Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 91


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


"Aku.." Dian tampak ragu menceritakan kejadian tadi siang pada Gerry. Ditambah situasinya benar-benar tidak tepat.


Gerry melirik kearah mamanya. "Ma, Gerry antar Dian ke atas dulu."


"Iya sayang." Ujar nyonya Arini.


Gerry membawa Dian di kafetaria yang buka 24 jam, setelah memesan minuman hangat untuk Dian Gerry kembali duduk dihadapan istrinya yang tampak gelisah dari tadi.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada tadi?" Gerry menggenggam jemari Dian yang terasa dingin.


"Tadi tuan Rian dan ibunya datang menemuiku." ujar Dian. Gerry merasa tidak senang mendengar istrinya memanggil Rian dengan sebutan tuan.


"Kau bukan pesuruhnya, bukan juga pembantunya, jangan memanggilnya tuan!" kata Gerry tak senang. Dian menunduk dirinya semakin takut mengutarakan apa yang terjadi tadi siang. Baru masalah panggilan saja sudah dipermasalahkan oleh suaminya. Apalagi hal yang akan ia sampaikan.


Gerry merasa bersalah memperlihatkan ketidaksukaannya pada Dian. Ia terlalu terbawa suasana hatinya sendiri. Akhirnya setelah mengambil nafas teratur Gerry mengangkat dagu Dian. Benar dugaannya istrinya sudah menangis.


"Maaf, aku .." Belum sempat Gerry melanjutkan ucapannya Rian mendekat kearah mereka.


"Apa kau mengikuti istriku?" tanya Gerry, jika hanya kebetulan mana mungkin. Ini sudah hampir pagi.


"Aku hanya mengkhawatirkan dirinya. Tadi aku melihatnya turun." Ujar Rian berkilah.


"Kau sudah lihat kan, dia bersamaku. Sekarang pergilah. Untuk apa kau disini?" Ujar Gerry dingin.


Rian memandang wajah sembab Dian, ia merasa tak tega pada wanita itu. Tapi ia bisa apa? Dian bukan miliknya lagi. Bahkan sejak awal dirinya sendirilah yang menolak kehadiran gadis cantik itu.


Rian beranjak pergi dari tempat itu. Sesekali ia menoleh kearah Dian, tapi wanita itu memilih tetap menunduk. Hanya tatapan mata nyalang Gerry yang mengiringi langkahnya.


Gerry kembali menatap Dian setelah memastikan pria itu menghilang dari hadapannya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.


"Sebaiknya aku antarkan kau ke kamar. Besok setelah operasi papa selesai kita bicara lagi. Kau juga butuh istirahat yang cukup." Ucap Gerry datar, rasanya masalah hari ini benar-benar membuat emosinya tak terkontrol. Ia tak ingin menyakiti istrinya. Gerry membantu Dian berdiri, mereka berdua meninggalkan kafetaria tanpa seorangpun yang berbicara hanya hening yang mengantarkan keduanya hingga sampai di lantai teratas tempat dimana Dian dan anak-anak mereka dirawat.


"Masuklah, dan segera beristirahat. Aku akan menemani mama lagi." Ucap Gerry. Tanpa menolak ataupun mengiyakan Dian berbalik dan meninggalkan Gerry yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gerry berharap Dian mau menengok sebentar kearahnya. Tapi bahkan Gerry tak tau jika Dian berjalan dengan tatapan mata kosong.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar Dian terdiam, suster yang diminta Dian menjaga kedua bayinya merasa aneh. Bahkan suster tersebut sampai membangunkan nyonya Arimbi.


"Ada apa sus?" tanya nyonya Arimbi mengucek matanya.


"Itu nyonya, dari tadi saya panggil-panggil nyonya Dian tapi tidak menjawab. Seperti sedang melamun." Arimbi langsung menoleh kearah Dian dan benar saja, putrinya menatap kosong ke depan bahkan seperti tanpa berkedip.


Dengan wajah panik nyonya Arimbi mendekati Dian. "Sayang, ada apa?"


Hening, Dian tak menanggapi ucapan ibunya.


"Sus, bagaimana ini?" tanya nyonya Arimbi panik.


"Saya akan panggil dokter jaga dulu nyonya. Dokter Arya sedang menangani tuan Gama."


"Ya sudah cepat." Nyonya Arimbi menggenggam jemari Dian. Ada apa dengan putrinya. Dia tak tahu jika dulu Dian pernah mengalami sindrom baby blues.


Dokter jaga masuk untuk memeriksa kondisi Dian. Bahkan Dian hanya mengikut saat nyonya Arimbi menuntunnya ke ranjang.


"Sementara saya akan memberikan obat tidur. Saya belum bisa memastikan kondisi pasti yang terjadi dengan nyonya Dian. Sebelum saya bicara dengan dokter yang pernah menanganinya. Tapi prediksi saya nyonya Dian sedang merasa tekanan batin sehingga menyebabkan seperti ini." Kata dokter sembari menyuntikkan obat tidur di lengan Dian.


"Jadi menurutmu, dengan kata lain putriku depresi?" tanya nyonya Arimbi syok.


"Bukan begitu nyonya." Ujar dokter jaga itu takut.


"Lalu apa katakan yang jelas." Ujar nyonya Arimbi emosi.


"Maaf nyonya tapi ini bukan bidang saya untuk mendiagnosis pasien. Saya hanya menyampaikan asumsi saya. Mohon maaf jika kata-kata saya menyinggung anda." Ujar dokter itu menyesal.


Nyonya Arimbi menghela nafas panjang. Sepertinya dia terlalu panik hingga bersikap berlebihan.


Gerry kembali menemani ibunya. Lampu ruang operasi masih berwarna merah. Gerry benar-benar cemas menunggu hasilnya.


"Dimana Dian Ger?" tanya nyonya Arini.


"Kembali ke kamarnya ma," Ujar Gerry singkat.

__ADS_1


"Kamu tetap harus ingat Ger, istrimu tidak boleh terlalu banyak pikiran apalagi memendam masalah sendirian. Kondisinya bisa memburuk. Tadi mama lihat dia sepertinya sangat cemas." Kata nyonya Arini.


Deg ..!!


Gerry tersentak mendengar ucapan ibunya. Apalagi mengingat perkataan Arya waktu itu.


"Tante, Gerry, ada hal penting yg harus aku katakan. Mengingat Dian pernah mengalami baby blues sindrom. Saya sarankan jangan membuat emosinya terpancing. Apalagi Dian pribadinya mudah cemas dan khawatir. Itu bisa menjadi pemicu kondisinya seperti dulu lagi bahkan bisa lebih parah."


Gerry mengusap wajahnya kasar. Semoga saja Dian baik-baik saja.


Tuan Hanafi masuk keruang perawatan Dian. Setelah dihubungi istrinya ia langsung memerintahkan supir untuk menuju ke rumah sakit.


"Ada apa? kenapa dengan Dian?" tanya tuan Hanafi. Ia mendekati brankar putrinya dan mengusap perlahan wajah Dian. Bahkan tuan Hanafi masih bisa melihat wajah sembab Dian.


"Aku juga tidak tahu. Kata suster tadi Dian berpamitan ingin keluar sebentar. Tapi setelah kembali dia seperti orang yang melamun. Bahkan saat aku memanggilnya dia tidak menyahut." Kata nyonya Arimbi.


"Sebenarnya ada apa denganmu nak?" ujar tuan Hanafi resah.


Lampu ruang operasi padam, itu tandanya operasi telah selesai dilakukan.Jantung Gerry dan nyonya Arini sama-sama berdetak tak beraturan menunggu kabar berita dari dokter.


Arya beserta tim dokter keluar dengan wajah lelah mereka. Bayangkan saja, hampir 5 jam mereka mengoperasi tuan Gama.


"Bagaimana kondisi papa?" tanya Gerry.


"Semuanya lancar. Tapi kita tunggu sampai besok. Semoga jantung itu cocok dengan ayahmu." Ucap Arya.


"Arya, apa Tante boleh tahu siapa pendonornya? Tante ingin berterima kasih pada keluarganya.


"Saya kurang tahu Tante. Semua diurus dari rumah sakit Medika." Kata Arya berkilah.


Gerry diam saja. Hatinya kembali berdenyut sakit mengingat pengorbanan Gerald. Andaikan dulu ia tidak langsung menuduh ayah nya mungkin sekarang mereka tumbuh bersama-sama."


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Dah satu bab aja ya.. lanjutannya besok lagi.

__ADS_1


Terimakasih untuk apresiasi kalian, baik hadiah, vote, like dan komentar ² kalian yang bikin aku semakin bersemangat.


Semoga kalian suka part ini. Bau baunya Dian kenapa lagi ya?


__ADS_2