
******
Selin sudah melakukan apa yang Arya perintahkan. Ia tidak tahu apa tujuan Arya, karena dia memang sama sekali tak mengerti apa hubungannya antara sakit kepala yang dia rasa dan urin.
Selin keluar kamar, menuju ke ruang keluarga dimana disana nenek Soraya dan Arya menunggunya.
"Maaf lama menunggu." Kata Selin, sebenarnya ia sedikit jijik membawa air kencingnya sendiri. Tapi karena ini permintaan Arya maka Selin menurutinya.
"Tidak apa-apa Selin, mana yang aku minta kemarin?" Arya menengadahkan tangannya.
"Kak, tapi ini menjijikkan." Kata Selin dengan wajah memerah.
Arya tersenyum, ternyata gadis ini terlalu polos. Bagaimana jika dirinya benar-benar sesuai dugaan neneknya. Arya tidak bisa membayangkannya.
"Tidak apa-apa. Kemarikan tabung itu!"
Selin menyerahkan tabung itu dengan hati berdebar-debar. Entah apa yang akan terjadi. Apakah dirinya sedang mengidap penyakit serius?
Arya mengeluarkan alat kecil, Selin membulatkan matanya, dia pernah menonton di film yang ia lihat beberapa waktu lalu. Keringat dingin mulai membasahi kening dan telapak tangan Selin.
"Kak, itu .." Selin menatap nanar kearah alat kecil berwarna putih dan biru.
"Maaf Selin." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arya, tanpa menunggu lama Arya memasukkan alat itu ke tabung yang berisi urin Selin. Ketiga orang yang ada diruangan itu semua menunggu hasilnya dengan wajah pias dan hati bergetar.
Arya melihat hasilnya dan terpaku. Selin merebut alat itu, ia menatap nanar kearah dua garis merah yang begitu jelas terpampang didepan matanya.
Seketika air mata Selin tak terbendung. Ia menangis sejadi-jadinya. Nenek Soraya memeluk Selin erat.
"Maaf sayang, maafkan cucu nenek." Ujar nenek Soraya ikut menangis. Gadis ini terlalu polos untuk disakiti. Tapi cucunya sendiri membuat gadis ini menderita.
"Aku harus bagaimana nenek? ini tidak mungkin! aku tidak mau hamil nek. Aku takut." Ucap Selin bergetar dengan suara parau.
"Tenanglah, ada nenek dan Arya. Kami akan melindungi mu." Ujar nenek Soraya menenangkan Selin.
"Tapi jika mereka tau aku hamil mereka akan membunuhku." Ujar Selin masih terus menumpahkan air matanya.
"Ssttt .. tenanglah sayang. Kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama ujar nenek Soraya. Tubuh Selin lemas tak bergerak. Arya merasa ada yang tidak beres dengan Selin.
"Selin .. Selin. Apa kau mendengarku?" Arya menggoyangkan bahu Selin. Soraya bingung ia mengurai pelukannya dan Selin langsung tergeletak diatas sofa.
"Ya Tuhan Arya, Selin pingsan." Kata nenek Soraya cemas.
Arya segera mendekati Selin dia memeriksa tubuh gadis itu. Arya meraih tas kerjanya ia mengeluarkan stetoskop dan tensimeter digital miliknya.
__ADS_1
"Bagaimana Arya?" tanya nenek Soraya cemas.
"Tekanan darahnya rendah, dan kemungkinan karena Selin syok sehingga membuatnya pingsan. Nenek tenang saja jangan seperti ini nanti sakit nenek kambuh." Ujar Arya.
"Nenek kasian pada gadis ini. Bagaimana jika keluarganya tahu jika dia hamil. Apalagi dia putri kerajaan." Ujar Nenek Soraya.
Arya hanya terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kedepannya.
.
.
.
Sementara itu di negara T, seorang pria paruh baya dengan pakaian mewahnya tampak gusar menunggu informasi dari anak buahnya. Sudah hampir 3 bulan putrinya menghilang, kabur dari istana. Ia mengusap wajahnya ditambah sejak putrinya melarikan diri istrinya jatuh sakit.
"Selina, pulanglah nak." Gumam seorang wanita yang terbaring lemah di ranjang mewah dan besar.
"Sayang, tenanglah aku sedang berusaha mencari putri kita."
"Permisi yang mulia raja Aaron, ada tuan muda Archel ingin bertemu." Ujar seorang juru bicara dari luar pintu kamar pribadi raja.
"Suruh dia menunggu. Aku akan menemuinya sebentar lagi." Jawab sang raja dari dalam kamarnya.
Sang raja keluar dengan wajah dingin dan datar. Dari arah samping putra tertuanya bersama istrinya sedang berjalan ke arahnya.
"Ayah, aku dan Lady Araya akan ke Indonesia untuk mempercepat pencarian adik." Ujar Kao kakak tertua Selina.
"Apa kau yakin bisa menemukannya?" tanya raja Aaron kepada putranya.
"Aku akan usahakan ayah." Ujar Kao, ia dan sang istri berjalan mengikuti langkah raja menuju ruang pertemuan.
"Salam yang mulia Raja." Archel menundukkan kepalanya dihadapan sang raja.
"Salam putra mahkota dan lady Araya." Lanjut Archel memberi hormat pada Kao dan Araya. Mereka membalas dengan menundukkan sedikit badannya.
"Salam tuan Archel, silahkan duduk!" --- apa yang membuat tuan Archel datang kemari?" tanya raja Aaron.
"Saya ingin mengajukan diri membantu yang mulia untuk mencari putri Selina." Kata Archel, Archel adalah pria keturunan bangsawan yang sebenarnya merupakan calon pria yang akan dijodohkan dengan Selina.
"Apa ayahmu setuju?" tanya Raja Aaron.
"Iya yang mulia, ayah saya mengijinkan." Kata Archel.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa menjamin apakah Selina mau menjalani perjodohan ini. Aku tidak ingin membuat hubungan baik diantara kita jadi renggang hanya karena masalah ini Archel.
Archel tersenyum lembut pada Raja Aaron. Itu akan menjadi tanggungjawab ku yang mulia raja. Aku hanya ingin permaisuri segera sembuh." Ujar Archel, pria bangsawan yang telah ditolak Selin mentah-mentah hanya karena belum ada rasa.
.
.
.
Selin terbangun dari pingsannya. Nenek Soraya sama sekali tak beranjak dari posisinya. Tangan Selin sudah terpasang infus. Semua itu Arya yang melakukannya. Ia ingin yang terbaik untuk Selin dan calon keponakannya.
"Kak .."
"Iya Selin, ada apa?"
"Aku mau kembali ke negaraku." Kata Selin lirih.
"Bukan kakak tidak mengijinkanmu Selin, tapi kondisimu tidak memungkinkan. Lagipula bukankah kau harus menyelesaikan masalah mu ini terlebih dahulu." Bujuk Arya.
"Masalah apa? anggap saja aku sedang sial. Aku tidak akan mau bertemu dengan manusia itu lagi kak." Kata Selin.
Nenek Soraya merasa sedih mendengar ucapan Selin.
"Maafkan cucu nenek Selin. Setidaknya dengarkan dulu penjelasan Didi." Ujar nenek Soraya berusaha ikut membujuk Selin.
"Apa salah Selin nek? Selin bersedia membantunya, bahkan Selin rela bolak balik masuk ke tempat yang Selin tidak pernah datangi hanya untuk Didi. Tapi apa yang Didi lakukan padaku nek."
"Nenek mohon, bertemulah dengan Didi sekali saja. Bicarakan masalah ini dengan baik-baik."
Melihat wajah tua itu memohon membuat Selin merasa sedih. Dengan berat Selin mengangguk.
"Baiklah nek aku akan menemuinya tapi tidak sekarang." Kata Selin, nenek Soraya mengangguk senang.
"Terimakasih Selin, nenek tahu kau memang gadis yang baik." Kata nenek Soraya membelai rambut Selin.
Arya menatap kedua wanita beda generasi itu dengan tatapan iba. Neneknya sangat menyayangi adiknya itu tapi Didi selalu menjauhi sang nenek. Dan semoga saja tidak akan ada masalah lagi kedepannya, Arya berharap Didi bisa meyakinkan Selin.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Maaf kesiangan ya daring anakku lama beud.
Jangan lupa like komen dan vote yes.
__ADS_1
kirim mawar atau kopi juga othor terima kok