Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Bujang Lapuk Bucin


__ADS_3

********


"Kita makan dulu ya. Aku lapar. " Kata Arsen memang ini sudah waktunya makan malam. Namun demi Ara, Arsen menahan rasa laparnya.


"Ya ampun A' maafin Ara ya. Gara-gara Ara lupa waktu, aa jadi harus melewatkan jam makan malam." Ujar Ara merasa bersalah.


"Jangan merasa bersalah, toh kamu juga belum makan kan." Kata Arsen. Mereka belok ke kawasan restoran milik Didi.


"A' tapi aku malu."


"Malu kenapa?" Arsen bingung mendengar pernyataan Ara.


"Aa ga lihat mata aku udah kaya ikan koki gini?" Ujar Ara, Arsen terkekeh lalu mengacak rambut Ara dengan gemas.


"Siapa suruh kamu ini cengeng." Arsen menarik ujung hidung Ara hingga memerah. ---- "Ayo turun ..!! " Arsen keluar dan berlari memutari depan mobil dan membuka pintu untuk Ara.


"Iihh .. aa so sweet banget sih." Arsen hanya tersenyum seraya menggengam jemari Ara. Mereka naik ke atas dan mengetuk pintu. Setelah mendapat ijin masuk keduanya langsung masuk kedalam ruangan itu.


"Cie cie ... paman Arsen." Judy yang ternyata ada di dalam ruangan itu langsung mulai jahil.


"Judy .."


"Ih dady merusak kesenangan Judy saja." Gerutu anak itu menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Ara dan Arsen ikut duduk di samping Judy.


"Tunggulah sebentar bang. Pesananmu sedang proses." Arsen mengangguk.


"Apa Arya menitipkan sesuatu padamu?" tanya Arsen.


"Oh iya hampir lupa. Ini barang yang abang pesan." Kata didi menyerahkan tas pada Arsen. Mata Ara langsung berbinar.


"Aku pikir lupa dia." celetuk Arsen lalu menyerahkan tas itu pada Ara.


"Ya ampun, ini tas yang di rumah sakit kan? Aku kira hilang. Padahal disitu ada hapenya Aa. Ara udah sedih aja kemarin. Baru juga dikasih hape udah ilang." Ara membuka-buka isi tasnya dan mengambil ponsel pemberian Arsen. Arsen hanya tersenyum melihat tingkah Ara.


"Ya ampun bang, ngasih pacarnya hape second. Yang baru dong." Kata Didi.


"Kamu mau Ra aku beliin ponsel baru?" Ara menggeleng.


"Ini juga udah bagus. Malahan bagus banget." Ujar Ara cuek. Dia bukan gadis matre yang selalu silau dengan harta benda.


Tak lama seorang pelayan diikuti oleh dua orang lainnya masuk membawa makanan yang Arsen pesan tadi sewaktu menunggu Ara.


Wajah Ara terbengong melihat semua menu yang dipesan oleh Arsen.

__ADS_1


"Aa bisa makan semuanya?" tanya Ara.


"Ya ga dong Ra, aku ga ngerti kamu suka makan apa makanya aku pesen semuanya."


"Judy mau makan bareng onty?"


"Ga onty Judy sudah kenyang." Jawab Judy.


"Aa Didi ga makan?" tanya Ara. Didi menggeleng.


"Aku kalo makan di luar bisa bahaya." Kata Didi, Alis Ara bertaut.


"Bahaya?" beo Ara.


"Onty, dady kalo makan diluar berati harus tidur diluar juga. Soalnya momy ga suka kalo dady ga makan masakan momy." Terang Judy.


"Sudah, ayo kamu buruan makan." Kata Arsen. Ia mengambilkan nasi untuk Ara. Sedang Ara memilih lauknya sendiri. Keduanya makan dalam hening. Selesai makan Ara melihat makanan yang masih banyak diatas meja merasa sayang


"Aa masih mau makan lagi ga?"


"Udah kenyang banget aku Ra."


"Ara boleh bungkus makanannya?"


Tatapan mata pria itu begitu teduh. Ara tersenyum senang. Saat seorang pelayan datang ke dalam ruangan mereka.


"Mas, tolong ini di take away jadi 15 pack ya. Terus per pack nya di kasih nasi." Ujar Ara, pelayan itu mengangguk lalu membawa makanan tadi keluar.


"Banyak sekali Ra, buat siapa memang?" tanya Didi penasaran.


"Ada pokoknya, yang penting ga mubazir makanan."


Setelah Arsen membayar semua tagihan makan mereka ditambah yang di take away Ara mengarahkan Arsen menuju tempat yang biasa Ara sambangi.


"Stop disini A' ... "


Ara turun setelah Arsen menepikan mobilnya.


"Kak Ara .." sambut salah seorang anak kecil berpakaian lusuh. Ketika Ara keluar dari mobil Arsen


Ara tersenyum seraya berjongkok menyambut gadis kecil itu.


"Hai sayang, mana yang lainnya." Gadis kecil itu menunduk sedih.

__ADS_1


"Kak Ruri, kak Veno dan kak Roni di bawa satpol beberapa hari yang lalu. Kata bapak mereka diangkut dinas sosial." Ujar gadis itu.


"Lalu yang lainnya?" tanya Ara.


"Disana kak, dipos. Kami ga berani ngamen dulu takut ditangkap." Ujar gadis kecil itu. Pintu mobil yang belum tertutup membuat Arsen terpaku menatap kedekatan Ara dengan gadis kecil itu.


"Panggil semuanya kesini. Kakak ga punya banyak waktu." Ujar Ara, gadis itu berlari memanggil teman-temannya. Dalam sekejam sekitar 10 anak berkumpul mengelilingi Ara. Ara mengeluarkan plastik makanan dan sekardus air mineral yang sempat ia minta di restoran Didi tadi."


Seraya membagikan nasi kotak Ara membagikan lembaran uang 50 ribuan pada 10 anak itu, uang yang tadi ia dapatkan dari pak Sahlan.


"Uang ini bisa kalian gunakan untuk membeli makan besok. Jangan terlalu boros. Kalian harus bisa mengandalkan diri kalian sendiri. Dan ingat pesan kakak, meskipun kalian tidak sedarah tapi kalian tumbuh dan besar bersama. Kalian harus saling melindungi."


"Iya kak Ara. Terimakasih makanannya dan terimakasih untuk uangnya." Kata mereka serempak. Ara kembali masuk ke dalam mobil seraya menyeka sudut matanya yang basah.


"Kamu kenal mereka darimana Ra?"


"Ya disini. Saat itu kami semua sedang berteduh dari hujan. Kami sama-sama miskin dan kesulitan finansial tapi anak itu membuatku membuka mata. Aku harus lebih banyak bersyukur dari mereka. Dan setelah itu aku setiap minggu sering kemari untuk mengajar anak-anak itu belajar membaca dan berhitung.


Arsen lebih banyak diam setelah percakapan didalam mobil itu. Dia ingin memantapkan hatinya dengan wanita pilihannya itu. Sesampainya dirumah Arsen mengumpulkan mama Clara dan papa Arman. Sementara Ara langsung naik ke lantai 2 ke kkamar. Ya kamar milik Arsen sekarang dihuni oleh Ara. Sedang Arsen tidur di kamar sebelahnya.


Setelah keduanya berkumpul Arsen mengutarakan niatnya ingin menikah, sontak kedua orangtua Arsen terbelalak tak percaya.


"Kamu serius mau secepat ini Sen?" mama Clara menatap tajam Arsen.


"Iya ma, aku ga mau nunda-nunda." jawab Arsen.


"Kalau papa terserah kamu Sen, tapi ingat jangan pernah menyakiti perasaan perempuan. Jangan hanya karena kamu takut keduluan orang kamu niat mengikat Ara." Ucap papa Arman


" Ya engga lah pa."


"Nanti kamu bicara dulu sama yang bersangkutan. Mau tidak kamu ajak nikah."


"Iya pah, nanti Arsen ngomong sama Ara." Ucap Arsen, ---- "Arsen naik dulu pa, ma."


"Awas jangan salah masuk kamar kamu." Ujar mama Clara. Arsen hanya tersenyum canggung seraya mengusap tengkuknya.


"Moga aja ga ya mah. Suka kelepasan kalo lihat Ara." Kata Arsen berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


"Dasar bujang lapuk bucin." Ledek mama Clara.


๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ


Maaf ya nanti part 2 dan 3 mungkin agak malem. Soalnya anak othor masih seperti yang kemarin.

__ADS_1


__ADS_2