Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Aa Stop


__ADS_3

*********


Kini Ara dan Arsen sudah kembali ke rumah. Setelah memastikan kondisi keponakannya yang mulai membaik mereka akhirnya memilih pulang.


Di dalam kamar, Ara sedang menutup dirinya dengan selimut. Ia takut jika Arsen masih memburunya. Sejak di dalam mobil pria itu terus membicarakan hal-hal mesum hingga membuat Ara jengah mendengarnya.


"Kamu udah tidur Ra ..?" posisi Ara saat ini membelakangi Arsen. Ia benar-benar takut, rasanya inti tubuh bagian bawahnya kebas karena ulah Arsen. Ia tak bisa membayangkan jika Arsen akan meminta jatah malamnya lagi.


"Ra ... " Bisik Arsen tepat di telinga Ara, yang menimbulkan sensasi tersendiri hingga tanpa sadar tubuh Ara menggelinjang. Arsen tersenyum miring, ia tahu pasti Ara sedang menghindarinya. Ia dengan sengaja menyibak rambut Ara yang menutupi leher jenjangnya. Perlahan Arsen mendekat dan menempelkan bibirnya di leher Ara, Gadis itu melenguh namun masih bertahan dengan posisinya. Arsen semakin gencar mengganggu istrinya itu. Ia menghisap dan menggigit kecil leher Ara, sebelah tangannya bahkan sudah bermain di gundukan d*d* Ara.


"Arghh ... Aa" Akhirnya karena merasa tak tahan Ara memekik.


"Kamu bohongin aku ya Ra, kamu pura-pura tidur biar aku ga bisa dapet jatah malam?" Ujar Arsen pura-pura kesal. Ara gelagapan mendengar tuduhan yang Arsen tujukan kepadanya.


"Bu-bukan gitu A .. aku cuma ngantuk." Kata Ara.


"Ya udah kamu diem aja biar aku yang kerja, gimana?" Tawar Arsen.


"Iihh .. aa udah kaya tukang loak pakai nawar-nawar. Ara beneran capek A." Gadis itu menggerutu dengan bibir Cemberut. Namun tanpa di duga Arsen langsung me*lu_mat bibir Ara dengan ganas. Tanpa Ara tahu tadi sebelum dia masuk ke kamar, dengan alasan sedang mengecek kerjaan Arsen melihat situs film ko_boy. Dia butuh ilmu untuk membuat Ara terbang melayang.


"Hmmm .. hmm" Ara berusaha melepas ciuman Arsen yang terasa berbeda. Setelah Arsen melepas ciumannya Ara memukul dada Arsen.


"Aa mau bunuh Ara, cium Ara sampe segitunya." Ara mendengus kesal. Arsen terkekeh seraya menyeka sisa saliva di bibir Ara.


"Maaf Ra .. " Ujar Arsen menyeringai. Ia langsung membuka selimut yang membungkus tubuh Ara. Dengan perlahan ia mulai membuka satu per satu kancing piyama Ara.


"Ara capek a .. "

__ADS_1


"Sekali aja Ra, aku ga bisa tidur kalo nahan junior agar ga masuk ke sarangnya. Masa kamu ga kasian sama aku Ra. Nahan kaya gini tu bikin kepala aku pusing atas bawah lho." Mendengar ucapan Arsen Ara Akhirnya pasrah saat Arsen mulai melepas atributnya. Bahkan lagi-lagi Ara harus melihat tubuh gagah dan sempurna milik suaminya saat Arsen melempar kaos yang ia kenakan sembarang arah. Ara menatap takjub dimana di bagian perut Arsen tercetak jelas roti sobek yang membuat Ara kesulitan menelan saliva.


.


.


.


Dengan gerakan yang halus Arsen melepas segitiga terakhir milik Ara hingga terpampang lah hutan lindung tandus yang hanya ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Arsen memposisikan badannya diantara kaki Ara, dengan wajah sedikit mencondong Arsen mulai menyusuri keindahan hutan itu dengan lidahnya yang meliuk-liuk. Tubuh Ara langsung menegang. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak mendes*h.


Namun lama kelamaan pertahanan Ara runtuh seiring rintihan lirih terdengar saat Arsen menghisap biji bunga matahari milik Ara.


"Aa stop .. Ara mau pipis dulu bentar. " Lirih Ara tak kuasa menahan terjangan gelombang yang seakan menggelitik inti tubuhnya.


"Pipis disini aja Ra .. " Kini tak hanya menggunakan lidahnya Arsen mulai menembus inti tubuh Ara menggunakan jarinya yang bergerak liar. Tubuh Ara melengkung, lalu menegang hebat.


"Udah Aa, cabut dulu aku mau pipis." Ujar Ara, Arsen segera menarik junior yang masih setengah tegak. Ara meraih piyamanya dan buru-buru memakainya lalu berjalan dengan tertatih merasakan lututnya gemetaran. Setelah buang air kecil Ara merasa tak bisa berdiri dengan benar karena kakinya terasa lemas.


"Aa ... " Teriak Ara dari dalam kamar mandi. Arsen tersentak langsung berlari tanpa memakai sehelai benang pun.


"Ada apa Ra?" Wajah Arsen terlihat panik, ia membuka pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Namun Ara langsung menjerit melihat penampakan Arsen.


"Aargh ... A Arsen itu dibungkus dulu burungnya." Tunjuk Ara, namun gadis itu membuang pandangannya ke samping. Arsen terkekeh lalu meraih handuk dan melilitkan nya ke pinggang.


"Kenapa kamu teriak manggil aku?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Kaki Ara ga bisa jalan, lemes ini gimana?" Arsen tersenyum lalu mengangkat tubuh Ara dan membawanya keluar dari kamar mandi.


.


.


.


Singapura waktu setempat. Veni dan Aldo baru saja menyapa papi dan mami Aldo. Mereka menyambut kedatangan menantu dan putra kesayangannya dengan gembira, karena kabar kehamilan Aldo.


"Kamu tunggu sebentar ya beb, aku akan buatkan susu untukmu." Ujar Aldo, Veni hanya mengangguk lalu memandang punggung Aldo yang mulai menghilang dibalik pintu.


"Seandainya saja kau lebih awal mencintaiku mungkin hati ini tak akan membeku." Kenapa kalian selalu terlambat menyelamatkan hatiku dari rasa sakit ini." Gumam Veni, dia hanya butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Tapi apakah dia bisa?


Sedangkan Aldo dengan berurai air mata mengaduk susu untuk Veni. Rasanya sakit sekali di diamkan seperti ini. Apakah tidak ada sedikit saja maaf untukku?


Aldo mengusap air matanya lalu membawa segelas susu ibu hamil untuk Veni. Wanita itu sedang berusaha membuat dirinya nyaman rebahan di atas ranjang namun bolak balik dia merasa tak nyaman. Aldo menghampirinya.


"Ini susumu .. "


Veni menerima gelas susu itu tanpa mengucapkan apapun. Ia meneguk nya hingga tandas lalu meletakkan gelas itu di atas nakas.


"Apa kau mau tidur sekarang?" Veni mengangguk, Aldo membantu Veni berbaring. Namun lagi-lagi sepertinya Veni kesulitan tidur. Aldo naik keatas ranjang dan memposisikan dirinya menghadap Veni. Perlahan ia mengelus perut buncit Veni yang menginjak usia kandungan 5 bulan itu. Dan anehnya usapan di perutnya membuat Veni merasa nyaman. Tak butuh waktu lama wanita itu tertidur.


"I love you baby .. " Bisikan Aldo mencium pelipis Veni.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท

__ADS_1


__ADS_2