini?"


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


__ADS_2