
S2. Penyesalan Didi
********
Didi tiba di rumahnya saat menjelang subuh. Ia mencoba mengetuk pintu kamar Arya, namun setelah beberapa saat pintu kamar Arya tak kunjung terbuka.
Dengan gontai Didi menuju kamarnya. Ia akan menunggu pagi sebentar lagi. Agar dirinya bisa meminta tolong Arya untuk mencari Selin.
Didi menatap nanar kearah ponselnya. Disana terdapat wallpaper foto kebersamaannya bersama Selin. Gadis itu tersenyum hangat meskipun Didi memasang wajah garangnya. Selin mengajari Didi agar sang kakak percaya kepadanya jika mereka benar-benar pasangan.
Didi mengusap foto mereka berdua. Rasanya ia benar-benar menyesali semua perbuatannya.
"Maaf Selin ..!" Ucap Didi.
.
.
.
Selin masih pulas tertidur. Arya begitu setia berada di sisi Selin, pria itu tampak sesekali bangun mengecek kondisi Selin.
Saat tangan Arya terulur mengusap wajah Selin, ia terkejut. Suhu tubuh Selin sangat panas. Wajah gadis itu memerah, dan bibirnya pucat pasi. Arya mencoba membangunkan Selin, tapi gadis itu tak juga membuka mata.
"Jangan .. kumohon! jangan sentuh aku Didi! Aku benar-benar membencimu." Gumam Selin mengigau. Air mata gadis itupun mengalir Padahal matanya masih terpejam. Tangan Arya terkepal kuat. Ia sangat kecewa dengan adiknya itu.
Selin membuka matanya, Arya masih menatap iba kearah gadis itu. "Aku mau pergi dari sini kak." Kata Selin.
"Kau mau kemana? biar kakak yang antar." Ujar Arya tangannya terus mengusap wajah Selin.
"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin pergi jauh dari sini. Aku tidak mau bertemu Didi." Selin tampak sangat mengenaskan. bola matanya tak terlihat karena terlalu banyak menangis.
"Aku panggilkan dokter dulu. Kamu demam." Ujar Arya meninggalkan Selin. Gadis itu kembali menangis. Hatinya benar-benar terluka. Belum sempat dia membunuh perasaannya pada Didi. Tapi pria itu sudah membuatnya terluka. Bukan hanya hati tapi fisiknya juga terluka.
Dokter telah memeriksa Selin, dan menyuntikkan obat penurun panas. Arya keluar sebentar untuk membeli kopi. Namun dia bertemu Gerry. Pria itu sedang menikmati kopinya.
Gerry memanggil Arya. Dan pria itu mendekat dengan enggan.
"Bukannya kau cuti? kenapa ada disini?" cecar Gerry. Arya hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Gerry.
__ADS_1
"Aku hanya sedang bertemu temanku. Apakah dilarang?" tanya Arya merasa tak nyaman dengan tatapan Gerry.
"Ck .. aku pemilik rumah sakit ini. Aku tau apa yang sedang kau sembunyikan." Kata Gerry arogan.
"Lalu untuk apa kau bertanya lagi?" ketus Arya.
Gerry tersenyum miring. "Sembunyikan gadis itu sejauh yang kau bisa. Aku memberimu kesempatan untuk memberikan pelajaran pada Didi. Aku tidak menyangka dia bisa berbuat hal seperti itu. Aku jadi menduga jika saja Dian tidak ku nikahi mungkin dia yang akan di jadikan korban sebenarnya."
"Jaga ucapanmu, sebrengs*kยฒnya adikku aku tau sifatnya." Kata Arya menahan emosi mendengar nama Dian di sangkut pautkan. Jika benar sampai itu terjadi Arya tak akan segan menghabisi adiknya sendiri. Karena bagaimanapun Dian adalah cinta pertama Arya.
Gerry terkekeh, ia lalu bangkit berdiri. "Bawa gadis itu menjauh darinya. Hari ini anggap kita tidak pernah bertemu." Gerry meninggalkan Arya. Disaat bersamaan ponsel Arya berdering tertera nama Didi disana. Dengan malas Arya mengangkat panggilan itu.
"Kak .."
"Ada apa?" tanya Arya datar.
"Bantu aku!"
"Soal apa?" Arya pura-pura tak mengerti.
"Selin hilang kak." Suara Didi bergetar, Arya tahu adiknya pasti sedang kebingungan.
"Lalu, bukankan semalam kau memang tidak peduli padanya. Biarkan saja dia pergi." Ketus Arya.
"Aku tidak bisa berjanji aku sibuk." Arya memutuskan panggilan Didi. Ia segera naik ke lantai 7 tempat dimana ruang perawatan Selin.
Selin merasa jauh lebih baik, seorang suster sedang melepas infusnya saat Arya masuk ke ruang rawatnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Arya pada Selin, gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Apa dokter Bella sudah mengijinkan dia pulang sus?" tanya Arya.
"Sudah dokter Arya. Tadi dokter Bella sudah visit dan mengijinkan nona Selin pulang." Ujar perawat itu, setelahnya perawat itu pergi meninggalkan Arya dan Selin.
"Apa kau akan kembali ke kontrakan?"
Selin menggeleng kuat. Membayangkan kejadian yang kemarin saja membuat tubuhnya bergidik.
"Apa kau mau tinggal ditempat menyenangkan?" tawar Arya pada Selin. Gadis itu mengangguk ragu.
__ADS_1
"Jika begitu sementara kau akan tinggal di Vila milik nenekku. Sekalian kau menemani beliau." Lanjut Arya.
"Tapi kak .." Mata Selin terlihat cemas.
"Kau tenang saja. kecuali aku dan mama tidak ada yang sering mengunjungi nenekku."
Pada akhirnya Selin mengangguk setuju. Setelah Arya menyelesaikan administrasi, Arya membawa Selin keluar kota. Tempat dimana neneknya berada. Jarak yang ditempuh selama perjalanan hampir 3 jam lebih, melewati macetnya ibukota. Akhirnya Arya dan Selin tiba, namun gadis itu tampak kelelahan hingga tertidur di mobil.
"Selin bangunlah ..!" Arya menggoyang lengan Selin, gadis itu membuka matanya. Melihat ke samping dimana ada rumah besar berwarna kuning gading. Bangunan tembok berpadu dengan kayu, terkesan etnik modern.
"Kita sudah sampai kak?" tanya Selin, Arya mengulas senyum dan mengangguk.
"Iya kita sampai. Apa kau lelah?" tanya Arya, khawatir. Selin menggeleng lalu turun dari mobil. Ia menarik nafas dalam menghirup aroma kesegaran.
Arya dan Selin disambut seorang gadis muda yang cantik. Ia mengumbar senyum manis kepada Arya dan Selin.
"Selamat datang tuan muda, nona." Sambut gadis itu.
"Iya Nayla. Apakah nenek ada?" tanya Arya.
"Ada tuan." Nayla membimbing tamunya masuk ke dalam rumah.
Arya langsung memeluk neneknya. Ia menggoyangkan tubuh tua itu. Arya benar-benar merindukan neneknya.
"Dasar anak nakal. Masih ingat rumah ini ternyata." Kata Nenek Arya.
"Nek, jangan begitu aku sibuk mengurus rumah sakit." Kata Arya bersandar di bahu sang nenek. Nenek Arya menatap gadis yang ada dihadapannya yang dibawa oleh Arya.
"Siapa gadis ini?" tanya nenek itu dengan wajah menelisik. Selera cucunya lumayan juga.
"Kenalkan nenek, nama saya Selina. Nenek bisa memanggilku Selin." Kata Selin memperkenalkan diri.
Arya berbisik ditelinga sang nenek. Menceritakan garis besar masalah adiknya. Dan kemungkinan yang akan timbul kedepan.
"Aku Soraya, nenek Arya. Jangan sungkan nak. Kemarilah. Mendekat sama nenek." Selin dengan langkah yang tampak malu mendekat kearah nenek Soraya. Tanpa di duga nenek Soraya memeluk Selin dengan erat.
"Maafkan kelakuan cucuku nak, nenek berjanji akan menjagamu dengan baik." Ujar nenek Soraya. Selin hanya memandang kearah Arya dengan tatapan sendu. Dan Arya mengangguk, ia terpaksa harus memberitahu neneknya karena ia tak ingin nenek Soraya salah sangka tentang hubungan diantara mereka.
๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Senin. Senin jangan lupa Votenya. kalo Votenya banyak othor semangat neh up nya
Love sekebon buat kalian para reader setiaku ๐๐๐