Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Pertemuan Tak terduga


__ADS_3

******


Dian yang masih trauma dengan penculikan Judy memilih mengambil home schooling untuk anak-anak. Pada akhirnya Selin dan Didi juga membawa Judy ikut home schooling di mansion Gerry. Gadis kecil itu terlihat biasa saja dari luar. Tapi ia menyimpan trauma yang sama dengan Dian atau bahkan mungkin lebih parah.


Gerry hanya bisa menuruti semua kemauan sangat istri agar tidak mengganggu kehamilan Dian sekarang. Ia bahkan memanggil guru-guru terbaik untuk mengajar di mansionnya.


"Sayang, nanti guru anak-anak akan datang pukul 9." Ujar Gerry saat Dian membantu memakaikan jas di tubuhnya.


"Iya .... " Jawab Dian singkat seraya membenarkan kancing jas Gerry, Gerry menarik pinggang istrinya yang tak lagi ramping karena perut Dian yang sudah membuncit.


Gerry mengangkat dagu Dian, keduanya saling menatap penuh cinta. Gerry membelai wajah Dian lalu menyematkan satu ciuman di bibir tipis istrinya. Tangan Dian berada di dada Gerry menahan tubuh suaminya agar tidak terlalu menekan badannya.


"Kenapa bibirmu ini sangat manis?" Bisik Gerry, suaranya terdengar parau. Dian tersenyum miring mendengar ucapan Gerry yang seperti bualan.


"Huh gombal .. " Dian memukul pelan dada Gerry.


"Mas, kapan kita liburan lagi?" tanya Dian dengan manja.


"Ada apa? Apa kau ingin berlibur? Sekolah anak-anak bahkan baru berjalan beberapa minggu." Gerry mengernyitkan alisnya, tidak biasanya istrinya merengek manja seperti ini.


Dian mengangguk. Dia ingin sekali ke Korea melihat salju. Tapi dia takut menyampaikan keinginannya.


"Katakan kau ingin kemana?" tanya Gerry penasaran.


"Aku ingin melihat salju di Korea." Ucap Dian lirih.


"Baiklah, tapi sebelum kesana kita akan periksakan kandunganmu. Apakah boleh melakukan penerbangan atau tidak? Karena Indonesia Korea jaraknya cukup jauh.


Dian mengangguk antusias. Dia memasangkan dasi Gerry dengan senyum mengembang sempurna di bibirnya.


Ah mana bisa aku mengecewakan dirinya. Sepertinya aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat agar bisa menemaninya Dian ke Korea. Lihatlah hanya disanggupi saja dia terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Tanpa Gerry sadari Dian selesai memasang dasi, dan menatapnya.


"Mas, masih pagi jangan senyum-senyum sendiri. Bikin aku merinding tau ga." Ujar Dian membuyarkan lamunan Gerry.


"Baiklah, aku akan berangkat dulu. Kamu hati-hati dirumah. Jangan terlalu lelah ..!" Kata Gerry. Dia hanya mengangguk mendapat perhatian dari Gerry.


Keduanya keluar kamar menuruni tangga. Saling bergandengan tangan begitu romantis.


.


.


.


Aldo melihat Veni yang terus mematutkan diri di depan cermin. Wajah Veni tersenyum sumrigah seraya mengusap perutnya yang terlihat membuncit. Aldo hanya melipat bibirnya menahan tawa melihat tingkah absurd Veni yang membolak-balikan tubuhnya di depan cermin. Aldo bisa memakluminya karena ini kehamilan pertama bagi Veni.


"Apa rencana mu hari ini baby?" tanya Aldo. Veni melirik suaminya dari balik cermin lalu kembali fokus ke perutnya.


"Jika begitu kenapa kau memakainya. Lepaskan saja bajunya. Kau pinjam bajuku yang lebih longgar." Kata Aldo seraya menuju lemari pakaiannya menarik satu kaos berwarna biru polos. Veni terkejut dengan sikap Aldo yang berlebihan.


"Eh .. bukan begitu maksudku baby."


"Tidak, sekarang lepaskan baju yang kau pakai dan ganti dengan ini aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." Veni hanya mendesah pasrah saat tangan Aldo bergerak melepaskan baju yang Veni kenakan menggantinya dengan kaos miliknya.


"Nanti dari Mall kita langsung ke rumah ibu Arimbi saja. Aku ingin menginap selama tahlilan kakek berlangsung." ---- Veni.


"Lalu mengenai saham yang kakek berikan di PT Indago bagaimana?" tanya Aldo menatap sang istri.


"Kau jalankan saja. Biar klub malammu diurus oleh Alex. Sebenarnya aku ingin memintamu melepas klub itu. Jual saja pada orang. Bukan aku tidak menghargai usahamu itu, tapi sebentar lagi kita akan punya anak. Setidaknya beri kami nafkah dari uang yang lebih layak kami terima. Aku tidak ingin mengatakan Halal atau haram kau pasti tau. Aku tidak masalah kau memberiku nafkah sedikit tapi membawa keberkahan untuk hidupku. Dari pada memberi banyak tapi sama sekali tidak ada berkah di dalamnya." Kata Veni. Aldo termangu, selama ini dia tidak berpikir sampai ke arah sana.


"Baiklah, nanti aku akan bicarakan dengan Alex." Kata Aldo kemudian. Veni tersenyum, ia bersyukur Aldo tidak sakit hati dengan ucapannya.

__ADS_1


"Sekarang ayo kita makan. Aku tadi sudah membuatkan sup krim jagung untukmu." Kata Aldo. Veni hanya menurut. Sejak kejadian dirinya kecelakaan Aldo benar-benar berubah menjadi pria yang sangat perhatian kepadanya.


.


.


.


Setelah selesai sarapan Aldo membawa Veni ke mall seperti permintaannya tadi. Mereka berjalan menyusuri setiap toko. Veni memilih toko biasa untuk membeli baju. Ia tak ingin membebani Aldo jika meminta baju-baju branded.


"Kenapa masuk ke toko ini. Kau tidak mau masuk ke toko sebelahnya?" Tawar Aldo, Veni menggeleng. Dia memilih beberapa baju dan mencobanya. Ia juga mengambil daster berbahan katun beberapa potong.


"Apa sudah cukup hanya segini?" tanya Aldo. Sat mereka keluar dari toko. Tanpa sengaja Seseorang menyenggol tubuh Veni hingga terhuyung. Beruntung tubuh Veni dapat di tahan oleh Aldo.


"Kau tak apa-apa?" Wajah Aldo cemas. Veni mengangguk namun saat dia melihat siapa yang menabrakkan matanya melotot. Mendadak tubuh Veni gemetaran.


"Ve-ni ... " Lirih suara wanita di hadapan Aldo dan Veni.


"Bukan, aku bukan Veni kau salah orang nyonya." ----- "Ayo mas!!" Veni berjalan tergesa-gesa menarik tangan Aldo. Aldo hanya merasa bingung siapa wanita itu sebenarnya kenapa Veni begitu takut dengannya.


"Veni tunggu ..!! aku tahu itu kamu. Wanita itu terus mengejar. Veni melihat pintu lift terbuka langsung masuk bersama Aldo dan menekan tombol tutup. Lift tertutup sempurna saat wanita itu tiba di depannya.


Wanita itu mendengus. Ia menatap ke lantai mana Veni turun. Pintu lift di sebelahnya terbuka dia menekan tujuannya yang sama seperti Veni. Namun dia tidak tahu jika Veni ternyata tidak turun. Dia kembali ke lantai paling atas. Menuju parkiran dimana Aldo memarkirkan mobilnya. Tangan Veni masih gemetaran. Sesekali dia mengusap sudut matanya yang basah. Ia tak menyangka akan bertemu dengan wanita itu disini.


"Baby stop ..!!"


Veni menoleh pada Aldo, matanya sembab kakinya tak dapat lagi menahan berat tubuhnya dia terduduk di lantai, Aldo sampai terkejut dibuatnya.


"Ada apa sayang, siapa dia sebenarnya kenapa kamu ketakutan seperti ini?" Tanya Aldo penasaran. Namun Veni masih terus menangis. Ia tidak menjawab pertanyaan Aldo. Ia belum siap mengatakan pada Aldo. Ia tak menyangka akan ada hari dimana ia akan bertemu dengan wanita itu lagi.


๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด

__ADS_1


like, komen dan Giftnya othor tungguin.


__ADS_2